Lost in Translation @ Vietnam

April 30, 2008

Sudah hampir dua minggu gue di Vietnam. Vietnam adalah negara sosialis yg menarik dgn pertumbuhan ekonomi yg sangat tinggi, tertinggi dibanding negara-negara Asia sekitar. Dan gue ada di sini untuk memimpin team gue melakukan hal yg banyak orang bilang tidak mungkin dilakukan dengan waktu yg tersedia.

Jadi ceritanya gini, sekitar dua bulan yg lalu gue dapet informasi kalo team Cisco AS yg lain gagal untuk melakukan migrasi network untuk salah satu Internet service provider terbesar di Vietnam. Customer nya sempat marah-marah dan mengirimkan surat ultimatum bahwa proses migrasi harus dilakukan dalam waktu 1 bulan atau “accept the consequences”. Seperti biasa team gue sbg field delivery alias team cuci piring atau mungkin lebih kerennya seperti di Michael Clyaton ‘fixer’ alias ‘janitor’ diutus untuk melakukan pekerjaan yg tertunda. Pada saat itu dari pihak management belum tahu penyebab kegagalan tsb. Yang jelas, ISP itu sudah mengumumkan downtime ke semua customernya tapi ternyata team yg terdahulu menyatakan tidak sanggup mengeksekusi dgn alasan kekurangan waktu persiapan. Ini yg membuat mereka kecewa besar dan marah-marah.

Dua NCE dari team gue melakukan evaluasi dari project scope dan design serta migration plan team terdahulu, dan hasilnya: ini adalah project migrasi yg sangat kompleks karena melibatkan teknologi Next Generation Networks mulai dari physical cable re-patching, migrasi EIGRP ke OSPF, MPLS, LDP, BGP dgn policy yg rumit, MP-BGP sampai ke cache dgn load balancer, di tiga data center di tiga kota besar Vietnam yg berbeda, dan downtime yg diberikan oleh customer untuk setiap tempat hanya 2 jam!

Dua jam downtime ini berarti team yg melakukan hanya punya waktu 1 jam untuk kerja, sedangkan 1 jam yg lain untuk jaga-jaga jika harus rollback ke state network sebelum migrasi. Dan karena ke-3 data center tadi saling terkoneksi, maka perubahan di 1 data center akan mempengaruhi network di tempat lain spt BGP policy, traffic flow dan lain-lain. Rencana team yg sebelumnya adalah untuk melakukan proses migrasi di 3 tempat secara bersamaan sehingga tidak perlu melakukan analisa dampak yg akan terjadi jika migrasi dilakukan satu persatu. Dengan hanya 1 jam waktu yg tersedia tentunya pressure pada saat downtime akan sangat tinggi sehingga tidak ada engineer baik dari Cisco maupun dari partner company yg mau melakukan itu.

Mungkin karena semangat untuk melakukan hal extra seperti di doktrin yg gue terima dan juga karena merasa tertantang, gue meminta boss gue buat diikutsertakan dalam project ini padahal project di tangan sudah ada 4 di 4 negara yg berbeda. Begitu semangatnya sampai gue bersedia untuk sharing kamar hotel dgn NCE yg lain selama beberapa kali kunjungan gue ke Vietnam! Ini gue lakukan dgn inisiatif sendiri untuk menghemat biaya karena sudah ada 2 NCE dari team gue yg ke sana (di setiap project umumnya kita selalu mengirim maksimum 2 NCE dalam satu waktu), selain itu team yg terdahulu sudah terlalu sering menghabiskan waktu di customer ini dari tahun kemaren sehingga budget yg tersedia buat travel and lodging sudah tidak ada. Sebenarnya buat gue hal ini tidak masalah soalnya setiap kali lagi project onsite ke suatu negara toh gue selalu menghabiskan waktu di customer jadi pulang ke hotel cuma buat tidur dan mandi doang.

Begitu boss gue setuju gue langsung mengadakan internal meeting dgn team member gue yg lain dan membuat migration plan yg baru. Gue lebih memilih untuk melakukan migrasi satu per satu di setiap tempat dgn konsekuensi harus melakukan analisa efek dari setiap perubahan di satu tempat di tempat yg lain. Begitu selesai dgn draft plan gue terbang ke Hanoi akhir Maret untuk bertemu dgn customer.

