Back From the Future

November 25, 2008

Tepat 2 tahun lalu gue meninggalkan Dubai, dan pagi ini gue kembali mendarat di sini. Begitu mendarat gue langsung mengenali suasana kota yg sempet gue tinggali selama hampir 5 tahun. Untungnya SIM UAE gue masih berlaku sehingga langsung bisa ambil rental mobil di airport. Sayangnya bookingan hotel yg gue lakukan secara online karena suatu hal di drop, dan tidak ada hotel yg tersedia selain yg rate nya sangat mahal sekali. Sehingga gue hari ini jadi homeless alias gelandangan :) Well, gue pikir di Dubai itu lebih penting punya mobil ketimbang kamar hotel. Beberapa tahun yg lalu gue udah sempet ngerasain tidur di mobil dan sofa rumah teman beberapa hari gara-gara kontrak sewa apartment yg tidak jelas yg membuat gue diusir tanpa ada grace period buat mencari apartment baru :)

Dari masih gelap di Terminal 3 Airport gue sudah mulai nyetir muter-muter bahkan sampai hampir mencapai Abu Dhabi, dan akhirnya balik ke kantor di DIC gedung 10. Yah, sekedar menikmati sunrise di Sheik Zayed road dan mengingat-ngingat masa lalu, ketika gue sering nyetir 180 km/h heheh sambil dengerin penyiar radio Neil dan Vicky di Channel 4 FM. Gue juga masih inget dulu sering ke Abu Dhabi cuma demi makan di restoran Indonesia dan ngebungkusin martabak. Sekarang sepertinya makin susah buat ‘need for speed’ lagi, keliatan sudah banyak bgt speed camera di jalan.

Kunjungan gue kali ini cuman kurang dari seminggu dan senin depan udah harus cabut lagi ke Europe. Tujuan utama misi gue di Dubai adalah untuk mengurus residence visa. Dan mulai mencari-cari sekolah anak (ya begitulah, sekolah di Dubai kalo dikirimin email atau ditelpon suka gak mau ngejelasin dgn komplit, musti didatengin langsung). Kalo semua lancar dan masih ada waktu mungkin gue menyempatkan diri untuk buka bank account dan lihat-lihat apartemen yg bisa dibayar bulanan kalo nanti pindah sama keluarga. Gue juga di sini untuk menghadiri meeting dgn salah satu customer besar Cisco. Dan satu hal yg pasti harus gue lakukan adalah maen snowboarding di Ski Dubai, indoor snow park di Mall of the Emirates. Sepertinya beberapa hari ke depan ini akan menarik.

Btw, jangan pernah tanya enakan mana Singapore atau Dubai. Penghasilan yg didapat mungkin lebih tinggi di Dubai tapi biaya hidup juga lebih tinggi. Di Dubai tidak ada MRT seperti Singapore. Juga tidak ada government school yg biayanya sangat murah meskipun untuk foreigner seperti di Singapore, well ada sih tapi yg pernah gue temui itu selalu bahasa pengantarnya Arab. Jadi buat gue di Dubai tidak ada pilihan selain memasukkan anak gue ke sekolah international yg jauh lebih mahal. Belum lagi jarak untuk pulang ke kampung yg makin jauh dan tidak bisa terlalu sering. Makanan di Singapore jauh lebih komplit dan mirip Indonesia. Dan yg pastinya, keramah tamahan yg selalu ada kalo kita berada di negara-negara Asia. Tapi Dubai juga punya hal yg lain, seperti jarak yg lebih dekat kalo mau ke Europe. Jadi gak bisa dibandingin apple to apple. Pasti ada keuntungan dan kerugian dari masing-masing negara.

Tapi yg jelas sih dari pertama mendarat di Dubai tadi pagi udah kerasa memang beberapa orang pola pikirnya yg masih terbelakang, mirip waktu dulu gue tinggal di sini. Seperti orang-orang yg bekerja di belakang counter di airport yg memberikan perlakuan, dgn bahasa tubuh, yg berbeda ketika berhadapan dgn orang yg datang dari West dan yg dari East seperti gue. Bahkan pas lagi scan iris gue sempat dipanggil secara sinis “Hei, Philipino, your turn!” Pertama mereka tidak seharusnya prejudice, menduga gue berasal dari Philippines hanya gara-gara tampang orang Indo emang deket ke sono. Dan yg pastinya tidak sopan untuk seenaknya memanggil orang dgn menyebutkan asal negaranya seperti itu, yg salah lagi. Bahkan masih ada counter-counter pelayanan umum di airport yg orangnya tidak bisa berbahasa inggris dan juga seperti tidak mau berusaha melayani dgn baik.

Kalo sudah seperti ini, memang Singapore sudah jauh lebih maju. Kalo sudah seperti ini kerasa bahwa biarpun pembangunan di Dubai jauh lebih pesat dari Singapore tapi dalam hal keramah tamahan dan pola berpikir orang-orang di Singapore masih lebih jauh beberapa tahun ke depan. Kalo sudah seperti ini, merasa jadi back from the future.

But anyway, it feels good to be here again.

Business Traveler 2.0

November 23, 2008

Dunia sedang dalam krisis ekonomi global. Di bidang apapun kita bekerja pasti terkena dampaknya baik langsung atau tidak langsung. Life is not fair, you may say. Hanya karena kesalahan segelintir orang di US sana dalam mengambil keputusan membuat hampir semua orang di dunia untuk menanggung akibatnya. Namun menurut gue sekarang yang paling penting itu adalah apa yg bisa kita lakukan meski sekecil apapun untuk membantu agar kita semua bisa keluar dari krisis ini. Dan buat gue, hal yg bisa gue lakukan adalah dengan melakukan sesuatu secara lebih efisien.

