Menulis Dari Hati
December 13, 2008Seorang teman bertanya, bagaimana caranya gue bisa terus menulis di blog walaupun sibuk dgn pekerjaan? Dia ingin mengikuti apa yg gue lakukan sehingga ingin tahu bagaimana cara memulai dan cara untuk tetap konsisten dalam menulis. Buat dia ini adalah pertanyaan sederhana yg membutuhkan jawaban yg sederhana juga. Tapi buat gue butuh beberapa hari sebelum akhirnya bisa menjawab.
Mula-mula gue pikir mungkin karena bagian dari pekerjaan gue sebagai consultant dan engineer adalah membuat dokumentasi, proposal, perencanaan, berkomunikasi lewat email dll sehingga gue harus selalu menulis meskipun sedang tidak kerja untuk menjaga mood dan flow. Ingat hukum Newton bahwa suatu benda akan tetap diam atau tetap bergerak dgn kecepatan yg sama, kecuali jika ada force yg dikenakan kepadanya.
Kemudian gue juga berpikir bahwa menulis itu adalah salah satu cara untuk melepaskan stress dan sbg pelarian dari segala kondisi kerjaan yg biasanya selalu under pressure. Setiap kali gue mulai merasa tekanan yg tinggi, gue coba menulis sesuatu hal yg sama sekali berbeda dgn yg gue kerjakan. Sejauh ini selalu berhasil.
Atau mungkin juga karena gue suka memanfaatkan waktu misalnya saat transit di airport untuk menulis, bahkan beberapa kali gue hampir ketinggalan pesawat gara-gara keasikan menulis. Gue pikir lebih baik melakukan ini ketimbang bengong di airport dan ngeliatin orang-orang yg lalu lalang, meskipun harus gue akui ini juga asik buat dilakukan apalagi jika sedang berada di airport yg menjadi hub penerbangan international spt London, Dubai atau Singapore.
Mungkin pula gue bisa tetap menulis di blog karena gue tidak terlalu banyak menulis. Rata-rata dalam sebulan gue paling hanya menulis 4-5 entry dan kebanyakan isinya tidak teknikal. Menulis di brokenpipes pake bahasa Inggris memakan waktu relatif lebih lama ketimbang menulis di blog ini. Tapi menulis pake Inggris terkadang jauh lebih fun karena banyak ekspresi kalimat yg sulit untuk ditulis pake bahasa, dan harus selalu gue lakukan karena semua dokumen yg gue buat untuk kerjaan selalu dalam bahasa Inggris, hanya memang prosesnya jadi lebih lama. Sekarang gue menggunakan twitter untuk menulis hal-hal singkat yg tiba-tiba muncul di kepala.
Dan yg terakhir, mungkin karena semua yg gue tulis adalah apa yg gue lihat, gue tahu maupun yg pernah gue alami jadi lebih mudah dan memang berfungsi sbg jurnal harian. Bahkan ketika menulis teknikal pun gue tidak bolak-balik membaca referensi tapi gue lakukan langsung dari apa yg gue tahu, yg gue pahami di otak dan berdasarkan pengalaman sendiri. Selain itu gue juga tidak perlu menutup-nutupi sesuatu, gue tulis saja apa adanya, kecuali jika hal itu menyangkut ttg perusahaan karena ada non-disclosure agreement yg harus gue hormati.
Eh ada satu hal lain, mungkin juga gue bisa tetap menulis karena gue tidak pernah takut orang tidak tertarik untuk membaca. Karena pembaca utama dari blog gue ya gue sendiri. Gue benar-benar sering membaca ulang blog gue ketika sedang mengevaluasi diri dan mengingat-ingat apa yg gue kerjakan di masa lampau. Menulis dgn perasaan bebas, mungkin ini yg paling penting.
Jadi jawaban utamanya mungkin karena gue menulis dari hati. Gue tidak pernah merasa terpaksa untuk menulis. Gue bisa menulis kapan saja dan tentang apa saja yg hati gue rasakan.
Mau menulis di blog? Lakukan aja. Mulailah menulis. Buat benda itu bergerak. Dan kita tidak perlu melakukan apapun untuk menjaga flow, tidak perlu menambah force, kecuali kita mau mengubah kecepatan atau membuatnya berhenti.
Menulis untuk diri sendiri, dan menulis dari hati.
