Beli Mobil di UAE

April 28, 2009

Iseng-iseng nulis habis begadang semaleman, ttg pendapat pribadi ketika beli mobil di negara Middle East spt UAE. Mudah-mudahan bermanfaat buat yg memang tinggal di daerah sini, dan juga untuk berbagi informasi dgn yg tinggal di Indonesia supaya bisa melihat contoh bagaimana pola pikir kita harus bisa mengikuti tempat di mana kita tinggal.

1. Harga dan Kesempatan
Harga mobil di negara spt UAE memang jauh lebih murah ketimbang di Indonesia untuk merek dan model yg sama dikarenakan pajak kendaraan yg jauh lebih kecil di sini (sebagai gambaran, harga mobil di sini bisa sekitar 50-60% dari harga di Indonesia). Bahkan harga kendaraan di Middle East bisa lebih murah dibandingkan negara-negara di Eropa. Ini menjadi penyebab banyak orang yg menggunakan kesempatan untuk membeli mobil-mobil dgn merek yg mungkin tidak bisa dibeli di negara lain atau di Indonesia karena harganya yg menjadi sangat mahal.
Tapi ada juga beberapa merek yg harganya relatif mahal dibandingkan merek-merek lain, misalnya beberapa mobil Jepang yg harganya jika full option mendekati harga mobil Eropa bekas. Kalau kasusnya seperti ini mungkin jangan pilih mobil Jepang tsb, apalagi jika harga jual bekasnya nanti juga tidak terlalu bagus.

2. Siapkan Mental sbg Pemakai
Di sini mental sbg pemilik mobil tidak bisa seperti di Indonesia “beli mobil untuk disimpan”, jadi mobil dipakai misalnya hanya selama weekend karena alasan sayang ke mobil dan ingin menjaga harga jualnya lagi suatu ketika nanti. Masalahnya adalah walapun kita pakai jarang-jarang dan sudah hati-hati mengendarai mobil kita, tapi sering sekali masalah datang dari orang lain. Kegores orang di parkiran mall, misalnya. Atau ditabrak dari belakang sama orang yg males nginjek rem. Bisa juga orang parkir di sebelah dan buka pintu tanpa mikir sehingga mengenai mobil kita.
Apalagi di kota spt Abu Dhabi yg parkiran mobilnya sangat-sangat rapat di beberapa tempat, mental kita sudah harus siap jika melihat hal spt ini.
Beli mobil untuk dipakai, tetap berhati-hati, tapi kalo ada kejadian spt yg di atas ya tidak perlu dipikirin apalagi sampai sakit hati. Barusan lihat di bemper depan mobil ada goresan kecil. Sepertinya sih ketabrak di tempat parkir :(
Untungnya semua mobil di sini harus dibeli dgn asuransi.

3. Sementara Menjadi ‘Sementahun’
Kebanyakan orang tinggal di negara spt UAE tidak untuk jangka lama. Konsep Permanen Resident tidak ada di sini, jadi mau tinggal lama juga memang sulit. Kita bisa tinggal hanya dgn visa kerja dan ketika tidak punya kerjaan hanya diberi waktu 30 hari untuk mendapat perusahaan yg mau memberi sponsor visa kerja baru atau harus keluar dari negara ini.
Jadi kebanyakan orang berpikir beli mobil hanya untuk sementara. Ada yg bilang sementara menjadi ’sementahun’ karena kenyataannya kita bisa tinggal di UAE sampai paling tidak beberapa tahun.
Nah, sementara kita tinggal di sini dgn harga mobil yg relatif murah, harga bensin yg juga murah, dan memang belum tersedianya transportasi umum yg memadai, mengapa tidak memakai kesempatan dan make the most of it?
Beli mobil dgn merek dan model yg kita suka, yg mungkin di Indonesia tidak mampu dibeli karena harganya yg jauh lebih mahal.