Efisien bukan berarti pelit. Efisien berarti mengerjakan sesuatu secara optimal. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya berlebih jika hal itu bisa dilakukan dengan biaya secukupnya. Kita efisien jika hanya menggunakan resource seperlunya untuk mencapai tujuan yg sama. Seperti halnya ketika kita tidak membiarkan air mengalir terus-menerus di wastafel pada saat menggosok gigi. Atau seperti juga ketika kita mematikan lampu pada saat tidak digunakan. Tidak kurang, tidak lebih. Secukupnya sesuai yg dibutuhkan.

Di Cisco ada sebuah culture yg disebut frugality. Frugality bisa diartikan dalam banyak hal namun di Cisco ini berarti: selalu menganalisa apapun yg kita kerjakan dan memastikan bahwa kita mengalokasikan resource di area yg memiliki potensi keuntungan terbesar. Dengan kata lain, jangan mengalokasikan resource yg banyak di area yg tidak produktif. Kalo kita bisa mencapai tujuan yg sama dgn cara yg lebih murah, mengapa tidak? Dan gue setuju dgn pola pikir ini. Gue setuju dgn keputusan Cisco baru-baru ini yg, untuk mengantisipasi krisis ekonomi global, melarang semua employee untuk traveling jika tidak untuk project atau berhubungan dgn customer. Tidak ada lagi meeting internal di luar negri. Tidak ada training di negara lain untuk sementara waktu. Gunakan webex untuk meeting. Gunakan web based training. Manfaatkan IP phone, internal messaging, unified communication dan collaboration tool yg lain untuk semua hal yg bisa dikategorikan bukan memiliki potensi keuntungan terbesar.

Lebih baik tidak ada internal meeting daripada mulai firing. Lebih baik menunda training sampai kondisi ekonomi dunia membaik daripada pemecatan besar-besaran. Bahkan sebenarnya dari beberapa waktu yg lalu Cisco sudah berusaha mengurangi frekuensi traveling untuk hal-hal yg tidak penting. Selain untuk efisiensi juga untuk menjadikan bumi lebih hijau, dgn cara mengurangi carbon print setiap orang.

Sayangnya untuk orang seperti gue tidak bisa mengurangi jumlah traveling. Karena semua traveling yg gue lakukan selalu berhubungan dgn project dan customer. Customer sudah membayar dan kebanyakan ingin bertemu langsung dgn para consultant dan engineer Cisco, dan masih sedikit sekali customer yg sudah terbiasa dgn virtual meeting menggunakan webex atau lainnya, sehingga selalu ada kebutuhan untuk traveling. Namun gue merasa bahwa ada sesuatu yg gue bisa lakukan yaitu berusaha mengurangi pengeluaran gue selama traveling. Walaupun semua pengeluaran gue selama traveling, mulai dari taxi, internet, telepon, makanan dan minuman, dan hal lainnya sudah pasti di cover perusahaan tapi gue bisa memilih untuk menggunakan fasilitas tsb secukupnya sehingga bisa memotong jumlah expense yg dikeluarkan.

Di Cisco sudah ada peraturan tersendiri tentang airline dan hotel yg bisa digunakan. Selain sudah ada kerja sama dari perusahaan juga untuk alasan keamanan. Sehingga gue tidak bisa menggunakan budget airline maupun tidur di hotel backpacker, misalnya. Jadi dua hal ini sayangnya tidak bisa gue ubah. Gue masih tetap harus menggunakan main airline dan hotel minimal berbintang empat dari daftar yg sudah disediakan. Namun ada hal yg bisa gue kurangi seperti dari segi makanan maupun transportasi selama berada di negara tempat gue bekerja.

Dalam dua perjalanan gue yg terakhir ke negara-negara Eropa gue berhasil menerapkan prinsip yg gue yakini ini. Dan hasilnya cukup membuat gue kagum sendiri. Di trip yg pertama, untuk total 26 hari traveling di berbagai negara Eropa, di luar pengeluaran untuk tiket pesawat dan hotel, gue menghabiskan rata-rata 18.6 Euros per hari. Ingat ini untuk makan setiap hari dan juga transportasi untuk ke kantor customer, misalnya. Di restoran di negara Eropa sangat wajar untuk menghabiskan 30-40 Euros untuk satu main dish. Dan taxi juga jauh lebih mahal dari di Indonesia. Untuk trip yg kedua, selama11 hari gue menghabiskan rata-rata 20.41 Euros per hari. Sedikit lebih mahal dari yg pertama karena pesawat gue mendarat di Vienna dan gue harus menggunakan taxi untuk pergi ke ibukota negara tetangga, Bratislava di Slovakia. Taxi tsb sekitar 90 Euros untuk sekali jalan dari Airport ke hotel, tapi tiket pesawat gue jauh lebih murah karena tidak langsung mendarat di Bratislava. Dan total waktu selama perjalanannya jadi sedikit lebih lama. Sesuatu yg gue bersedia lakukan untuk memotong biaya ekstra yg tidak perlu.

Bagaimana gue bisa mencapai angka pengeluaran perhari serendah itu? Gue menuliskan hal-hal yg gue lakukan, dan gue beri judul “Himawan’s way for a better (and cheaper) business traveler”. Terus terang gue sangat bangga dgn apa yg gue lakukan. Gue tidak berharap dapet penghargaan whatsoever dari perusahaan. Gue hanya suka memberikan target dan tantangan ke diri gue sendiri, dan gue sangat suka ketika berhasil mencapai target tersebut.

