Napak Tilas Jason Bourne

August 20, 2008

Jason Bourne (aka David Webb) adalah tokoh fiksi dari novel karangan Robert Ludlum yg muncul pertama kali sekitar tahun 1980 dalam The Bourne Identity. Kisah ini kemudian difilmkan dgn judul yg sama pada tahun 2002 dan tokoh Bourne diperankan oleh Matt Damon. Film-film berikutnya menyusul seperti The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007). Ia adalah seorang pembunuh bayaran yg dilatih untuk menjadi yg terbaik, expert di berbagai skill termasuk martial art, dapat mengubah hampir semua benda menjadi senjata yg mematikan, dan selalu pindah-pindah negara untuk menjalankan tugas. Dan dia selalu mengerjakan tugasnya tanpa banyak bertanya. Well, setidaknya sampai ia tertembak dan kehilangan ingatan. Ketika ingatannya berangsur-angsur pulih dan Jason menyadari bahwa dirinya adalah seorang pembunuh bayaran, ia memilih untuk keluar dari itu semua meskipun harus berhadapan dgn organisasi rahasia yg dulu melatihnya dan sekarang ingin menghabisi Jason Bourne yg dianggap sudah malfunction.

Begitu terpengaruhnya gue akan kisah Bourne ini sehingga masuk kedalam pertimbangan ketika akan memilih karir berikutnya. Bulan lalu gue akhirnya berterus terang ke boss bahwa gue ingin berpindah team ke tempat lain, dan gue ingin keluar dari region Asia Pacific. Boss gue waktu itu sangat mendukung dan bertanya team mana yg akan menjadi tujuan gue. Karena performance gue tahun lalu bagus dan juga kedekatan gue dgn dia akibat gue selalu terlibat dalam project-project yg sulit dan pain-in-the-arse, membuat dia mau memberikan rekomendasi penuh dan bersedia menelpon manager dari team yg gue ingin join untuk memberi dukungan. Benar-benar manager yg hebat. Gue beruntung dan bangga bisa dapat manager seperti dia. Saat itu gue tidak menjawab langsung, namun cuma ada satu jawaban di kepala: napak tilas jejak Jason Bourne.

Gue ingin sekali memiliki profil seperti Jason Bourne. Memiliki skill yg tinggi dan expert di berbagai hal, mengerjakan tugas tanpa banyak basa-basi, dan pindah-pindah negara sesuai dgn tugas yg diberikan. Kecuali tentunya menjadi pembunuh bayaran. Gue juga ingin mengunjungi tempat-tempat yg dia datangi dalam rangka pencarian jati dirinya. Dan gue tidak mau melakukannya sebagai turis. Gue mau berdiskusi ttg requirement dgn customer di Moscow. Gue mau melakukan assessment network di Madrid. Gue ingin sekali bisa berdiri di depan customer di Maroko untuk mempertahankan design gue. Mengadakan workshop di London. Memberikan knowledge transfer di Berlin. Bahkan ke tempat-tempat yg tidak ada di film misalnya melakukan large scale project di South Africa.

Apakah gue terlalu optimis? Terlalu ambisius?
Berusaha untuk pindah ke market yg sama sekali belum gue kenal. Keluar dari zona Asia Pacific tempat gue sudah membangun reputasi untuk menuju wilayah baru dan memulai semuanya dari awal lagi. Well, anggap saja semua kenginan gue itu sebagai mimpi. Mimpi yg layak untuk diperjuangkan. Setidaknya kesempatan untuk bisa mewujudkan mimpi meskipun masa depan belum terlihat itu yg membuat hidup menjadi lebih bergairah.

Gue sudah pernah memimpin project migrasi yg beresiko tinggi di Vietnam. Gue berdiri di tengah-tengah Petronas Twin Towers Skybridge pada saat ada project migrasi di Malaysia. Gue melakukan implementasi produk Cisco CRS yg pertama kali di Singapore. Mengoptimisasi network dari operator selular terbesar di Indonesia. Sempat menikmati matahari terbenam dari gedung tertinggi di dunia, Taipei 101, ketika melakukan survey project di Taiwan. Gue mem-push produk CRS sampai limit tertinggi di lab Proof-of-Concept di Sydney. Gue pernah memberi training di Bangkok di siang hari, untuk kemudian terbang ke Hongkong dan menikmati makan malam. Membantu teman-teman gue ketika mereka stuck di Phillipine. Dan bahkan dgn itu semua gue masih merasa belum cukup.

Dengan semua pikiran itu gue beranikan diri untuk melamar ke Cisco Advanced Services - World Wide Service Provider yg meng-cover Europe, Middle East and Africa (EMEA). Ini adalah practice team yg hanya berisi solution architect dan senior consulting engineer, dan bertugas tidak hanya untuk memimpin large-scale implementasi, tapi juga membuat best practice dan guideline yg bisa digunakan oleh team-team yg lain. Gue pernah terlibat di satu project dgn team ini ketika masih di Dubai dan salah seorang teman gue di team tsb memberikan rekomendasi ke boss nya sehingga gue bisa ikut proses interview. Seperti pernah gue tulis di blog gue yg lain, walau teman baik gue yg lain pernah bilang “to get a job it’s not what you know anymore that matters, but who you know”, gue percaya bahwa mendapatkan pekerjaan idaman itu adalah gabungan dari Who You Know, What You Know, dan What You Have Done. Jadi Who You Know, teman gue bisa memberikan rekomendasi karena kenal dan pernah kerja bareng. What You Know, karena biarpun gue akan pindah ke team lain yg masih di Cisco juga tapi tetap saja gue harus melawati berbagai tahapan interview termasuk beberapa technical interview. Dan What You Have Done, semua project yg gue pernah lakukan termasuk nilai performance report dan kedekatan gue dgn manager yg sekarang sgt membantu sekali dalam proses perpindahan ini.

