Go Where There Is No Path

September 1, 2008

Terima kasih untuk semua yg datang di acara di ITB kemarin. Terima kasih atas antusiasme dan keingintahuannya. Terima kasih untuk semua pertanyaan dan komentar-komentar yg membuat gue semakin yakin dgn apa yg gue kerjakan.

Mungkin tugas gue untuk saat ini memang hanya meng-inspirasi. Mungkin apa yg bisa gue lakukan buat bangsa ini sekarang hanyalah memberikan informasi. Memberi semangat dan membagi cerita untuk orang lain, orang sekitar, termasuk para generasi muda. And somebody has to do it. Walau sangat tipis batas antara menceritakan kisah dan menjadi riya. There is a thin line between being opened and showing off. Namun selama masih ada orang yg bisa mengambil hikmah dari cerita-cerita gue, selama masih ada orang yg terinspirasi, gue memilih untuk meneruskan apa yg gue lakukan. Gue hanya bisa memohon ampun kepada Nya atas kesombongan yg mungkin muncul dalam melakukan itu semua.

Mohon maaf untuk semua kesalahan. Dan selamat menjalankan ibadah puasa buat semua yg memilih untuk mengerjakan.

- Do not follow where the path may lead. Go instead where there is no path and leave a trail. (Ralph Waldo Emerson)

“How to Become CCIE” Goes to Campus

August 24, 2008

InsyaAllah gue akan memberikan presentasi dgn tema “How to Compete in Global Networking Market by Becoming a CCIE”, bagaimana caranya untuk berkompetisi di pasar networking secara global dgn menjadi CCIE. Bekerja sama dgn Comlabs ITB, presentasi ini akan diadakan di kampus ITB pada hari Sabtu, 30 Agustus 2008 mulai jam 9 pagi. Dalam kesempatan ini gue akan menceritakan pengalaman gue pribadi selama berkarir di dunia networking dan bekerja di luar negri, termasuk karir di Cisco dan mem-presentasikan kembali “How to Become CCIE” yg pernah gue lakukan di Networkers Indonesia awal tahun ini, tentunya dgn waktu yg lebih panjang.

Informasi lebih lanjut silahkan lihat di sini. Terbuka untuk umum (non–mahasiwa) dan dikenakan biaya tiket sebesar Rp 50.000 saja. Untuk mahasiswa tidak dipungut biaya/GRATIS dengan menunjukan bukti KTM. Akan ada undian di akhir acara untuk memperoleh beberapa merchandise dari Cisco :)

Catatan: Ini mungkin presentasi gue yg pertama dan terakhir di kampus untuk beberapa waktu ke depan. Mulai September gue akan mulai mengerjakan project untuk customer di region EMEA, dimulai dgn project migrasi CRS di Czech Republic. Meskipun untuk pindah base ke Dubai akan memakan waktu karena menunggu visa kerja, sepertinya gue akan mulai langsung traveling ke Eropa dgn visa bisnis.

Napak Tilas Jason Bourne

August 20, 2008

Jason Bourne (aka David Webb) adalah tokoh fiksi dari novel karangan Robert Ludlum yg muncul pertama kali sekitar tahun 1980 dalam The Bourne Identity. Kisah ini kemudian difilmkan dgn judul yg sama pada tahun 2002 dan tokoh Bourne diperankan oleh Matt Damon. Film-film berikutnya menyusul seperti The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007). Ia adalah seorang pembunuh bayaran yg dilatih untuk menjadi yg terbaik, expert di berbagai skill termasuk martial art, dapat mengubah hampir semua benda menjadi senjata yg mematikan, dan selalu pindah-pindah negara untuk menjalankan tugas. Dan dia selalu mengerjakan tugasnya tanpa banyak bertanya. Well, setidaknya sampai ia tertembak dan kehilangan ingatan. Ketika ingatannya berangsur-angsur pulih dan Jason menyadari bahwa dirinya adalah seorang pembunuh bayaran, ia memilih untuk keluar dari itu semua meskipun harus berhadapan dgn organisasi rahasia yg dulu melatihnya dan sekarang ingin menghabisi Jason Bourne yg dianggap sudah malfunction.

Begitu terpengaruhnya gue akan kisah Bourne ini sehingga masuk kedalam pertimbangan ketika akan memilih karir berikutnya. Bulan lalu gue akhirnya berterus terang ke boss bahwa gue ingin berpindah team ke tempat lain, dan gue ingin keluar dari region Asia Pacific. Boss gue waktu itu sangat mendukung dan bertanya team mana yg akan menjadi tujuan gue. Karena performance gue tahun lalu bagus dan juga kedekatan gue dgn dia akibat gue selalu terlibat dalam project-project yg sulit dan pain-in-the-arse, membuat dia mau memberikan rekomendasi penuh dan bersedia menelpon manager dari team yg gue ingin join untuk memberi dukungan. Benar-benar manager yg hebat. Gue beruntung dan bangga bisa dapat manager seperti dia. Saat itu gue tidak menjawab langsung, namun cuma ada satu jawaban di kepala: napak tilas jejak Jason Bourne.

Gue ingin sekali memiliki profil seperti Jason Bourne. Memiliki skill yg tinggi dan expert di berbagai hal, mengerjakan tugas tanpa banyak basa-basi, dan pindah-pindah negara sesuai dgn tugas yg diberikan. Kecuali tentunya menjadi pembunuh bayaran. Gue juga ingin mengunjungi tempat-tempat yg dia datangi dalam rangka pencarian jati dirinya. Dan gue tidak mau melakukannya sebagai turis. Gue mau berdiskusi ttg requirement dgn customer di Moscow. Gue mau melakukan assessment network di Madrid. Gue ingin sekali bisa berdiri di depan customer di Maroko untuk mempertahankan design gue. Mengadakan workshop di London. Memberikan knowledge transfer di Berlin. Bahkan ke tempat-tempat yg tidak ada di film misalnya melakukan large scale project di South Africa.

Apakah gue terlalu optimis? Terlalu ambisius?
Berusaha untuk pindah ke market yg sama sekali belum gue kenal. Keluar dari zona Asia Pacific tempat gue sudah membangun reputasi untuk menuju wilayah baru dan memulai semuanya dari awal lagi. Well, anggap saja semua kenginan gue itu sebagai mimpi. Mimpi yg layak untuk diperjuangkan. Setidaknya kesempatan untuk bisa mewujudkan mimpi meskipun masa depan belum terlihat itu yg membuat hidup menjadi lebih bergairah.

Gue sudah pernah memimpin project migrasi yg beresiko tinggi di Vietnam. Gue berdiri di tengah-tengah Petronas Twin Towers Skybridge pada saat ada project migrasi di Malaysia. Gue melakukan implementasi produk Cisco CRS yg pertama kali di Singapore. Mengoptimisasi network dari operator selular terbesar di Indonesia. Sempat menikmati matahari terbenam dari gedung tertinggi di dunia, Taipei 101, ketika melakukan survey project di Taiwan. Gue mem-push produk CRS sampai limit tertinggi di lab Proof-of-Concept di Sydney. Gue pernah memberi training di Bangkok di siang hari, untuk kemudian terbang ke Hongkong dan menikmati makan malam. Membantu teman-teman gue ketika mereka stuck di Phillipine. Dan bahkan dgn itu semua gue masih merasa belum cukup.