4. Mobil Baru vs. Mobil Bekas
Banyak orang yg suka beli mobil baru karena ingin mengetahui sejarah si mobil dari awal sampai akhir. Tapi masalahnya, harga mobil baru walaupun baru sehari keluar dari showroom sudah jatuh kalo mau dijual lagi. Jadi kalo mau menghemat sedikit, beli mobil bekas yg baru setahun dipakai dgn kilometer pemakaian yg belum terlalu tinggi. Apalagi beberapa mobil menawarkan garansi 3 sampai 5 tahun sehingga kita bisa memanfaatkan garansi tersebut.
Tapi tentunya kita harus berhati-hati dalam membeli mobil bekas walaupun baru setahun dipakai. Yg terbaik tentunya jika kita kenal si pemilik sebelumnya sehingga bisa melihat dari kebiasaannya menyetir dan merawat mobil. Paling tidak, periksa riwayat service mobil dan cari yg selalu menggunakan bengkel resmi. Coba tanya-tanya nama dari pemilik sebelumnya atau kalau ketemu langsung dan dia bawa mobil yg lain coba lihat kondisi mobil yg lain tsb.
Kalo bisa hindari beli mobil dari orang lokal (local UAE citizen) !
Tidak semua orang lokal mengendarai mobil gila-gilaan memang, tapi mereka kebanyakan punya kebiasaan beli mobil baru tiap tahun hanya untuk dicoba dan di push to the limit, untuk kemudian dijual dan beli mobil baru lainnya.
(Coba aja lihat bagaimana orang lokal mengendarai mobil di sekitar kita, atau cari videonya di Internet. Dulu pernah nonton orang lokal yg nyetir mobil mewah dgn kecepatan tinggi untuk kemudian di rem pake rem tangan supaya mobil bisa spin dan diukur siapa yg paling jauh spinnya!)

5. Model dan Warna
Ini memang tergantung preferensi masing-masing orang. Tapi kalo misalnya kita mau pakai mobil impian, paling tidak untuk beberapa tahun, dan juga berharap ketika dijual harganya tidak terlalu jatuh, bagaimana caranya?
Mudah saja, look around.
Lihat aja apa model dan warna yg paling banyak dipakai orang.
Kalau kita tipe yg konservatif, bisa mengikuti pola pikir kebanyakan orang India: beli Corolla. Kalo punya rejeki lebih, beli Camry. Kalo makin makmur, beli Land Cruiser :) Pokoknya harus Toyota yg murah perawatan dan juga gampang dijual lagi. Untuk urusan warna, putih menjadi pilihan kebanyakan orang. Di Indonesia mungkin warna putih bukan favorit, tapi kalau di sini karena matahari yg terik warna ini menjadi lebih bersinar dan tetap keliatan mengkilap walaupun kondisi mobil kotor. Orang lokal paling suka beli mobil Land Cruiser atau Nissan Patrol putih. Kalo punya mobil dgn merek spt salah satu di atas tidak perlu takut ketika akan menjualnya lagi nanti.
Bagaimana dgn mobil kelas atas? Yah, kalo untuk tipe Porsche GT3 atau Ferrari F430 sih pasti selalu ada orang yg mau membeli lagi walaupun jumlahnya sedikit. Dan kalo sudah mampu beli mobil sekelas Porsche atau Ferrari kayaknya gak akan pusing mikirin harga jual deh heheh