Dengan bangga, gue persembahkan: Himawan’s way for a better (and cheaper) business traveler:

1. Book pesawat jauh-jauh hari karena biasanya ada diskon dan harga jadi lebih murah. Di Cisco sudah ada peraturan yg mewajibkan untuk mem-book tiket pesawat 14 hari sebelum keberangkatan untuk mendapat harga khusus dari airline. Agak sulit jika customer nya ingin meeting mendadak dgn kita. Oleh karena itu kita harus bisa pelan-pelan untuk meng-edukasi customer agar bisa mengatur jadwal meeting minimal untuk 2 sampai 3 minggu ke depan

2. Cari hotel yg dekat dgn kantor di negara tujuan, dengan begitu kita akan mengurangi biaya transportasi dari hotel ke kantor. Kalo dari jadwal terlihat kita akan lebih sering pergi ke kantor customer maka cari hotel yg dekat dgn kantor customer. Waktu di Prague gue nginep di hotel persis di depan kantor Cisco dan gue menggunakan subway untuk pergi ke kantor customer. Selain jauh lebih murah ketimbang taxi, subway juga memberi gue kesempatan untuk melihat kehidupan sehari-hari orang-orang di Prague, bukan hanya melihat foreigner di tempat turis saja.

3. Kalo kebetulan kita bekerja di negara itu bersama rekan yg lain, usahakan untuk pergi ke hotel atau airport atau kantor atau ke customer secara bersama-sama. Sehingga jikapun kita menggunakan taxi biayanya bisa untuk beberapa orang sekaligus. Usahakan menggunakan servis shuttle bus dari airport ke hotel jika tersedia. Ada yg gratis, atau walaupun bayar biayanya jadi lebih murah ketimbang kita pake taxi sendirian

4. Jangan gunakan Internet di hotel kecuali itu gratis. Internet di hotel itu biasanya mahal sehingga lebih baik mencoba menyelesaikan semua urusan di kantor meskipun sampai malam. Dan ini juga hal yg positif karena akan memberi kita kesempatan untuk mendapat social life di malam hari. Jadi kita bisa jalan-jalan di waktu malam untuk melihat-lihat kota ketimbang bekerja di dalam kamar. Tapi kalo kita benar-benar geek yg tidak bisa lepas siang malam dari Internet, cari hotel yg sudah menyediakan Internet secara gratis.

5. Hindari makan di hotel kecuali sangat terpaksa. Atau makan di hotel jika memang sudah termasuk ke dalam biaya kamar seperti breakfast, misalnya. Biasakan makan di restoran lokal ketimbang restoran di tempat turis, atau restoran Asia di Eropa, karena harganya yg biasanya sangat jauh berbeda. Dan ini juga bagus karena kita jadi bisa benar-benar mengenal kebudayaan dan makanan lokal. Kalo gak makan McDonald aja :) Gue bahkan suka bawa Indomie di koper buat mengenang makanan khas dan asli Indonesia heheh dan juga untuk bekal kalo malam-malam laper di kamar

6. Minibar di hotel itu evil. Harga yg berlipat untuk barang yg sama yg bisa dijumpai di luar hotel. Lebih baik ke supermarket terus beli air putih, snack dan minuman-minuman lain dgn harga yg pastinya lebih murah untuk dibawa ke kamar. Gunakan pemasak air yg umumnya disediakan di kamar hotel untuk memasak air

7. Hindari servis laundry di hotel. Bawa baju yg cukup selama traveling. Atau jika sama kayak gue yg suka travel light, hanya membawa satu backpack atau koper dgn baju hanya cukup untuk dua minggu meskipun travelingnya bisa berminggu-minggu, maka belajarlah mencuci sendiri. Banyak hotel menyediakan detergen secara gratis, dan juga alat untuk menyetrika. Belajar mencuci di wastafel atau bath tub. Kontak gue jika mau belajar gimana caranya heheh

8. Kalo sedang mengerjakan project, dan kita pergi makan bersama-sama project manager atau local team di negara tujuan, biarkan mereka yg membayar untuk makanan :) Dan ini sebenernya hal yg lumrah karena buat mereka kita adalah tamu yg datang untuk membantu mereka. Bertemanlah di kantor negara tujuan supaya bisa dapet tebengan gratis dari kantor ke hotel dan sebaliknya. Bahkan kadang gue sering ditraktir makan dan minum oleh employee lokal

9. Segera menjadi member untuk frequent flyer dan hotel reward program. Biasanya kalo sering menginap di hotel yg sama bisa mendapat jatah menginap gratis sbg reward. Jika punya gold member di frequent flyer airline tertentu kita bisa menggunakan airport business lounge yg menyediakan makanan, kamar mandi sampai sofa maupun tempat berbaring untuk tidur. Jika ada selisih satu hari dari satu penerbangan ke penerbangan lain gue biasanya memilih untuk tidur di airport. Gue sering tidur di Changi Airport Singapore sampai-sampai gue takut suatu ketika nanti bakal ditagih bayaran :) Karena gue punya gold member gue bisa tidur di business lounge

10. Gunakan IP Phone untuk menelpon keluarga di rumah. Gunakan telepon hotel atau menelpon dari kantor buat meeting sehingga dihitung local call. Gunakan fasilitas callback di webex agar kita yg ditelpon balik, dan kalo bisa kita ditelpon ke IP phone untuk menghindari biaya roaming jika kita menggunakan mobile phone

Gue bisa saja memilih untuk menggunakan fasilitas yg diberikan perusahaan secara maksimal. Gue bisa saja memilih untuk memakai semua jatah untuk makanan dan minuman perhari. Gue bisa saja menggunakan prinsip aji mumpung. Tapi ini tidak gue lakukan. Karena gue memilih untuk menggunakan fasilitas secukupnya. Karena gue memilih untuk mencoba selalu lebih efisien. Karena gue merasa bahwa being frugal is the right choice. It’s the way of life.

Frugality tidak seharusnya menjadi paksaan dari perusahaan.
Frugality adalah mindset. Bagian dari kebudayaan dan kebiasaan.

Mari kita semua menjadi lebih efisien, dalam hal apapun.

