CCIE, Poin-Poin Yang Terlupakan

July 31, 2009

Dua minggu lagi gue akan ‘merayakan’ peringatan 8 tahun ujian CCIE lab pertama. Gue ujian CCIE lab utk track Routing & Switching di Brussels tanggal 13 Agustus 2001. Waktu itu gue gagal meskipun sudah berhasil mencapai sesi troubleshooting di hari ke-2. Tepat satu bulan kemudian gue ujian lagi di Tokyo tanggal 13 September dan lulus. Jadi sepertinya nomer 13 bisa berarti angka sial atau angka keberuntungan buat gue.

Gue sudah bekerja, dan hidup, sebagai CCIE selama hampir 8 tahun terakhir. Awal 2005 gue memutuskan untuk menulis posting pertama di blog yg dalam bahasa Inggris, untuk menceritakan ttg hidup gue, pikiran-pikiran gue, dan pengalaman gue hidup sebagai CCIE ke semua orang. Kadang-kadang gue menulis tentang pengalaman gue mengerjakan project untuk customer. Gue juga menceritakan bagaimana perjalanan gue untuk bisa lulus CCIE di track Security dan Service Provider. Pernah gue menulis ttg bahwa menjadi CCIE itu tidak mudah. Gue bahkan menulis tentang perjuangan gue untuk bisa masuk ke Cisco AS, sampai gue berhasil masuk ke team WWSP yg sekarang. Gue menceritakan bagaimana gue pernah sangat frustasi karena ingin masuk Cisco tapi tidak pernah dapat kesempatan.

Gue menulis itu semua karena sering gue membaca-baca kembali blog gue. Gue lakukan itu utk mengingat kembali apa yg sudah dilakukan untuk mencapai kondisi yg sekarang, dan gue juga selalu tertawa pada saat membaca cerita-cerita lama.

Tapi meskipun gue sudah sering menceritakan ttg CCIE dan juga hidup seorang CCIE (paling tidak hidup gue sendiri) gue merasa masih ada informasi yg kurang. Gue masih sering membaca dan menerima komentar ttg CCIE, dan gue rasa mereka yg memberikan komentar melupakan beberapa poin penting. Karena itu skrg gue akan menjelaskan poin-poin yg terlupakan dari CCIE.

# CCIE tidak berharga lagi karena jumlahnya sudah banyak

Gue melihat seseorang yg baru saja lulus CCIE beberapa hari lalu nomernya sudah di atas 25000. Nomer di CCIE dimulai dari angka 1025, jadi pada saat gue menulis ini bisa dikatakan ada lebih dari 24000 CCIE di luar sana. Ini alasan mengapa ada yg bilang CCIE sudah tidak berharga lagi.

Tentunya orang tsb melupakan poin dari CCIE. Apa tujuan kita mengambil CCIE? Siapa yg perduli dgn nomer yg kita dapatkan jika tujuan kita mengambil CCIE adalah utk mempelajari teknologi yg dicakup di lab? Jika seseorang mengambil CCIE karena dia ingin mempunyai dasar ilmu networking yg kokoh agar bisa menghadapi pekerjaan di dunia nyata, kenapa perduli dgn nomer berapapun yg didapat? Di poin-poin berikutnya akan terlihat bahwa bukan nomer berapa yg kita dapat yg penting. Yg terpenting itu adalah pengalaman, apa yg sudah dilakukan dan reputasi yg sudah dibangun.

Dan sudah jarang kita melihat CCIE dgn nomer yg kecil bekerja di lapangan lagi. Ini berarti para CCIE juga bertransformasi dan melangkah maju. Banyak CCIE lama yg sudah keluar dari bidang teknis. Beberapa mungkin sudah menjadi manager atau bahkan VP di suatu perusahaan. Ada yg sudah bikin perusahaan sendiri. Ada juga yg mungkin sudah pensiun dari bidang networking dan sekarang sudah menjadi personil group rock! Siapa tahu? Intinya sih kita selalu butuh proses regenerasi utk mendapat consultant network baru atau architect baru atau engineer baru. Yg jelas akan selalu ada tempat buat para CCIE yg baru.

