Tentang Karir

October 31, 2009

There is no such thing as career path.

Gue bicara tentang karir untuk seorang engineer, atau mereka yg mau fokus dan tetap bekerja di bidang teknis di area computer networking, misalnya, sampai pensiun.

Di organisasi tertentu ini sangat jelas terlihat. Tidak ada karir buat engineer, terutama di tempat di mana IT dilihat hanya sbg penunjang bisnis utama dari perusahaan. Ketika seorang engineer menjadi senior dan ingin naik lebih tinggi lagi dia harus pindah ke jalur management, misalnya dgn menjadi manager teknis. Dan ini berarti dia harus berurusan dgn hal-hal lain di luar kerjaan seorang engineer: mengatur orang, budget, perhitungan overhead di team, dan sebagainya. Di organisasi spt ini buat mereka yg masih tetap ingin menjadi engineer sampai tua tidak akan bisa mendapat promosi lagi. Bahkan bisa jadi lebih buruk karena ada organisasi yg memilih utk mengganti engineer-engineer senior yg sudah tua dgn yg lebih muda karena bisa menurunkan gaji yg harus dibayar.

Bagaimana dgn perusahaan yg bergerak di bidang solusi teknis? Bukannya bisnis perusahaan tergantung dari para engineer dalam membuat solusi? Solusi teknis dari engineer bisa dijual dan mendatangkan keuntungan buat perusahaan, berarti ini tempat yg tepat utk para engineer? Tidak juga. Kata kuncinya tetap “dijual dan mendatangkan keuntungan” jadi intinya tetap di usaha perusahaan utk menjual, bukan produknya. Kita harus mengerti bahwa tidak mudah utk mengukur hasil kerja seorang engineer. Sbg contoh, seorang sales di perusahaan bisa diberi target penjualan pertahun, dan jika dia bisa mencapai target tsb, bahkan melebihi utk beberapa tahun berturut-turut, maka sudah pasti promosi menanti. Bagaimana cara kita mengukur keberhasilan seorang engineer dgn metoda yg serupa? Dgn cara melihat berapa hak paten dari inovasi yg dia hasilkan, atau berapa banyak IETF RFC’s dia terlibat? Gue bicara ttg engineer pada umumnya yg bekerja di bidang computer networking, dan kebanyakan tidak seberuntung itu utk bisa bekerja di bagian R&D dan duduk di lab utk menghasilkan teknologi networking baru.

Jadi apakah ada caranya buat engineer utk berkarir?

Jawabannya: ada. Di perusahaan yg melakukan inovasi di bidang teknologi mereka mengerti bahwa sgt penting utk mempertahankan engineer-engineer yg bagus sehingga ada jalur karir di bidang teknis yg tersedia. Ini adalah perusahaan di mana seorang engineer bisa terus fokus ke teknikal dan berkarir utk ke level yg lebih tinggi sehingga mencapai level “Distinguished” engineer atau bahkan disebut sbg “Fellow”. Tapi tetap saja utk mencapai level tsb kita harus mengambil kendali karir kita, tidak bisa menunggu siapapun, kita harus membuat jalur karir kita sendiri, dan terkadang ada hal-hal yg harus dikompromikan.
Dan yg gue tahu, engineer yg baik tidak pernah berkompromi :)

Pertama, engineer harus berkompromi utk menerima kenyataan bahwa team teknis itu sangat sedikit dilibatkan dalam hal-hal yg berkaitan dgn keputusan bisnis, seperti perubahan di dalam organisasi. Ketika perusahaan tiba-tiba mengubah model bisnis yg dilakukan, termasuk melakukan restrukturisasi team engineering, maka engineer akan diberi tahu ketika perubahan sudah akan dilakukan atau bahkan telah terjadi. Bisa jadi seorang engineer baru kembali dari weekend hanya utk menemukan kenyataan bahwa dia sudah dipindahkan ke team yg baru atau mendapat manager yg baru. Jadi, seperti tidak cukup sulit buat engineer utk bisa menunjukkan kemampuannya di perusahaan, bagaimana jika dia harus pindah team atau ganti manager yg berarti dia harus mulai lagi utk membangun kredibilitas dan reputasi?

