Cisco Certified Architect

June 29, 2009

Cisco hari ini mengumumkan program sertifikasi baru yg merupakan level tertinggi yg pernah ada: Cisco Certified Architect. Di klaim sbg sertifikasi yg lebih susah dari CCIE, format ujian yg digunakan juga unik karena berupa board exam di mana kita harus mempresentasikan solusi kompleks infrastruktur di depan beberapa engineers.

Dari informasi awal ttg sertifikasi ini, syarat seseorang utk bisa ikut ujian adalah memiliki pengalaman paling tidak 10 tahun, dan harus mengajukan aplikasi yg harus disetujui. Selain harus bisa mempresentasikan proposal solusi infrastruktur dari customer requirement yg diberikan, kandidat juga harus mampu melakukan perubahan solusi secara langsung ketika diberikan penambahan requirement pada saat presentasi. Ditambah lagi adanya isu yg beredar bahwa engineer-engineer yg akan menguji kita adalah Cisco Distinguished Engineer :)

Gue dulu ketika mengambil ujian CCIE yg pertama masih berupa format ujian yg dua hari. Jadi masih ada sesi troubleshooting di 2.5 jam terakhir. Dan setiap habis satu sesi gue harus memberi penjelasan ke proctor mengapa konfigurasi gue lakukan seperti ini atau itu. Kadang gue harus menggambar di papan tulis buat menjelaskan. Ujian CCIE yg sekarang, gue rasa kekurangan dua hal tsb: troubleshooting secara mendalam, dan kemampuan menjelaskan alasan mengapa network di konfigur sedemikian rupa. Dan CCIE tentunya bukan ujian design, dan tidak ada aspek design yg diuji di situ. Oleh karena itu Cisco membuat program sertifikasi CCDE. Tapi walaupun dgn ujian design ini gue masih tetep merasa ada skill designer yg tidak diuji. Misalnya, kemampuan utk meng-capture customer requirement pada saat meeting awal dgn customer tidak bisa di test di ujian. Atau kemampuan utk memimpin workshop design. CCDE juga tidak menguji kemampuan seorang designer utk mengakomodasi perubahan yg dilakukan customer, atau adanya penambahan requirement di tengah-tengah proses design. Hal-hal seperti ini yg dicakup oleh Cisco Certified Architect.

Kalau di lihat-lihat, program sertifikasi Architect ini cakupannya mirip dgn level Architect yg gue bikin di Transformasi Skill Seorang Network Engineer. Orang bisa disebut Architect jika sudah mampu membangun suatu solusi infrastruktur yg komplit, juga mengerti hal yg detil di solusi tsb seperti misalnya arsitektur hardware dan cara kerja detil suatu protokol untuk mengetahui keterbatasan dari implementasi protokol atau fitur network yg akan mempengaruhi solusi infrastuktur itu juga. Architect juga mengerti korelasi antara bisnis dari customer dgn solusi infrastruktur sehingga solusi yg dibangun berdasarkan kebutuhan untuk membantu model bisnis customer. Paling tidak sekarang sertifikasi baru Cisco ini bisa menstandarisasi pengetahuan dan kemampuan minimum seorang Network Architect.

Tentu saja, walau sudah berhasil lulus ujian ini, atau sudah mendapat titel “Architect” di kerjaan, masih ada satu level lagi yg harus dicapai. Level expert. Ini adalah level yg harus menjadi target setiap orang yg bekerja di bidang ini. Kita harus berusaha menjadi expert, ikut serta mengembangkan teknologi dan bisa membagi pengetahuan dan pengalaman ke orang lain.

The expert level is something that must be earned.

So You Think My Life is Perfect?

June 27, 2009

Note: for those who are unable to read between the lines, please put your focus on the last two points
Catatan: buat yg tidak mengerti mengapa gue menulis ini, silahkan baca dan fokus ke dua poin terakhir

#curhat start, in summary mode

- Kemaren pagi resmi diumumkan kalo gue dapet assignment mendadak buat memimpin team dari Cisco AS buat meng-handle case besar di salah satu customer kunci di Arab Saudi

- Di Cisco ada Technical Assistance Center (TAC), kalo customer ada isu dgn produk atau solusi pada saat deployment bisa buka TAC case dgn prioritas P4 yg terendah dan P1 yg berarti “network meltdown” atau completely down

- Yg akan gue handle, levelnya lebih tinggi lagi dari P1, dan assignment spt ini biasanya gue berminggu-minggu di customer gak pulang-pulang (termasuk weekend)