# Membandingkan antara gelar universitas dgn CCIE

Ini sebenernya cara yg sangat aneh utk membandingkan, karena memang sangat berbeda sekali! Sertifikasi professional spt CCIE itu bagus utk pengetahuan praktis. Apakah kita butuh gelar yg didapat di universitas utk kerja di bidang networking? Tergantung. Seseorang yg bekerja di bidang networking sbg consultant utk design solusi atau architect dari implementasi project tidak membutuhkan gelar universitas. Yg diperlukan adalah pengalaman dan pengetahuan teknis. Pengetahuan teknis ini yg bisa didapat dari sertifikasi professional. Walau ilmu yg didapat dari sertifikasi kebanyakan adalah ilmu utk penerapan dan pengetahuan praktis.

Dari pengalaman gue pribadi, gue tidak pernah menggunakan gelar universitas yg gue punya (dan juga pengetahuan yg gue pelajari di universitas, ingat, gue lulusan Teknik Mesin) kecuali pada saat apply utk visa kerja.

Poin gue di sini: kedua hal tsb tidak bisa dibandingkan begitu saja. Ada orang-orang yg sekolah terus menerus sampai mendapat gelar PhD, tapi tidak bisa memberikan design solusi ke customer di suatu project. Ini jelas saja karena memang bukan pengetahuan spt itu yg mereka pelajari di universitas. Orang yg punya PhD lebih cocok utk mengerjakan hal yg lain seperti melakukan penelitian yg mendalam ttg teknologi atau protocol networking yg baru.

Jadi tanya saja ke diri sendiri, kita mau jadi apa? Kalo mau jadi orang yg bekerja di implementasi solusi networking spt gue, jelas kita membutuhkan pengetahuan yg bisa dipelajari dgn mengambil CCIE. Bahkan kalo suatu ketika anak gue memutuskan utk tidak mau sekolah karena dia mau fokus ke pengetahuan komputer dan networking alias ngoprek terus setiap waktu, gue bisa mengerti keputusan yg dia ambil. Gue harap.

# Jika memang tetap harus membandingkan

Gue tahu, jawaban gue di atas tidak akan memuaskan beberapa orang, karena sampai sekarang gue masih sering menerima email yg tetap menanyakan perbandingan antara gelar universitas dgn sertifikasi professional spt yg dari Cisco. Gue akan memberi jawaban di sini, dan ini semua tentunya hanya pendapat pribadi.

CCIE sudah menjadi standard dan kebutuhan minimum dari seorang network engineer. Dan secara pribadi gue juga setuju kalau utk menjadi seorang networking specialist yg handal (level III di tulisan gue sebelumnya ttg Cisco Certified Architect) memang dibutuhkan pengetahuan minimum yg ada di CCIE. Jadi di Networking Engineering, CCIE merupakan level terbawah yg kira-kira sama dgn gelar Sarjana Teknik atau S1.

Berdasarkan jawaban di atas, kalo ada yg mau fokus utk mempelajari pola pikir seorang designer network dgn mengambil CCDE, atau mengambil CCIE lagi utk track yg lain sehingga mempunyai multiple CCIE, harusnya mereka ini selevel dgn gelar Master atau S2. Gue ingin bilang kalo level berikutnya harusnya CCIE yg punya pengalaman. Tapi jika ada orang yg bisa lulus CCIE dan CCDE, atau beberapa CCIE dari track yg berbeda, dan tidak punya pengalaman, gue pikir orang tsb masih berhak dapet gelar Master. Paling tidak dari gue.

Jadi udah ketebak kan level PhD atau S3 di Institut Teknologi Networking gue? Cisco Certified Architect. Kalau PhD beneran hanya bisa diperoleh setelah research mendalam selama bertahun-tahun, maka Architect hanya bisa diperolah setelah memiliki pengalaman mendalam selama bertahun-tahun (paling tidak 10 tahun pengalaman berdasarkan research Cisco Certified Architect)

# Debat tentang CCIE atau pengalaman

Sampai poin ini, harusnya kita semua sudah sadar bahwa tidak perlu ada debat sama sekali! CCIE tidak begitu bermanfaat tanpa pengalaman. Titik. Apakah customer di dunia nyata akan tetap kagum sama kita jika kita berhasil ujian lab dgn score 100% tapi gagal mengeksekusi project karena tidak punya pengalaman?

