Back From the Future

November 25, 2008

Tepat 2 tahun lalu gue meninggalkan Dubai, dan pagi ini gue kembali mendarat di sini. Begitu mendarat gue langsung mengenali suasana kota yg sempet gue tinggali selama hampir 5 tahun. Untungnya SIM UAE gue masih berlaku sehingga langsung bisa ambil rental mobil di airport. Sayangnya bookingan hotel yg gue lakukan secara online karena suatu hal di drop, dan tidak ada hotel yg tersedia selain yg rate nya sangat mahal sekali. Sehingga gue hari ini jadi homeless alias gelandangan :) Well, gue pikir di Dubai itu lebih penting punya mobil ketimbang kamar hotel. Beberapa tahun yg lalu gue udah sempet ngerasain tidur di mobil dan sofa rumah teman beberapa hari gara-gara kontrak sewa apartment yg tidak jelas yg membuat gue diusir tanpa ada grace period buat mencari apartment baru :)

Dari masih gelap di Terminal 3 Airport gue sudah mulai nyetir muter-muter bahkan sampai hampir mencapai Abu Dhabi, dan akhirnya balik ke kantor di DIC gedung 10. Yah, sekedar menikmati sunrise di Sheik Zayed road dan mengingat-ngingat masa lalu, ketika gue sering nyetir 180 km/h heheh sambil dengerin penyiar radio Neil dan Vicky di Channel 4 FM. Gue juga masih inget dulu sering ke Abu Dhabi cuma demi makan di restoran Indonesia dan ngebungkusin martabak. Sekarang sepertinya makin susah buat ‘need for speed’ lagi, keliatan sudah banyak bgt speed camera di jalan.

Kunjungan gue kali ini cuman kurang dari seminggu dan senin depan udah harus cabut lagi ke Europe. Tujuan utama misi gue di Dubai adalah untuk mengurus residence visa. Dan mulai mencari-cari sekolah anak (ya begitulah, sekolah di Dubai kalo dikirimin email atau ditelpon suka gak mau ngejelasin dgn komplit, musti didatengin langsung). Kalo semua lancar dan masih ada waktu mungkin gue menyempatkan diri untuk buka bank account dan lihat-lihat apartemen yg bisa dibayar bulanan kalo nanti pindah sama keluarga. Gue juga di sini untuk menghadiri meeting dgn salah satu customer besar Cisco. Dan satu hal yg pasti harus gue lakukan adalah maen snowboarding di Ski Dubai, indoor snow park di Mall of the Emirates. Sepertinya beberapa hari ke depan ini akan menarik.

Btw, jangan pernah tanya enakan mana Singapore atau Dubai. Penghasilan yg didapat mungkin lebih tinggi di Dubai tapi biaya hidup juga lebih tinggi. Di Dubai tidak ada MRT seperti Singapore. Juga tidak ada government school yg biayanya sangat murah meskipun untuk foreigner seperti di Singapore, well ada sih tapi yg pernah gue temui itu selalu bahasa pengantarnya Arab. Jadi buat gue di Dubai tidak ada pilihan selain memasukkan anak gue ke sekolah international yg jauh lebih mahal. Belum lagi jarak untuk pulang ke kampung yg makin jauh dan tidak bisa terlalu sering. Makanan di Singapore jauh lebih komplit dan mirip Indonesia. Dan yg pastinya, keramah tamahan yg selalu ada kalo kita berada di negara-negara Asia. Tapi Dubai juga punya hal yg lain, seperti jarak yg lebih dekat kalo mau ke Europe. Jadi gak bisa dibandingin apple to apple. Pasti ada keuntungan dan kerugian dari masing-masing negara.

Tapi yg jelas sih dari pertama mendarat di Dubai tadi pagi udah kerasa memang beberapa orang pola pikirnya yg masih terbelakang, mirip waktu dulu gue tinggal di sini. Seperti orang-orang yg bekerja di belakang counter di airport yg memberikan perlakuan, dgn bahasa tubuh, yg berbeda ketika berhadapan dgn orang yg datang dari West dan yg dari East seperti gue. Bahkan pas lagi scan iris gue sempat dipanggil secara sinis “Hei, Philipino, your turn!” Pertama mereka tidak seharusnya prejudice, menduga gue berasal dari Philippines hanya gara-gara tampang orang Indo emang deket ke sono. Dan yg pastinya tidak sopan untuk seenaknya memanggil orang dgn menyebutkan asal negaranya seperti itu, yg salah lagi. Bahkan masih ada counter-counter pelayanan umum di airport yg orangnya tidak bisa berbahasa inggris dan juga seperti tidak mau berusaha melayani dgn baik.

Kalo sudah seperti ini, memang Singapore sudah jauh lebih maju. Kalo sudah seperti ini kerasa bahwa biarpun pembangunan di Dubai jauh lebih pesat dari Singapore tapi dalam hal keramah tamahan dan pola berpikir orang-orang di Singapore masih lebih jauh beberapa tahun ke depan. Kalo sudah seperti ini, merasa jadi back from the future.

But anyway, it feels good to be here again.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://himawan.blogsome.com/2008/11/25/121/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>