Bangsa Pelangi

October 31, 2008

Gue bangga menjadi orang Indonesia,
bangga dgn sejarahnya dan bangunan-bangunan lama,
cinta akan alamnya yg indah dan kaya,
senang dgn banyaknya suku, bahasa dan budaya daerah,
kagum dgn kekayaan maritim termasuk Terumbu Karang nya,
bangga sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Gue bawa indomie ketika traveling ke luar Asia,
Itunes dan ipod gue berisi Nidji, Ungu, Peter Pan dan Andra,
gue pakai baju batik ketika memimpin workshop di Europe,
selalu cerita tentang Bali setiap kali ditanya orang dari negara mana.

Tapi satu hal yg paling membuat gue bangga,
adalah ketika orang-orang di negri ini,
yg kurang memiliki kesempatan,
yg kadang mendapat perlakuan tidak adil,
namun mau berjuang untuk membalikkan nasib,
masih berani bermimpi untuk melakukan perubahan,
mau mengejar ujung pelangi kemanapun,
melakukannya sambil tertawa dan bersemangat,
masih tetap mensukuri setiap hal yg dimiliki,
dan bisa menikmati hidup walau seberat apapun.

Kita adalah bangsa tempat para Laskar Pelangi.
Kita adalah Bangsa Pelangi.

Gue terus-terang telat menonton film ini. Walaupun tahun lalu sudah membaca bukunya beberapa kali namun karena kesibukan baru hari ini bisa nonton. Mungkin juga gue sebelumnya tidak berani nonton karena sudah memiliki imajinasi sendiri ketika membaca bukunya. Tapi akhirnya gue nonton, di salah satu bioskop murah di Bandung, dan bersaing tempat duduk dgn banyak anak-anak kecil satu sekolahan. Dan ketika selesai nonton gue yakin bahwa memang seharusnya ini menjadi film wajib untuk ditonton oleh anak-anak sekolah. Seperti dulu ketika gue dipaksa nonton film G30S oleh sekolah. Membaca buku memberi pengalaman tersendiri dan menonton filmnya memberi pengalaman lain lagi.
Mari memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima. Salut sekali lagi untuk Andrea yg bisa memberi inspirasi buat banyak orang.

The Birth of Architecture

October 19, 2008

Salah satu alasan mengapa gue pindah team adalah karena di team yg dulu gue merasa tidak terlalu banyak ruang untuk maju. Jangan salah paham dulu. Team gue yg dulu adalah team Cisco Advanced Services yg beroperasi di bawah management Cisco AS regional Asia Pacific, dan kita bertanggung jawab atas semua project AS di negara-negara yg kita cover yaitu South East Asia. Jadi gue dulu memang sempet terlibat project-project besar di Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapore dan Indonesia. Tapi tidak ada fokus. Kadang gue meng handle customer Service Provider di Vietnam kadang large-scale Enterprise sebesar Petronas. Team gue adalah field delivery jadi dari sisi teknologi yg di handle pun tidak fokus, bisa mengerjakan CRS-1 hari ini bisa juga campus network dgn L2 switching features esok hari. Bisa wireless, security sampai ke data center dalam suatu waktu. Dan satu hal lagi, walaupun gue mengerjakan berbagai project dgn role yg berbeda-beda, kadang designer kadang pegang lead untuk migration, tapi gue merasa semua itu sudah pernah gue kerjakan ketika masih bekerja di partner waktu belum masuk Cisco. Jadi gue merasa gue tidak mempelajari hal baru. Tantangan project selalu berbeda tapi sepertinya tidak ada yg benar-benar belum pernah gue kerjakan. Ini mengapa gue merasa tidak terlalu banyak ruang buat maju.