- Kenapa gue yg berangkat? Kata mereka karena butuhnya seseorang yg punya profile spt gue, yg ‘can do the job whatever it takes’, berani mengambil keputusan on the spot under the pressure, sometime dare to break the rules, dan tidak pernah kerja ‘by the book’

- Dari dulu gue kerja di industri computer networking memang tidak pernah kerja sesuai prosedur, gue lebih sering ngerjain hal-hal yg belum pernah dikerjain sebelumnya oleh orang lain, making my own and the new procedure

- Project gue dulu di Vietnam yg melakukan migrasi core network ISP di tiga kota dgn routing policy yg sangat kompleks dalam kurun waktu 1 jam per lokasi adalah salah satu contoh, pada saat team lain dari Cisco Australia sudah angkat tangan

- Atau ketika gue melakukan migrasi dari produk non-Cisco ke Cisco utk perusahan minyak milik pemerintah Malaysia. Waktu itu sebenernya customer hanya ingin upgrade ke produk baru dari vendor yg sama, tapi ternyata vendor itu saja bilang proses upgrade tidak bisa dilakukan dgn limit maintenance window yg diberikan. Team yg gue pimpin mampu utk melakukan migrasi komplit ke produk Cisco sesuai target, dgn banyak melakukan improvisasi di lapangan

- Atau yg terakhir yg minggu lalu baru selesai dikerjakan, gue bikin arsitektur blueprint utk menjelaskan prosedur utk melakukan migrasi network buat customer di 28 negara eropa dgn jumlah 2200 total sites, ini juga belum pernah dilakukan orang lain di Cisco sebelumnya

- Di satu sisi gue seneng karena ini pengakuan akan skill dan expertise gue, apalagi gue juga suka bgt ama profile nya Jason Bourne: highly skilled (I wish), terbang kesana-kesini utk mengerjakan assignment, never ask questions

- Tapi di sisi lain gue juga bingung karena semenjak pindah ke Dubai memang gue banyak masalah pribadi, seperti kehamilan istri yg tidak direncanakan dan sempat bermasalah di trimester pertama, dan masalah-masalah yg berkaitan dgn kepindahan kita spt sekolah anak, tempat tinggal dan lain-lain

- Pergi meninggalkan keluarga di negara antah berantah selama berminggu-minggu akan merupakan pengalaman painful baru buat gue, apalagi anak gue yg pertama baru 10 tahun dan yg kedua masih 1.5 tahun, baru bisa jalan, dan gue tidak punya pembantu di rumah

- Gue dulu sering traveling meninggalkan anak istri, sampai 2 bulan, bahkan pernah 6 bulan tidak ketemu, tapi dgn catatan mereka selalu gue tinggalkan di rumah sendiri di Bandung. Dubai adalah tempat dimana semuanya belum stabil (bukan berarti Indonesia sudah stabil, tapi minimal di Indo kita dari kecil di sana dan sudah tau persis bagaimana cara mengatasi berbagai situasi)

- Yap, gue tahu kalo Dia yg di atas tidak akan menguji lebih dari kemampuan gue. Kata Harvey Dent di Batman juga: The night is darkest just before the dawn. What doesn’t kill you makes you stronger (stranger kalo kata The Joker). Jadi gue udah tahu kalo ini semua adalah pilihan, di semua hal pasti ada hikmahnya dan kata-kata mutiara lainnya. Tapi tetep pas ngejalanin pasti ada rasa kuatir, was-was, dan sebagainya

- Yang bisa gua lakukan sekarang adalah Tawakal, yg berarti gue percaya sepenuhnya bahwa yg di atas akan membantu gue, dan juga berusaha utk mempersiapkan kebutuhan keluarga selama gue pergi, spt menumpuk bahan makanan supaya keluarga tidak perlu keluar rumah jika tidak perlu, membereskan hal-hal yg berkaitan dgn sekolah anak (kebetulan anak gue pindah sekolah ke tempat baru), bayar-bayar fasilitas penunjang dan lain-lain

- Istri gue yg sedang menginjak masa kehamilan 6 bulan gue minta utk belajar nyetir dari minggu lalu. Dapet SIM di Dubai itu susahnya minta ampun, tapi kita tetep berusaha supaya sebelum gue pergi dia udah lulus ujian. Minimal kalo ada keperluan yg sangat penting dia bisa nyetir sendiri

- Gue masih ada waktu karena proses utk mendapatkan visa ke Saudi itu bisa makan waktu 1-2 minggu. Kalo biasanya gue pakai waktu sebelum ke customer utk mempelajari situasi di sana, kali ini semua waktu yg tersisa gue coba manfaatkan sebaik-baiknya utk mempersiapkan kepentingan keluarga. Kalo masalah kerjaan gue pikir ntar juga pasti bisa dikerjain: it’s already in my blood.
I’m a survivor anyway

