Pertanyaan-pertanyaan Sensitif

November 10, 2008

Bangsa Indonesia adalah bangsa yg ramah dan sangat terkenal dgn kebiasaannya dalam bersopan-santun dan berbasa-basi. Tidak ada yg salah dalam berbasa-basi, hanya saja terkadang banyak orang melakukannya tanpa sadar bahwa yg mereka lakukan sudah melanggar privacy seseorang atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg ternyata sensitif ke orang yg ditanya.

Contoh yg paling sering ditemui, ketika kita bertemu seseorang yg belum menikah, kita suka menanyakan: “Kapan mau nikah? Jangan ditunda-tunda lho”. Mungkin jika kita dekat dgn orang yg bersangkutan ini tidak akan menjadi masalah. Tapi hal spt ini ternyata sering juga ditanyakan ke orang yg tidak terlalu dekat sebagai pertanyaan yg sambil lalu dgn tujuan basa-basi. Masalahnya adalah, apakah yakin orang yg ditanya belum menikah karena memang menunda? Bagaimana jika memang kebetulan yg ditanya itu sedang berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup namun belum berhasil?

Contoh lain lagi, jika bertemu pasangan yg sudah menikah beberapa tahun dan belum punya anak, sering ada pertanyaan: “Anaknya sudah berapa?” dan begitu tahu belum ada dilanjutkan dengan “Kapan dong mau punya anak?” Loh, memangnya keturunan itu adalah bahasa pemrograman yg bisa ditulis kemudian di compile di komputer lalu langsung bisa didapatkan hasilnya? Bagaimana jika ternyata pasangan tersebut sudah berusaha mati-matian untuk punya anak? Bagaimana jika mereka sudah mengeluarkan biaya banyak, setiap bulan selalu berharap untuk mendapatkan hasil, namun ketika belum dapat juga sambil menunggu mereka berusaha untuk melupakan kesedihan dgn keluar rumah dan bertemu banyak orang, hanya untuk kemudian mendapat pertanyaan basa-basi seperti itu?

Dan yg sering gue alami sendiri karena anak gue masih satu banyak orang yg menanyakan sambil lalu dan berbasa-basi pas ketemu: “Kapan mau punya anak lagi? Kasihan loh anak yg pertama sudah besar, pasti ingin punya adik”. Gue yakin orang-orang yg mengajukan pertanyaan sederhana seperti ini yg sering kita dengar sehari-hari memang tidak bermaksud menyakiti perasaan whatsoever. Tapi bagaimana jika yg ditanya ternyata sedang kesulitan dalam mendapatkan anak yg kedua? Bagaimana jika pertanyaan-pertanyaan kita yg sambil lalu tersebut ternyata bisa menjadi hal yg sensitif karena mungkin kita keluarkan ke seseorang yg belum terlalu kita kenal latar belakangnya?

Sekali lagi, tidak ada yg salah dgn basa-basi. Hanya saja jika yg akan kita tanya adalah orang yg tidak terlalu dekat, dan kita coba berbasa-basi untuk lebih mengakrabkan diri, mungkin lebih baik jika kita memilih topik yg tidak sensitif. Kecuali tentunya jika yg bersangkutan memang sedang dalam mode curhat atau sedang membuka diri dan menanyakan nasihat bagaimana caranya mendapatkan jodoh atau mendapatkan keturunan misalnya. Ini mungkin salah satu alasah mengapa ada pernyataan kalo orang Inggris itu selalu membuka percakapan (untuk berbasa-basi) dengan membahas cuaca hari ini. Karena semua orang tahu kalo cuaca di Inggris memang jelek sehingga bisa dijadikan bahan perbincangan, dan kemungkinan ada orang yg sensitif dgn pertanyaan tentang cuaca jauh lebih kecil ketimbang jika kita tembak langsung menanyakan sesuatu hal yg bersifat pribadi.