Nah di team yg baru kita berfokus di Carrier Ethernet technology dan kita adalah practice team. Dari sisi teknologi, carrier ethernet itu mencakup hampir semua teknologi yg gue kerjakan di team gue dulu juga, ada CRS-1 di core, aggregation sampai ke access-layer menggunakan L2 switch. Bedanya sekarang kita mengerjakan produk yg berbeda-beda dalam satu framework solusi yaitu carrier ethernet. Jadi kemungkinan gue mengerjakan campus network di enterprise kecil sekali, tapi gue mungkin mengerjakan solusi carrier ethernet secara partial dari core ke aggregation atau dari aggregation ke access layer saja. Bisa jadi hanya migrasi CRS-1 di core saja seperti project pertama gue di Prague. Atau seperti project yg sekarang sedang gue handle, CRS-1 di core kemudian aggregation menggunakan product Cisco yg lain, dan access layernya datang dari vendor lain.

Selain mengerjakan project yg berkaitan dgn teknologi fokus team, kita juga melakukan tugas lain yaitu mem validasi suatu solution architecture blueprint yg dikeluarkan oleh Cisco. Untuk lebih jelasnya ijinkan gue menjelaskan background dari kelahiran suatu solusi atau architecture blueprint di Cisco dan hubungannya dgn team gue yg disebut World Wide Service Provider (WWSP):

- Di Cisco ada Product Business Unit tempat para developer bikin product. Tentunya mereka mendapat feedback dari kita-kita yg ada di lapangan untuk pengembangan ke depan. Kalo untuk produk baru biasanya ada team khusus dan pengambil keputusan produk apa yg mau dikembangkan adalah keputusan para eksekutif
- Di Cisco ada juga Solution Business Unit tempat mereka yg bikin architecture blueprint dan solusi untuk menggunakan produk yg kita punya secara optimal. Masih inget campus network blueprint yg ada core - distribution - access? Sangat popular dan menjadi standar de facto kalo membangun network enterprise/campus network hari ini
- Nah kalo di Product BU para developer atau testing engineer menguji produk sbg satu komponen saja, biasa disebut Device Under Test (DUT), dgn berbagai script untuk melihat apakah ada regression bug dan lain-lain
- Kalo hasil design architecture dari Solution BU akan diberikan ke internal lab kita yg disebut Nsite, mereka punya extensive lab untuk menguji produk dalam suatu solusi komplit. Labnya bener-bener gede banget mereka juga punya resource untuk me replicate atau me mirror network Tier 1 customer misalnya
- Nah solusi yg sudah teruji di Nsite akan dilempar ke internal untuk bisa digunakan oleh team pre-sales ketika bikin high level design, sampai ke team post-sales yaitu Advanced Services agar bisa dijadikan acuan saat diimplementasikan di lapangan
- Team gue adalah World Wide Service Provider yg fokus di Carrier Ethernet di EUEM, dan biarpun di namanya coverage kita “hanya” EUrope and Emerging Market tapi kita adalah satu-satunyanya practice team yg fokus ke Carrier Ethernet utk Cisco di seluruh dunia. Salah satu tugasnya adalah men validasi solusi yg sudah diuji di lab tadi untuk diimplementasikan di lapangan

Jadi tugas kita: me lead deployment di Carrier Ethernet karena biasanya teknologinya baru (CRS-1, ASR) sehingga kadang team field delivery belum terlalu familiar, menulis best practice agar team AS field delivery atau regional spt team gue yg sebelumnya di APAC tau tips and tricks saat mendeploy solusi Carrier Ethernet, dan juga berdasarkan pengalaman dan penemuan di lapangan menyediakan real world feedback ke solusi yg dibikin oleh Solution Business Unit. Karena lab sehebat apapun tidak akan bisa mensimulasikan real customer environment sehingga pasti ada perubahan dan deviasi di lapangan. Dan feedback juga bisa kita berikan kepada team pre-sales spt yg teman gue lakukan dgn mempresentasikan pengalaman dan hasil temuan di lapangan pada saat pertemuan pre-sales engineers di San Jose.

Selain Carrier Ethernet ada juga WWSP yg fokus ke IPTV, SP mobile atau Wimax. Carrier Ethernet juga sebenernya berurusan dgn IPTV, SP mobile atau Wimax tapi kita lebih fokus dgn architecture secara keseluruhan dari core sampai access sedangkan WWSP IPTV misalnya sgt detil sampai ke teknologi headend dan lain-lain.