- In this part of the world, dengan banyaknya tantangan dan sedikit sekali orang yg bisa dimintai tolong, gue pikir yg terbaik itu memang Tawakal. Berdoa dan percaya sepenuhnya akan pertolongan-Nya, dan juga berusaha untuk melakukan hal terbaik yg bisa dilakukan utk mempersiapkan segala sesuatu. Merencanakan terlalu detil juga tidak perlu, bikin persiapan sebaik mungkin dan dijalani saja

- Ini gue masukkan ke dalam blog, dgn topik “So You Think My Life is Perfect?” karena sampai hari ini gue masih sering mendapat email dari orang-orang yg minta petunjuk untuk bisa menjadi spt gue. Gue ingin mereka lihat bahwa hidup seseorang itu tidak ada yg sempurna dan jangan melihat hanya dari satu sisi saja

- Gue merasa tidak ada yg salah dgn mencari inspirasi dari orang lain. Tapi kesan yg lebih sering gue dapet itu orang-orang ingin spt gue (kerja di luar negri, bisa kesana-kesini dan sebagainya) tanpa mau mengerti bahwa di belakang itu ada harga yg harus dibayar. Yg suka bertanya ke gue itu lebih sering melihat ketika CCIE itu sudah kerja di tempat yg menurut mereka enak, tanpa mau melihat apa yg sudah dikerjakan utk mencapai ke sana

#end of curhat

Transformasi Skill Seorang Network Engineer

June 12, 2009

Gue lagi iseng nulis sambil nunggu Jum’atan. Walaupun sudah sering ditulis di blog masih banyak orang yg suka mengirim email ke gue untuk menanyakan bagaimana cara untuk memulai karir di networking, clueless ttg proses karir di networking spt apa, dan sebagainya. Di bawah ini gue tuliskan proses transformasi skill seorang network engineer, yg tentunya versi gue :) berdasarkan apa yg gue amati dan lakukan sendiri. Kalo mau dijadikan bahan perdebatan, silahkan. Cuma kalo boleh saran sih, daripada berdebat, mendingan lakukan saja garis karir spt yg mau dilakukan, dan suatu hari nanti bisa menulis versi masing-masing dari hal seperti ini.

Dan gue hubungkan dgn program sertifikasi dari Cisco hanya untuk memberi gambaran kesetaraan antara skill dgn sertifikasi.

Transformasi Skill Seorang Network Engineer

Level I Configurator
Semua orang mulai dari sini. Sebutan lain adalah Conf T engineer, karena di level ini engineer baru bisa melakukan konfigurasi router tanpa mengerti terlalu dalam konsep di belakangnya. Di level ini juga sebenernya ada 2 golongan: golongan pertama yg ingin melakukan konfigurasi router tapi gak ngerti harus ngapain dan paling sering ngirim pertanyaan satu kalimat ke milis “bagaimana sih caranya mengkonfigurasi MPLS?”. Golongan kedua adalah mereka yg ketika ingin mengkonfigurasi paling tidak mencoba mencari di website dan Internet terlebih dahulu command-command spt apa yg harus dimasukkan.

Kalo mau dibandingkan dgn program sertifikasi Cisco, mungkin golongan kedua di level ini setara dgn CCNA

Level II Troubleshooter
Ini level yg lebih maju karena selain tahu dimana mencari informasi tentang bagaimana cara mengkonfigurasi router/network device, mereka juga tahu konsep dan cara kerja dari produk atau sistem tsb. Karena sebelum bisa menyelesaikan masalah di suatu sistem, kita harus tahu dulu bagaimana sistem itu bekerja di saat normal, dan melakukan langkah-langkah troubleshooting secara sistematis. Bagaimana dgn mereka yg kalo troubleshoot selalu tembak langsung “pasti masalah network”, “harus restart dulu”, “pasti gara2 produk vendor ini” tanpa investigasi dulu? Gue gak mengkategorikan mereka di level ini, mungkin masih berada di level sebelumnya atau malahan termasuk golongan pertama di level I.

Kalo dibandingkan dgn program sertifikasi Cisco, mungkin level ini setara dgn CCNP dan sertifikasi yg setara

Level III Specialist
Sampai di level ini, si network engineer mulai merasakan ketertarikan pada satu bidang saja dari scope network engineering. Jadi kalo untuk level I dan II mungkin berangkatnya dari hal yg umum seperti Routing dan Switching, di level ini sudah ada perasaan untuk mendalami satu bidang misal security, voice, wireless dan sebagainya. Ini bukan level specialist murni karena biasanya dikerjaan sehari-hari tetap harus melakukan routing/switching sbg dasar tapi kemudian sudah fokus dan mampu mengerjakan teknologi lain yg lebih spesifik.