6. Kontan atau Nyicil
Sebagian orang tidak mau menyicil karena berkaitan dgn kepercayaan yg dianut. Buat yg bisa, kadang tidak mau karena males ribet dan ingin bisa menjual lagi secepatnya jika ada apa-apa. Kalau mau jujur UAE itu sebenernya terlihat sbg negara yg belum stabil dari segi peraturan. Pola pikir “sementara” masih harus dipertahankan karena peraturan atau kondisi yg bisa saja tiba-tiba berubah sehingga kita harus keluar dari negara ini secepatnya. Jadi kalo spt ini mungkin menyicil lebih baik karena uang kita tidak tertahan di mobil dalam jumlah besar. Dan untuk menghitung besar cicilan bisa memakai mental “sedang menyewa”. Jadi seandainya menyewa mobil perbulan mengeluarkan biaya 2000 Dhs, maka kita bisa saja beli mobil dgn harga cicilan 2000 Dhs. Apalagi kalau dulu bank memperbolehkan Down Payment 0% (di tengah krisis bulan Januari kemaren masih ada bank yg memberi cicilan mobil walaupun Down Payment minimal sudah 20%).
Jadi kalo ada apa-apa dan kita harus keluar dari negara ini secepatnya, mobil bisa kita tinggal saja. Toh hitung-hitung menyewa.
Dan kalo semuanya lancar, setelah cicilan lunas mobil mau kita jual lagi, kita bisa mendapat sebagian uang kita kembali yg tentunya lebih baik ketimbang menyewa beneran.

7. Say Yes to Green Environment, with a different way
Sayangnya di negara spt UAE sangat sulit untuk mendukung aksi ramah lingkungan dgn cara mengganti kendaraan pribadi dgn alternatif lain. Transportasi umum kurang memadai, mono rail baru akan selesai akhir tahun ini kalo lancar. Bike2work? Silahkan aja kalo mau kena kanker kulit heheh. Selain cuaca yg panas selama 7-8 bulan setahun, jalanan di kota seperti Dubai juga tidak dirancang untuk ramah ke pejalan kaki maupun pengendara sepeda. Naik sepeda motor sangat berbahaya karena lebar jalan yg sangat besar dan kecepatan pengendara mobil yg di dalam kota pun bisa mencapai 120 km/jam. Banyak orang termasuk gue merasa kurang aman jika harus mengendarai mobil-mobil ramah lingkungan karena bentuknya yg kecil di tengah-tengah jalan yg besar-besar dan lalu lintas yg sangat cepat. Mobil berbahan bakar alternatif? Kurang populer mungkin karena: banyak orang yg menggunakan mobilnya tidak saja harus kencang di jalan besar tapi juga mampu off road di padang pasir. Selain itu jarak tempuh yg dilalui perhari bisa sangat jauh sekali, banyak orang yg menempuh perjalanan sampai lebih dari 100 km per hari hanya untuk pulang pergi ke kantor.
Jadi mungkin ada cara lain untuk mendukung gerakan hijau. Misalnya, dgn cara kerja di rumah spt gue :) Jadi jarang pake mobil kecuali perlu. Selain ramah lingkungan juga kerja lebih efisien. Apa? Kerjaan yg sekarang tidak memungkinkan buat kerja di rumah? Ya udah, berhenti aja dan cari kerjaan yg bisa seperti ini. Dan mobil tetap SUV yg 4x4 biar bisa off road ke padang pasir heheh

Ini semua cuman pendapat, berdasarkan pengalaman pribadi.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Suatu Hari di Kerjaan

April 20, 2009

Gue bangun setelah tidur hanya 2 jam. Tidak ada waktu untuk mandi ataupun sarapan. Masih mengenakan celana pendek gue membuka dokumen IP/MPLS Core Network Low Level Design yg baru saja gue selesaikan beberapa jam sebelumnya. Design ini dibuat berdasarkan diskusi ekstensif dgn customer dan rekan-rekan di team melalui fasilitas online dan conference call. Gue menggunakan best practice dan konsep design yg optimal untuk memastikan semua requirement customer telah terjawab. Materi presentasi design ini juga sudah selesai. Gue baca-baca lagi ke dua dokumen tersebut utk terakhir kalinya untuk memastikan tidak ada kesalahan penulisan.