Dengan semua pikiran itu gue beranikan diri untuk melamar ke Cisco Advanced Services - World Wide Service Provider yg meng-cover Europe, Middle East and Africa (EMEA). Ini adalah practice team yg hanya berisi solution architect dan senior consulting engineer, dan bertugas tidak hanya untuk memimpin large-scale implementasi, tapi juga membuat best practice dan guideline yg bisa digunakan oleh team-team yg lain. Gue pernah terlibat di satu project dgn team ini ketika masih di Dubai dan salah seorang teman gue di team tsb memberikan rekomendasi ke boss nya sehingga gue bisa ikut proses interview. Seperti pernah gue tulis di blog gue yg lain, walau teman baik gue yg lain pernah bilang “to get a job it’s not what you know anymore that matters, but who you know”, gue percaya bahwa mendapatkan pekerjaan idaman itu adalah gabungan dari Who You Know, What You Know, dan What You Have Done. Jadi Who You Know, teman gue bisa memberikan rekomendasi karena kenal dan pernah kerja bareng. What You Know, karena biarpun gue akan pindah ke team lain yg masih di Cisco juga tapi tetap saja gue harus melawati berbagai tahapan interview termasuk beberapa technical interview. Dan What You Have Done, semua project yg gue pernah lakukan termasuk nilai performance report dan kedekatan gue dgn manager yg sekarang sgt membantu sekali dalam proses perpindahan ini.

Proses interview yg berlangsung hanya beberapa hari itu termasuk yg tersulit yg pernah gue lewati. Sekali lagi team ini hanya berisi expert dan senior consultant yg memiliki skill dan pengalaman jauh di atas gue. Semuanya sudah pernah melihat dan melakukan apa yg mungkin sampai sekarang hanya bisa gue bayangkan. Ada yg nomer CCIE nya kecil sekali. Ada yg sudah sering melakukan project-project yg large-scale dan sangat kompleks. Dan semuanya sangat mengerti tentang arsitektur hardware dan protocol. Ada beberapa yg bertanya ttg pertanyaan teknikal yg sangat dalam, tentang feature atau protocol tertentu dan penggunaannya dalam real world design scenario. Ada yg mengorek-ngorek ttg bagaimana metoda dan pendekatan gue dalam melakukan project-project selama ini. Ada juga yg tertarik untuk melihat hasil dari project yg gue kerjakan. Dan tentunya yg sangat membantu adalah rekomendasi dari manager gue yg sekarang termasuk performance report setahun terakhir.

Mungkin ini contoh globalisasi: gue based di Singapore, keluarga di Bandung, lagi handle issue di Jakarta bersama orang Irlandia dan Australia, manager gue yg sekarang orang US, punya teman di Brussels, di interview oleh expert-expert dari Slovenia, Jerman, Spanyol dan UK, dan manager baru based di Swedia.

Alhamdulillah, akhirnya semua interview selesai dan gue dinyatakan lolos proses seleksi. Gue sudah dinyatakan resmi masuk ke dalam team WWSP - EMEA ini dan akan efektif dalam waktu dekat. Gue sempat ditawari untuk based di Johanesburg, South Africa, karena banyak project-project besar di sana terutama yg berkaitan dgn World Cup 2010. Namun untuk memudahkan proses transisi dari APAC ke EMEA, dan juga karena lokasinya yg berada di antara Europe dan Africa, sepertinya gue akan based di Dubai. Tentunya gue akan terlibat dalam project-project yg ada di dalam coverage team ini. Hal pertama yg harus gue lakukan adalah apply lagi visa Schengen karena visa gue yg sebelumnya sudah habis. Gue harus bersiap untuk memulai petualangan di benua baru.

Mengapa gue tidak memilih untuk ke US? Manager gue sudah menawarkan untuk memberi rekomendasi ke team manapun. Dia sendiri dulunya berasal dari Business Unit di San Jose, untuk kemudian bekerja di Europe, sebelum akhirnya masuk ke Asia Pasific. Dan dia memang mengaku punya banyak koneksi serta kenal orang-orang yg pernah kerja dengannya di masa lampau. Jawabannya mungkin karena gue belum siap untuk terjun ke dunia development. Gue masih tertarik untuk terlibat dalam deployment, menghadapi customer langsung dan mencoba melakukan dan membuat design yg terbaik dgn semua keterbatasan yg ada di suatu produk. Gue masih lebih tertarik untuk memberikan feedback ke developer setelah melihat langsung implementasi di lapangan ketimbang hanya melakukan simulasi dan test di lab.

Tapi itu mimpi gue yg dulu kan? Iya, dan suatu ketika nanti mungkin gue akan ke sana. Tapi bukan sekarang. Seperti yg dikatakan Juba kepada temannya Maximus yg mati di Gladiator: I will see you again… but not yet… Not yet!

Saatnya untuk napak tilas jejak Jason Bourne.

Tentang Kompetisi

August 16, 2008

Seringkali kita tidak fair ketika melakukan perbandingan. Sebagai contoh, setiap kali ketemu orang dan tahu gue kerja di luar negri banyak yg berkomentar, “enak bgt bisa dapet gaji $$$, gak kayak di Indonesia”. Eit, bentar dulu. Kalo ngebandingin harus sesuai. Gaji di luar negri tentunya lebih besar karena harus mengikuti biaya hidup di negara lain yg lebih mahal. Udah tahu berapa harga sewa apartment seperti di Dubai atau Singapore? Pernah coba makan nasi goreng di Belanda? Selain rasa makanan yg tidak sama juga harganya minta ampun mahal. Belum lagi biaya untuk mengkompensasi karena orang yg kerja di luar Indonesia itu tidak bisa bertemu dgn sanak saudara, tidak bisa ikut acara sunatan atau undangan kawinan, merayakan hari raya jauh dari keluarga, dan lain lain.

Terus ada yg iseng nyeletuk, “tapi yg kayak elu kan enak, Wan. Gaji $$$ tapi bisa kerja dari rumah di Bandung”. Wah, udah pernah ngerasain traveling 3 minggu dalam sebulan pindah-pindah negara? Emang tidur selalu di hotel berbintang, kecuali kalo gue ke Singapore malahan jadi tidur di airport atau kantor, tapi lama-kelamaaan kerasa sepinya hidup di jalan. Belum lagi kalo lagi project itu biarpun dikasih hotel mahal toh seringnya onsite di tempat customer atau tidak tidur juga di kamar karena harus mengerjakan project. Terus bagaimana kalo ada acara spesial keluarga tapi bentrok dgn jadwal project? Kalo kerja di Indo kan tinggal cuti? Kalo kerja di Jakarta keluarga di Bandung kan tinggal nyetir 2 jam buat ketemu? Gue pernah harus terbang ke 2 negara dulu sebelum bisa terbang ke Jakarta, dan kemudian masih harus naik taksi untuk ngambil mobil, baru kemudian nyetir ke Bandung.

Nah, begitu juga ketika orang membandingkan vendor router spt Cisco dgn yg lain seringkali tidak dilakukan dgn fair. Gue masih inget ketika ketemu salah satu petinggi perusahaan telekomunikasi di Indonesia dan bilang “Cisco itu bikin pusing service provider karena IOS nya ada yg a,b,c,d,e jadi mau pake yg mana”, atau “Cisco itu produk buat Core Network di telco gak ada yg bagus, adanya seri 7500″, juga “Cisco itu banyak bugsnya, terlalu banyak feature“. Dude, where have you been? Harus diingat Cisco adalah perusahaan pertama yg membuat produk yg bisa menyatukan tipe network yg berbeda. Pada saat itu semua customer dari berbagai background ingin menggunakan produk Cisco sehingga satu IOS itu harus bisa semua feature, dari desktop protocol spt IPX sampai ke QoS, security bahkan feature yg diperlukan Service Provider spt MPLS. Konsekuensi dari banyaknya feature di IOS yg sama adalah tantangan untuk menciptakan kode yg stabil. Bagusnya Cisco mau mempublikasikan database bug ke publik meskipun jadi membuat orang berkomentar kalo bugnya banyak banget. Emang ada software yg gak ada bug? Kalo ada vendor router meng-claim softwarenya tidak ada bug maka kemungkinan besar mereka menutupi bug-bug tsb dan tidak mempublikasikannya. Yg menurut gue hal ini malah beresiko karena suatu ketika bisa terjadi isu mendadak yg seharusnya bisa dihindari jika kita tahu bug-bug apa yg ada di software tsb.

