Last Email to Indo-Singapore Mailing List

January 5, 2009

Gue semenjak mid December sudah pindah home base ke Dubai. Dua hari sebelum tahun baru lalu mendarat di sini bersama keluarga. Sempat mampir Singapore buat cancel EP sebelum benar-benar check out dari negara yg menjadi base gue 2 tahun terakhir. Masih sibuk nyari apartment. Masih sibuk nyari sekolah anak. Masih sibuk ngurusin nomer HP lokal, bank, kartu kredit etc.

Sebenarnya sejak September 2008 coverage kerjaan gue sudah berganti dari sebelumnya di Asia Pacific ke Europe and Emerging Markets, EUEM yaitu Central and Eastern Europe, Latin America and the Caribbean, the Middle East and Africa, and Russia and CIS. Jadi make more sense kalo gue pindah base di Dubai supaya terbangnya tidak terlalu jauh dari Singapore terutama ke customer di kawasan EMEA (sejak September gue sudah sering terbang > 14 jam dari Singapore ke negara-negara Eastern Europe and please allow me to share that it’s not an interesting experience :) terutama dgn penerbangan spt Lufthansa yg entertainment system nya cuman ada satu layar gede di tengah pesawat).

Sekedar info gue dulu pernah tinggal di Dubai selama 5 tahun sampai akhir 2006. Gue dulu kerja di perusahaan partnernya Cisco Systems. Kemudian nge-drop gaji untuk join Cisco Advanced Services - Asia Pacific based di Singapore. Ralat: ambil gaji di Singapore, karena kerjanya terbang-terbang ke negara APAC khususnya South East Asia, dan pas lagi nganggur pulang ke Bandung. Rata-rata tidur di Singapore dalam sebulan mungkin cuma 5 hari. Dan gaji turun dari Dubai ke Singapore ini jelas karena standard market dan biaya hidup di 2 negara yg berbeda.

Why, you may ask? Is it so important to fulfill my dream to join Cisco?
Well, life is a matter of preference. We are what we are today because of all our decisions in the past. And I just don’t want to look back and regret my life someday.

Pindah dari Singapore ke Dubai sebenernya seperti back from the future. Dari segi mindset dan rules, you know what I mean.

Kalo ada yg bilang penghasilan di Dubai lebih besar karena income tax yg 0 memang benar. Tapi di Dubai juga tidak ada yg namanya HDB (ada apartment murah meriah dari Dubai Development Board tapi jumlahnya sedikit dan tidak mudah untuk didapat). Sewa apartment jauh lebih mahal (di tempat yg strategis sudah semahal di London maupun Paris, kata teman-teman yg datang dari UK dan France). Public school yg gratis/murah spt Singapore tidak ada (ada tapi bahasa pengantar pelajaran adalah Arab, dan tidak akan menerima anak expat kecuali orang tuanya bisa bahasa Arab dgn alasan orang tua tidak akan bisa membantu belajar di rumah nantinya). Anak harus sekolah di international school yg biayanya setahun mungkin sama dgn biaya kuliah gue dulu selama 5 tahun. Tidak ada MRT, project Dubai metro masih sedang membangun monorail di tengah kota. Berarti harus punya mobil di sini, walaupun ini sesuatu hal yg bagus karena harga mobil dan bensin yg relatif murah dibanding Singapore tapi juga membuat kemacetan semakin menjadi terutama buat mereka yg ingin tinggal di suburb atau kota satelit demi mendapat akomodasi yg lebih murah.

Why I share this, again you may ask?
Sekedar berbagi supaya yg belum tahu bisa mengerti bahwa membandingkan hidup di 2 negara yg berbeda itu harus sepenuhnya, tidak hanya dari besar angka penghasilan saja. Belum lagi masalah terbang yg lebih lama dan biaya yg lebih mahal kalo mau lebaran ke kampung, makanan yg tidak sekomplit di Singapore dan cuaca saat summer yg kurang bersahabat untuk human being.

And please consider this mail as a token of my appreciation to this list.
Walaupun tidak aktif tapi gue selalu membaca dan menggunakan info ttg Singapore dari milis ini. This is my last email to the list anyway so you can safely ignore and delete it if you don’t like it.
But it might inspire some people too
;)

Anyway, gue akan unsubscribe dari milis dalam kurun waktu 24 jam ke depan.

Carpe diem. Seize the day.

Thanks and goodbye to all of you.