Tentang Kompetisi

August 16, 2008

Seringkali kita tidak fair ketika melakukan perbandingan. Sebagai contoh, setiap kali ketemu orang dan tahu gue kerja di luar negri banyak yg berkomentar, “enak bgt bisa dapet gaji $$$, gak kayak di Indonesia”. Eit, bentar dulu. Kalo ngebandingin harus sesuai. Gaji di luar negri tentunya lebih besar karena harus mengikuti biaya hidup di negara lain yg lebih mahal. Udah tahu berapa harga sewa apartment seperti di Dubai atau Singapore? Pernah coba makan nasi goreng di Belanda? Selain rasa makanan yg tidak sama juga harganya minta ampun mahal. Belum lagi biaya untuk mengkompensasi karena orang yg kerja di luar Indonesia itu tidak bisa bertemu dgn sanak saudara, tidak bisa ikut acara sunatan atau undangan kawinan, merayakan hari raya jauh dari keluarga, dan lain lain.

Terus ada yg iseng nyeletuk, “tapi yg kayak elu kan enak, Wan. Gaji $$$ tapi bisa kerja dari rumah di Bandung”. Wah, udah pernah ngerasain traveling 3 minggu dalam sebulan pindah-pindah negara? Emang tidur selalu di hotel berbintang, kecuali kalo gue ke Singapore malahan jadi tidur di airport atau kantor, tapi lama-kelamaaan kerasa sepinya hidup di jalan. Belum lagi kalo lagi project itu biarpun dikasih hotel mahal toh seringnya onsite di tempat customer atau tidak tidur juga di kamar karena harus mengerjakan project. Terus bagaimana kalo ada acara spesial keluarga tapi bentrok dgn jadwal project? Kalo kerja di Indo kan tinggal cuti? Kalo kerja di Jakarta keluarga di Bandung kan tinggal nyetir 2 jam buat ketemu? Gue pernah harus terbang ke 2 negara dulu sebelum bisa terbang ke Jakarta, dan kemudian masih harus naik taksi untuk ngambil mobil, baru kemudian nyetir ke Bandung.

Nah, begitu juga ketika orang membandingkan vendor router spt Cisco dgn yg lain seringkali tidak dilakukan dgn fair. Gue masih inget ketika ketemu salah satu petinggi perusahaan telekomunikasi di Indonesia dan bilang “Cisco itu bikin pusing service provider karena IOS nya ada yg a,b,c,d,e jadi mau pake yg mana”, atau “Cisco itu produk buat Core Network di telco gak ada yg bagus, adanya seri 7500″, juga “Cisco itu banyak bugsnya, terlalu banyak feature“. Dude, where have you been? Harus diingat Cisco adalah perusahaan pertama yg membuat produk yg bisa menyatukan tipe network yg berbeda. Pada saat itu semua customer dari berbagai background ingin menggunakan produk Cisco sehingga satu IOS itu harus bisa semua feature, dari desktop protocol spt IPX sampai ke QoS, security bahkan feature yg diperlukan Service Provider spt MPLS. Konsekuensi dari banyaknya feature di IOS yg sama adalah tantangan untuk menciptakan kode yg stabil. Bagusnya Cisco mau mempublikasikan database bug ke publik meskipun jadi membuat orang berkomentar kalo bugnya banyak banget. Emang ada software yg gak ada bug? Kalo ada vendor router meng-claim softwarenya tidak ada bug maka kemungkinan besar mereka menutupi bug-bug tsb dan tidak mempublikasikannya. Yg menurut gue hal ini malah beresiko karena suatu ketika bisa terjadi isu mendadak yg seharusnya bisa dihindari jika kita tahu bug-bug apa yg ada di software tsb.

Nah kalo dulu Cisco harus mengakomodasi customer dari berbagai tipe dgn satu IOS, yg membuat IOS mempunyai banyak varian untuk produk yg sama, sekarang Cisco sudah membuat klasifikasi dari produk router. High end router itu pakai produk CRS yg sudah dirilis dari tahun 2004, dgn IOS khusus yaitu IOS XR. Kemudian untuk data center Cisco baru saja mengeluarkan seri Nexus dgn IOS baru pula. Jadi pesannya jelas: tidak bisa 1 IOS yg sama untuk mengakomodasi semua customer. Dan lagi, jangan bandingin produk core router dari kompetitor Cisco dgn 7500 lagi dong! Itukan produk jadul. Ayo bandingkan core router produk lain dgn CRS.

Selain itu untuk scope yg lebih kecil di Service Provider network pun kadang-kadang perbandingan tidak dilakukan secara fair. “Ah router Cisco yg kita pake di PE gak stabil dibandingkan dgn core router produk lain yg kita pake di P”. Oalah, posisi P (Provider) router atau core router di network service provider itu mempunyai fungsi yg berbeda dgn PE (Provider Edge) router. P router tugasnya adalah melakukan proses forwarding atau switching packet secepat mungkin dgn kapasitas yg besar karena merupakan aggregator dari semua PE router yg berada di pinggir network. Jadi yg diinginkan adalah switching yg cepat, delay seminim mungkin, kapasitas yg besar sampai mencapai line rate untuk 40 Gig atau 100 Gig. Bagaimana dgn feature? Untuk P router feature yg dijalankan jauh lebih sederhana. Bahkan dgn teknologi MPLS seringkali core router didesain dgn konsep “BGP-free core” jadi tidak menjalankan protokol BGP sama sekali. Sedangkan PE router lebih banyak menjalankan feature. Banyak feature baru spt MPLS L3VPN atau L2VPN merupakan feature yg dijalankan di PE dan menjadi transparan buat Core selama menggunakan label-label MPLS. Jadi kalo mau fair jangan bandingkan produk lain di P dgn produk Cisco di PE. Harusnya membandingkan antara P dan P router, atau antara PE dan PE dari vendor router yg berbeda-beda.