Nah kalo dulu Cisco harus mengakomodasi customer dari berbagai tipe dgn satu IOS, yg membuat IOS mempunyai banyak varian untuk produk yg sama, sekarang Cisco sudah membuat klasifikasi dari produk router. High end router itu pakai produk CRS yg sudah dirilis dari tahun 2004, dgn IOS khusus yaitu IOS XR. Kemudian untuk data center Cisco baru saja mengeluarkan seri Nexus dgn IOS baru pula. Jadi pesannya jelas: tidak bisa 1 IOS yg sama untuk mengakomodasi semua customer. Dan lagi, jangan bandingin produk core router dari kompetitor Cisco dgn 7500 lagi dong! Itukan produk jadul. Ayo bandingkan core router produk lain dgn CRS.

Selain itu untuk scope yg lebih kecil di Service Provider network pun kadang-kadang perbandingan tidak dilakukan secara fair. “Ah router Cisco yg kita pake di PE gak stabil dibandingkan dgn core router produk lain yg kita pake di P”. Oalah, posisi P (Provider) router atau core router di network service provider itu mempunyai fungsi yg berbeda dgn PE (Provider Edge) router. P router tugasnya adalah melakukan proses forwarding atau switching packet secepat mungkin dgn kapasitas yg besar karena merupakan aggregator dari semua PE router yg berada di pinggir network. Jadi yg diinginkan adalah switching yg cepat, delay seminim mungkin, kapasitas yg besar sampai mencapai line rate untuk 40 Gig atau 100 Gig. Bagaimana dgn feature? Untuk P router feature yg dijalankan jauh lebih sederhana. Bahkan dgn teknologi MPLS seringkali core router didesain dgn konsep “BGP-free core” jadi tidak menjalankan protokol BGP sama sekali. Sedangkan PE router lebih banyak menjalankan feature. Banyak feature baru spt MPLS L3VPN atau L2VPN merupakan feature yg dijalankan di PE dan menjadi transparan buat Core selama menggunakan label-label MPLS. Jadi kalo mau fair jangan bandingkan produk lain di P dgn produk Cisco di PE. Harusnya membandingkan antara P dan P router, atau antara PE dan PE dari vendor router yg berbeda-beda.

Kalau membandingkan produk router itu mari kita lihat secara lebih mendetail dari sisi:
- arsitektur hardware
- arsitektur software
- feature
- performance dan kapasitas
- stability, reliability (e.g. high availability) and scalability
- hal-hal non-teknis seperti after sales, support, education dll
Tapi sbg engineer biar gak pusing mendingan lihat 5 hal yg pertama, dan cocokkan dgn kebutuhan. Performance ini biasanya hanya bergantung dari data sheet yg dikeluarkan oleh vendor tsb dan sulit dibuktikan kecuali di lab, saat Proof of Concept, atau kalo memang network yg kita memiliki benar-benar membutuhkan performance dan kapasitas maksimum dari produk tsb (udah pernah kerja di network yg benar-benar butuh 10G atau 40G line rate?). Umumnya performance dan stabilitas diperoleh dari pengalaman di lapangan. Jadi yg sebenernya menarik buat engineer, khususnya yg fokus di network design, adalah diskusi dan debat ttg 3 hal yg pertama. Berdasarkan informasi tsb kemudian disesuaikan dgn kebutuhan sehingga solusi maupun produk yg dipilih itu tepat.

Gak perlu gontok2an dan ngotot kan? Gak perlu, apalagi buat engineer. Kalo gue sih, vendor routernya boleh apa aja asal minumnya teh botol hehe. Atau, core router bisa apa aja asal Rossi juara tahun ini heheh makin ngaco. Gue percaya competition is good. Tanpa kompetisi, mungkin inovasi akan lebih lambat dilakukan karena tidak ada pressure untuk memenangkan kompetisi. Menarik sekali kalo ngedengerin cerita di meeting IETF bahwa satu vendor teriak di L2VPN pake BGP lebih bagus, sedang yg lain bilang mending pake targeted LDP. Atau pas ada yg vendor yg bilang “we’re gonna stick with PIM” sedang yg lain bilang PIM itu gak scalable dan “better to use BGP”. Vendor satu mendukung Multicast LDP sedang vendor yg lain lebih mensupport P2MP TE, dan seterusnya.

Pertanyaan sebenernya sih: peran kita apa di tengah kompetisi tsb? Cuman jadi orang yg jualan kah, sehingga bisa pindah-pindah vendor dgn gampang (ada sales yg pernah bilang ke gue “I’m a sales man, I can sell expensive Cisco products or washing machines, it doesn’t make any difference for me”). Atau mau yg bener-bener put our faith in one vendor, sehingga terlibat langsung dalam deployment dan development produk? Atau mau jadi konsultan independen yg memberi solusi kepada customer berdasarkan kebutuhan dan data sheet (atau pengalaman di lapangan) ? Terserah aja.
Sekali lagi, kompetisi itu bagus. Kompetisi mendorong inovasi. Kompetisi memberi banyak pilihan.

Besok adalah peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yg ke-63. Sebagai generasi yg lahir setelah perjuangan kemerdekaan usai kita harus mensyukuri kebebasan yg kita miliki dan melakukan sesuatu untuk negara sesuai peran dan jaman kita. Karena sama seperti perusahaan yg paling besar sekalipun, bisa menjadi dan tetap besar karena peran orang-orangnya. Negara kita pun sama seperti itu. Sejarah dan peninggalan itu penting, tapi peran orang-orang masa sekarang di negara itu untuk bisa membangun dan melakukan yg terbaik yg membuat negara tsb bisa menjadi besar.

Dan suka atau tidak, kompetisi global sudah ada di sini. Banyaknya pekerja asing dan investor asing yg masuk ke negara kita sudah bisa membuktikan bahwa kita tidak bisa merasa nyaman meskipun ada di negri sendiri. Pemerintah sendiri sudah sulit untuk memproteksi komoditas guna mencegah pasar kita dikuasai oleh produk dari negri lain, apalagi dibidang ketenagakerjaan. Banyaknya perusahaan telekomunikasi kita yg dibeli oleh investor asing membuktikan ketertarikan mereka yg sangat tinggi dgn potensi market Indonesia yg jumlah penduduknya di atas 200 juta. Dengan demikian kita semua harus sudah mulai berkompetisi secara global meskipun masih tinggal dan bekerja di negara sendiri.

Mari kita semua melakukan yg terbaik dibidangnya.
Mari kita semua bersiap untuk berkompetisi global.

Selamat ulang tahun Indonesia.

A Life Changing Trip

August 8, 2008

Setiap orang yg sering melakukan traveling tentu mempunyai tempat-tempat favorit atau perjalanan yg paling berkesan. Kalo dulu, setiap kali ditanya orang tempat apa yg paling favorit mungkin gue akan menjawab nama-nama tempat di San Francisco, Amsterdam, Bangkok atau Sydney. Tapi sekarang kalo gue ditanya lagi, cuma ada satu tempat yg benar-benar berkesan. Bahkan gue merasa perjalanan yg terakhir minggu lalu itu merupakan a life changing trip.

Untuk menghindari riya maka kali ini gue tidak akan menulis secara detil ttg perjalanan terakhir gue. Selain itu juga banyak hal yg sangat menakjubkan, yg tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata dan hanya bisa dirasakan sendiri. Yg jelas gue berharap semua orang yg satu keyakinan dgn gue akan dapat kesempatan untuk pergi ke tempat yg sangat special tsb suatu hari nanti. Insya Allah.

CCDE Practical

July 13, 2008

Gue pernah nulis beberapa bulan yg lalu tentang rasa penasaran gue yang tidak sabar menunggu untuk melihat bagaimana caranya sertifikasi CCDE bisa menguji skill dari seorang network designer. Well, beberapa hari ini gue mendapat informasi lebih detil tentang ujian CCDE practical dari berbagai sumber. Salah satunya dari presentasi Networkers 2008 yg dilangsungkan sekitar bulan Juni. Selain itu, jika punya login di Cisco Learning Network juga ada beberapa informasi termasuk kesempatan diskusi langsung dgn team pembuat sertifikasi ini. Bahkan di sana ada contoh ujian CCDE practical sebagai gambaran dari ujian yg sesungguhnya, yang Beta nya baru akan diluncurkan bulan Oktober di US sebelum diluncurkan resmi di tempat-tempat lain.

