Anti BlackBerry

May 1, 2009

“I wake up every evening with a big smile on my face,
And it never feels out of place,
And you’re still probably working at a 9 to 5 pace,
I wonder how bad that tastes..”
- All American Rejects, Gives You Hell -

Kita hidup di masa di mana kita tidak perlu “pergi kerja” lagi. Kita kerja. Dari manapun, kapan saja. Dan kita hidup di dunia tanpa batas. Konsep negara selama meeting online hanya dibicarakan ketika perlu untuk menyamakan waktu karena timezone yg berbeda.

Gue sudah beberapa tahun terakhir masuk kategori mobile worker. Ini berarti gue bisa kerja dgn waktu yg fleksible dan dari mana saja selama gue punya koneksi ke perusahaan.

Jika gue tidak sedang berada di tempat customer, atau sedang berada di jalan mau ke customer, maka gue lebih suka kerja dari rumah. Kerja dari rumah berarti gue tidak perlu menghabiskan waktu untuk perjalanan ke kantor. Ini juga berarti gue mendukung gerakan lingkungan hijau karena lebih jarang memakai mobil, perusahaan gue tidak perlu menyewa kantor yg besar untuk mengakomodasi semua karyawan, dan gue bisa mengatur keseimbangan antara hidup dan kerja secara lebih baik, dan gue merasa bisa kerja lebih efisien. Terlebih karena gue punya semua tool kolaborasi sebagai pendukung.

Perusahaan gue berada di belakang tool-tool kolaborasi pendukung Work 2.0 ini. Gue biasanya tersambung ke Internet dan ke perusahaan gue dgn koneksi yg terenkripsi rata-rata 12 jam sehari. Gue memakai WebEx untuk berkomunikasi dgn customer. Dgn tool yg sama gue setiap minggu meeting dgn team. Anggota team gue tinggal di berbagai negara di Eropa dan Timur Tengah, tapi gue bisa mengadakan Kopi Virtual, meeting dgn mereka menggunakan TelePresence, paling tidak satu atau dua kali dalam sebulan. Gue nonton video training dan membaca buku online dari database internal perusahaan gue. Gue bisa upload dokumen yg sedang dikerjakan dgn WebEx Connect sehingga teman se team gue bisa memberikan review dan sistem akan meng update versi dokumen secara otomatis. Setelah dokumen selesai dan diterima oleh customer, harus di upload ke tempat penyimpanan internal yg bisa dicari menggunakan search engine. Gue bertemu manager gue untuk mendiskusikan karir ke depan menggunakan TelePresence seolah-olah berada di satu ruangan yg sama dgn dia. Kadang gue menggunakan WebEx untuk mengendalikan PC customer supaya bisa konek ke router. Kadang customer yg mengendalikan PC gue dgn tool yg sama supaya bisa konek ke internal lab kita. Gue juga menggunakan Instant Messaging internal yg merupakan tool komunikasi interaktif yg paling sering gue gunakan untuk berkomunikasi di perusahaan.

Semua hal itu kedengarannya keren dan hebat, terutama buat mereka yg belum pernah menggunakannya sendiri. Tapi poin utamanya bukan dari segi seberapa keren dan hebat cara kita bekerja. Yg paling penting adalah hasil kerjanya. Sbg contoh, fokus kerjaan gue adalah network design atau migration plan yg gue bikin untuk membantu customer dalam menjalankan bisnisnya. Gue menggunakan semua tool kolaborasi itu untuk memudahkan komunikasi dgn customer dan rekan-rekan team untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi tool itu bermanfaat utk membantu dalam bekerja, bukan supaya terlihat keren. Gue tahu gue tetap bisa menyelesaikan pekerjaan dgn kualitas yg sama walaupun tidak menggunakan tool-tool tsb, meskipun waktu yg diperlukan mungkin lebih lama atau memerlukan biaya yg lebih mahal. Tool-tool kolaborasi diperlukan untuk membuat proses pekerjaan semakin efisien.

Jadi ini alasan mengapa sampai sekarang gue tidak punya BlackBerry, dan tidak berencana untuk punya. Untuk alasan yg sederhana: gue percaya gue tidak membutuhkannya. Gue bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa itu. Gue bisa tetap efisien tanpa itu.
Gue bisa hidup tanpa itu.

Gue hanya menggunakan tool seperlunya dan jika diperlukan saja. Gue gak mau ketagihan dan mulai menggunakan tool berlebihan yg membuat gue malah menjadi tidak efisien. Setelah terkoneksi 12 jam sehari ke Internet dan ke perusahaan, apakah gue masih perlu menerima email kapan saja, di mana saja? Gue rasa tidak. Apakah gue masih perlu untuk browse Internet selama di perjalanan? Gak tuh. Apakah gue harus selalu update status Facebook atau Twitter setiap menit? Yang bener aja.

Gue lebih suka menghabiskan waktu yg tersisa diluar kerjaan untuk menikmati hidup. Sekarang gue punya taman di belakang rumah yg memerlukan perawatan. Gue tinggal di dekat danau kecil dan gue suka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan memutarinya. Gue punya daftar hal-yg-harus-dilakukan-selama-hidup dan gue pikir lebih baik mencoba melakukan hal-hal di daftar itu ketimabang berusaha selalu online di Internet. Lebih baik mempelajari hal baru dalam hidup ketimbang duduk di depan komputer. Gue terkoneksi ke Internet hanya jika merasa perlu dan untuk kerja. Dan ketika gue tidak terkoneksi ke Internet, gue masih punya mobile phone gue yg lama. Masih bisa buat nelpon dan ngirim SMS jadi gue pikir sudah lebih dari cukup.

