Tiga Tipe Network Designer

August 27, 2009

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan gue, ada tiga tipe Network Designer untuk solusi infrastruktur:

Designer for Solution: network designer tipe ini lebih ke arah solusi high level, dgn mempertimbangkan kepentingan bisnis dan faktor-faktor lain spt ekspansi network di masa depan, dan solusi yg diberikan maupun cakupan teknologi di dalam design biasanya sangat luas dan kompleks. Jadi sbg contoh seorang solution designer harus bisa membuat topologi network yg high level dari suatu infrastruktur yg komplit, dgn mencantumkan teknologi-teknologi dan fitur yg akan dipakai, dan mungkin sedikit detil untuk poin teknologi tertentu maupun memberikan karakteristik dari hardware yg bisa digunakan di dalam solusi.

Designer for Pre-sales: mirip dgn tipe solution designer, tapi cakupan teknologinya lebih sedikit, misalnya berfokus pada design dari core network atau data center. Hanya selain teknologi yg akan dipakai dibahas secara lebih detil, pre-sales designer harus bisa memilih tipe dan jenis hardware yg akan digunakan (istilahnya Bill of Material). Jadi hasil akhir dari seorang pre-sales designer adalah high level design dan daftar dari hardware yg akan digunakan, sehingga customer bisa melakukan persiapan dgn membeli hardware-hardware tsb.

Designer for Implementation: ini adalah designer yg membuat low level design. Ketika high level design dan daftar hardware sudah dibuat oleh designer yg lain, maka implementation designer harus bisa membuat design tsb benar-benar bekerja spt yg diharapkan. Cakupan implementation designer ini mulai dari koneksi fisik (kadang sampai ke penempatan module di hardware), skema IP addressing, software yg digunakan, sampai ke konfigurasi detil dari setiap device. Sering juga pemilihan teknologi di high level design harus diadaptasi dan disesuaikan dgn keterbatasan dari arsitektur hardware atau software.

Mana yg lebih baik? Tergantung.

Tergantung industrinya, tergantung perusahaannya, tergantung kondisi market tempat kita bekerja. Kadang-kadang diperlukan kemampuan sbg solution designer dan pre-sales designer sekaligus. Kadang ketiga tipe designer tsb harus dimiliki oleh satu orang! Sebagai ilustrasi di satu perusahaan mungkin designer yg bisa memberi solusi dan membantu pre-sales sampai membuat daftar hardware yg akan digunakan berada di posisi yg lebih penting. Tapi di perusahaan lain yg bergerak di bidang services, implementation designer adalah yg paling penting karena customer membutuhkan jasa utk bisa melakukan implementasi design secara detil agar mencapai infrastruktur network yg diharapkan.

Solution designer mungkin tidak perlu tahu terlalu detil ttg arsitektur hardware karena solusi yg diberikan berdasarkan teknologi umum yg sudah dimiliki oleh banyak hardware, meskipun belum ada hasil pengujian yg mendetil. Pre-sales designer perlu tahu limitasi dan kapasitas dari suatu hardware utk dapat memutuskan hardware mana yg paling tepat dan juga berapa jumlah yg dibutuhkan jika berkaitan dgn kapasitas. Sedangkan implementation designer benar-benar harus mengerti keterbatasan dari arsitektur hardware dan software, dan implementasi maupun konfigurasi yg dilakukan biasanya sudah teruji di test lab maupun di infrastruktur network customer yg lain.

Gue pribadi sudah pernah bekerja di ketiga tipe itu, dan selama bersama Cisco Advanced Services 3 tahun terakhir lebih fokus menjadi implementation designer. Bahkan beberapa project terakhir gue berfokus ke implementasi dan migrasi dari infrastruktur network yg sudah ada ke network yg diinginkan, yg berarti harus mempertimbangkan faktor-faktor lain spt bagaimana caranya membuat metodelogi dan prosedur utk memastikan bisnis customer tidak terlalu terganggu selama masa transisi.

Kesimpulannya, solution designer berfokus ke solusi high level dgn mengasumsikan teknologi yg digunakan tidak tergantung dari hardware yg akan dipakai, pre-sales designer lebih fokus ke tipe hardware yg mendukung teknologi yg akan digunakan dan berapa jumlah hardware yg diperlukan agar customer bisa mempunyai daftar dari hardware-hardware yg harus dibeli tsb, sedang implementation designer berfokus ke hal-hal low level utk memastikan teknologi yg digunakan bisa diimplementasikan dgn menggunakan hardware dan software yg tersedia.