Gue mengambil sekaleng Red Bull dari kulkas. Laptop gue masih terkoneksi ke network kantor menggunakan saluran yg secure dan terenkripsi. Gue sudah menghabiskan waktu tiap malam sampai jam 5 atau 6 pagi selama sekitar sebulan untuk menyelesaikan design ini. Biasanya gue mengerjakannya dari kamar tidur gue. Ini membuat gue merasa nyaman dan juga selalu dekat dgn keluarga. Gue biasa kerja setelah keluarga tidur, karena kalo siang gue akan sibuk untuk mengurusi hal-hal yg berkaitan dgn pindahan dan juga membantu sang ratu untuk mengurus anak-anak. Dan bekerja di waktu malam membuat waktu gue bisa sinkron dgn rekan-rekan di US. Instant Messaging company gue masih nyala dan berkedip-kedip karena semalaman gue berdiskusi tentang arsitektur hardware yg digunakan di design dengan para developer di San Jose.

Semua kerja keras sudah selesai, saatnya presentasi ke customer.

Gue menghabiskan minuman penambah energi yg sudah membantu gue bergadang selama bermingu-minggu. Gue login ke WebEx untuk menyiapkan sesi meeting yg akan dimulai sebentar lagi. Login juga ke WebEx Connect untuk meng-upload semua dokumen dan memeriksa jika teman-teman team gue memberikan review ke design yg gue buat. Fasilitas callback di WebEx gue gunakan untuk menghubungi IP phone gue, yg suaranya menggunakan speaker sehingga gue bisa ngomong sambil mempresentasikan design atau menggambar sesuatu di aplikasi yg gue share di WebEx. Gue juga mungkin akan men-share desktop gue sehingga customer bisa login ke internal lab dari PC gue untuk memeriksa konfigurasi yg gue gunakan di lab yg mensimulasikan design network mereka. Gue juga sebenernya ingin memakai kamera supaya customer bisa melihat gue ketika presentasi, tapi dgn hanya tidur 2 jam dan belum mandi sepertinya mereka tidak akan tertarik :)

Gue mengirim pesan melalui IM ke teman gue untuk memastikan jika dia bisa melihat materi presentasi gue di WebEx. Dalam beberapa menit customer dan pihak-pihak lain akan join ke sesi meeting ini.

Gue mempresentasikan Low Level Design dari kamar tidur gue di Dubai untuk customer yg berlokasi di salah satu negara di Africa. Teman-teman gue yg terlibat di project ini ada di Spanyol dan Hungaria. Project Manager nya ikut meeting dari rumahnya di Nigeria.

Beberapa orang berkata bahwa inilah cara bekerja di Internet era. Beberapa orang menyebutnya True Collaboration. Beberapa akan menyatakan bahwa tool-tool kolaborasi yg berbasis web ini merupakan perwujudan dari konsep Web 2.0. Beberapa yg lain menamakan fenomena ini sebagai Work 2.0.

Tapi buat gue, ini hanya suatu hari biasa di kerjaan.

Pendaftaran CCDE Practical Exam Dibuka!

April 1, 2009

Pendaftaran untuk CCDE practical lab sudah dibuka mulai tanggal 1 April. Hanya ada 3 tempat di dunia: Chicago, London atau Hong Kong. Ujiannya sendiri masih utk tanggal 26 Agustus 2009.

Cara mendaftar:
1. Lulus ujian CCDE qualification 352-001 exam
2. Punya account di pearsonvue.com (pastinya dong, soalnya pas mau ujian CCDE qualification harus bikin)
3. Klik link di Cisco Learning Network.
4. Klik salah satu lokasi di Registration Steps poin no.2: Chicago, London atau Hong Kong.
5. Lokasi yg dipilih akan me-redirect kita ke website pearsonvue, login, pilih 352-011 CCDE Practical, trus ikutin petunjuk buat bayar.

Buat orang Indo, yg murah sepertinya ke Hong Kong (ada jetstar airways, dan tidur bisa di hotel yg murah) dan juga tidak perlu Visa. Kalo ada yg mau bareng ama gue pilih London :)

Tempat sangat terbatas, jadi yg tertarik silahkan register secepatnya.