V is for Viking

November 11, 2008

6.4 Terabits per second,
400 Gbps per slot,
Power as you grow,
Reduce your carbon footprint,
99.999% reliability with IOS XR,
Designed to deliver Video content,
6 slots and 10 slots.
Beautifully engineered for whatever may lie ahead.

Akhirnya dirilis ke public secara resmi. Informasi lebih banyak akan datang. Yang jelas ini bukan product buat mengganti Cisco 7600 and GSR. Untuk sekarang silahkan nikmati video nya dulu.

Welcome to life in the six-times-as fast lane.

Pertanyaan-pertanyaan Sensitif

November 10, 2008

Bangsa Indonesia adalah bangsa yg ramah dan sangat terkenal dgn kebiasaannya dalam bersopan-santun dan berbasa-basi. Tidak ada yg salah dalam berbasa-basi, hanya saja terkadang banyak orang melakukannya tanpa sadar bahwa yg mereka lakukan sudah melanggar privacy seseorang atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg ternyata sensitif ke orang yg ditanya.

Contoh yg paling sering ditemui, ketika kita bertemu seseorang yg belum menikah, kita suka menanyakan: “Kapan mau nikah? Jangan ditunda-tunda lho”. Mungkin jika kita dekat dgn orang yg bersangkutan ini tidak akan menjadi masalah. Tapi hal spt ini ternyata sering juga ditanyakan ke orang yg tidak terlalu dekat sebagai pertanyaan yg sambil lalu dgn tujuan basa-basi. Masalahnya adalah, apakah yakin orang yg ditanya belum menikah karena memang menunda? Bagaimana jika memang kebetulan yg ditanya itu sedang berusaha untuk mendapatkan pasangan hidup namun belum berhasil?

Contoh lain lagi, jika bertemu pasangan yg sudah menikah beberapa tahun dan belum punya anak, sering ada pertanyaan: “Anaknya sudah berapa?” dan begitu tahu belum ada dilanjutkan dengan “Kapan dong mau punya anak?” Loh, memangnya keturunan itu adalah bahasa pemrograman yg bisa ditulis kemudian di compile di komputer lalu langsung bisa didapatkan hasilnya? Bagaimana jika ternyata pasangan tersebut sudah berusaha mati-matian untuk punya anak? Bagaimana jika mereka sudah mengeluarkan biaya banyak, setiap bulan selalu berharap untuk mendapatkan hasil, namun ketika belum dapat juga sambil menunggu mereka berusaha untuk melupakan kesedihan dgn keluar rumah dan bertemu banyak orang, hanya untuk kemudian mendapat pertanyaan basa-basi seperti itu?

Dan yg sering gue alami sendiri karena anak gue masih satu banyak orang yg menanyakan sambil lalu dan berbasa-basi pas ketemu: “Kapan mau punya anak lagi? Kasihan loh anak yg pertama sudah besar, pasti ingin punya adik”. Gue yakin orang-orang yg mengajukan pertanyaan sederhana seperti ini yg sering kita dengar sehari-hari memang tidak bermaksud menyakiti perasaan whatsoever. Tapi bagaimana jika yg ditanya ternyata sedang kesulitan dalam mendapatkan anak yg kedua? Bagaimana jika pertanyaan-pertanyaan kita yg sambil lalu tersebut ternyata bisa menjadi hal yg sensitif karena mungkin kita keluarkan ke seseorang yg belum terlalu kita kenal latar belakangnya?

Sekali lagi, tidak ada yg salah dgn basa-basi. Hanya saja jika yg akan kita tanya adalah orang yg tidak terlalu dekat, dan kita coba berbasa-basi untuk lebih mengakrabkan diri, mungkin lebih baik jika kita memilih topik yg tidak sensitif. Kecuali tentunya jika yg bersangkutan memang sedang dalam mode curhat atau sedang membuka diri dan menanyakan nasihat bagaimana caranya mendapatkan jodoh atau mendapatkan keturunan misalnya. Ini mungkin salah satu alasah mengapa ada pernyataan kalo orang Inggris itu selalu membuka percakapan (untuk berbasa-basi) dengan membahas cuaca hari ini. Karena semua orang tahu kalo cuaca di Inggris memang jelek sehingga bisa dijadikan bahan perbincangan, dan kemungkinan ada orang yg sensitif dgn pertanyaan tentang cuaca jauh lebih kecil ketimbang jika kita tembak langsung menanyakan sesuatu hal yg bersifat pribadi.

Pertanyaan basi-basi yg juga sering gue dengar, dan gue pikir bukan saja sensitif karena menanyakan urusan pribadi tapi juga SANGAT BODOH adalah: “Asik dong ya kerja di luar negri? Dapet gaji berapa di sana? Tabungannya banyak bgt dong kalo dapet gaji X saja sebulan maka setahun bisa dapet 12 kali X”. Pertama, masalah gaji adalah hal yg sensitif dan tidak bisa ditanyakan ke orang apalagi yg tidak terlalu dekat. Kedua, mengapa sibuk mengasumsikan tabungan seseorang dgn melakukan perkalian yg tidak masuk akal? Gaji di luar negri lebih tinggi dan mungkin dalam USD atau mata uang lain karena kita harus tinggal di luar negri, dgn biaya hidup luar negri juga. Walaupun dapat gaji 10 juta rupiah di Jakarta tapi kemungkinan bisa hidup lebih nyaman daripada gaji 50 juta di luar negri. Kok bisa? Karena di Jakarta bisa tinggal di rumah orang tua atau menyicil rumah yg cicilan perbulannya masih terjangkau, sedang di luar kalo mau membeli rumah ada persyaratan yg harus dipenuhi dan harganya tentu sesuai dgn negara tersebut. Sudah tau harga sewa apartment di Dubai atau Singapore yg layak? Gue pernah membayar 6 juta rupiah perbulan di Singapore hanya untuk mendapat satu kamar tidur, bukan keseluruhan apartment. Di Singapore harga sewa seluruh apartment 20 juta rupiah per bulan kalo di kurs adalah hal yg bisa. Sekarang gue lagi liat-liat harga sewa apartment di Dubai dan untuk yg dua kamar harga 30 juta rupiah sebulan itu adalah harga rata-rata. Bagaimana dgn makanan? Selain rasanya tidak sama harganya pun berkali lipat. Dan sudah tau harga sekolah anak? Kalo tinggal di negara maju yg public school nya sudah bagus, memang bisa murah sekali. Tapi kalo tinggal di negara seperti di Middle East pilihannya adalah di International school. Sekarang gue lagi liat-liat biaya tahunan untuk primary school atau SD dan ini bisa mencapai USD 10,000 sampai USD 15,000, kalo di kurs berada di antara 100 juta sampai 150 juta rupiah. Ini hanya untuk biaya satu tahun di SD loh!