Kalo disetarakan dgn sertifikasi Cisco, ini mungkin CCIE. Engineer yg mengejar CCIE di track Routing & Switching pun bisa dikategorikan di sini, karena toh mereka fokus untuk mendalami scope di track tersebut.

Level IV Designer
Anehnya, dari level specialist untuk naik ke level berikutnya si network engineer harus belajar hal yg general lagi. Istilah yg umum adalah Sistem Integrator, dimana dibutuhkan kemampuan untuk menggabungkan beberapa produk dari teknologi bahkan vendor yg berbeda. Ketika sudah mencapai level ini, cap yg diberikan adalah Network Designer, karena sekarang sudah mampu untuk membangun satu solusi infrastruktur dari routing switching, security, voice, wireless dan sebagainya, sampai ke hal-hal yg berada di luar domain network spt Operating System, Database, physical Data Center dan lain-lain. Jadi ketika sudah mencapai level specialis spt CCIE, kemudian malahan belajar hal yg umum agar bisa membangun suatu solusi infrastruktur yg komplit.

Sertifikasinya sudah tidak ada lagi, tapi mungkin ini bisa disetarakan dgn CCIE yg sudah mempunyai pengalaman.

Level V Architect
Architect merupakan level Sistem Integrator II karena mempunyai kemampuan untuk membangun solusi komplit, juga mengerti hal yg detil di solusi tsb seperti misalnya arsitektur hardware dan detail cara kerja suatu protokol. Ini penting untuk mengetahui keterbatasan dari implementasi protokol atau fitur network yg akan mempengaruhi solusi infrastuktur itu juga. Architect juga mengetahui standar dari suatu protocol dan memahami implementasinya yg berbeda-beda di tiap vendor produk network, sehingga menguasai konstep interoperability antara produk-produk dan vendor yg berbeda. Ditambah lagi, architect mengerti korelasi antara bisnis dari customer dgn solusi infrastruktur sehingga solusi yg dibangun berdasarkan kebutuhan untuk membantu model bisnis customer.

Mungkin ini seperti CCIE yg sudah sering membaca standard dari suatu protokol dan juga arsitektur hardware, dan berpengalaman dgn project multi aspek baik dari sisi teknis maupun dari sisi non teknis.

Level VI Expert
Sesudah berada di level Architect, membangun solusi infrastruktur komplit yg bisa melibatkan multi-vendor, juga mengerti model bisnis yg dijalankan sehingga solusi yg dibangun bisa membantu customer, maka si engineer akan melakukan transformasi di level tertinggi dgn menjadi spesialis lagi. Spesialis dalam artian dgn beragam skill dan pengalaman yg sudah dimiliki, expert akan berfokus pada satu atau beberapa teknologi saja, untuk berkontribusi dalam mengembangkan teknologi tersebut. Para expert berkomunikasi satu sama lain untuk mengembangkan standard di bidang networking, menterjemahkan konsep suatu teknologi ke bahasa yg mudah dimengerti oleh banyak orang, dan membagikan informasi tersebut ke orang lain.

Memiliki berbagai sertifikasi sudah tidak relevan lagi. Yang paling penting adalah pengalaman ektensif dalam melakukan semua hal-hal seperti yg sudah disebutkan di atas, ditambah fokus ke satu atau beberapa scope teknologi secara mendalam, ikut terlibat dalam mengembangkan teknologi tsb dan membagikan informasi yg dimiliki ke orang banyak.

The expert level is something that must be earned.

Take Control Our TV

June 4, 2009

Ketika Cisco Systems membuat router yg kemudian menjadi produk router komersial pertama di dunia, tujuan utamanya adalah mengkoneksikan network dgn media fisik dan protocol yg berbeda. Saat itu tidak ada niatan untuk membedakan produk router utk berbagai segment yg berbeda, misal untuk Service Provider atau Enterprise. Hasilnya adalah produk-produk router tanpa ada pemisahan yg jelas di spesifikasi teknis untuk segment pasar yg berbeda. Semuanya menjalankan legacy IOS yg sama dan setiap router bisa menjalankan semua fitur walaupun tidak diperlukan.