Kalau membandingkan produk router itu mari kita lihat secara lebih mendetail dari sisi:
- arsitektur hardware
- arsitektur software
- feature
- performance dan kapasitas
- stability, reliability (e.g. high availability) and scalability
- hal-hal non-teknis seperti after sales, support, education dll
Tapi sbg engineer biar gak pusing mendingan lihat 5 hal yg pertama, dan cocokkan dgn kebutuhan. Performance ini biasanya hanya bergantung dari data sheet yg dikeluarkan oleh vendor tsb dan sulit dibuktikan kecuali di lab, saat Proof of Concept, atau kalo memang network yg kita memiliki benar-benar membutuhkan performance dan kapasitas maksimum dari produk tsb (udah pernah kerja di network yg benar-benar butuh 10G atau 40G line rate?). Umumnya performance dan stabilitas diperoleh dari pengalaman di lapangan. Jadi yg sebenernya menarik buat engineer, khususnya yg fokus di network design, adalah diskusi dan debat ttg 3 hal yg pertama. Berdasarkan informasi tsb kemudian disesuaikan dgn kebutuhan sehingga solusi maupun produk yg dipilih itu tepat.

Gak perlu gontok2an dan ngotot kan? Gak perlu, apalagi buat engineer. Kalo gue sih, vendor routernya boleh apa aja asal minumnya teh botol hehe. Atau, core router bisa apa aja asal Rossi juara tahun ini heheh makin ngaco. Gue percaya competition is good. Tanpa kompetisi, mungkin inovasi akan lebih lambat dilakukan karena tidak ada pressure untuk memenangkan kompetisi. Menarik sekali kalo ngedengerin cerita di meeting IETF bahwa satu vendor teriak di L2VPN pake BGP lebih bagus, sedang yg lain bilang mending pake targeted LDP. Atau pas ada yg vendor yg bilang “we’re gonna stick with PIM” sedang yg lain bilang PIM itu gak scalable dan “better to use BGP”. Vendor satu mendukung Multicast LDP sedang vendor yg lain lebih mensupport P2MP TE, dan seterusnya.

Pertanyaan sebenernya sih: peran kita apa di tengah kompetisi tsb? Cuman jadi orang yg jualan kah, sehingga bisa pindah-pindah vendor dgn gampang (ada sales yg pernah bilang ke gue “I’m a sales man, I can sell expensive Cisco products or washing machines, it doesn’t make any difference for me”). Atau mau yg bener-bener put our faith in one vendor, sehingga terlibat langsung dalam deployment dan development produk? Atau mau jadi konsultan independen yg memberi solusi kepada customer berdasarkan kebutuhan dan data sheet (atau pengalaman di lapangan) ? Terserah aja.
Sekali lagi, kompetisi itu bagus. Kompetisi mendorong inovasi. Kompetisi memberi banyak pilihan.

Besok adalah peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yg ke-63. Sebagai generasi yg lahir setelah perjuangan kemerdekaan usai kita harus mensyukuri kebebasan yg kita miliki dan melakukan sesuatu untuk negara sesuai peran dan jaman kita. Karena sama seperti perusahaan yg paling besar sekalipun, bisa menjadi dan tetap besar karena peran orang-orangnya. Negara kita pun sama seperti itu. Sejarah dan peninggalan itu penting, tapi peran orang-orang masa sekarang di negara itu untuk bisa membangun dan melakukan yg terbaik yg membuat negara tsb bisa menjadi besar.

Dan suka atau tidak, kompetisi global sudah ada di sini. Banyaknya pekerja asing dan investor asing yg masuk ke negara kita sudah bisa membuktikan bahwa kita tidak bisa merasa nyaman meskipun ada di negri sendiri. Pemerintah sendiri sudah sulit untuk memproteksi komoditas guna mencegah pasar kita dikuasai oleh produk dari negri lain, apalagi dibidang ketenagakerjaan. Banyaknya perusahaan telekomunikasi kita yg dibeli oleh investor asing membuktikan ketertarikan mereka yg sangat tinggi dgn potensi market Indonesia yg jumlah penduduknya di atas 200 juta. Dengan demikian kita semua harus sudah mulai berkompetisi secara global meskipun masih tinggal dan bekerja di negara sendiri.

Mari kita semua melakukan yg terbaik dibidangnya.
Mari kita semua bersiap untuk berkompetisi global.

Selamat ulang tahun Indonesia.

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://himawan.blogsome.com/2008/08/16/tentang-kompetisi/trackback/

  1. curhat colongan neh mas…yg ngebandingin itu SP yg 2 minggu blakangan ini kita kerjain bukan yha…:P
    bener jg sik..apa ada software yg bugless ? xixi..

    Comment by RiZQ — August 16, 2008 @ 3:43 pm

  2. merdeka!!

    Comment by andra siregar — August 19, 2008 @ 8:03 am

  3. Selamat Ulang Tahun Indoneia yang ke 63 semoga menjadi lebih baik dalam segala hal dan sukses selalu

    Comment by Akomodasi — August 25, 2008 @ 12:47 pm

  4. merdeka

    Comment by rajawali communication — November 11, 2008 @ 5:51 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>