Kita baru ngomongin hal-hal yg bisa diukur dgn uang. Bagaimana dgn hal-hal yg tidak bisa dibayar? Seperti perasaan kesepian karena jauh dari saudara, lebaran mungkin tidak bisa berkumpul di kampung, tidak ada undangan kawinan atau sunatan tiap minggu, atau ulang tahun anak tetangga. Hal-hal yg biasanya ada di hidup kita dan memberi warna kehidupan, walaupun sedang berada di masa-masa sulit. Banyak hal yg harus kita lakukan sendiri, berbeda dgn di Indonesia karena bisa minta tolong atau menyuruh orang lain. Dan coba lihat, emang banyak orang Indonesia di luar negri yg bisa punya pembantu? Di Jakarta pembantu itu adalah hal yg wajar dan bahkan ada orang yg bisa punya lebih dari satu walaupun dgn penghasilan yg hanya rata-rata. Di luar negri? Selain mahal juga pengurusan untuk mendapatkan housemaid tidak semudah di Indonesia.

Jadi hidup di luar negri itu enak atau tidak ya relatif. Banyak orang yg rela untuk pergi jauh dari Indonesia karena ingin mencari pengalaman baru, ingin mendapatkan sistem pendidikan yg berbeda, ingin tahu dunia di luar sana, menjadi marketing agent buat Indonesia, dan banyak hal lainnya yg menjadi alasan mengapa orang itu mau keluar dari negara sendiri. Sehingga mereka mau mengorbankan hal-hal yg biasa didapatkan ketika tinggal di Indonesia. Namun semua ini tidak bisa di generalisasi dgn pertanyaan basa-basi yg mengasumsikan bahwa hidup dan kerja di luar negri itu pasti lebih enak. Keluar negri itu kemungkinan besar sangat asik jika hanya sebentar dan untuk liburan, namun hidup dan kerja di luar negri adalah hal yg sama sekali berbeda dgn liburan.

Intinya, please, jangan pernah lagi menanyakan hal seperti di atas.

Jadi, next time kita mau berbasa-basi, think again. Apakah kita akan menanyakan pertanyaan yg kira-kira sensitif? Jika iya, mungkin sebaiknya basa-basinya diganti dgn hal-hal lain yg kemungkinan tidak akan menyinggung perasaan seseorang.

Carrier Class Router

November 6, 2008

Dalam beberapa hari ke depan Cisco akan meluncurkan produk baru carrier-class router yg menurut gue pribadi termasuk salah satu produk yg revolutioner. Gue tidak bisa memberikan informasi lebih banyak di sini, yg jelas gue sudah mengikuti perkembangan produk ini di internal Cisco sejak beberapa waktu lalu. Sebenernya ada dua produk baru di segmen ini, yg satu malahan sudah dirilis langsung ke beberapa customer terpilih sedang yg satu lagi yg akan diluncurkan ke publik minggu depan. Jangan tanya mengapa dilakukan berbeda spt ini, kalopun gue punya jawabannya gue tidak boleh untuk menuliskannya di sini.

Mengapa sekarang? Mengapa produk baru dgn target market Carrier dan Service Provider? Gue yakin ini semua karena Cisco CRS-1. Butuh waktu bertahun-tahun buat Cisco untuk meriset CRS-1 dan ketika produk tsb diluncurkan tahun 2004 CRS telah berhasil membuat standar baru dari sebuah carrier-class atau next-generation router. Sudah beberapa tahun CRS diluncurkan dan gue pribadi bisa melihat sudah banyak sekali keberhasilan implementasi CRS-1 di customer seluruh dunia. CRS-1 diposisikan sbg Core router di network, jadi ketika berhasil maka sangat masuk akal untuk mulai menggunakan teknologi yg telah diriset untuk membuat produk-produk baru untuk segmen market yg berbeda atau posisi yg berbeda di network.

Beberapa hal di bawah ini adalah karakteristik dan teknologi baru yg kemungkinan besar akan menjadi standar dasar dari pengembangan sebuah produk baru untuk carrier dan service provider di masa depan:

Distributed Architecture - sudah lama kita meninggalkan arsitektur router yg tersentralisasi dan menggunakan sistem yg terdistribusi. Di arsitektur tersentralisasi CPU adalah otak dari sistem dan merupakan pusat dari segala kegiatan termasuk mem forward packet. Di arsitektur terdistribusi CPU atau Route Processor (RP) digunakan hanya untuk control plane: untuk adjacency routing protokol dgn router lain, membuat routing table, membuat forwarding table, dan mengirimkan forwarding table ini ke linecard. Jadi semua proses forwarding packet dilakukan oleh linecard tanpa perlu menggangu RP lagi. Bahkan fungsi RP menjadi lebih sedikit karena di CRS untuk mengatur sistem pendingin dan LED untuk alarm sudah ada fan controller sendiri dan alarm module yg terpisah. Jumlah RP di CRS bisa lebih dari dua yg akan bermanfaat untuk beberapa fitur baru yg akan dijelaskan kemudian.

