No Interview Means Good News?

January 27, 2009

Masih tentang interview di CCIE lab. Cisco memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa bentuk interview tersebut bukan lisan, melainkan “In addition to the live configuration scenarios, candidates will be asked a series of four or five open-ended questions, on the computer screen, drawn from a pool of questions based on the material covered on the lab blueprint.”

Beberapa menganggapnya berita bagus. Tapi menurut Master Ogway di Kungfu Panda “There’s no bad news or good news. There’s only news” heheh

Ini jadi berita bagus atau bukan tergantung dari sisi mana melihatnya. Banyak orang yg terlalu kuatir dgn interview di CCIE lab dalam bahasa inggris karena merasa tidak biasa melakukannya.

Kalo mau berkata jujur, tahun 2001 pada saat ambil lab CCIE R&S pertama kali gue pribadi masih kerja di Indonesia dan tidak terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi lisan. Pada saat di Brussels dan Tokyo, ada interview untuk menjelaskan apa yg sudah dikerjakan dan juga interview pada saat Troubleshooting untuk menjelaskan bagaimana kita bisa tahu ada problem, debug command apa yg kita lakukan, dan bagaimana cara meng-solve problem tsb.

Satu hal yg harus gue garis bawahi sekali lagi: di luar negri umumnya orang lain menerima bahwa ENGLISH ITU BUKAN NATIVE LANGUANGE ORANG INDONESIA. Ini berdasarkan pengalaman gue pribadi bekerja di luar negri sejak awal 2002. Jadi ekspektasi mereka ke bahasa inggris kita tidak tinggi. Demikian juga dgn di CCIE lab. Pada saat gue di interview, proctornya tahu bahwa gue bukan native speaker. Dan di interview itu juga bukan Grammar ataupun aksen kita yg diperiksa :) . Yg paling penting itu adalah kita mampu berkomunikasi, mampu menyampaikan jawaban. Malahan spt yg pernah gue ceritakan proctor gue di Jepang sendiri kurang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris jadi kita pake bantuan tangan alias pake bahasa tarzan ketika berdebat hahah

Terus terang gue merasa bahwa diskusi teknikal dalam bahasa Inggris itu jauh lebih mudah daripada interview non-teknikal. Coba buktikan sendiri. Jelaskan berbagai LSA type di OSPF dalam bahasa Inggris. Kemudian coba jelaskan ttg diri pribadi kita, anak berapa, hobby kita apa, cita-cita dan apa yg kita inginkan dalam hidup, atau malah sekalian jelaskan masa depan Indonesia menurut kita misalnya. Gue yakin buat network engineer lebih mudah untuk melakukan yg pertama. Mengapa? Karena kita selalu membaca referensi tentang itu dalam bahasa Inggris. Ketika orang sudah mencapai taraf CCIE candidate maka bahan bacaannya sudah tidak bisa ditemui lagi di Gramedia dalam bentuk yg sudah diterjemahkan. Semua buku referensi, Cisco website, milis CCIE di groupstudy, workbook, practice lab, semuanya hanya ada dalam bahasa Inggris.

Dan satu hal lagi. Waktu gue di interview satu-satu setelah ujian lab tahun 2001 itu kita dikasih kesempatan untuk menjelaskan di white board. Menggambar tentang letak dan fungsi BGP route-reflector di kertas maupun papan akan jauh lebih mudah karena kita hanya perlu berkomunikasi lisan untuk mendukung penjelasan kita di gambar.

Balik lagi ke topik, dengan tidak adanya interview lisan tapi hanya ada soal di komputer yg harus kita jawab dgn menulis, ini berita bagus atau bukan tergantung dari sisi mana melihatnya. Ada orang yg tidak bisa menulis panjang-panjang ketika menjelaskan. Sampai sekarang di banyak negara gue masih sering ketemu engineer yg gak suka bikin dokumentasi, gak bisa nulis email panjang-panjang, dan lebih suka ketemu langsung atau menjawab customer lewat telpon. Apalagi kalo untuk menjawab pertanyaan CCIE lab di komputer tsb kita tidak bisa menggambar, misalnya. Gue pribadi, waktu ambil CCIE pertama kali, karena masih naive (heheh) dan merasa CCIE itu levelnya international, waktu itu gue merasa sedang berkompetisi dgn engineer di pasar global yg mengambil ujian juga, sehingga waktu itu berpendapat bahwa interview lisan di CCIE itu memang bagian yg wajar. Bagian dari paket ujian CCIE untuk membuktikan bahwa seseorang yg lulus itu mempunyai kemampuan teknis dan komunikasi sekaligus. Dan waktu melakukannya tidak merasa itu beban, malahan merasa bangga ketika berhasil memberi argumentasi ke proctor yg, pada saat itu, seperti dewa network di mata gue :)

Kecuali tentunya, setelah lulus CCIE tadi kembali ke kampung sendiri, untuk kerja hanya di belakang computer, hanya berurusan dgn customer di negara sendiri dgn bahasa sendiri, dan tidak pernah perlu untuk berdiskusi dalam bahasa Inggris ketika bertemu orang asing di project, tidak pernah perlu menelpon rekan kerja di luar negri, tidak perlu ikut training di dalam maupun luar negri yg memberi kesempatan berdiskusi dgn instruktur yg orang asing, dan sebagainya, dan sebagainya.
What’s the point to be a CCIE anyway? ha ha ha

Selamat belajar. Dan selamat memilih ;)