Untungnya Cisco menyadari bahwa tidak ada satu produk untuk menjadi solusi dari semua kebutuhan. Sebuah project rahasia mulai dijalankan di akhir tahun 90-an untuk membuat next generation router dgn arsitektur hardware baru dan juga operating system yg baru. Ketika Cisco CRS-1 diluncurkan bulan Mei 2004 jelas terlihat bahwa produk ini adalah jawaban dari kebutuhan para Service Providers untuk core router yg handal, memiliki performance tinggi dan skalabilitas. Dan produk yg baru saja merayakan 5 tahun peluncuran bulan lalu itu terus berhasil mengalahkan ekspektasi dan sudah digunakan di lebih dari 300 service providers di dunia.

Setelah berhasil membuat suatu produk seperti ini, apa langkah selanjutnya? Tentunya berusaha membuat produk lain dgn cara menggunakan teknologi yg sudah berhasil dikembangkan. Arsitektur hardware dan IOS XR yg sudah terbukti kembali digunakan di produk baru Cisco ASR9000 router. Gue pribadi sangat bersemangat dgn produk ini karena tidak saja Cisco berhasil meluncurkannya di tengah krisis ekonomi global (ada beberapa produk lain yg sudah dibangun selama bertahun-tahun tapi harus dibatalkan karena krisis, dan mungkin kita harus menunggu kondisi ekonomi untuk membaik sebelum bisa melihat inovasi-inovasi baru lagi) dan juga ASR9000 menggunakan arsitektur hardware yg mirip dgn CRS-1 yg sudah terbukti di banyak production network.

Cukup sudah ngomongin sejarah, saatnya untuk membahas poin utama di tulisan gue ini.

Seperti kita tahu kebutuhan akan IP Video services menjadi faktor utama untuk mengembangkan banyak teknologi. Kita hidup di jaman High Definition di mana kualitas gambar DVD pun sudah tidak cukup. Dan kita mau video tsb bisa dikirim ke TV kita di rumah melalui network. Dulu kita sudah cukup puas dgn YouTube tapi sekarang kita ingin lebih. Kita mau kualitas yg lebih tinggi. Kita mau agar bisa menonton film secara utuh. Kita ingin punya kontrol kapan dan di mana kita mau menonton film. Video harus selalu tersedia kapan saja dan di mana saja selama kita masih terkoneksi dgn network.

Ini berarti kita memerlukan network dgn performance tinggi untuk bisa mengirim video. Kita harus memastikan paket-paket digital dari video bisa di switch secepat mungkin oleh network. Kita butuh storage yg semakin besar buat menyimpan video. Dan jangan lupa paket video ini harus berkompetisi dgn paket jenis lain di network. Ini berarti fitur Quality of Services harus bisa digunakan untuk untuk berbagai tipe paket dan menjamin service ini.

The Buggles pernah bilang Video Killed the Radio Star. Tapi saat ini video juga membunuh bandwidth, membuat infrastruktur network dan router-router bekerja di performance maksimum, dan memenuhi penyimpanan di storage kita dgn cepat. Dan Cisco adalah pemimpin industri di service ini dgn memiliki semua produk yg diperlukan untuk memberi end-to-end video service.

Ketika vendor-vendor lain sibuk mengkampanyekan bagaimana mereka bisa dengan cepat membawa fitur-fitur yg bekerja secara independen ke market, Cisco sudah melakukan hal yg jauh lebih maju. Tidak saja Cisco bisa menyediakan semua produk yg diperlukan untuk membangun solusi yg komplit, tapi juga mereka menunjukkan bagaimana solusi ini bisa dibangun berikut dgn hasil test yg dilakukan oleh third-party testing vendor.

Light Reading dan EANTC kemaren mengeluarkan laporan tentang bagaimana mereka menguji Cisco’s IP Video Service Delivery network. Test nya meliputi: the high availability with sub-second failover time for all network services, in-line video quality monitoring, massive scalability of IP video services and storage area network solutions and virtualization. Produk yg digunakan di dalam solusi adalah Cisco CRS-1, ARS9000, Cisco 7600-S dan Nexus.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

- 8,188 multicast groups were replicated across 240 egress ports in a point of presence (PoP), showing that Cisco could serve 1.96 million IP video subscribers in a single metro PoP
- Accurate in-line video monitoring was demonstrated for video distribution and contribution over IP
- Sub-50 millisecond failover and recovery times were shown for video distribution and secondary distribution networks using, for the first time in a public test of Cisco equipment, point-to-multipoint RSVP-TE
- No video quality degradation in the face of realistic packet loss in the network
- Excellent quality of service (QoS) enforcement in Cisco’s new ASR 9010 router for both fabric oversubscription and head-of-line blocking
- Hitless control plane failover for converged network

Seperti gue pernah bilang, TV is evil. Tapi on-demand TV bukan. Karena sekarang kita yg pegang kontrol TV kita sepenuhnya.

Silahkan membaca hasil laporan dari test tsb.