Ada beberapa orang dari team gue (yg posisinya bukan consulting engineer lagi tapi solution architect) yg sering telibat di diskusi ITU, MEF atau IETF ttg standar Metro Ethernet yg baru, tapi ada team lain yg menjadi pengambil keputusan produk dgn teknologi apa yg mau dikembangkan. Kemudian solution BU membuat arsitektur solusi yg ditest internal oleh Nsite.
Dan team gue yg memastikan bahwa solusi tsb berhasil diimplementasikan, dan jika ada deviasi maka kita memberikan feedback. Selain itu sbg practice team kita memberikan tips dan tricks yg biasa disebut leading practice agar team lain spt team field delivery bisa belajar dari pengalaman kita-kita.

Nah walaupun gue berada di team yg mungkin tidak berhubungan langsung dgn para pengambil keputusan dalam membuat produk baru, tapi terus terang gue menikmati peran ini karena bisa liat real world deployment. Sbg contoh waktu ada debat seru ttg protocol PIM dan non-PIM di level “atas”, waktu itu PIM dibilang tidak scalable dan lain-lain oleh vendor lain trus team gue bikin presentasi balasan dgn pertanyaan: PIM tidak scalable? untuk skala berapa users? Kita sudah deploy dgn sekian puluh ribu users dan running stable as per today. Kita punya referensi Carriet Ethernet besar di EU. Kemudian kita balik nanya, kalo pake teknologi baru yg non-PIM bisa scalable di berapa?

Tentunya teknologi baru harus dicoba, inovasi harus didukung. Kalo tidak ada yg berani deploy mana bisa teknologi baru jadi maju dan berkembang. Cuman kadang-kadang kan orang berdebat di level hitungan matematis, di level datasheet, sedang team gue punya data aktual di lapangan, dan sampe sekarang gue masih lebih suka itu.

Pada saat suatu blueprint architecture tentang suatu solusi seperti Metro Ethernet dikeluarkan oleh Cisco ke public, sebenernya sudah banyak sekali pihak-pihak yg melakukan pengujian, mulai dari Product BU yg menguji product secara individu, solution BU yg memikirkan design architecture apa yg cocok dgn product-product yg kita punya, internal lab yg menguji dalam bentuk suatu sistem bukan hanya individu lagi, ditambah peran serta seperti team WWSP maupun team AS lainnya yg memberikan feedback dari pengalaman di lapangan untuk perbaikan ke architecture tsb untuk menjadi lebih baik.

Dan semua ini membuat gue merasa sudah berada di team yg tepat.

Just Speak!

October 10, 2008

Banyak orang bertanya ke gue ttg bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, terutama secara lisan untuk bisa presentasi maupun menjawab pertanyaan interview. I have to admit that my English is not perfect. But I have been outside the country for about 7 years now and I use English in daily conversation. So I guess it’s fair enough if I share my thoughts here.

Bahasa adalah sesuatu yg harus digunakan. Untuk bisa berkomunikasi lisan secara lancar bahasa harus terus dilatih dan digunakan. Mempelajari bahasa tidak bisa dilakukan dgn hanya membaca. Mengambil kursus 2 kali seminggu pun gue pikir tidak cukup. Bahasa harus dilatih dan digunakan. Bahkan temen deket gue pernah bilang bahwa untuk bisa berkomunikasi dgn bahasa asing secara lancar kita harus mulai berpikir dgn bahasa asing tsb. Jadi pada saat melamun, berbicara pada diri sendiri, dan memikirkan sesuatu di dalam otak kita harus menggunakan bahasa inggris agar menjadi lancar ketika harus menjelaskan apa yg kita pikirkan tersebut di mulut.