Suka atau tidak, CCIE tidak bisa mensimulasi semua tantangan dari dunia nyata. CCIE adalah ujian praktek di lab yg tadinya dirancang utk para engineer Cisco TAC, utk memastikan mereka semua memiliki kualitas yg sama ketika membantu customer waktu ada masalah di network. CCIE tentunya bukan ujian ttg design, walaupun ada aspek design yg bisa dipelajari di sana. Jadi jelas CCIE tidak mungkin bisa mensimulasi dunia nyata ketika kita harus berhadapan dgn customer yg nyata, project yg nyata, dan masalah yg nyata. Dunia nyata terlalu sulit utk disimulasi ke dalam ujian yg hanya 1 hari (walaupun sampai sekarang Cisco masih berusaha melakukannya dgn meluncurkan program sertifikasi CCDE dan Cisco Certified Architect)

Tapi coba berpikir spt ini: ketika kita merasa bosan dgn pekerjaan kita yg sekarang dan tidak bisa berkembang, kita ingin sekali pindah pekerjaan tapi menghadapi 2 Law of Desperate Workers ciptaan gue dulu (kita tidak bisa pindah karena tidak punya pengalaman, kita tidak bisa punya pengalaman karena pekerjaan kita yg sekarang yg tidak menarik) mungkin jalan satu-satunya adalah dgn mengambil sertifikasi spt CCIE. Tentu saja kita tetap tidak akan mendapat tambahan pengalaman dgn mengambil CCIE. Tapi paling tidak kita bisa menunjukan bahwa kita memiliki pengetahuan dasar yg kokoh dgn memiliki CCIE, dan juga mampu mempelajari hal-hal baru.

# Semakin mudah utk lulus CCIE dgn cara curang

Ada beberapa orang bilang, kalo mau lulus CCIE maka pergilah ke Cina! Ada yg lain yg bilang, soal-soal CCIE dapat ditemukan dgn mudah di Internet. Yg lain lagi bilang, para CCIE dan calon CCIE sudah tidak menghormati NDA (Non Disclosure Agreement) lagi karena mereka saling bertukar pertanyaan CCIE lab seenaknya.

Harap ingat poin yg sebelumnya: CCIE tidak begitu bermanfaat tanpa pengalaman. Ketika kita belum punya pengalaman, paling tidak kita bisa membangun dasar pengetahuan networking yg kokoh dgn memiliki CCIE. Jadi apa gunanya lulus CCIE, jika kita tidak punya pengalaman dan juga harus berbuat curang hanya utk lulus?

Gue pribadi pernah bertemu beberapa CCIE, ada diantara mereka bahkan yg punya dua CCIE, dan dalam 5 menit setelah ngobrol gue bisa merasa bahwa orang-orang tsb tidak punya yg seharusnya mereka punya sbg CCIE. Gue gak bilang mereka sudah pasti lulus dgn cara curang. Gue cuma bilang walaupun sudah punya CCIE mereka tidak punya sesuatu yg dibutuhkan utk kerja di dunia nyata. Dan kalo orang spt gue bisa menebak spt itu, apakah para recruiter di perusahaan tidak akan mendapat kesan yg sama ketika sedang menginterview orang-orang tsb? Mereka mungkin pada akhirnya bisa masuk dan direkrut juga oleh perusahaan jika mampu meyakinkan di proses interview, tapi pada saat harus benar-benar bekerja akan terlihat kualitas yg sebenernya.

Jadi gak perlu repot-repot curang buat lulus CCIE. Tidak ada yg bisa menuduh kita lulus dgn cara curang walaupun kita benar-benar curang. Hanya ingat, begitu lulus CCIE dan dapet nomer, kita harus siap menanggung beban dan resikonya. Kita harus siap menunjukkan bahwa kita memang layak utk menjadi CCIE.

# Setelah CCIE kita sudah pasti hidup bahagia

Seseorang memanggil gue: Triple CCIE yg tidak pernah menulis ttg CCIE lagi. Maksud dia, gue tidak pernah menulis atau membahas ttg hal-hal teknis ttg CCIE. Jawaban gue: buat apa? Kalo ingin membaca ttg diskusi teknis ttg CCIE, ikut milis groupstudy aja. Atau baca blog dari Internetwork Expert. Kecuali gue kerja di tempat pelatihan CCIE, di mana gue terlibat dalam mengembangkan scenario dan soal-soal latihan CCIE, setelah lulus lab tentunya gue tidak bisa fokus di pembahasan teknis di CCIE lagi karena gue sudah harus berhadapan dgn tantangan dari project di dunia nyata.