Ujian CCDE Practical yg baru saja gue ambil lebih menguji kemampuan dari Solution Designer. Tidak ada ketergantungan dari hardware maupun low level design yg harus dilakukan. Materi yg diujikan sangat luas tapi lebih bersifat overview dari pilihan teknologi yang ada.

Gue tidak tahu lulus atau tidak, karena hasilnya baru keluar 6-8 minggu lagi. Dan di ujian CCDE ini ada banyak pertanyaan yg menggunakan metode drag-and-drop, fill in the table/matrix, re-ordering, dan memperbaiki topologi network dgn menambah/mengubah device/link, dan di CCDE ada kemungkinan utk mendapat poin setengah.

Gue pikir yg paling penting utk bisa lulus ujian CCDE itu adalah logika dari seorang network designer, berikut kemampuan utk bisa mengambil hanya informasi yg penting dari begitu banyaknya informasi yg diberikan, kemampuan analisa dari informasi-informasi tsb, dan memiliki pengalaman sbg network designer walaupun hanya high level tapi harus mencakup teknologi yg luas dan berbagai tipe network maupun infrastruktur utk industri yg berbeda-beda spt Service Provider, Enterprise, Financial, Retail dll agar kita bisa familiar dgn skenario network yg diberikan.

Kemampuan troubleshooting secara high level juga diperlukan, dimana kita harus bisa menganalisa kemungkinan penyebab masalah di network, atau kesalahan di design yg menimbulkan masalah, tanpa melakukan debug namun hanya berdasarkan informasi-informasi yg diberikan. Terakhir yg juga penting, dibutuhkan stamina yg sangat bagus utk bisa tetap fokus dan berkonsentrasi selama 8 jam utk menganalisa berbagai skenario dan begitu banyaknya soal, terutama di beberapa jam terakhir.

Gue baru tahu lulus atau gagal dalam waktu 6-8 minggu lagi. Tapi gue bersedia memberikan pendapat ttg hal-hal yg diperlukan utk bisa lulus di blog gue yg lain. Dan juga link ini memberikan tips utk CCDE practical yg mungkin bisa bermanfaat.

CCDE bisa jadi sama susahnya dgn CCIE. Yg pasti buat gue kalau tidak berhasil lulus kali ini jadi ada target baru yg harus dicapai dalam rangka pengembangan kemampuan dan pengetahuan.

Dan itu yg penting.

Pengakuan Dari London

August 25, 2009

Gue belum siap.
Gue gak suka ngomong begini tapi ini kenyataan.

Gue gak suka bikin alasan, tapi faktanya: setelah gue balik dari project sebelumnya ke Dubai minggu lalu hanya tersisa 6 hari sebelum ujian. Dan tentunya dua hari pertama gue pake buat tidur, buat menebus masa-masa kurang tidur selama project, dan juga buat nonton film High Definition karena selama project kurang hiburan :)

Selain itu Ramadan adalah bulan penuh berkah. Jadi kalo siang gue pake waktu utk belajar, dan juga utk mensupport project secara remote (yg berarti: banyak emails, conference calls, konek dari remote pake SSH, webex meeting dan lain-lain), maka malem hari gue sempatkan untuk bersama keluarga dan melakukan kegiatan beribadah juga.

Jadi gue belajar cuma sekitar 3 hari, hanya baca-baca beberapa materi buat refresh. Tapi tidak ada yg gue sesali. Dan seperti gue bilang sebelumnya, walaupun kurang persiapan tapi gue masih tetep percaya diri. Hanya ini berarti gue hanya bisa mengandalkan pengalaman project yg lalu-lau dan juga pengetahuan yg gue dapat dari sertifikasi yg sebelumnya.

Kita lihat saja besok.

