CCDE Practical

July 13, 2008

Gue pernah nulis beberapa bulan yg lalu tentang rasa penasaran gue yang tidak sabar menunggu untuk melihat bagaimana caranya sertifikasi CCDE bisa menguji skill dari seorang network designer. Well, beberapa hari ini gue mendapat informasi lebih detil tentang ujian CCDE practical dari berbagai sumber. Salah satunya dari presentasi Networkers 2008 yg dilangsungkan sekitar bulan Juni. Selain itu, jika punya login di Cisco Learning Network juga ada beberapa informasi termasuk kesempatan diskusi langsung dgn team pembuat sertifikasi ini. Bahkan di sana ada contoh ujian CCDE practical sebagai gambaran dari ujian yg sesungguhnya, yang Beta nya baru akan diluncurkan bulan Oktober di US sebelum diluncurkan resmi di tempat-tempat lain.

Untuk ujian written, tidak ada yg aneh dan formatnya mirip dgn ujian CCIE written. Bedanya, tidak akan ada konfigurasi yg ditanyakan dan juga pertanyaannya tidak akan mencapai bit-level. Jadi lebih mengarah ke pengetahuan tentang protocol dan features beserta implikasinya jika diaplikasikan dalam sebuah design. Mungkin lebih mirip ujian ARCH untuk CCDP dengan materi yg lebih dalam dan coverage yg lebih luas, karena CCDE memang dirancang untuk large scale networks. Yang penting buat gue dari ujian CCDE written, lulus ini berarti juga me renew sertifikasi CCIE gue.

Nah untuk ujian lab, formatnya adalah 8-jam dan diselenggarakan hanya di berbagai tempat di dunia mirip dgn ujian CCIE lab. Tapi ini bukan ujian lab, melainkan ujian computer-based spt halnya ujian written. Kecewa? Tunggu dulu.

Yg pertama, ujiannya adalah scenario based. Jadi dimulai dgn kita diberi satu set dokumen yg berisi informasi termasuk email dari customer. Berdasarkan informasi awal ini kita harus mencari informasi yg lebih detil dengan memilih pertanyaan yg akan kita ajukan ke customer. Dari situ baru kita mendapat berbagai pertanyaan yg masih berkaitan dgn skenario tadi, dimulai dgn membuat topologi yg bisa menjawab kebutuhan, pemilihan protocol dan features, sampai ke implikasi dan justifikasi dari pilihan yg kita ambil.

Mirip dgn kejadian di dunia nyata kan? Tentu saja. Ini dikarenakan team yg membuat sertifikasi CCDE adalah designer-designer Cisco yg sudah berpengalaman dan sering membuat design dan mengimplementasikannya di dunia nyata. Sehingga mereka tahu persis proses membuat design itu seperti apa dan juga tantangan-tantangan apa yg dihadapi setiap designer dalam menjalankan proses tsb. Format pertanyaan di ujiannya ada yg berupa pembuatan topologi network dgn drag-and-drop, multiple choices dgn kemungkinan jawaban benar lebih dari satu, menyusun daftar, dan membandingkan daftar yg satu dgn yg lain. Dan lihat juga daftar bacaan yg harus dibaca. Meskipun tidak akan ada pertanyaan ttg konfigurasi IOS spt CCIE, tapi dari daftar itu kelihatan bahasannya sangat luas dan mendalam, befokus ke large scale networks dgn teknologi yg beragam dan kompleks.

Ini yg gue suka dari CCDE dan kemungkinan akan menjadi sertifikasi yg akan gue ambil dalam waktu dekat. CCDE juga dikategorikan sbg vendor neutral, jadi gue pikir tidak akan ada pertanyaan yg spesifik tentang product Cisco misalnya.

Hal yg masih gue rasa kurang dari ujian CCDE practical ini adalah tidak ada porsi untuk menguji skill designer yg lain. Misalnya skill dalam mengadakan requirement workshop. Berdasarkan pengalaman pribadi tidak semua informasi tersedia dalam bentuk dokumen. Kadang-kadang gue harus mengumpulkan semua bagian dari customer ke dalam satu ruangan dan mengajukan pertanyaan yg tepat agar mereka bisa memberikan informasi-informasi yg hilang. Selain itu juga tidak ada porsi untuk menguji skill presentasi. Skill ini penting dalam melakukan requirement workshop maupun design workshop dimana seorang designer harus menjelaskan, menjustifikasi dan mempertahankan pilihan-pilihan yg diambil dalam membuat design. Belum lagi skill untuk bisa beradaptasi dgn customer yg berbeda budaya ataupun kemampuan bekerja di project yg requirementnya bisa berubah-ubah setiap saat. Semua skill di atas itu penting apalagi jika ingin menjadi Consulting Engineer spt di tulisan gue sebelumnya. Tapi paling tidak, lulus CCDE bisa membuat kita ‘technically sound’ sehingga mudah-mudahan pelan-pelan kita bisa jadi ‘trusted advisor’ buat customer.