Pertanyaan basi-basi yg juga sering gue dengar, dan gue pikir bukan saja sensitif karena menanyakan urusan pribadi tapi juga SANGAT BODOH adalah: “Asik dong ya kerja di luar negri? Dapet gaji berapa di sana? Tabungannya banyak bgt dong kalo dapet gaji X saja sebulan maka setahun bisa dapet 12 kali X”. Pertama, masalah gaji adalah hal yg sensitif dan tidak bisa ditanyakan ke orang apalagi yg tidak terlalu dekat. Kedua, mengapa sibuk mengasumsikan tabungan seseorang dgn melakukan perkalian yg tidak masuk akal? Gaji di luar negri lebih tinggi dan mungkin dalam USD atau mata uang lain karena kita harus tinggal di luar negri, dgn biaya hidup luar negri juga. Walaupun dapat gaji 10 juta rupiah di Jakarta tapi kemungkinan bisa hidup lebih nyaman daripada gaji 50 juta di luar negri. Kok bisa? Karena di Jakarta bisa tinggal di rumah orang tua atau menyicil rumah yg cicilan perbulannya masih terjangkau, sedang di luar kalo mau membeli rumah ada persyaratan yg harus dipenuhi dan harganya tentu sesuai dgn negara tersebut. Sudah tau harga sewa apartment di Dubai atau Singapore yg layak? Gue pernah membayar 6 juta rupiah perbulan di Singapore hanya untuk mendapat satu kamar tidur, bukan keseluruhan apartment. Di Singapore harga sewa seluruh apartment 20 juta rupiah per bulan kalo di kurs adalah hal yg bisa. Sekarang gue lagi liat-liat harga sewa apartment di Dubai dan untuk yg dua kamar harga 30 juta rupiah sebulan itu adalah harga rata-rata. Bagaimana dgn makanan? Selain rasanya tidak sama harganya pun berkali lipat. Dan sudah tau harga sekolah anak? Kalo tinggal di negara maju yg public school nya sudah bagus, memang bisa murah sekali. Tapi kalo tinggal di negara seperti di Middle East pilihannya adalah di International school. Sekarang gue lagi liat-liat biaya tahunan untuk primary school atau SD dan ini bisa mencapai USD 10,000 sampai USD 15,000, kalo di kurs berada di antara 100 juta sampai 150 juta rupiah. Ini hanya untuk biaya satu tahun di SD loh!

Kita baru ngomongin hal-hal yg bisa diukur dgn uang. Bagaimana dgn hal-hal yg tidak bisa dibayar? Seperti perasaan kesepian karena jauh dari saudara, lebaran mungkin tidak bisa berkumpul di kampung, tidak ada undangan kawinan atau sunatan tiap minggu, atau ulang tahun anak tetangga. Hal-hal yg biasanya ada di hidup kita dan memberi warna kehidupan, walaupun sedang berada di masa-masa sulit. Banyak hal yg harus kita lakukan sendiri, berbeda dgn di Indonesia karena bisa minta tolong atau menyuruh orang lain. Dan coba lihat, emang banyak orang Indonesia di luar negri yg bisa punya pembantu? Di Jakarta pembantu itu adalah hal yg wajar dan bahkan ada orang yg bisa punya lebih dari satu walaupun dgn penghasilan yg hanya rata-rata. Di luar negri? Selain mahal juga pengurusan untuk mendapatkan housemaid tidak semudah di Indonesia.

Jadi hidup di luar negri itu enak atau tidak ya relatif. Banyak orang yg rela untuk pergi jauh dari Indonesia karena ingin mencari pengalaman baru, ingin mendapatkan sistem pendidikan yg berbeda, ingin tahu dunia di luar sana, menjadi marketing agent buat Indonesia, dan banyak hal lainnya yg menjadi alasan mengapa orang itu mau keluar dari negara sendiri. Sehingga mereka mau mengorbankan hal-hal yg biasa didapatkan ketika tinggal di Indonesia. Namun semua ini tidak bisa di generalisasi dgn pertanyaan basa-basi yg mengasumsikan bahwa hidup dan kerja di luar negri itu pasti lebih enak. Keluar negri itu kemungkinan besar sangat asik jika hanya sebentar dan untuk liburan, namun hidup dan kerja di luar negri adalah hal yg sama sekali berbeda dgn liburan.

Intinya, please, jangan pernah lagi menanyakan hal seperti di atas.

Jadi, next time kita mau berbasa-basi, think again. Apakah kita akan menanyakan pertanyaan yg kira-kira sensitif? Jika iya, mungkin sebaiknya basa-basinya diganti dgn hal-hal lain yg kemungkinan tidak akan menyinggung perasaan seseorang.