High Availability - RP harus redundant, ini bukan hal baru sebenernya. Saat primary RP mati maka secondary RP akan mengambil alih. Bedanya sekarang: tidak boleh ada packet yg di drop dalam proses RP failover ini. Karena forwarding packet sudah dilakukan oleh linecard maka ketika RP mati dan melakukan failover ke backup RP, packet tetap bisa di forward dgn menggunakan forwarding table meskipun ini adalah table dgn status terakhir sebelum terjadi failover. Tapi bagaimana dgn switch fabric? Fabric menghubungkan semua linecard untuk memforward packet dari satu linecard ke linecard lain. Di router lama meskipun forwarding packet dapat dilakukan saat failover, tapi kadang saat backup RP yg menjadi aktif harus berkomunikasi dgn fabric dan semua linecard maka akan terjadi packet drop. Ini bukan isu di CRS dan tentunya switch fabric nya juga redundant.

Modular Line Card = PLIM + MSC - CRS memperkenalkan tipe baru dari linecard dimana satu module itu dibentuk oleh dua card yg dihubungkan di tengah chassis oleh passive midplane. Card yg pertama itu disebut Physical Layer Interface Module (PLIM) hanya untuk physical layer, menyediakan physical port dan melakukan framing. Sedang card yg kedua disebut Modular Services Card (MSC) yg merupakan otak dari linecard. MSC yg melakukan lookup ke forwarding table, mengimplementasikan QoS (di buffer atau interface queue) dan Access Control List dan lain-lain. Tanpa MSC maka PLIM adalah dump hardware dgn physical port tanpa intelegensi. Tanpa PLIM maka MSC hanyalah otak tanpa port yg bisa digunakan untuk berkomunikasi dgn dunia luar. Ini konsep yg menarik karena bisa saja ketika beli kita mulai dgn PLIM yg murah dan port dgn speed yg rendah, tapi di kemudian hari bisa PLIM itu bisa kita upgrade dgn port yg speed nya lebih tinggi tanpa harus meng upgrade MSC. Sebaliknya bisa saja kapasitas MSC kita upgrade dgn mengganti MSC yg baru tanpa harus mencopot kabel-kabel yg terpasang di port PLIM.

Non-blocking ports, non-blocking fabric - hardware yg sekarang mampu menjalankan 40Gbps dalam satu port. Ini harus benar-benar 40Gbps untuk input dan output dgn kecepatan linerate atau biasa disebut non-blocking. Bisa dicapai karena di PLIM/MSC ada dua ASIC yg berbeda untuk menghandle ingress dan egress traffic. Jadi walaupun ASIC yg menghandle ingress overload tetap tidak akan menggangu ASIC yg menghandle egress traffic. Dan port yg linerate harus disupport oleh switch fabric. Di router-router sebelumnya fabric itu dimulai dari yg paling sederhana dgn teknologi bus sampai ke cross-bar dan semuanya masih harus melakukan scheduling untuk mengatur linecard mana yg bisa mengakses fabric karena kapasitasnya yg tidak terlalu besar. Sekarang sangat berbeda karena semua linecard bisa mengirimkan packet ke fabric kapan saja. Btw, pada saat packet dikirim ke fabric maka akan diubah menjadi cell dgn size yg tetap, yg tentunya akan lebih efisien untuk diproses ketimbang packet biasa yg memiliki size yg berbeda-beda.

Multicast replication - multicast menjadi bagian penting dalam hidup kita terutama karena tingginya permintaan untuk teknologi IPTV maupun Video streaming yg menggunakan multicast. Semua router bisa menghandle multicast traffic tapi apakah router tsb bisa menghandle traffic multicast yg sangat besar? Replikasi packet untuk multicast harus dilakukan tidak saja di linecard tapi juga di switch fabric. Jadi ketika ingress linecard menerima packet multicast dan mengirimkan ke fabric, fabric harus melakukan replikasi sesuai dgn engress fabric mana yg memerlukan packet multicast tsb (karena adanya IGMP join misalnya). Kemudian ketika packet sudah mencapai egress linecard bisa jadi ada beberapa port yg memerlukan multicast packet tadi sehingga replikasi harus dilakukan lagi di sini. Jangan lupa kita juga harus punya buffer atau queue yg berbeda antara unicast dan multicast. Tujuannya adalah agar traffic unicast tidak bisa menggangu traffic multicast dan sebaliknya. Rata-rata service provider menggunakan networknya untuk kedua tipe traffic unicast dan multicast streaming jadi keduanya harus bisa bekerja dgn performance yg maksimum tanpa menggangu satu sama lain.

QoS in every aspect - next-generation carrier-class router dibangun dgn QoS mindset. Jika di produk sebelumnya QoS itu hanya ada di interface buffer maka harus ada mekanisme yg memberikan differentiated service jika terjadi congestion di switch fabric. Well, sebenernya sulit sekali untuk membuat switch fabric congest karena kapasitasnya yg besar sekali. Tapi congestion ini bisa terjadi misalnya di buffer ketika packet dikirim dari switch fabric ke linecard. Jadi meskipun klasifikasi ke packet atau class-of-service di fabric tidak bisa se extensive spt di interface queue, paling tidak kita harus bisa memprioritaskan packet tertentu agar tidak di drop ketika fabric buffer atau queue itu penuh. Ketika terjadi congestion di fabric queue ada mekanisme back-pressure yg akan memberi tahu ingress interface bahwa telah terjadi congestion dan ingress interface ini bisa memperlambat jumlah packet yg dikirim ke fabric dgn cara buffering atau men drop packet dgn prioritas yg rendah.