Dan ingat, seperti juga CCIE, lulus ujian CCDE tidak berarti kita menjadi network designer yg handal. Lulus ujian itu hanya awal perjalanan. Setelah itu kita harus membangun pengalaman dan skill di dunia nyata. Sehingga nanti kita bisa menjadi network designer yg sebenernya, yg mengerti proses melakukan design secara benar, mampu meng capture requirement dari customer, mampu membuat design untuk menjawab requirement itu, kemudian mampu menjustifikasi dan mempertahankan pilihan yg diambil di design tadi, sampai mengimplementasikannya menjadi a working network infrastructure.

Buat yg masih skeptis, mungkin akan lebih baik jika coba dulu liat contoh soal ujian CCDE practical di Cisco Learning Network. Itu contoh hanya untuk kasus dan topologi yg sederhana loh.

Kalo boleh berpendapat sih, sebaiknya ujian CCDE ini memang diambil setelah punya pengalaman di lapangan bekerja sbg network designer. Atau kalo pun ingin menggunakan sertifikasi ini untuk mengakselerasi proses belajar, sebaiknya ambil CCIE dulu baru ke CCDE. Ini dikarenakan CCDE itu berada di level strategic atau conceptual, sedangkan CCIE lebih di level tactical atau low-level. Jadi gabungan ke duanya akan membuat seorang designer yg komplit, punya pengetahuan high level untuk mengerti business dan implikasi dari sebuah design, dan juga tahu feature secara mendalam sehingga ketika mengambil pilihan benar-benar yakin karena sudah pernah melihat maupun mengimplementasikan di lapangan.

Paling top lagi: punya CCIE, kalo perlu beberapa track bergantung pada kita mau jadi designer di area apa, terus punya CCDE, punya sertifikasi dari vendor lain dan juga dari organisasi netral, punya pengalaman di lapangan sbg network designer, punya pengalaman mengerjakan project yg large scale dan kompleks, dan punya pengalaman menghadapi customer dari berbagai tipe dan negara.

Ada yg berminat?

Consulting Engineers Must Have

July 11, 2008

Sudah hampir dua tahun gue bekerja sebagai Consulting Engineer di Cisco Advanced Services. Ini adalah role yg unik karena menggabungkan scope dari seorang consultant dan engineer. Jadi consultant ketika harus berbicara dgn para eksekutif untuk menjelaskan garis besar design dan project yg akan dilakukan, untuk mengerti line business customer sehingga mengetahui kebutuhan mereka secara lebih mendalam sebelum memutuskan solusi yg sesuai, menggunakan soft skill untuk membangun hubungan, dan membuat high level design dan strategi dari implementasi. Menjadi engineer ketika harus benar-benar mengubah design di atas kertas menjadi network infrastructure yg bisa digunakan, membuat low level design dan detil rencana implementasi atau migrasi, membuat konfigurasi dari setiap device dan interkoneksi, melakukan test jika perlu interoperability dgn produk lain dan juga Proof of Concept, dan melakukan migrasi dgn waktu downtime yg disetujui customer.

Sebenarnya semua hal di atas bukan hal baru buat gue. Gue sudah sering melakukan itu bahkan sebelum masuk Cisco AS. Pada saat gue bekerja di Middle East gue bahkan harus terlibat dalam proses pre-sales dimana gue harus membantu mendefinisikan scope dari project yg akan dilakukan, membuat atau mengecek Bill of Material sebelum barang dipesan, sampai ke pre-sales meeting dgn customer untuk meyakinkan bahwa biarpun design detil belum dibuat tapi project ini pasti bisa dan berhasil dilakukan. Gue juga memiliki tambahan pengalaman sebagai technical project manager sehingga sudah biasa memimpin team, mengalokasikan resource dan membagi-bagi tugas.