Project Riyadh

August 18, 2009

Ini adalah minggu ke-6 gue mengerjakan Project Riyadh dan mudah-mudahan minggu yg terakhir. Waktu gue diberi tahu untuk terlibat di project ini scope nya adalah: memimpin team untuk memperbaiki design dgn melakukan migrasi 15000 VPN customer dalam waktu 3 minggu. Waktu itu pikiran gue hanya terfokus ke angka-angka tsb, karena dgn melakukan perhitungan matematis sederhana jika mengasumsikan team bisa bekerja tanpa berhenti maka ada 700 customer yg harus di migrasi setiap malam.

Ketika gue mendarat di Riyadh minggu kedua bulan Juli kemarin gue menyadari bahwa tantangan utamanya bukan me migrasi customer, sebanyak apapun per malam. Tidak ada informasi yg jelas ataupun dokumentasi ttg kondisi infrastruktur network dan network services. Setiap project migrasi network sangat tergantung pada informasi. Informasi ttg kondisi network yg sekarang. Informasi ttg network yg baru setelah migrasi. Kemudian kita harus membuat jembatan yg menghubungkan antara network yg sekarang dgn network yg baru. Kita harus membuat metodologi dan prosedur untuk memastikan masa transisi berjalan lancar. Pendekatan yg tepat sehingga proses migrasi tidak akan mengganggu bisnis sehari-hari.

Tanpa informasi yg cukup, sangat sulit untuk bisa membuat prosedur yg benar. Tanpa informasi yg benar, metode dan proses yg direncanakan bisa salah total. Tanpa informasi, tidak ada jembatan.

Untungnya gue dikelilingi oleh engineer-engineer terbaik di team. Gue masih inget Harry Stamper pernah bilang “I’m only the best because I work with the best”. Seperti klaimnya para Joe’s: when all else fails, we don’t. Ketika team yg lain mungkin akan menolak mengerjakan sesuatu dgn sangat terbatasnya resource, tidak adanya informasi dan juga target yg sangat singkat, gue dan team memutuskan untuk melanjutkan project sebaik mungkin.

Gue melakukan banyak kesalahan di minggu pertama, tapi dgn melakukan kesalahan gue juga belajar banyak hal ttg kondisi infrastruktur network yg sekarang. Setup customer sangat unik sehingga tidak mungkin proses migrasi di simulasikan di lab. Gue harus memimpin eksekusi migrasi dan membangun prosedur di saat yg bersamaan. Gue belajar bagaimana cara melakukan migrasi dgn cara melakukannya secara langsung. Rata-rata engineer di team gue bekerja lebih dari 16 jam sehari. Dan setelah beberapa minggu, akhirnya gue berhasil membuat proses migrasi, metode dan prosedur yg komplit, yg semuanya di dokumentasikan. Dgn adanya dokumentasi yg benar ttg proses migrasi membuat siapa saja akan bisa melanjutkan kerjaan gue meskipun gue sudah tidak ada lagi di sini.

Project ini mungkin tidak akan mencapai tingkat teratas dari daftar project yg gue sukai tapi gue tetep senang karena team yg gue pimpin berhasil melakukan sesuatu yg sempat dikatakan tidak mungkin dan tidak masuk akal. Di project ini gue harus menjadi network architect, technical lead, engineer yg juga ikut ngoprek dan megang console, sampai ke tingkat project manager buat mengalokasikan resource, mengatur jadwal dan lain-lain. Gue memang butuh waktu lebih dari 3 minggu, dan kemungkinan project ini baru selesai minggu depan. Tapi gue mengkomunikasikan ini ke customer, bahwa karena sangat sedikitnya informasi maka resiko di project harus dibagi. Dan salah satu resiko adalah waktu yg dibutuhkan menjadi lebih lama, terutama karena gue menemukan bahwa ada banyak network service lain yg harus di migrasi selain VPN customer. Gue bukan tipe orang yg suka membuat alasan. Jadi gue terus terang bilang ke customer ttg semua tantangan di project ini. Dan dgn bekerja sbg satu team, apapun mungkin dilakukan.

Kemarin bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Gue juga berharap hari kemerdekaan gue dari project ini akan segera datang.

Buat yg mengikuti blog gue tentu tahu kalo gue harus melakukan hal lain yg sangat penting minggu depan. Karena tekanan yg sangat tinggi dari Project Riyadh, gue tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan diri buat minggu depan. Tapi gue akan mencoba melakukan yg terbaik, seperti biasa.

Kurang persiapan, ya. Kurang percaya diri, tentu tidak.

Project London, here I come.