Multi Chassis - ini adalah konsep break-through dimana beberapa router bisa dihubungkan menjadi satu seolah-olah satu physical router. Sangat bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas dari sistem secara keseluruhan, lebih efisien karena ada resource yg bisa digunakan bersama, dan mengenalkan beberapa konsep baru spt router collocation ataupun router hosting dgn teknologi Secure Domain Routers (SDR) yg akan dijelaskan kemudian. Dgn multi-chassis akan ada satu atau lebih chassis yg khusus berfungsi sbg switch fabric chassis. Jadi ingress linecard di satu chassis akan mengirimkan packet ke bagian pertama dari fabric masih di chassis yg sama, kemudian packet tsb (sudah menjadi cell skrg) akan dikirim ke switch fabric chassis yg akan melakukan lookup dari linecard tujuan dan replikasi jika diperlukan, kemudian packet akan dikirim ke linecard tujuan di chassis yg berbeda atau bahkan di chassis yg sama dgn ingress linecard yg pertama.

Zoning Power System - mekanisme redundancy dari power supply yg biasa dgn hanya dua power supply atau lebih untuk memberikan 1+1 redundancy ini tidaklah cukup. CRS-1 16-slot memperkenalkan zoning power system dimana ada 2 power slot dan setiap slot ada 3 power module, dan setiap power slot dibagi menjadi 6 zone. Zone 1 memberi power untuk 4 slot linecard yg pertama, sedangkan zone 6 memberi power untuk 4 slot linecard yg lain. Ada 2 zone yg digunakan untuk memberi power ke RP, Switch Fabric, dan Fan controller. Dgn sistem zoning ini bisa saja kita memasang 2 koneksi ke tujuan yg sama di 2 linecard yg berbeda yg berada di zoning power yg berbeda.

IOS XR for carrier-class router - siap-siap untuk belajar IOS XR suka atau tidak, karena ini adalah software pilihan untuk next-generation dan carrier-class router yg berbeda dgn IOS sebelumnya. Banyak orang yg bertanya mengapa size IOS itu sangat besar, mengapa IOS mempunyai family yg berbeda-beda, mengapa banyak sekali bugs yg ada di daftar bug tool di website Cisco. Pertama, semua software pasti ada bug. Kalo ada vendor router tidak mengumumkan bug list ke public karena mereka bilang softwarenya tidak ada bug, mereka pasti bohong. Dan sebagai pemakai router tsb siap-siap saja untuk mendapat kejutan dan behavior router yg aneh secara tiba-tiba, yg mungkin bisa dihindari jika kita punya daftar dari bug sebelumnya yg diketahui. Kedua, IOS itu dibuat sudah lama sekali dan ditujukan untuk bisa mengakomodasi semua tipe customer dgn requirement yg berbeda-beda. Ada versi IOS yg bisa mengakomodasi desktop protocol dan disaat bersamaan punya fitur MPLS untuk service provider. Jika satu software mau memiliki semua feature maka size nya akan menjadi besar sekali. Dan tentunya makin banyak feature makin besar kemungkinan untuk kena bug. Kalo kita mengumpulkan semua bug tsb, walaupun ada bug yg hanya kena di fitur tertentu yg tidak dijalankan, maka daftar bug nya bisa menjadi sangat panjang. Sekarang Cisco sudah memisahkan IOS untuk segmen yg berbeda walaupun untuk hardware platform yg mirip, misalnya untuk Cisco 7600 ada IOS SR yg lebih fokus ke fitur Service Provider sedangkan untuk Cisco 6500 ada IOS SX yg lebih fokus ke fitur Enterprise.

Micro kernel, modular and self-healing - perbedaan utama antara IOS XR dan IOS adalah IOS XR menggunakan micro kernel dan arsitektur yg modular, sedangkan IOS biasa disebut monolithic karena semua proses dan aplikasi ada di satu file besar. Di XR, micro kernel adalah jantung dari software dan kita bisa menambahkan subsystem, module-module software dan aplikasi di atasnya. Jadi proses-proses Control Plane, Data Plane dan Management Plane terpisah-pisah secara independen. Dgn konsep modular ini istilah self-healing menjadi masuk akal karena jika ada isu di salah satu subsystem tidak akan mengganggu subsystem yg lain. Dan setiap proses memiliki memory space sendiri yg terproteksi sehingga isu di satu proses bisa diperbaiki secara otomatis tanpa menggangu proses yg lain. Proses spt OSPF bisa di restart tanpa harus menggangu proses BGP, misalnya. Ini yg gue sebut true modular software.

In Service Software Upgrade - ISSU menjadi istilah yg sangat populer di kalangan para pengguna router. Namun banyak orang yg berpikiran ISSU berarti kita benar-benar bisa melakukan upgrade software tanpa downtime sama sekali di segala situasi. Mari berpikir spt ini: walaupun software sudah modular dgn micro kernel, sama spt operating system pada umumnya tentunya ada proses-proses dasar yg harus ada supaya sistem tsb bisa jalan. Jadi walaupun kita bisa melakukan hitless upgrade tanpa ada packet drop karena beberapa subsystem yg diupgrade hanya perlu restart proses, tapi ada juga subsystem yg memerlukan restart total saat upgrade. Dan yg gue tahu sampai sekarang belum ada vendor router yg bisa melakukan software upgrade untuk major version tanpa restart sama sekali. Jadi tanyakan pada vendor pertanyaan spesifik jika kita punya requirement utk ISSU. Dan walaupun arsitektur hardware sudah terdistribusi spt yg dijelaskan sebelumnya, sehingga walaupun RP direstart saat upgrade maka forwarding packet yg dilakukan di linecard akan tetap berfungsi. Pertanyaannya: bagaimana jika firmware dari linecard itu sendiri yg mau diupgrade? Gue gak bilang ISSU tidak sempurna, cuma menyarankan agar kita bisa melihat teknologi ini secara lebih spesifik dan untuk kondisi yg berbeda-beda kemudian menyesuaikannya dgn kebutuhan yg kita inginkan.