Dalam life cycle suatu produk dari pertama di buat sampai akhirnya bisa digunakan di production network, keterlibatan Cisco AS biasanya ada di akhir cycle. Jadi produk dibuat oleh development team yg terbagi ke dalam Business Unit, untuk kemudian di jual oleh team sales kita dgn menyesuaikan spesifikasi produk dan kebutuhan, sampai akhirnya Cisco AS engineer harus memberikan detil design dan melakukan implementasi atau migrasi sebelum customer bisa menggunakan produk itu sepenuhnya. Walaupun seperti telah disebutkan di atas gue pribadi, karena mungkin memiliki background dan experience, sering diminta untuk ikut serta dalam proses pre-sales.

Dan bekerja sebagai consulting engineer juga tidak membutuhkan ilmu programming sama sekali. Kita memang tidak diperlukan untuk menulis code, tapi bukan berarti kita tidak terlibat dalam pengembangan produk! Cisco AS adalah team yg bertugas untuk mengimplementasikan produk di real world dan berhadapan langsung dengan customer, jadi team ini adalah yg paling banyak mengetahui jika ada feedback dan tantangan selama implementasi atau pengoperasian dari suatu produk. Kuncinya adalah pengetahuan yg mendalam tentang arsitektur hardware, software dan protocol. Gue sering melihat orang-orang dari team Cisco AS yg tidak bisa menulis code tapi diminta bantuan dalam pengembangan produk atau protocol karena pengetahuan di lapangan yg dimiliki. Kedekatan Cisco AS dan development team juga membuat kita memiliki lebih banyak akses dibanding team-team non-developer di Cisco.

Semua hal tersebut membuat gue sebenernya merasa sangat cocok dgn role yg sekarang gue miliki dan gue yakin jika suatu ketika nanti berganti profesi akan merindukan hal-hal seperti:
- Kepuasan ketika design atau rencana implementasi dan migrasi gue berhasil, tentunya kepuasan gue akan terus meningkat sesuai dgn tingkat kesulitan project yg semakin tinggi dan scope dari project yg semakin besar
- Jam kerja yg fleksible, gue bisa kerja di mana saja kapan saja, yg penting target dan project bisa tercapai dan berhasil diselesaikan. Dan karena scope kerjaan gue Asia Pacific, khususnya negara-negara South East Asia, gue jadi sering traveling mengunjungi tempat-tempat yg berbeda dan selalu ditantang oleh customer yg berbeda-beda kebiasaan dan budayanya
- Akses yg lebih dalam dan lebih banyak ke development team, gue merasa walaupun tidak terlibat langsung dalam pengembangan produk tapi AS sangat dibutuhkan untuk memberi feedback dan kita juga bisa belajar dari temuan dan hasil testing di lab oleh para developer

Gue juga sempat merumuskan apa yg gue sebut “5 Things must have from every Consulting Engineer”:

1. Be a trusted advisor, listen more and be in customer’s shoes

Sebagai seorang consulting engineer kita harus menjadi penasehat yg terpercaya oleh customer. Ini tentunya hanya bisa diperoleh dgn pengalaman, integritas dan reputasi yg harus dibangun. Kita juga harus bisa mendengarkan dan mengeri apa yg dibutuhkan oleh customer, bukan yg mereka inginkan. Tentunya kita harus mampu menempatkan diri dalam posisi customer untuk bisa mengerti betul apa yg mereka perlukan.

2. Must technically sound even we don’t have to be specialized

Tentunya menjadi consultant sekaligus engineer membutuhkan skill engineering yg benar dan tidak hanya di atas kertas. Sekali lagi pengalaman merupakan hal yg sangat berharga. Dan consulting engineer yg top-notch biasanya memiliki pengetahuan ttg satu atau dua bidang yg mendalam, dan juga mengerti banyak bidang sehingga bisa menjadi nara sumber untuk berbagai hal. Jika kita tidak bisa memiliki spesialisasi pengetahuan teknis yg luas dan mendetail juga sudah cukup.