Satu hal yg harus gue sebutkan di sini, kita harus mengakui bahwa English itu bukan native language kita. Jadi tentunya bahasa Inggris yg kita miliki tidak bisa 100% benar dan pengucapannya perfect spt native speakers ataupun orang yg terlahir di negara yg semua orang di lingkungan sekitarnya berbahasa Inggris. Anak gue ketika kecil sekolah di British-based playgroup yg jam belajarnya lumayan lama. Maka pada saat itu pengucapan atau pronunciation yg dia punya mirip kayak orang Inggris. Pada saat TK dia masuk American-based kindergarten dan dia mulai bicara dgn logat orang Amerika. Dan pada saat SD dia sempat sekolah di Arab International school maka pengucapan kata-kata dalam bahasa arabnya sangat ‘medok’ spt orang Arab meskipun logat inggrisnya jadi berbeda lagi. But it’s okay. Because it’s not the main point.

Screw the grammar! Ditch that british accent!

Maksud gue dua hal itu penting. Namun ada yg lebih penting. Dan banyak orang yg berpikir bahwa mereka harus mensempurnakan ke dua hal tsb sebelum bisa berkomunikasi dgn bahasa Inggris. Satu hal yg harus diingat: Bahasa hanyalah tool. Alat untuk berkomunikasi dan menyampaikan ide. Berarti ide itu harus bisa disampaikan, dan ini yg paling penting. Jadi walaupun dgn logat yg masih ‘kedaerahan’ maupun grammar yg salah, selama ide itu sampai tidak jadi masalah.

Sebelum menggelengkan kepala tidak setuju, coba baca seterusnya dulu. Gue sendiri sering bekerja dgn banyak orang dari negara yg berbeda. Believe it or not, bahkan expert Cisco yg harus mempresentasikan produk maupun solusi terbaru dari team nya ke komunitas Cisco maupun ke customer di seluruh dunia pun kadang tidak memiliki dua hal tsb. Yg paling penting adalah kemampuan presentasi dan kemampuan menyampaikan ide di slide maupun dalam tulisan ilmiah. Meskipun ketika presentasi langsung bisa kedengaran kalo ada grammar yg salah maupun pengucapan yg sulit dimengerti. Orang-orang Asia spt dari Cina kadang-kadang pronunciation terhadap kata itu menjadi aneh didengar. Sekarang gue bekerja dgn banyak orang di Europe dan mulai dari customer, partner sampai rekan kerja di Cisco sendiri banyak sekali yg bukan native speaker sehingga punya ciri masing-masing dgn logat dan pronounciation yg berbeda-beda. But who cares, yg paling penting ide tsb bisa dimengerti. Sekali lagi, kita harus mengakui bahwa English itu bukan native languange kita jadi kita tidak perlu menjadikan target untuk memiliki bahasa Inggris yg perfect sebelum mulai menyampaikan suatu ide yg tentunya lebih penting dari bahasa atau cara penyampaiannya. Yg paling penting sampaikan ide dgn lancar dan bisa dimengerti.

Mengapa gue mengangkat isu ini? Beberapa kali gue memforward CV orang Indo ke Cisco maupun ke company sebelumnya dgn harapan agar banyak orang Indo yg bisa go international dan bersaing di market global juga. Banyak yg gagal di interview pertama yg dilakukan lewat telepon dan dalam bahasa inggris. Feedback yg diberikan ke gue: orang Indonesia yg gue rekomendasikan memiliki masalah dalam berkomunikasi. Setelah gue tanya lebih detil ternyata banyak orang yg diinterview tidak bisa menjawab secara lebih cepat karena terlalu banyak mengucapkan “…ee… ee…” sehingga buat yg menginterview dianggap tidak bisa berkomunikasi dgn lancar. Kebayangkan betapa ruginya kehilangan kesempatan yg sangat berharga untuk masuk Cisco maupun bekerja di negara lain, bukan karena skill teknikal yg kurang, tapi karena di reject diinterview pertama hanya gara-gara bahasa Inggris yg tidak lancar. Well, kecuali tentunya jika kita sedang interview untuk pekerjaan menjadi guru bahasa Inggris! Yg tentunya grammar dan pronunciation akan dinilai. Tapi jika interview itu untuk menjadi engineer atau posisi teknikal, yg paling penting adalah bagaimana caranya menyampaikan secara lancar pengetahuan teknikal kita. Jika interview nya untuk posisi konsultan maupun sales engineer, kemampuan kita dalam menyampaikan ide dan meyakinkan orang lain secara lancar akan sangat berpengaruh.