Untuk ujian written, tidak ada yg aneh dan formatnya mirip dgn ujian CCIE written. Bedanya, tidak akan ada konfigurasi yg ditanyakan dan juga pertanyaannya tidak akan mencapai bit-level. Jadi lebih mengarah ke pengetahuan tentang protocol dan features beserta implikasinya jika diaplikasikan dalam sebuah design. Mungkin lebih mirip ujian ARCH untuk CCDP dengan materi yg lebih dalam dan coverage yg lebih luas, karena CCDE memang dirancang untuk large scale networks. Yang penting buat gue dari ujian CCDE written, lulus ini berarti juga me renew sertifikasi CCIE gue.

Nah untuk ujian lab, formatnya adalah 8-jam dan diselenggarakan hanya di berbagai tempat di dunia mirip dgn ujian CCIE lab. Tapi ini bukan ujian lab, melainkan ujian computer-based spt halnya ujian written. Kecewa? Tunggu dulu.

Yg pertama, ujiannya adalah scenario based. Jadi dimulai dgn kita diberi satu set dokumen yg berisi informasi termasuk email dari customer. Berdasarkan informasi awal ini kita harus mencari informasi yg lebih detil dengan memilih pertanyaan yg akan kita ajukan ke customer. Dari situ baru kita mendapat berbagai pertanyaan yg masih berkaitan dgn skenario tadi, dimulai dgn membuat topologi yg bisa menjawab kebutuhan, pemilihan protocol dan features, sampai ke implikasi dan justifikasi dari pilihan yg kita ambil.

Mirip dgn kejadian di dunia nyata kan? Tentu saja. Ini dikarenakan team yg membuat sertifikasi CCDE adalah designer-designer Cisco yg sudah berpengalaman dan sering membuat design dan mengimplementasikannya di dunia nyata. Sehingga mereka tahu persis proses membuat design itu seperti apa dan juga tantangan-tantangan apa yg dihadapi setiap designer dalam menjalankan proses tsb. Format pertanyaan di ujiannya ada yg berupa pembuatan topologi network dgn drag-and-drop, multiple choices dgn kemungkinan jawaban benar lebih dari satu, menyusun daftar, dan membandingkan daftar yg satu dgn yg lain. Dan lihat juga daftar bacaan yg harus dibaca. Meskipun tidak akan ada pertanyaan ttg konfigurasi IOS spt CCIE, tapi dari daftar itu kelihatan bahasannya sangat luas dan mendalam, befokus ke large scale networks dgn teknologi yg beragam dan kompleks.

Ini yg gue suka dari CCDE dan kemungkinan akan menjadi sertifikasi yg akan gue ambil dalam waktu dekat. CCDE juga dikategorikan sbg vendor neutral, jadi gue pikir tidak akan ada pertanyaan yg spesifik tentang product Cisco misalnya.

Hal yg masih gue rasa kurang dari ujian CCDE practical ini adalah tidak ada porsi untuk menguji skill designer yg lain. Misalnya skill dalam mengadakan requirement workshop. Berdasarkan pengalaman pribadi tidak semua informasi tersedia dalam bentuk dokumen. Kadang-kadang gue harus mengumpulkan semua bagian dari customer ke dalam satu ruangan dan mengajukan pertanyaan yg tepat agar mereka bisa memberikan informasi-informasi yg hilang. Selain itu juga tidak ada porsi untuk menguji skill presentasi. Skill ini penting dalam melakukan requirement workshop maupun design workshop dimana seorang designer harus menjelaskan, menjustifikasi dan mempertahankan pilihan-pilihan yg diambil dalam membuat design. Belum lagi skill untuk bisa beradaptasi dgn customer yg berbeda budaya ataupun kemampuan bekerja di project yg requirementnya bisa berubah-ubah setiap saat. Semua skill di atas itu penting apalagi jika ingin menjadi Consulting Engineer spt di tulisan gue sebelumnya. Tapi paling tidak, lulus CCDE bisa membuat kita ‘technically sound’ sehingga mudah-mudahan pelan-pelan kita bisa jadi ‘trusted advisor’ buat customer.

Dan ingat, seperti juga CCIE, lulus ujian CCDE tidak berarti kita menjadi network designer yg handal. Lulus ujian itu hanya awal perjalanan. Setelah itu kita harus membangun pengalaman dan skill di dunia nyata. Sehingga nanti kita bisa menjadi network designer yg sebenernya, yg mengerti proses melakukan design secara benar, mampu meng capture requirement dari customer, mampu membuat design untuk menjawab requirement itu, kemudian mampu menjustifikasi dan mempertahankan pilihan yg diambil di design tadi, sampai mengimplementasikannya menjadi a working network infrastructure.

Buat yg masih skeptis, mungkin akan lebih baik jika coba dulu liat contoh soal ujian CCDE practical di Cisco Learning Network. Itu contoh hanya untuk kasus dan topologi yg sederhana loh.

Kalo boleh berpendapat sih, sebaiknya ujian CCDE ini memang diambil setelah punya pengalaman di lapangan bekerja sbg network designer. Atau kalo pun ingin menggunakan sertifikasi ini untuk mengakselerasi proses belajar, sebaiknya ambil CCIE dulu baru ke CCDE. Ini dikarenakan CCDE itu berada di level strategic atau conceptual, sedangkan CCIE lebih di level tactical atau low-level. Jadi gabungan ke duanya akan membuat seorang designer yg komplit, punya pengetahuan high level untuk mengerti business dan implikasi dari sebuah design, dan juga tahu feature secara mendalam sehingga ketika mengambil pilihan benar-benar yakin karena sudah pernah melihat maupun mengimplementasikan di lapangan.

Paling top lagi: punya CCIE, kalo perlu beberapa track bergantung pada kita mau jadi designer di area apa, terus punya CCDE, punya sertifikasi dari vendor lain dan juga dari organisasi netral, punya pengalaman di lapangan sbg network designer, punya pengalaman mengerjakan project yg large scale dan kompleks, dan punya pengalaman menghadapi customer dari berbagai tipe dan negara.

Ada yg berminat?

Consulting Engineers Must Have

July 11, 2008

Sudah hampir dua tahun gue bekerja sebagai Consulting Engineer di Cisco Advanced Services. Ini adalah role yg unik karena menggabungkan scope dari seorang consultant dan engineer. Jadi consultant ketika harus berbicara dgn para eksekutif untuk menjelaskan garis besar design dan project yg akan dilakukan, untuk mengerti line business customer sehingga mengetahui kebutuhan mereka secara lebih mendalam sebelum memutuskan solusi yg sesuai, menggunakan soft skill untuk membangun hubungan, dan membuat high level design dan strategi dari implementasi. Menjadi engineer ketika harus benar-benar mengubah design di atas kertas menjadi network infrastructure yg bisa digunakan, membuat low level design dan detil rencana implementasi atau migrasi, membuat konfigurasi dari setiap device dan interkoneksi, melakukan test jika perlu interoperability dgn produk lain dan juga Proof of Concept, dan melakukan migrasi dgn waktu downtime yg disetujui customer.

Sebenarnya semua hal di atas bukan hal baru buat gue. Gue sudah sering melakukan itu bahkan sebelum masuk Cisco AS. Pada saat gue bekerja di Middle East gue bahkan harus terlibat dalam proses pre-sales dimana gue harus membantu mendefinisikan scope dari project yg akan dilakukan, membuat atau mengecek Bill of Material sebelum barang dipesan, sampai ke pre-sales meeting dgn customer untuk meyakinkan bahwa biarpun design detil belum dibuat tapi project ini pasti bisa dan berhasil dilakukan. Gue juga memiliki tambahan pengalaman sebagai technical project manager sehingga sudah biasa memimpin team, mengalokasikan resource dan membagi-bagi tugas.