Proses interview yg berlangsung hanya beberapa hari itu termasuk yg tersulit yg pernah gue lewati. Sekali lagi team ini hanya berisi expert dan senior consultant yg memiliki skill dan pengalaman jauh di atas gue. Semuanya sudah pernah melihat dan melakukan apa yg mungkin sampai sekarang hanya bisa gue bayangkan. Ada yg nomer CCIE nya kecil sekali. Ada yg sudah sering melakukan project-project yg large-scale dan sangat kompleks. Dan semuanya sangat mengerti tentang arsitektur hardware dan protocol. Ada beberapa yg bertanya ttg pertanyaan teknikal yg sangat dalam, tentang feature atau protocol tertentu dan penggunaannya dalam real world design scenario. Ada yg mengorek-ngorek ttg bagaimana metoda dan pendekatan gue dalam melakukan project-project selama ini. Ada juga yg tertarik untuk melihat hasil dari project yg gue kerjakan. Dan tentunya yg sangat membantu adalah rekomendasi dari manager gue yg sekarang termasuk performance report setahun terakhir.

Mungkin ini contoh globalisasi: gue based di Singapore, keluarga di Bandung, lagi handle issue di Jakarta bersama orang Irlandia dan Australia, manager gue yg sekarang orang US, punya teman di Brussels, di interview oleh expert-expert dari Slovenia, Jerman, Spanyol dan UK, dan manager baru based di Swedia.

Alhamdulillah, akhirnya semua interview selesai dan gue dinyatakan lolos proses seleksi. Gue sudah dinyatakan resmi masuk ke dalam team WWSP - EMEA ini dan akan efektif dalam waktu dekat. Gue sempat ditawari untuk based di Johanesburg, South Africa, karena banyak project-project besar di sana terutama yg berkaitan dgn World Cup 2010. Namun untuk memudahkan proses transisi dari APAC ke EMEA, dan juga karena lokasinya yg berada di antara Europe dan Africa, sepertinya gue akan based di Dubai. Tentunya gue akan terlibat dalam project-project yg ada di dalam coverage team ini. Hal pertama yg harus gue lakukan adalah apply lagi visa Schengen karena visa gue yg sebelumnya sudah habis. Gue harus bersiap untuk memulai petualangan di benua baru.

Mengapa gue tidak memilih untuk ke US? Manager gue sudah menawarkan untuk memberi rekomendasi ke team manapun. Dia sendiri dulunya berasal dari Business Unit di San Jose, untuk kemudian bekerja di Europe, sebelum akhirnya masuk ke Asia Pasific. Dan dia memang mengaku punya banyak koneksi serta kenal orang-orang yg pernah kerja dengannya di masa lampau. Jawabannya mungkin karena gue belum siap untuk terjun ke dunia development. Gue masih tertarik untuk terlibat dalam deployment, menghadapi customer langsung dan mencoba melakukan dan membuat design yg terbaik dgn semua keterbatasan yg ada di suatu produk. Gue masih lebih tertarik untuk memberikan feedback ke developer setelah melihat langsung implementasi di lapangan ketimbang hanya melakukan simulasi dan test di lab.

Tapi itu mimpi gue yg dulu kan? Iya, dan suatu ketika nanti mungkin gue akan ke sana. Tapi bukan sekarang. Seperti yg dikatakan Juba kepada temannya Maximus yg mati di Gladiator: I will see you again… but not yet… Not yet!

Saatnya untuk napak tilas jejak Jason Bourne.

10 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://himawan.blogsome.com/2008/08/20/napak-tilas-jason-bourne/trackback/

  1. Hebat…….
    ini bisa..menjadi pahlawan IT indonesia

    Comment by Ardinal — August 20, 2008 @ 6:21 am

  2. salut banget buat bro satu ini, hebat aja lah pokoknya nya mah!!!!

    Comment by Donny — August 20, 2008 @ 10:20 am

  3. pertamax !

    selamat bung atas lolos interviewnya.. mudah2an karirnya makin mulus di benua afrika ..

    Comment by andra siregar — August 20, 2008 @ 12:05 pm

  4. Subhanallah, semoga Rahmat Allah selalu menyertai perjalanan dan perjuangan hidup Mas. Hiwawan sekeluarga.

    wassalam.

    Comment by eko krisnanto — August 21, 2008 @ 8:37 am

  5. Great Sir!
    I like Bourne Trilogi so much.
    I like computer networking too.
    Everything is posible.
    If you can reach all those achievement so why I can not.
    I believe I can achieve same as you or even more than you.
    Thank you for being inspiring person.

    Comment by Jon Kartago Lamida — August 21, 2008 @ 10:57 am

  6. SUPERB!!!!

    Comment by Rizky — August 22, 2008 @ 4:49 am

  7. Jangan lupsa sharing pengalaman barunya di Eropa dan Afrika, tentunya di blog ini. Selamat berjuang……

    Comment by aris — August 22, 2008 @ 10:56 am

  8. asiiik….. tar ketemu di sini yah !
    jgn lupa napak tilas jaman dulu, liat orang2 stoned di museumplein amsterdam … ^_^

    Comment by upay — August 22, 2008 @ 5:41 pm

  9. T O P M A R K O T O P

    Comment by foryanto — August 22, 2008 @ 8:13 pm

  10. semoga Rahmat Allah selalu menyertai perjalanan dan perjuangan hidup Mas. Hiwawan sekeluarga.

    Mas Himawan skali - kali liatin suasana kerjanya dong…..
    Photo ato video di you tube…
    kayanya seru….

    dan posting-postingnya bikin semangat saya yng lagi belejar ini…

    wassalam

    Comment by Saya — August 27, 2008 @ 4:15 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>