Menjadi Marketing Agent

September 27, 2008

Alhamdulillah, gue sudah hampir selesai melakukan project migrasi CRS-1 di Prague, Czech Republic yg merupakan project pertama gue dgn team gue yg baru. Customer yg sangat mengerti ttg network mereka dan juga apa yg mereka mau membuat project ini berjalan mulus. Hanya saat migrasi selesai dilakukan barulah gue menyadari betapa pentingnya project ini ketika boss gue mendapat konfirmasi dari para developer kita di San Jose bahwa ini adalah implementasi CRS-1 dgn menggunakan IOS XR terbaru dan Secure Domain Routers (SDR) konsep untuk mempartisi satu physical router menjadi beberapa router, dan menjalankan fitur 6PE, yang pertama di dunia.

Wow. The first implementation of SDR and 6PE on CRS-1 in the whole world. Dan migrasinya dipimpin oleh satu-satunya orang Indonesia di ruangan, satu-satunya orang Indonesia di project, satu-satunya orang Indonesia yg bekerja di team World Wide Service Provider, Cisco Advanced Services. Selain itu karena project ini spesial maka, seperti kebiasaan di Cisco yg selalu berbagi pengetahuan, gue harus mempresentasikan apa yg gue kerjakan di team meeting minggu depan di Madrid, Spain.

I mean, look at me. Pada saat migrasi gue satu-satunya yg memiliki postur paling kecil di tengah-tengah bule-bule yg badannya gede-gede. Ada beberapa engineer yg datang dari negara yg berbeda dan kadang berdiskusi dgn bahasanya masing-masing. Dan gue yg memimpin workshop dan membuat strategi untuk melakukan migrasi. Bahkan gue yg pegang console langsung untuk memindahkan BGP IPv4 unicast, BGP IPv4 multicast, BGP IPv6 unicast (labeled/6PE dan non-labeled), dan BGP IPv6 multicast untuk ratusan internal peers maupun upstream peers ke negara lain. Walaupun sekali lagi gue harus sebutkan bahwa gue memang sangat terbantu oleh customer yg sangat knowledgable, dan juga local team serta partner kita di sini.

Mungkin gue contoh nyata lain bahwa postur tubuh bukan masalah. Seperti juga Dani Pedrosa yg lebih kecil dari gue tapi bisa menjadi runner-up motogp tahun lalu :)

Gue tentunya tidak akan mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari ini semua jika tidak berani mengambil keputusan untuk keluar dari posisi senior gue di team sebelumnya untuk bergabung dgn team WWSP. Gue juga tidak bisa begini jika dulu tidak meninggalkan kehidupan gue yg stabil di Dubai untuk bergabung dgn Cisco Advanced Services di Asia Pasific walaupun dgn bayaran yg lebih rendah. Lebih jauh lagi, gue mungkin tidak akan sedang bekerja di salah satu kota terindah di timur Eropa hari ini jika sekitar 7 tahun yg lalu tidak berani meninggalkan comfort zone gue di IBM Indonesia dan memutuskan untuk bekerja ke luar negri.

Sebelum berangkat awal bulan ini gue sempat mendapat pertanyaan dari salah satu orang tua kerabat gue: kalo semua orang yg pintar kerja di luar negri, siapa yg akan membangun negara ini?

Gue tidak menjawab waktu itu karena takut akan terkesan sombong. Karena gue tidak pernah merasa pintar :)

Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi apa yg bisa gue kontribusikan ke negara dgn bekerja di luar negri, here is my answer. Dan ini yg sampai sekarang gue percaya. Pada saat gue bekerja di luar negri, apa yg gue lakukan memreprensentasikan Indonesia. Mirip dgn para atlit yg berlaga di kejuaraan dunia dan berusaha untuk berprestasi agar negara kita jadi dikenal. Terutama buat mereka yg baru pertama bertemu dgn orang Indo, ketika gue bekerja dgn mereka segala kemampuan gue bisa jadi dijadikan dasar untuk menilai kemampuan orang Indo pada umumnya. Jika performance gue bagus maka ini bisa membuka mata mereka dan meyakinkan bahwa kita juga bisa kompetitif. Negara-negara spt Cina dan India menjadi terkenal sbg pemasok utama tenaga ahli di bidang IT di dunia karena banyak dari mereka yg bekerja di luar negri dan menjadi wakil negaranya.

Ketika kita melangkah keluar dari kehidupan nyaman kita di Indo untuk kerja di luar negri, kita harus siap untuk menghadapi tantangan yg benar-benar baru. Kalo banyak orang bilang kita harus mempersiapkan diri menghadapi culture shock, buat gue hal paling sulit yg sering dijumpai adalah mindest shock. Karena latar belakang budaya yg berbeda bisa membentuk pola pikir yg kadang-kadang sangat berbeda dgn kita. Apalagi seperti gue yg kadang di satu project harus bekerja dgn orang dari berbagai negara bahkan dari benua yg berbeda. Ini yg harus dihadapi ditambah lagi faktor cuaca, suasana dan makanan yg bisa sangat berbeda. Dan satu hal yg pasti, pada saat kita bekerja di luar negara, orang-orang akan melihat kita dan berdasarkan apa yg mereka lihat kemungkinan besar akan memberi penilaian yg menggeneralisasi terhadap kemampuan bangsa Indonesia. Kita menjadi semacam marketing agent buat Indonesia, whether we like it or not.

Jadi mungkin sekarang yg bisa gue lakukan hanya ini. Ini cara gue berkontribusi buat negara. Menjadi marketing agent buat bangsa ini. Berbagi cerita sesudahnya untuk, mudah-mudahan, bisa menginspirasi dan diambil hikmahnya oleh orang lain. Ditambah lagi tentunya karena semua pendapatan yg gue peroleh dari luar negri hampir semuanya gue investasikan di negara sendiri. Selamat datang Pahlawan Devisa, begitu tulisan di airport kita hahaha

Mari kita semua menjadi marketing agent buat negara kita. One way or another. Mari kita buktikan bahwa orang Indonesia memiliki attitude dan skill yg bagus. Mari kita tunjukan bahwa kita punya kemampuan untuk bisa berkompetisi di dunia global. Dan mari kita mengambil keputusan sulit yg beresiko untuk bisa mendapat kesempatan melakukan itu semua.

Eid Mubarak. Selamat Lebaran.