Dalam life cycle suatu produk dari pertama di buat sampai akhirnya bisa digunakan di production network, keterlibatan Cisco AS biasanya ada di akhir cycle. Jadi produk dibuat oleh development team yg terbagi ke dalam Business Unit, untuk kemudian di jual oleh team sales kita dgn menyesuaikan spesifikasi produk dan kebutuhan, sampai akhirnya Cisco AS engineer harus memberikan detil design dan melakukan implementasi atau migrasi sebelum customer bisa menggunakan produk itu sepenuhnya. Walaupun seperti telah disebutkan di atas gue pribadi, karena mungkin memiliki background dan experience, sering diminta untuk ikut serta dalam proses pre-sales.

Dan bekerja sebagai consulting engineer juga tidak membutuhkan ilmu programming sama sekali. Kita memang tidak diperlukan untuk menulis code, tapi bukan berarti kita tidak terlibat dalam pengembangan produk! Cisco AS adalah team yg bertugas untuk mengimplementasikan produk di real world dan berhadapan langsung dengan customer, jadi team ini adalah yg paling banyak mengetahui jika ada feedback dan tantangan selama implementasi atau pengoperasian dari suatu produk. Kuncinya adalah pengetahuan yg mendalam tentang arsitektur hardware, software dan protocol. Gue sering melihat orang-orang dari team Cisco AS yg tidak bisa menulis code tapi diminta bantuan dalam pengembangan produk atau protocol karena pengetahuan di lapangan yg dimiliki. Kedekatan Cisco AS dan development team juga membuat kita memiliki lebih banyak akses dibanding team-team non-developer di Cisco.

Semua hal tersebut membuat gue sebenernya merasa sangat cocok dgn role yg sekarang gue miliki dan gue yakin jika suatu ketika nanti berganti profesi akan merindukan hal-hal seperti:
- Kepuasan ketika design atau rencana implementasi dan migrasi gue berhasil, tentunya kepuasan gue akan terus meningkat sesuai dgn tingkat kesulitan project yg semakin tinggi dan scope dari project yg semakin besar
- Jam kerja yg fleksible, gue bisa kerja di mana saja kapan saja, yg penting target dan project bisa tercapai dan berhasil diselesaikan. Dan karena scope kerjaan gue Asia Pacific, khususnya negara-negara South East Asia, gue jadi sering traveling mengunjungi tempat-tempat yg berbeda dan selalu ditantang oleh customer yg berbeda-beda kebiasaan dan budayanya
- Akses yg lebih dalam dan lebih banyak ke development team, gue merasa walaupun tidak terlibat langsung dalam pengembangan produk tapi AS sangat dibutuhkan untuk memberi feedback dan kita juga bisa belajar dari temuan dan hasil testing di lab oleh para developer

Gue juga sempat merumuskan apa yg gue sebut “5 Things must have from every Consulting Engineer”:

1. Be a trusted advisor, listen more and be in customer’s shoes

Sebagai seorang consulting engineer kita harus menjadi penasehat yg terpercaya oleh customer. Ini tentunya hanya bisa diperoleh dgn pengalaman, integritas dan reputasi yg harus dibangun. Kita juga harus bisa mendengarkan dan mengeri apa yg dibutuhkan oleh customer, bukan yg mereka inginkan. Tentunya kita harus mampu menempatkan diri dalam posisi customer untuk bisa mengerti betul apa yg mereka perlukan.

2. Must technically sound even we don’t have to be specialized

Tentunya menjadi consultant sekaligus engineer membutuhkan skill engineering yg benar dan tidak hanya di atas kertas. Sekali lagi pengalaman merupakan hal yg sangat berharga. Dan consulting engineer yg top-notch biasanya memiliki pengetahuan ttg satu atau dua bidang yg mendalam, dan juga mengerti banyak bidang sehingga bisa menjadi nara sumber untuk berbagai hal. Jika kita tidak bisa memiliki spesialisasi pengetahuan teknis yg luas dan mendetail juga sudah cukup.

3. Be independent, but at the same time know where to find answers

Kemampuan untuk mengambil keputusan secara independen di lapangan adalah sangat penting. Ketika kita membuat suatu design atau harus melakukan implementasi maka kita adalah pengambil keputusan tertinggi. Walaupun gue sering bekerja dalam team di berbagai project, seringkali keputusan harus diambil berdasarkan hasil pemikiran kita sendiri. Meskipun independen, di saat yg bersamaan kita juga harus tahu bagaimana caranya mencari jawaban atau pertolongan pada saat mengalami kesulitan

4. Adaptable to any changes and adjustable to customer

Kondisi di lapangan sering berubah-ubah tanpa bisa dihindari. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk beradaptasi jika terjadi perubahan. Kita harus bisa menjadi orang yg fleksibel dan tidak kaku. Kemampuan adaptasi yg cepat ini sangat penting terutama jika harus bekerja di berbagai negara dan harus berhadapan dgn customer dgn budaya yg berbeda, dan scope project yg berbeda-beda pula.

5. Understand company’s business objectives even just a bit

Masih berkaitan dgn poin sebelumnya, meskipun kita harus bisa beradaptasi jika terjadi perubahan di lapangan tapi kita tetap harus mengingat tujuan bisnis dan limitasi dari perusahaan kita sendiri. Maksudnya adalah, kita harus bisa melakukan keseimbangan antara kemampuan kita dalam beradaptasi ketika terjadi perubahan di project sehingga membuat customer kita senang, tapi juga tidak membuat perusahan menjadi rugi karena project yg dikerjakan menjadi berlarut-larut.

Ini semua berdasarkan pengalaman pribadi selama bertahun-tahun karena gue merasa bahwa gue sudah menjalankan role ini bahkan sebelum masuk Cisco AS. Mudah-mudahan bermanfaat buat yg berminat untuk bekerja di bidang yg serupa.

How Did You Watch Euro2008?

July 1, 2008

Bulan Juni kemaren bener-bener bulan yg berat buat gue. Meskipun gue sudah mengklaim sebagai ‘gelandangan internasional’ tapi ternyata menyelesaikan 2 project migrasi besar dan mengerjakan 3 project yg lain di 5 negara yg berbeda di bulan yg sama ternyata benar-benar melelahkan. Even I have to admit it was really fun. Terbang dari Jakarta trus tidur di Changi Airport singapore, trus terbang lagi ke Ho Chi Minh, menyelesaikan final step dari migrasi project di sana, langsung terbang ke Taiwan buat kick off untuk project baru, pulang ke Singapore cuman untuk tidur lagi di airport terus langsung terbang ke Kuala Lumpur, kemudian setelah selesai mengerjakan migrasi di sana langsung terbang ke Jakarta buat meeting, ini cuma contoh yg harus gue lakukan dalam kurun waktu 2 minggu.

Untungnya selama bulan Juni ada Euro 2008 (heheh selalu ada untungnya yah!). Dan untungnya lagi team kebanggaan gue Spanyol berhasil juara, apalagi karena gue udah beli kaosnya heheh. Spanyol memang negara hebat, punya team sepakbola bagus terus punya Fernando Alonso (yang sayangnya belum dapat mobil kompetitif dari Renault) dan Dani Pedrosa (meskipun gue suka perjalanan hidup Rossi tapi gue juga mendukung Dani karena postur tubuhnya yg kecil namun bisa jadi kandidat kuat untuk juara MotoGP tahun ini), dan juga Rafael Nadal yg sekarang sedang berjuang di Wimbledon. Kadang memang kalau sedang sibuk banget dan banyak tekanan salah satu cara untuk melepaskan rasa stress adalah mengikuti kejuaraan olahraga di TV.