Yg kedua, seorang engineer mungkin harus berkompromi dgn memanipulasi fakta teknis utk mendukung bisnis dari perusahaan. Solusi teknis yg sebenarnya tidak sesuai dgn yg diminta customer, tapi tetap dijual karena alasan lain termasuk alasan politis dan hal-hal diluar teknis. Dan sekarang engineer harus bisa membuat solusi tsb bekerja dgn cara apapun. Seorang engineer muda yg masih idealis bisa saja berkata TIDAK, karena dia masih lebih suka utk bekerja berdasarkan fakta teknis yg nyata, sebagaimana engineer yg seharusnya. Tapi jika ingin berkarir, dari seorang engineer utk kemudian menjadi senior, dan naik lagi menjadi architect, sampai ke level yg disebut technical lead atau distinguished dan sebagainya, tentunya organisasi tempat si engineer bekerja mengharapkan dia utk bisa mendukung bisnis perusahaan. Dari pandangan gue, ini tetap saja sebuah kompromi.

Yg ketiga dan kompromi yg terburuk dari semuanya, karena sangat sulit utk menjadi menonjol sbg seorang engineer, bisa saja engineer memilih jalan singkat dgn cara melakukan cara apapun agar bisa dapat promosi. Ada yg pernah bilang kalo utk berkarir di perusahaan itu yg paling penting adalah bagaimana agar bisa menonjol dan kelihatan. Tapi bagaimana jika si engineer lebih sibuk agar bisa terlihat tapi tidak benar-benar melakukan pekerjaan yg seharusnya? Kompetisi di antara engineer tsb bisa menjadi sangat jelek dan tidak ada hasil karya yg dihasilkan, hanya upaya dalam berlomba-lomba menonjolkan hal-hal yg sebenernya belum selesai.

Gue berharap tiga hal tsb cuma imaginasi gue doang, sebagai hasil dari kebanyakan menghisap Shisha sambil ngobrol ngalur-ngidul dgn teman-teman lama tadi malam. Sayangnya, beberapa hal di atas sangat nyata terjadi di kehidupan sehari-hari.

Jadi jika gue udah tau itu semua, mengapa repot-repot menulis dan mendiskusikannya? Hidup itu pilihan kan?

Memang benar.

Alasan mengapa gue mendiskusikan hal-hal tsb di sini adalah supaya orang-orang spt gue yg berpikiran dan merencanakan utk menghabiskan waktu gue sampai tua utk tetap berurusan dgn bidang teknis, bisa mempunyai ekspektasi yg tepat. Ketika kita sudah memilih utk menjadi engineer utk seterusnya maka kita harus tahu konsekuensi apa yg harus kita hadapi. Bahwa karir ke depan tidak akan mudah dan penuh tantangan, bahkan hanya utk naik satu level di perusahaan. Kita menjadi lebih siap dan mampu menerima kenyataaan ketika teman kita di departemen yg lain, misalnya di divisi sales, bisa berkarir dgn lebih cepat.

Dan gue juga punya satu rahasia yg mau gue bagi di sini. Gue melihat bahwa utk mendapat promosi sbg orang teknis kita tidak perlu melakukan kerja yg bagus di setiap kali. Yg harus dilakukan adalah melakukan kerja yg luar biasa walaupun hanya satu kali. Dgn bekerja sangat hebat bahkan hanya di satu project, di waktu yg tepat dan ketika dilihat oleh orang yg tepat, akan mendatangkan hasil yg jauh lebih baik. Jadi spt one great rock show can change the world, kata Dewey Finn alias Jack Black di School of Rock. Dan tentunya kita tidak harus menonjol dgn cara mengambil hasil kerja orang lain, walaupun kita sangat ingin utk mendapat promosi.

Apakah cara itu akan benar-benar berhasil?

Mana gue tahu? Gue itu tipe orang yg selalu berpindah-pindah organisasi ketika gue mau lebih. Di masa lalu, utk mendapat gaji yg lebih tinggi gue pindah ke perusahaan lain. Utk mendapat profil kerjaan yg lebih bagus gue pindah ke team yg lain. Gue membangun jalur karir sendiri dgn cara berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Gue belum pernah berada di satu tempat dalam waktu lama utk bisa membuktikan apakah ‘rahasia karir’ gue itu bisa benar-benar berhasil.

Jadi gue akan memberi tahu hasilnya ketika sudah dapat promosi.