3. Be independent, but at the same time know where to find answers

Kemampuan untuk mengambil keputusan secara independen di lapangan adalah sangat penting. Ketika kita membuat suatu design atau harus melakukan implementasi maka kita adalah pengambil keputusan tertinggi. Walaupun gue sering bekerja dalam team di berbagai project, seringkali keputusan harus diambil berdasarkan hasil pemikiran kita sendiri. Meskipun independen, di saat yg bersamaan kita juga harus tahu bagaimana caranya mencari jawaban atau pertolongan pada saat mengalami kesulitan

4. Adaptable to any changes and adjustable to customer

Kondisi di lapangan sering berubah-ubah tanpa bisa dihindari. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk beradaptasi jika terjadi perubahan. Kita harus bisa menjadi orang yg fleksibel dan tidak kaku. Kemampuan adaptasi yg cepat ini sangat penting terutama jika harus bekerja di berbagai negara dan harus berhadapan dgn customer dgn budaya yg berbeda, dan scope project yg berbeda-beda pula.

5. Understand company’s business objectives even just a bit

Masih berkaitan dgn poin sebelumnya, meskipun kita harus bisa beradaptasi jika terjadi perubahan di lapangan tapi kita tetap harus mengingat tujuan bisnis dan limitasi dari perusahaan kita sendiri. Maksudnya adalah, kita harus bisa melakukan keseimbangan antara kemampuan kita dalam beradaptasi ketika terjadi perubahan di project sehingga membuat customer kita senang, tapi juga tidak membuat perusahan menjadi rugi karena project yg dikerjakan menjadi berlarut-larut.

Ini semua berdasarkan pengalaman pribadi selama bertahun-tahun karena gue merasa bahwa gue sudah menjalankan role ini bahkan sebelum masuk Cisco AS. Mudah-mudahan bermanfaat buat yg berminat untuk bekerja di bidang yg serupa.

How Did You Watch Euro2008?

July 1, 2008

Bulan Juni kemaren bener-bener bulan yg berat buat gue. Meskipun gue sudah mengklaim sebagai ‘gelandangan internasional’ tapi ternyata menyelesaikan 2 project migrasi besar dan mengerjakan 3 project yg lain di 5 negara yg berbeda di bulan yg sama ternyata benar-benar melelahkan. Even I have to admit it was really fun. Terbang dari Jakarta trus tidur di Changi Airport singapore, trus terbang lagi ke Ho Chi Minh, menyelesaikan final step dari migrasi project di sana, langsung terbang ke Taiwan buat kick off untuk project baru, pulang ke Singapore cuman untuk tidur lagi di airport terus langsung terbang ke Kuala Lumpur, kemudian setelah selesai mengerjakan migrasi di sana langsung terbang ke Jakarta buat meeting, ini cuma contoh yg harus gue lakukan dalam kurun waktu 2 minggu.

Untungnya selama bulan Juni ada Euro 2008 (heheh selalu ada untungnya yah!). Dan untungnya lagi team kebanggaan gue Spanyol berhasil juara, apalagi karena gue udah beli kaosnya heheh. Spanyol memang negara hebat, punya team sepakbola bagus terus punya Fernando Alonso (yang sayangnya belum dapat mobil kompetitif dari Renault) dan Dani Pedrosa (meskipun gue suka perjalanan hidup Rossi tapi gue juga mendukung Dani karena postur tubuhnya yg kecil namun bisa jadi kandidat kuat untuk juara MotoGP tahun ini), dan juga Rafael Nadal yg sekarang sedang berjuang di Wimbledon. Kadang memang kalau sedang sibuk banget dan banyak tekanan salah satu cara untuk melepaskan rasa stress adalah mengikuti kejuaraan olahraga di TV.

Ngomong-ngomong tentang Euro 2008, gue berusaha menonton semua pertandingan dan ini adalah daftar lokasi tempat gue menonton:

Final - in Hotel, Kuala Lumpur
Semi Final - 1 in Changi Airport and 1 in Hotel, Taiwan
Quarter Final - 1 in Changi Airport, 1 in Customer site (during migration), 2 in Hotel, Saigon
Qualification - 4 in friend’s home, 4 in the office (Internet TV), 1 in Hard Rock Cafe KL, 3 in hotel in KL, 1 in Changi Airport, rest either at own home or didn’t watch

Time flies pada saat ada hal seperti kejuaraan Euro 2008 meskipun kerjaan sedang banyak tekanan. Dan kabar lain yg sama bagusnya: gue udah dapet buku Performance Riding dari amazon bersamaan dgn kabar yg barusan gue terima kalo Ninja 250R merah gue udah dateng. Saatnya belajar cornering dan trail braking ;)

This month will be another interesting month. Alhamdulillah.