Mereka yg mengikuti blog gue tentunya tahu gue memang tidak pernah membahas secara teknis ttg CCIE, karena ada banyak website terutama dari tempat pelatihan CCIE yg sudah melakukan itu dgn lebih baik. Gue lebih memilih utk menulis bagaimana kita harus mengubah pola pikir kita utk bisa lulus CCIE. Strategi spt apa yg bisa dipakai utk bisa lulus ujian lab. Gue menceritakan ttg pengalaman gue dalam mengambil CCIE sehingga para kandidat yg lain bisa mengerti bagaimana hidup ketika kita sedang mempersiapkan CCIE. Yg ingin mengambil CCIE jadi bisa tahu apa yg harus dikorbankan ketika sedang mengejar CCIE: kehidupan sosial, hobi, waktu, dan sebagainya. Gue pikir sangat mudah utk menemukan diskusi teknis CCIE, tapi hanya sedikit sekali orang yg mau berbagi cerita bagaimana rasanya menjalani hidup ketika sedang mempersiapkannya. Sangat jarang yg mau berbagi bagaimana rasanya hidup sbg seorang CCIE.

Gue menulis tentang bagaimana hidup seorang CCIE.
Gue menulis tentang tantangan yg dihadapi CCIE.

Dan buat gue, jika ada yg bertanya apakah gue bahagia dgn apa yg sudah gue capai? Jawabannya: gue sudah berada di tempat yg seharusnya. Paling tidak utk saat ini. Gue bekerja di perusahaan yg mengajarkan ilmu networking pertama kali ke gue. Yg harus gue lakukan sekarang adalah mengejar target-target dalam hidup.

Sekarang gue sedang berusaha utk mendapatkan yg terbaik dari kedua hal: utk bekerja di pekerjaan yg gue inginkan dan memiliki profil yg selalu gue mimpikan, dan bersamaan utk tetap memiliki kehidupan keluarga yg berbahagia sambil tetap punya waktu utk bisa maen snowboarding, offroad di padang pasir, balapan motor, dan bermain drum di rumah.

Dan semuanya berawal dari CCIE.

Abu Ahmed

July 17, 2009

Sudah seminggu berada di Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia. Tiada hari tanpa belasan jam kerja di project. Tiada hari tanpa begadang di kantor. Tiada hari tanpa tekanan dari customer. Dan melihat matahari terbit dari jendela kantor tiap pagi mungkin merupakan anugrah terindah di tengah-tengah suasana project yg sangat stressful.

Tapi memang kalo dipikirkan, kalo sedang tidak kerja di tempat ini, mau ngapain lagi? Bioskop tidak ada. Tempat hiburan tidak ada (hiburan = maen ski, nongkrong dll). Mall ada jam-jam khusus buat keluarga jadi yg sendirian walaupun sudah berkeluarga gak boleh masuk. Sepertinya kalo tidak sedang bekerja kebanyakan orang menghabiskan waktu di rumah.

Seperti kota lainnya di Saudi, kehidupan sehari-hari di Riyadh mengikuti waktu sholat termasuk bisnis perdagangan dan rumah makan. Pada saat azan, gak ada kompromi semua bisnis tutup buat memberi kesempatan buat orang-orang untuk sholat. Dua hari yg lalu gue sempet makan malam chicken karahi di restoran Pakistan. Gue agak telat nyampe ke restoran itu gara-gara nyasar naek taksi dgn sopir yg gak bisa bahasa Inggris, jadi baru pesan makan sekitar jam 7.45 pm. Pas jam 8.15 pm udah azan, si restoran langsung tutup dan lampu dimati-matiin. Gue terpaksa makan buru-buru trus bayar sebelum diusir secara paksa atau malah dikunci di dalam restoran.

Hanya memang baik di project maupun di kehidupan sehari-hari di sini tekanan terasa tinggi. Dari mulai pertama mendarat, suasana di airport terutama di counter imigrasi yg gak jelas dan berantakan sangat terasa. Jemputan limo dari hotel, walau sedan mewah tapi yg nyetir mental supir angkot heheh pindah jalur kiri kanan gak pernah ngasih lampu. Dan emang suasana di jalan juga terasa sangat semrawut. Orang-orang sering melanggar lampu merah. Bahkan kemaren pas lagi nyebrang di jalan satu arah, ada banyak mobil-mobil yg melawan arus. Dan karena jumlah yg melanggar lebih banyak ketimbang mobil yg datang dari arah yg benar, terpaksa mobil yg benar yg mengalah dan memberi jalan :D