IOS XR was built for CRS - ya ini benar, XR dibuat dgn dasar arsitektur hardware nya CRS. Dan ketika sudah teruji dan dianggap berhasil, tentunya wajar jika menginginkan XR untuk platform router yg lain spt Cisco GSR. Walaupun GSR bisa menjalankan IOS XR, tapi file yg digunakan tentunya berbeda dgn file XR yg digunakan untuk CRS. Ini mudah dimengerti, sama halnya dgn adanya Linux untuk 32-bit dan 64-bit dgn file yg berbeda. Yg paling penting sekarang hanya ada satu IOS XR dgn CLI yg sama untuk router-router di core Service Provider, sehingga tidak ada family yg berbeda-beda spt IOS. Dan walaupun sama-sama IOS XR, karena file XR nya berbeda untuk GSR yg memiliki arsitektur hardware yg berbeda dgn CRS, maka IOS XR untuk CRS dan GSR (dan kemungkinan untuk produk-produk baru di masa depan) memiliki fitur yg sedikit berbeda. Btw, buat yg sudah terbiasa dgn IOS siap-siap untuk kaget ketika pertama kali pake IOS XR CLI. Hal-hal yg kita ingin diperbaiki di IOS sudah diakomodasi di IOS XR. Mulai dari hal kecil spt penulisan subnet mask yg bisa menggunakan /, konfigurasi yg tidak akan langsung di apply sampai kita ketik commit, fitur untuk rollback ke konfigurasi sebelumnya sampai fitur-fitur baru spt admin plane config mode dan juga always-on debug. Usahakan untuk bisa pegang satu XR router dan coba sendiri.

Say goodbye to route-map - next-generation router butuh cara yg next-generation juga untuk mengatur Route Policy. IOS XR mengenalkan Route Policy Language (RPL) untuk menggantikan route-map. Ini adalah bahasa programming baru yg di embedded di XR dgn tujuan agar bisa membuat route policy yg sangat scalable. Spt bahasa programming lainnya RPL punya conditional operators spt if, if-then, if-else, kemudian ada Booleans dan Compound Booleans dan lain-lain. Kita bisa menggunakan parameter dan variable, policy nya bisa di nested, dan yg terbaik adalah kita bisa menggunakan policy yg sama berulang-ulang di policy lain dgn variable yg berbeda-beda untuk kondisi yg berbeda-beda. Keliatannya susah namun begitu sudah terbiasa sangat sulit untuk kembali ke route-map.

Secure Domain Routers, beyond virtual routers - gue pribadi makin sering melihat customer Service Provider yg menggunakan kemampuan ini di live netowrk. Dgn SDR kita bisa mempartisi satu chassis router kita menjadi beberapa router yg benar-benar berbeda. Ini tidak sama dgn konsep virtual router karena setiap router di SDR memiliki RP sendiri, linecard dan memory space sendiri. Yg digunakan secara bersama hanya chassis dan switch fabric. Jika ada isu di salah satu router SDR tidak akan mengganggu router SDR yg lain. Untuk ini kita memerlukan RP yg akan digunakan untuk keseluruhan chassis, ini disebut admin SDR, dan juga perlu Distributed RP (DRP) yg diinstall di slot yg biasa digunakan oleh linecard. Dari admin plane config mode kita bisa mengalokasikan DRP tadi dgn beberapa linecard tertentu untuk menjadi satu SDR. Admin SDR bisa membuat dan menghapus SDR tapi tidak bisa tahu apa yg terjadi di dalam SDR karena seolah-olah adalah router yg berbeda. Bahkan komunikasi antara satu SDR dgn SDR lainnya harus melalui kabel eksternal. Hal ini memunculkan istilah baru yaitu collocation router karena satu physical router bisa menjadi beberapa router yg berbeda yg bisa digunakan untuk fungsi dan di posisi yg berbeda-beda di network (satu di core satu di edge misalnya). Bagaimana dgn ide router hosting? Jika kita punya chassis bisa saja kita menyewakan SDR buat customer sama halnya seperti server hosting. Kemungkinan untuk melakukan inovasi baru dalam mengimplementasikan ini sangat terbuka luas.

Control Plane Policing with Local Packet Transport Services - ada beberapa tipe packet yg tetap harus diproses oleh Route Processor. Misalnya packet-packet control plane spt routing protocol atau network management. RP juga harus memproses packet yg ditujukan ke router itu sendiri, misalnya dgn tujuan loopback IP address atau IP address dari interface si router. Dan bisa jadi ada yg mematikan CEF switching sehingga router menjalankan process switching yg berarti setiap packet harus diproses oleh RP sebelum bisa diforward. Jadi jelas RP harus dilindungi dari packet-packet yg memang harus diproses oleh RP. Yg pertama mungkin jika ada orang pintar yg mengirimkan Denial of Service attack dgn cara mengirim TCP syn packet yg sangat banyak ke loopback IP address misalnya. Dan kedua, RP juga harus dilindungi dari packet-packet yg memang harus diproses dan bukan attack spt routing protocol maupun network management agar tidak mengkonsumsi semua resource RP tsb. Ini gunanya Local Packet Transport Services (LPTS) yg di enable secara default di CRS untuk membatasi jumlah packet yg bisa mencapai RP.



So it’s true, just as in School of Rock “One great rock show can change the world”, I guess one great product can change the world too. Make one revolutionary product, and the rest is just history.

Get Ready.