Pernyataan: tulisan ini merupakan pendapat gue pribadi dan tidak ada hubungannya dgn organisasi tempat gue bekerja sekarang. Ini semua hanya berdasarkan pengalaman pribadi berpindah-pindah dari satu perusahaan IT ke perusahaan yg lain, dan juga berdasarkan pengalaman gue bekerja sbg seorang kontraktor.
Dan gue tidak menghisap apapun ketika menulis ini.

Advanced CCIE Lab

October 26, 2009

Gue baru saja menyelesaikan ujian lab utk program sertifikasi internal dari perusahaan. Tentunya gue tidak bisa menceritakan secara detil, tapi gue ingin berbagi pendapat ttg bagaimana ujian lab yg seharusnya, berdasarkan pengalaman gue ujian lab kemarin.

Gue pernah bilang bahwa sertifikasi tidak ada artinya tanpa pengalaman. Lulus ujian lab yg sangat sulit spt CCIE put tidak langsung membuat kita menjadi expert. Sertifikasi hanya bisa membuat kita memiliki skill mendasar sbg pondasi, dan kemudian kita harus mengasah skill lebih lanjut setelah itu dgn terjun ke project yg sebenarnya dan menambah pengalaman di dunia nyata.

Tapi pernahkan kita menanyakan, seberapa jauh skill yg diujikan di lab dibandingkan dgn skill yg diperlukan utk kerja di dunia nyata? Sebagai contoh, setelah kita lulus ujian CCIE SP, apakah kita bisa langsung terjun untuk meng handle jaringan Service Provider yg besar, atau masih banyak hal-hal yg harus dipelajari terlebih dahulu?

Gue akan menuliskan pendapat gue ttg bagaimana ujian lab yg seharusnya. Seperti biasa, ini cuma pendapat pribadi. Dan pendapat seperti hidung, semua orang pasti punya satu.

1. Ujian lab seharusnya menggunakan hardware yg real

Dari daftar hardware yg digunakan di CCIE SP lab, misalnya, terlihat bahwa hardware yg digunakan bukan hardware yg biasa digunakan di SP network. Cisco 7200 memang bagus, tapi bukan buat jadi P router! Apalagi masih ada Cisco 2800 bahkan 2600 di SP lab.

SP lab seharusnya menggunakan high-end router spt CRS, ASR dan 7600. Jika beberapa CRS utk membuat lab dianggap terlalu mahal, maka satu CRS yg di partisi secara fisik dgn menggunakan konsep Secure Domain Routing juga bisa. SP besar sudah umum menggunakan IOS XR, sehingga minimal jika tidak bisa pakai CRS di lab paling tidak ada GSR XR sbg P router. Untuk PE seharusnya menggunakan ASR 9000 atau paling tidak Cisco 7600 dgn RSP dan ES+ card.
Terlalu muluk? Mungkin, tapi hardware-hardware tsb memang yg biasa digunakan di SP network.

Sama halnya dgn CCIE Routing & Switching. Jika track ini dianggap mewakili network Enterprise yg besar, maka setidaknya ada Cisco 6500 utk digunakan di ujian lab.

2. Ujian lab seharusnya menggunakan skenario yg nyata

Setelah kita selesai mengkonfigur hardware di lab, lalu apa? Menjalankan ping test? Memeriksa config? Menjalankan show commands? Itu semua tidak cukup utk menguji skill yg nyata!

Ujian lab seharusnya menggunakan traffic generator utk mensimulasi traffic. Dgn adanya traffic di network kita bisa memeriksa, misalnya, jika fitur Quality of Services benar-benar bekerja. Ujian lab juga harus menguji pemahaman kandidat dalam skenario failover, karena ini adalah kebutuhan primer dari setiap Service Provider. Bagaimana kita bisa tahu bahwa fitur Fast Convergence sudah dijalankan dgn benar? Dgn cara memeriksa BFD neighbors menggunakan show command? Dgn cara melihat config dari Non Stop Forwarding dan Graceful Restart?

Cara terbaik adalah dgn mensimulasikan traffic di network dan melihat apakah konfigurasi yg sudah dilakukan, atau skenario jika terjadi failover, akan memberikan dampak ke traffic tsb. Bahkan skill utk memahami dan men set traffic generator itu sangat penting dalam pekerjaan sehari-hari.