Ngomong-ngomong tentang Euro 2008, gue berusaha menonton semua pertandingan dan ini adalah daftar lokasi tempat gue menonton:

Final - in Hotel, Kuala Lumpur
Semi Final - 1 in Changi Airport and 1 in Hotel, Taiwan
Quarter Final - 1 in Changi Airport, 1 in Customer site (during migration), 2 in Hotel, Saigon
Qualification - 4 in friend’s home, 4 in the office (Internet TV), 1 in Hard Rock Cafe KL, 3 in hotel in KL, 1 in Changi Airport, rest either at own home or didn’t watch

Time flies pada saat ada hal seperti kejuaraan Euro 2008 meskipun kerjaan sedang banyak tekanan. Dan kabar lain yg sama bagusnya: gue udah dapet buku Performance Riding dari amazon bersamaan dgn kabar yg barusan gue terima kalo Ninja 250R merah gue udah dateng. Saatnya belajar cornering dan trail braking ;)

This month will be another interesting month. Alhamdulillah.

Inspired by Rossi

June 15, 2008

Sudah lama gue mengikuti balapan Valentino Rossi di MotoGP. Tapi mungkin baru tahun ini gue berusaha menonton setiap grand prix, walaupun itu membuat gue harus nonton di hotel, di Airport sampai di rumah teman. Apalagi semenjak gue tidak meneruskan kontrak apartemen di Singapore gue menjadi gelandangan setiap kali berada di negara home based gue itu.

Banyak hal yg gue pelajari dari Rossi, seperti yg tertuang di buku autobiography nya. Salah satu quote yg gue suka: “When I put on my suit, get on my bike and make my way to the start line, my brain is free of every single thought apart from those directly linked to my riding of the bike. I can isolate everything else, nerves don’t bother me, I don’t even think, once that visor comes down, that my reputation, or my title, or even my career might be at stake.”

Ini merupakan pelajaran berharga tentang bagaimana kita harus fokus dgn hal yg sedang dihadapi, meskipun banyak hal lain yg seharusnya dapat mengganggu pikiran kita. Sama halnya ketika kita sedang mengambil ujian CCIE lab, walaupun banyak tekanan tapi memikirkan bahwa kita harus lulus jika tidak dipecat, atau mengingat-ingat banyaknya uang yg dikeluarkan, atau meratapi kenyataan bahwa kita sudah tidak lulus berkali-kali padahal ada junior kita yg satu kali ujian juga lulus, itu sangat tidak membantu. Lebih baik tutup visor dan kerjakan saja.

Hal lain yg gue suka dari juara dunia 7 kali ini adalah ketika Rossi memutuskan untuk pindah dari Honda ke Yamaha di akhir tahun 2003. Pada saat itu Honda begitu superior karena menjuarai Grand Prix selama berturut-turut dan banyak orang bilang kalau ingin menang itu harus pakai motor Honda. Rossi membuktikan bahwa yg terpenting itu tetap raider, man behind the wheel, dan bukan motornya sendiri. Dia pindah ke Yamaha yg pada saat itu merupakan team yg tidak diperhitungkan, untuk kemudian menjadi juara dunia tahun 2004 dan 2005.

Mungkin karena terlalu terpengaruh dgn Rossi atau mungkin karena terlalu banyak menonton MotoGP maupun World Superbike di TV, akhirnya gue memutuskan untuk membeli Kawasaki Ninja 250R yg baru di release bulan lalu. Nama gue masih berada diurutan ke sekian di daftar pemesan sih, dan mudah-mudahan bulan depan motornya sudah bisa gue dapatkan.

Ada yg bertanya, buat apa gue beli motor di Indo sedangkan gue sendiri selalu traveling di luar? Bahkan bulan ini gue bakal menjalani yet another long journey di mana gue harus terbang dari KL ke Singapore terus ke Vietnam untuk kemudian ke Taiwan dan kembali lagi ke KL. Dalam perjalanan itu juga gue harus melakukan migrasi buat 2 customer. Dan ini berarti gue tidak akan ada di Indo sampai akhir bulan.

Jawabannya karena gue gak mau menunggu. Gue gak mau menunggu sampai kerjaan gue stabil kayak orang-orang kebanyakan baru mau menikmati hidup. Gue gak mau bilang nanti saja tunggu gue menetap baru mulai beli ini itu. Gue mau menikmati setiap saat yg ada. I want to live every second of my life. Dan paling tidak nanti setiap kali gue pulang ke Bandung ada hal lain yg gue lakukan di luar kerjaan gue.

Kalo kata Kung Fu Panda: Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. But today is a gift. That is why they call it a present.

Gue juga udah pesen buku Performance Riding Techniques untuk belajar bagaimana caranya menikung seperti Rossi maupun melakukan late braking. Ini motor memang cuman 250 cc dan powernya pun jauh dari kelas MotoGP 250 nya Doni Tata, tapi kita harus selalu mulai dari langkah satu kan? Siapa tahu ini jadi karir gue berikutnya kalo udah bosen jadi Triple CCIE ceile

“Just think, what if I had never raced motorbikes. How things would have been so different. Just think, what if I had never tried it.”
- Valentino Rossi -

Sebuah Pencerahan

May 4, 2008

Bukan perusahaan yg paling penting.
Yang terpenting adalah orang-orang di dalam perusahaan.
Orang-orang di perusahaan bisa mencapai hasil yg luar biasa tapi juga bisa membawa kegagalan.

Perusahaan tidak bisa mengajarkan hal baru.
Setiap orang yg direkrut di posisi menengah lah yg diharapkan membawa ide-ide baru ke perusahaan.
Orang-orang ini yg diharapkan bisa membawa nilai-nilai baru,
Yang harus membuat prosedur baru, memperbaiki proses, meng upgrade tools, dan membuat perubahan.

It’s the people inside the company who matter. It’s the people who change the way the world works, lives, plays, and learns.

Semua yg perlu diketahui untuk menjadi top-notch consultant sudah dipelajari bahkan sebelum masuk ke perusahaan.
Dan ini adalah pencerahan baru untuk hari ini.

Lost in Translation @ Vietnam

April 30, 2008

Sudah hampir dua minggu gue di Vietnam. Vietnam adalah negara sosialis yg menarik dgn pertumbuhan ekonomi yg sangat tinggi, tertinggi dibanding negara-negara Asia sekitar. Dan gue ada di sini untuk memimpin team gue melakukan hal yg banyak orang bilang tidak mungkin dilakukan dengan waktu yg tersedia.

Jadi ceritanya gini, sekitar dua bulan yg lalu gue dapet informasi kalo team Cisco AS yg lain gagal untuk melakukan migrasi network untuk salah satu Internet service provider terbesar di Vietnam. Customer nya sempat marah-marah dan mengirimkan surat ultimatum bahwa proses migrasi harus dilakukan dalam waktu 1 bulan atau “accept the consequences”. Seperti biasa team gue sbg field delivery alias team cuci piring atau mungkin lebih kerennya seperti di Michael Clyaton ‘fixer’ alias ‘janitor’ diutus untuk melakukan pekerjaan yg tertunda. Pada saat itu dari pihak management belum tahu penyebab kegagalan tsb. Yang jelas, ISP itu sudah mengumumkan downtime ke semua customernya tapi ternyata team yg terdahulu menyatakan tidak sanggup mengeksekusi dgn alasan kekurangan waktu persiapan. Ini yg membuat mereka kecewa besar dan marah-marah.

Dua NCE dari team gue melakukan evaluasi dari project scope dan design serta migration plan team terdahulu, dan hasilnya: ini adalah project migrasi yg sangat kompleks karena melibatkan teknologi Next Generation Networks mulai dari physical cable re-patching, migrasi EIGRP ke OSPF, MPLS, LDP, BGP dgn policy yg rumit, MP-BGP sampai ke cache dgn load balancer, di tiga data center di tiga kota besar Vietnam yg berbeda, dan downtime yg diberikan oleh customer untuk setiap tempat hanya 2 jam!

Dua jam downtime ini berarti team yg melakukan hanya punya waktu 1 jam untuk kerja, sedangkan 1 jam yg lain untuk jaga-jaga jika harus rollback ke state network sebelum migrasi. Dan karena ke-3 data center tadi saling terkoneksi, maka perubahan di 1 data center akan mempengaruhi network di tempat lain spt BGP policy, traffic flow dan lain-lain. Rencana team yg sebelumnya adalah untuk melakukan proses migrasi di 3 tempat secara bersamaan sehingga tidak perlu melakukan analisa dampak yg akan terjadi jika migrasi dilakukan satu persatu. Dengan hanya 1 jam waktu yg tersedia tentunya pressure pada saat downtime akan sangat tinggi sehingga tidak ada engineer baik dari Cisco maupun dari partner company yg mau melakukan itu.