Seorang teman di project yg dateng dari India bahkan sempet nyeletuk ttg masalah tekanan yg terasa tinggi: “this place is very close to Macca, it’s very close to heaven! So why all the tension?” heheh

Hari kedua gue sempet meeting dgn customer. Kebiasaan lain dari customer di sini adalah kalo lagi meeting selalu mendatangkan banyak orang. Dari Cisco cuman ada gue dan project manager yg datang, sedangkan dari customer bisa sampai belasan orang! Untung gue sudah biasa dibombardir banyak orang, walaupun di hari meeting tsb secara kebetulan ada beberapa isu yg terjadi di network mereka. Project manager di sebelah gue udah gelisah dan sempet ngejawab gak karuan, mungkin karena memang terlalu banyak yg harus dia hadapi, keinginan customer yg selalu berubah-ubah, apalagi batas waktu yg diberikan memang tidak masuk akal.

Di tempat seperti ini, dgn tingginya tekanan dari customer yg sebenarnya tidak perlu, bisa keliatan kualitas orang-orang yg terlibat di project. Banyak yg sudah cracked down, karena begitu seringnya di bashing ama customer, dan akhirnya jadi gak pedulian. Team yg gue pimpin rata-rata kerja 14-16 jam sehari, dan kemaren ada yg harus kerja 20 jam terus-menerus dan jam 5 pagi masih harus melakukan migrasi network. Di tempat seperti ini tantangan terbesar bukan di teknikal. Satu bukti lagi kalo CCIE is worth nothing without experience.

Dan tadi malem ketika gue lagi ditengah-tengah memimpin migrasi network tiba-tiba ada sidak. Rombongan customer, termasuk Program Manager, dateng ke kantor gue! Mereka ingin liat bagaimana proses yg gue bikin, dan yg gue presentasikan dgn sukses ke mereka di meeting sebelumnya, bisa dijalankan. Semua orang di team gue suruh keliatan sibuk biar mereka nanya-nanya ke gue doang. Lucu juga, sambil kerja sambil ditanya-tanya kayak ISO audit :)

Btw, karena customer di sini agak susah buat menyebut nama gue, akhirnya mereka memberi nama panggilan biar gampang: Abu Ahmed!

17 Again

July 4, 2009

Di tengah-tengah kesibukan gue menghadapi tekanan project di Saudi, persiapan ujian CCDE yg sulit dilakukan dan sudah mepet, dan berbagai tantangan kehidupan pribadi yg harus gue hadapi, sore ini gue mengambil keputusan untuk membeli drum elekronik Yamaha DTXplorer series.

Dulu gue memang sering latihan main drum tiap hari pas SMA dan sempet beberapa kali manggung di acara sekolahan. Membeli drum baru ini bukan usaha untuk kembali ke usia 17 lagi. Walaupun harus gue akui masa-masa SMA itu mungkin merupakan masa yg terindah. Karena gue tidak terlalu banyak berpikir :) Tidak ada yg namanya CCIE, network, NGN bahkan Internet. Yg ada hanya mencoba bermain musik. Dan jual pesona ke gadis-gadis di sekolah. Dan mencoba menyetir mobil orang tua tanpa bilang-bilang untuk jalan-jalan sore. Ah, masa-masa tidak berpikir.

Walaupun demikian indah, tapi gue tidak hidup di masa lalu. Gue adalah gue yg sekarang karena semua keputusan yg gue ambil di masa lalu. Dan salah satu target baru gue dalam hidup memang untuk kembali bermain drum. Bahkan berencana untuk membentuk rock band, dan bermain di event International seperti Networkers! Kalo gue tidak bisa tampil sbg pembicara teknis di sana paling tidak gue bisa berpartisipasi dgn membuat keributan. Rock your world, I will.

Jadi sekarang gue sedang mencoba merekrut member buat band. Kalo ada yang bisa main gitar listrik atau bass, atau bisa nyanyi, dan tidak keberatan buat maenin Matchbox 20, Goo Goo Dolls, The Killers, U2 dan kadang-kadang Metallica, silahkan kirim resume ke gue.

Oh ya, hampir lupa. CCIE itu penting tapi tidak menjadi keharusan buat melamar :) Paling tidak mengerti format paket protokol BGP, atau IPv6 addressing, atau memahami RFC 2547 gue pikir sudah cukup lah.