Anti BlackBerry. Mungkin kalian akan bilang gue bego untuk ngomong spt ini di dunia di mana banyak orang percaya bahwa kita semua harus selalu terkoneksi satu sama lain dan menggunakan teknologi terbaru. Gue gak mau. Itu bukan untuk gue.

Gue bukan anti teknologi nya, apalagi anti produknya. Gue anti pemakaian berlebihan dari teknologi spt ini yg membuat kita bukannya menjadi lebih efisien tapi malahan ketagihan untuk tekoneksi ke Internet melakukan hal-hal yg menghabiskan waktu. Jika memang perlu BlackBerry dalam kerjaan ya gunakan saja seperlunya. Kalo gue sih merasa tidak perlu. Dan gue merasa senang hidup tanpa itu. Kalo ada yg mau mengontak gue ketika sedang offline dan tidak terkoneksi ke Internet, cukup dgn menelpon atau ngirim SMS.

Banyak orang bilang gue berpikiran kolot.
Tapi gue hanya mau menjalani hidup sebagaimana yg gue ingat dulu.

12 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://himawan.blogsome.com/2009/05/01/anti-blackberry/trackback/

  1. Untuk orang dengan frekuensi online seperti elo bos, mungkin mobile phone juga sebenernya udah gak perlu yah

    Hehehehehe :)

    Comment by Jodi — May 2, 2009 @ 9:52 am

  2. hihi..lg bingung pilih BB atau modem HSDPA, baca tulisan ini jd dipikir2 lagi mana yg lebih bermanfaat :)

    Comment by sndy — May 2, 2009 @ 1:36 pm

  3. boss, kalao migration plan itu ada software tool buat bikin atau bikin sendiri ya ?

    Comment by retro — May 2, 2009 @ 11:10 pm

  4. He3x…sepertinya “koneksi internet” udah jadi jantung buat para network engineer khususnya buat yg kerja kayak di Cisco ato sejenisnya. Coz tiap saya ikut seminar / trening dari org CISCO pasti salah satu promosi mereka adalah, mereka bisa kerja dimana aja, kapan aja…

    Skrg gmn kalo org yg kyak om Him ini berada di daerah “inland” yg alias ga ad koneksi internetnya sama sekali…

    Comment by rpurnama — May 3, 2009 @ 4:51 pm

  5. @ retro, migration plan gak ada softwarenya, bukunya aja belum ada, sekarang lagi nulis white paper tentang ini, mudah2an bisa di publish..
    @ rpurnama, kalo sedang berada di tempat yg gak ada koneksi Internet itu berarti emang lagi liburan, yg emang gak perlu online, atau lagi di customer site langsung..

    Comment by himawan — May 3, 2009 @ 5:29 pm

  6. gw suka gaya om yg satu ini… :D

    :beer:

    Comment by andra siregar — May 27, 2009 @ 5:56 pm

  7. nuhung kang, izin copas tulisan ini….

    Comment by andhika — June 5, 2009 @ 6:35 am

  8. GREAT!!!

    sangat bermakna sekali hidup seperti ini. ga perlu duduk di depan komputer yang bikin kurus, ga perlu repot mikirin status FB, ga perlu ngetik2 ym seharian.. :D

    Manfaatkan hidup mu bro.. Keep Doing Something Stupid..!

    Comment by harmadi wibowo — June 10, 2009 @ 11:48 am

  9. :)
    ya jelas boss
    semua org yg live nya connect ama internet tdk perlu BB
    yg perlu bb adalah org yg selama office hours sering ke lapangan dan mobile selama office hours
    BB ku jg diluar office hours nganggur koq hehehe cuman butuh keyboard nya aja buat sms or ym jika lg gak didepan pc :)

    Comment by didi — June 23, 2009 @ 6:44 am

  10. Setuju.
    Kalo gue gak suka sama produknya juga :)

    Comment by Hilmi — July 15, 2009 @ 5:06 am

  11. BB hy jual gaya hidup, gue juga gak berminat karena gak ada kelebihan yang begitu berarti di BB, modelnya jg kuno, ponselnya gembul hehe…apalagi di pakai di indonesia hy tempat tertentu aja yg bs menggunakan BB secara efektif, diluar area itu BB gak berarti… it just life Style.. gimana nih Bos Himawan bs gak ya gue spt you CCNA aja blm ngambil hehe… mohon sarannya..

    Comment by charles — July 23, 2009 @ 5:12 pm

  12. Gua sering lihat, ntah temen hangout gua atau stranger, di mall terlalu terfokus ke BB mereka lupa banyak hal. Ada yang lupa ke mana dia lagi jalan, lupa banyak yang ngantri nunggu mereka selesai makan di luar, lupa ada temen mereka di sekitar, lupa temen BB Messenger mereka tepat di sebelah, sampai lupa & ketinggalan belanjaan mereka. Social climbers. Lupa/ga pernah diajarin etika waktu kecil, misal jalan lihat depan, makan jangan utak-atik hp. If it’s lifestyle, it’s a bad one. If it’s social interaction, it’s uncivil. At least with MOST people I’ve seen using it, that much I think is true.

    Comment by William — November 8, 2009 @ 4:24 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>