Mungkin karena semangat untuk melakukan hal extra seperti di doktrin yg gue terima dan juga karena merasa tertantang, gue meminta boss gue buat diikutsertakan dalam project ini padahal project di tangan sudah ada 4 di 4 negara yg berbeda. Begitu semangatnya sampai gue bersedia untuk sharing kamar hotel dgn NCE yg lain selama beberapa kali kunjungan gue ke Vietnam! Ini gue lakukan dgn inisiatif sendiri untuk menghemat biaya karena sudah ada 2 NCE dari team gue yg ke sana (di setiap project umumnya kita selalu mengirim maksimum 2 NCE dalam satu waktu), selain itu team yg terdahulu sudah terlalu sering menghabiskan waktu di customer ini dari tahun kemaren sehingga budget yg tersedia buat travel and lodging sudah tidak ada. Sebenarnya buat gue hal ini tidak masalah soalnya setiap kali lagi project onsite ke suatu negara toh gue selalu menghabiskan waktu di customer jadi pulang ke hotel cuma buat tidur dan mandi doang.

Begitu boss gue setuju gue langsung mengadakan internal meeting dgn team member gue yg lain dan membuat migration plan yg baru. Gue lebih memilih untuk melakukan migrasi satu per satu di setiap tempat dgn konsekuensi harus melakukan analisa efek dari setiap perubahan di satu tempat di tempat yg lain. Begitu selesai dgn draft plan gue terbang ke Hanoi akhir Maret untuk bertemu dgn customer.

Meeting pertama gue dgn customer bulan lalu itu benar-benar nightmare. Customer yg sudah terlanjur marah ke Cisco menyambut kehadiran gue dan 2 NCE yg lain dgn dingin. Awalnya mereka terlihat ogah-ogahan untuk membantu. Bahkan ada yg menyatakan bahwa plan baru yg kita bawa itu not ready and unacceptable buat di eksekusi, karena terlalu banyak analisa yg belum dilakukan. Apalagi dgn jumlah router di setiap data center dan waktu yg tersedia berarti kita harus melakukan cable re-patch, migrasi OSPF, MPLS, dan BGP di setiap router dalam kurun waktu kurang dari 5 menit. Well, sebenarnya bukan pertama kali gue mengalami hal seperti ini, berada di situasi di mana customer sudah very low expectation dan juga harus kerja very under pressure karena waktu yg sangat terbatas. Jadi mungkin istilah kerennya: story of my life, isn’t it?

Mungkin jika gue dan team gue punya waktu lebih dari 6 bulan seperti team yg pertama, akan menjadi lebih mudah dalam membuat detil migration plan dan melakukan analisa. Namun customer sudah meng-fix tanggal untuk melakukan migrasi selama 2 minggu mulai pertengahan April, dan mereka setuju untuk melakukannya satu persatu dgn selang waktu beberapa hari. Ini berarti dari meeting terakhir sampai ke migrasi kita cuman punya waktu 3 minggu, 3 minggu untuk membuat plan yg final dan detil, termasuk melakukan testing di lab. Pressure yg sangat tinggi sudah terasa dalam proses persiapan setelah gue kembali dari meeting, apalagi gue pribadi di saat yg sama harus mengerjakan project CRS-1 di Singapore dan Thailand. Gue di meeting berterus terang ke customer bahwa migrasi ini ‘much more difficult than CCIE lab, but it can be done, we have done it before’. Seperti biasa, percaya diri itu harus nomer satu dong heheh. Dan gue yakin ini bisa dilakukan karena semua config yg diperlukan bisa di test terlebih dahulu di lab, dan kita bisa men-generate config tsb untuk di copy paste selama kurang dari 5 menit. Selain itu semua kabel maupun transceiver atau GBIC sudah di test terlebih dahulu.

Ini bukan kunjungan gue yg pertama ke Vietnam tapi mungkin akan menjadi yg paling berkesan. Kenapa? Apa karena gue jadi punya kesempatan mengunjungi 3 tempat yg berbeda: Danang, Hanoi, Ho Chi Minh selama 2 minggu dan selalu tinggal di hotel bintang 5? Apalagi Furama resort bintang 5 di Danang persis ada di pinggir pantai, Hanoi Intercontinental sgt terkenal dgn Sunset Bar nya yg berada di tengah danau West Lake, atau Sheraton Saigon yg sangat dekat ke Saigon River dan pusat hiburan di Ho Chi Minh? Oh tidak. Seperti yg gue bilang, gue kalaupun pulang ke hotel selalu hanya untuk tidur atau mandi jadi tidak pernah menikmati fasilitas.

Atau mungkin karena banyaknya jumlah motor di jalan-jalan seliweran dan suara klakson selalu terdengar? Memang walaupun disebut negara dgn pertumbuhan ekonomi tertinggi tapi Hanoi itu capital city yg kotanya jauh dari kata modern. Jumlah motor buaanyak bgt, lebih banyak dari yg ada di kota-kota indo! Dari koran gue baca perbandingan mobil ke motor 1.4 : 1 tapi kalo di jalan motor benar-benar melimpah dan seliweran, bahkan di jalan yg cocoknya jadi highway bisa dipadati sama motor! Di koran yg sama gue lihat jumlah kecelakan lalu lintas tahun lalu itu 15 ribu dgn angka kematian 13 ribu! Wak, ya jelas aja wong motor seliweran di sana sini bahkan ada yg suka melawan arus.

Dan orang di Vietnam suka sekali berkomunikasi melalui klakson
“halo, apa kabar?” “tiiit tttiiiit”
“baik, kamu sendiri gimana?” “teeennn teeennn”
“minggir dong gue mau lewat!” “tiin tiiin tiinnn”
“bentar ah, gue juga lagi ngebut” “tooon toooonnn”
hehe pokoknya bunyi klakson di jalan gak pernah berhenti terdengar mulai dari pagi buta sampai tengah malam sekalipun.

Mungkin berkesan karena gue melihat orang-orangnya yg sederhana dan pekerja keras. Sepertinya didikan sosialis membuat kebanyakan mereka tidak begitu materialis, dan tidak hidup memaksakan. CCIE yg kerja di sana, dgn gaji yg lumayan tinggi, bahkan manager sekalipun tidak malu pakai motor. Kalo di indo udah pada kredit mobil kali, gengsi dulu dong ye :)

Jadi sepertinya kalo memang belum cukup uang buat beli properti atau mobil ya sewa apartment dan naek motor saja, tidak perlu memaksa beli dgn cara meminjam ke bank. Memang sih kalo di jalan-jalan itu mobil mewah banyak apalagi di salah satu kota yg gue kunjungi, Danang. Jadi di Vietnam itu yg ada adalah orang yg kaya buanget sekalian, atau orang yg biasa-biasa, sepertinya jarang ada orang yg ‘nanggung’ atau maksain. Salah satu CCIE yg sukses karena jadi sales di salah satu partner kita mendapat bonus yg luar biasa gede sampai bisa punya BMW X5, tapi kalo belum sukses ya.. naek motor aja heheh. Orang-orangnya juga kebanyakan begaya hidup sederhana dgn makan di pinggir jalan. Btw makanan di Vietnam termasuk murah bgt, gue sampe sakit perut kebanyakan makan Pho, mie lokal yg tersedia di setiap penjuru. Yang mahal itu adalah rate hotel berbintang dan properti.