3. Ujian lab seharusnya menguji skill dgn cara yg benar

Tidak cukup dgn hanya menanyakan kandidat utk mengkonfigur atau melakukan troubleshooting di ujian lab. Beberapa orang mungkin bisa mendapat soal ujian dgn berbagai cara kemudian menghapal cara menjawab soal-soal tsb.

Cara terbaik utk menguji pemahaman yg mendalam dari seorang kandidat ujian lab adalah dgn cara meminta kandidat tsb utk melakukan verifikasi dari hal yg sudah dilakukan dan menjelaskannya secara detil. Sbg contoh, dalam test fast convergence, kandidat harus memberikan output dari hasil test convergence time ketika terjadi link failure dan menjelaskan mengapa ada perbedaan ketika link down dan link up (ketika link kembali bekerja setelah failure atau yg biasa disebut restorasi). Apakah si kandidat bisa menjelaskan mengapa convergence time bisa berbeda jika PE router crash dibandingkan ketika P router yg crash?

Pertanyaan-pertanyaan sulit dan menjebak spt di ujian CCIE yg sekarang masih tetap penting. Skill troubleshooting masih tetap penting utk diuji di lab. Tapi si kandidat lebih diminta utk bisa menjelaskan “MENGAPA”. Tidak hanya bagaimana cara mengkonfigur dgn cara ini maupun itu, tapi juga harus bisa menjelaskan mengapa traffic di network berprilaku seperti begini maupun begitu ketika fitur tertentu dijalankan maupun ketika terjadi hal-hal spt skenario failure di network.

Tentu saja tidak fair utk selalu membandingkan antara lab “ideal” gue dgn ujian lab yg sudah umum seperti CCIE.

Dalam hal hardware di lab, misalnya. Hardware yg sebenarnya tidaklah murah. Jadi mungkin vendor ujian bisa menyediakan 1 atau 2 lab yg komplit, yg bisa mensimulasikan hardware di dunia nyata utk kandidat dari seluruh dunia. Pendapat gue ttg ini: tidak masalah. Toh ujian lab bisa dilakukan secara remote. Dan ujian lab yg gue jelaskan di atas memang lebih advance dan spesifik utk skill tertentu. Jadi bisa saja Cisco akan membuat “Advanced CCIE lab” dgn fokus skill teknis yg lebih spesifik, dan kandidat harus sudah punya CCIE utk mengambil lab advance ini. Jadi akan ada banyak track yg spesifik, sbg contoh CCIE SP-NGN, CCIE SP-IPTV, CCIE SP-Wimax dan sebagainya. Dengan banyaknya pilihan dari advanced track, maka kandidat bisa memilih mana yg lebih cocok dan membantu dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga jumlah kandidat akan didistribusikan ke banyak track utk menghindari antrian yg terlalu panjang.

Jika waktu mengijinkan, semua penjelasan harus dilakukan dgn interview singkat, tidak cukup hanya dgn tertulis. Bagaimana jika English bukan bahasa sehari-hari dari si kandidat? Tidak masalah. Karena ini kan remote lab, jadi bisa dilakukan dari berbagai negara. Sehingga si kandidat bisa mendapat proktor atau penguji di lab yg berbahasa sama. Dan ujian lab ini bisa mengambil waktu 2 hari spt ketika CCIE di tahun 2001 dulu. Hari pertama bisa utk membangun network secara keseluruhan. Hari ke-2 pagi bisa utk menjalankan traffic generator dan verifikasi dari network. Hari ke-2 sore bisa utk sesi troubleshooting. Di akhir setiap sesi selalu ada interview agar si kandidat bisa menjelaskan apa yg sudah dilakukan, dan menjelaskan prilaku dari traffic di network utk skenario yg berbeda-beda.

Tentunya di advanced CCIE track ini tujuan utamanya adalah menyiapkan kandidat yg mampu utk langsung bekerja di dunia nyata setelah mereka lulus, dgn cara memperkecil jarak antara materi yg diujikan di ujian lab dgn skill set yg dibutuhkan di dunia nyata, dan bukan utk mengejar target jumlah orang yg lulus.

Apakah ini semua mungkin terjadi atau hanya mimpi? Siapa tahu. Suatu hari nanti mungkin vendor ujian lab spt Cisco akan membuat track sertifikasi baru di atas sertifikasi CCIE, dan mereka mungkin akan mempertimbangkan semua poin-poin di atas.