Sekali lagi masalah melancarkan bahasa asing ini sebenernya sangat mudah untuk diatasi. Tinggal mulai berlatih dan menggunakan bahasa asing yg ingin kita pelajari di setiap ada kesempatan. Gue pernah menulis sebelumnya bahwa mulailah berlatih untuk menjawab pertanyaan interview kapan saja: ketika lagi menyetir dan macet di jalan, di dalam kamar mandi, lagi bengong atau menunggu sesuatu dan seterusnya. Apalagi jika punya partner atau beberapa teman yg bisa dijadikan media untuk berlatih. Intinya cuma satu: latihlah dan gunakan, meskipun hanya untuk berbicara pada diri sendiri.

Dulu waktu masih di Indonesia bahkan waktu masih kuliah, gue dan teman-teman pernah bikin permainan untuk melatih kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Kita membuat suatu area yg kita sebut English Speaking Zone. Siapapun yg masuk ke dalam area tsb harus menggunakan bahasa inggris jika tidak harus membayar penalty. Penalty nya tidak terlalu besar dan hasilnya setelah terkumpul cukup banyak biasanya dibelikan gorengan buat kita semua. Tapi tujuannya adalah untuk menjadikan berbicara dalam bahasa inggris menjadi kebiasaan tanpa harus malu karena grammar yg salah maupun pengucapan yg tidak sempurna, dan membuat itu semua hanya semacam permainan yg fun.

Mungkin jika suatu hari gue mendapat kesempatan untuk memberikan kuliah gratis lagi di kampus spt di ITB kemarin, presentasi akan gue lakukan dalam bahasa inggris. Dan semua orang yg mau bertanya pun harus menggunakan bahasa inggris. Let’s see.

So, just speak!

Bratislava!

October 6, 2008

Setelah project gue di Prague selesai gue langsung terbang ke Munich untuk bertemu dgn team gue dan juga team WWSP lain yg sama-sama mengcover Europe and Emerging Markets (EUEM) tapi di teknologi yg berbeda. Yap, ternyata team gue mengcover negara-negara europe yg sudah mature spt UK, Spain, Italy dan juga Emerging Market yg mencakupi Central and Eastern Europe, Latin America and the Caribbean, the Middle East and Africa, and Russia and CIS. Gue juga tentunya menyempatkan diri untuk datang ke Oktoberfest. Apa yg gue temukan di Munich sudah gue tuliskan di blog gue yg lain.

Semenjak Jum’at kemarin gue sudah ada di Bratislava. Buat yg males googling, ini ibukota negara Slovakia, salah satu negara di Eastern Europe. Yg lucu gue masih inget ketika beberapa tahun yg lalu nonton film Eurotrip dan ada satu scene yg menggambarkan ttg Bratislava:

Film itu memang lucu bgt meskipun kenyataan yg sebenernya USD 1.83 mungkin cuman bisa buat beli sekaleng Coke. Dan Bratislava di kenyataan adalah kota yg sangat indah. Mirip dgn Prague yg punya banyak bangunan lama bersejarah, apalagi di tengah kota Bratislava berdiri Castle yg sangat megah, dengan jumlah turis yg lebih sedikit. Kalo tidak percaya silahkan saja google image sendiri. Gue sempet foto-foto weekend kemaren cuman belum sempet upload karena kesibukan project yg gue harus handle di sini. Ini ada contoh foto Bratislava castle yg gue ambil secara acak dari Google.

Quote paling lucu dari Bratislava scene di Eurotrip:
“Ah! A nickel! You see this? I quit! I open my own hotel!”