Meskipun mereka bersedia mengeluarkan IT spending yg tinggi tapi mereka selalu mencoba mengoptimalkan produk yg dibeli, kalo cukup dgn 2 router kenapa harus lebih? kalo cukup dgn 2 Gig backplane router kenapa harus upgrade? Salah satu data center ISP terbesar ini tidak pakai raise floor, bahkan dipasangin buanyak kipas angin gede2 buat membantu AC yg kurang dingin hahah

Orang-orangnya juga sangat curious dan ingin tahu secara mendetil dan tentunya seperti biasa suka bekerja keras. Begadang sampe pagi atau tidur di data center udah biasa buat mereka. Mungkin karena balik lagi didikan sosialis dimana mereka memang harus kerja keras buat hidup, sama mungkin gak ada tontonan sinetron kali ye yg ngajarin bisa dapet duit cepet dgn cara nipu, berebut warisan dll heheh. Dan juga mungkin karena masalah culture yg kuat yg masih dipertahankan sama mereka, sehingga di Hanoi pun suasana terasa sederhana dan tidak se modern Ho Chi Minh aka Saigon. Ini mungkin yg membuat pengaruh gaya hidup mereka yg lebih simple tapi fokus dgn culture yg sangat kuat.

Ini salah satu hal yg membuat gue terkesan. Selain itu juga tentunya karena gue beserta 2 NCE yg lain berhasil melakukan project migrasi ini walaupun penuh dengan tekanan. Pada saat downtime suasana benar-benar hell, gue harus mengkordinasi partner kita yg melakukan re-patch cabling, engineer yg memegang console di router yg berbeda, sampai melakukan troubleshooting sendiri di console, sehingga target migrasi dalam 1 jam bisa terpenuhi. Secara pribadi yg bikin gue semangat kayaknya film Braveheart yg gue tonton di hotel beberapa jam sebelum migrasi “they can take our console but they can can never take our freedom!!”

Dan juga pas downtime gue jadi inget sang Spaniard gladiator teman-temannya di tengah lapangan colloseum melawan pasukan yg lebih kuat “single column! single column!” Kalo gue mungkin “step 2! step 3! OSPF up? BGP up? Show ip route!” heheh very tense tapi seru and fun

Customer yg tadinya dingin lama-lama jadi akrab ke kita. Mereka mulai merasa yakin ketika kita berhasil migrasi data center nya satu persatu. Walaupun bahasa inggris mereka belepotan yg membuat komunikasi tidak lancar kita masih bisa becanda dan ketawa-ketawa. OSPF adalah tetap OSPF, BGP tetap BGP, di semua bahasa. Dan every guy in the world talks the same languange, you know, guys stuff ;)

Tentunya mereka juga punya masalah ‘inferior complex’ spt bangsa2 South East Asia lainnya. Pas ada orang bule dgn aksen British yg perfect melakukan presentasi semuanya pada diem, padahal planning yg dibikin salah total. Pas gue dan team gue dateng, karena sesama bangsa Asia, mereka sedikit lebih agresif.

Problem mereka dengan bahasa Inggris yg jarang digunakan sehari-hari menjadi momen-momen Lost in Translation yg tidak bisa gue lupakan. Gue sempet tertawa-tawa pas ngeliat team member gue orang Thailand dgn pronunciation yg ‘beda’ mencoba menjelaskan ke customer orang Vietnam yg gak bisa bahasa Inggris. Atau gue asli ketawa ngakak pas ngedenger TAC engineer yg orang Spanyol dgn logatnya mencoba menjelaskan hardware problem ke engineer partner kita yg bahasa Inggrisnya patah-patah. Setiap kali presentasi gue lakukan dgn berbicara pelan dan kadang harus berulang untuk memastikan customer gue sudah mengerti.

Isu mereka yg lain juga adalah masalah edukasi. Pakai helm yg bener pas naek motor itu baru2 mereka lakukan, sebelumnya mereka biasa pakai apa aja termasuk topi petani maupun helm tentara :) Juga kebiasaan makan di jalan, yg kelihatannya sepele tapi ternyata masalah penyakit cholera karena jajanan jalanan yg tidak bersih itu sempet menjadi epidemik.

Terlalu banyak hal berkesan yg terjadi selama 2 minggu project migrasi ini sehingga mungkin walaupun gue menuliskan pengalaman gue kemaren selama 100 halaman tetap tidak bisa menggambarkan suasana yg sebenarnya. Seperti salah satu pemenang the Amazing Race Asia bilang, walaupun selama lomba mereka diikuti dan difilmkan “but all the small things that happened that make each moment very special”. Seperti juga CCIE lab atau hal lainnya, banyak pengalaman itu harus dirasakan sendiri untuk tahu bagaimana rasanya.

Anyway, it was a damn good experience and perhaps one of my unforgettable moments. Dan mungkin kita bangsa Indonesia harus belajar dari kehidupan orang-orang Vietnam yg lebih sederhana dan pekerja keras.

Once a Traveler

April 1, 2008


You wake up at Kuala Lumpur, Bangkok, Singapore. You wake up at Sydney, Bali, Hanoi. San Jose, Hongkong, Jakarta, Ho Chi Minh. Lose an hour, gain an hour. This is your life, and it’s ending one minute at a time. You wake up at Changi International. If you wake up at a different time, in a different place, could you wake up as a different person?
(Fight Club, modified with the places I visited in the last few months)

I’m a traveler as well as a consulting engineer, a dreamer, a blogger, a backpacker, and a storyteller.

My traveling experience:
Hotel: Shangri-La (80%), Hilton, Hyatt, Ritz Carlton, Intercontinental, Swissotel, Sheraton, Le Meridien, Four Season, Holiday Inn, Westin, Crown Plaza, Conrad, Sofitel, Excelsior
Airline: Singapore Air (90%), Malaysia Air, Thai Air, Air Asia, Garuda, Jet Star Asia/Valuair, Emirates Air, Vietnam Air
Membership: Singapore Air KrisFlyer/Star Alliance Elite Gold, Shangri-La Gold, Hyatt Gold, Starwood Preferred Guest
Privileges: Airport business lounge, priority check-in/luggage, upgraded hotel room, free staying in hotel, miles
Travel style: Light. First priority is for passport, wallet and mobile phone. Second priority is for Cisco badge, notebook, chargers, iPod. Third, my backpack where I keep all the rest. In fact, everything that I need for living outside the country I put it inside this North Face backpack
Favorite airport: Changi International
Favorite cities: San Francisco, Amsterdam, Sydney, Dubai, Bangkok
Best flying experience: A380 to Sydney
Longest flying time: San Francisco - Sydney (via Hongkong and Singapore)
Longest stay in city during one visit: 3 weeks (Sydney)

I decided to go full mobile even in Singapore. I decided to abandon my apartment room. I decided to stay in the hotel everytime I need to be in my base station, most probably in a backpacker hotel. According to my calculation if I need to spend only a week every month in Singapore in average it’s much cheaper to stay in the hotel that is closer to office than paying monthly room with taxi since my current room is on the far west side of the island. And obviously it will be more fun.

This is my life, and it’s ending one minute at a time.

CCIE @ Networkers Indonesia

March 16, 2008

Update: materi presentasi gue kemaren bisa di download di sini.

Cisco Systems Indonesia akan mengadakan acara Cisco Networkers Solutions Forum 2008 di hotel Shangri-La Jakarta tanggal 25 Maret ini. Insya Allah, jika tidak ada halangan maka gue akan menjadi salah satu pembicara untuk mempresentasikan topik tentang CCIE. Gue akan coba memberi penjelasan tentang Cisco certification program secara general, dan berfokus pada salah satu track CCIE, sharing tips and trick untuk bisa lulus CCIE, dan lab day experience disertai sedikit cerita tentang hidup sebagai CCIE.

Gue juga berusaha mengundang semua CCIE Indonesia buat dateng, jadi para peserta nanti bisa langsung melihat dan bertemu para CCIE di sana.

Selain session CCIE gue tentu saja banyak hal yg menarik dari Networkers ini. Presentasi ttg Data Center, Multi Service IP Backbone, Unified Communication, Security, Managed Services dan session-session lainnya akan sangat menarik karena berisikan update terbaru dari produk dan solution Cisco Systems di area-area tersebut. Agenda acara selengkapnya bisa dilihat di sini.