Meeting pertama gue dgn customer bulan lalu itu benar-benar nightmare. Customer yg sudah terlanjur marah ke Cisco menyambut kehadiran gue dan 2 NCE yg lain dgn dingin. Awalnya mereka terlihat ogah-ogahan untuk membantu. Bahkan ada yg menyatakan bahwa plan baru yg kita bawa itu not ready and unacceptable buat di eksekusi, karena terlalu banyak analisa yg belum dilakukan. Apalagi dgn jumlah router di setiap data center dan waktu yg tersedia berarti kita harus melakukan cable re-patch, migrasi OSPF, MPLS, dan BGP di setiap router dalam kurun waktu kurang dari 5 menit. Well, sebenarnya bukan pertama kali gue mengalami hal seperti ini, berada di situasi di mana customer sudah very low expectation dan juga harus kerja very under pressure karena waktu yg sangat terbatas. Jadi mungkin istilah kerennya: story of my life, isn’t it?

Mungkin jika gue dan team gue punya waktu lebih dari 6 bulan seperti team yg pertama, akan menjadi lebih mudah dalam membuat detil migration plan dan melakukan analisa. Namun customer sudah meng-fix tanggal untuk melakukan migrasi selama 2 minggu mulai pertengahan April, dan mereka setuju untuk melakukannya satu persatu dgn selang waktu beberapa hari. Ini berarti dari meeting terakhir sampai ke migrasi kita cuman punya waktu 3 minggu, 3 minggu untuk membuat plan yg final dan detil, termasuk melakukan testing di lab. Pressure yg sangat tinggi sudah terasa dalam proses persiapan setelah gue kembali dari meeting, apalagi gue pribadi di saat yg sama harus mengerjakan project CRS-1 di Singapore dan Thailand. Gue di meeting berterus terang ke customer bahwa migrasi ini ‘much more difficult than CCIE lab, but it can be done, we have done it before’. Seperti biasa, percaya diri itu harus nomer satu dong heheh. Dan gue yakin ini bisa dilakukan karena semua config yg diperlukan bisa di test terlebih dahulu di lab, dan kita bisa men-generate config tsb untuk di copy paste selama kurang dari 5 menit. Selain itu semua kabel maupun transceiver atau GBIC sudah di test terlebih dahulu.

Ini bukan kunjungan gue yg pertama ke Vietnam tapi mungkin akan menjadi yg paling berkesan. Kenapa? Apa karena gue jadi punya kesempatan mengunjungi 3 tempat yg berbeda: Danang, Hanoi, Ho Chi Minh selama 2 minggu dan selalu tinggal di hotel bintang 5? Apalagi Furama resort bintang 5 di Danang persis ada di pinggir pantai, Hanoi Intercontinental sgt terkenal dgn Sunset Bar nya yg berada di tengah danau West Lake, atau Sheraton Saigon yg sangat dekat ke Saigon River dan pusat hiburan di Ho Chi Minh? Oh tidak. Seperti yg gue bilang, gue kalaupun pulang ke hotel selalu hanya untuk tidur atau mandi jadi tidak pernah menikmati fasilitas.

Atau mungkin karena banyaknya jumlah motor di jalan-jalan seliweran dan suara klakson selalu terdengar? Memang walaupun disebut negara dgn pertumbuhan ekonomi tertinggi tapi Hanoi itu capital city yg kotanya jauh dari kata modern. Jumlah motor buaanyak bgt, lebih banyak dari yg ada di kota-kota indo! Dari koran gue baca perbandingan mobil ke motor 1.4 : 1 tapi kalo di jalan motor benar-benar melimpah dan seliweran, bahkan di jalan yg cocoknya jadi highway bisa dipadati sama motor! Di koran yg sama gue lihat jumlah kecelakan lalu lintas tahun lalu itu 15 ribu dgn angka kematian 13 ribu! Wak, ya jelas aja wong motor seliweran di sana sini bahkan ada yg suka melawan arus.

Dan orang di Vietnam suka sekali berkomunikasi melalui klakson
“halo, apa kabar?” “tiiit tttiiiit”
“baik, kamu sendiri gimana?” “teeennn teeennn”
“minggir dong gue mau lewat!” “tiin tiiin tiinnn”
“bentar ah, gue juga lagi ngebut” “tooon toooonnn”
hehe pokoknya bunyi klakson di jalan gak pernah berhenti terdengar mulai dari pagi buta sampai tengah malam sekalipun.

Mungkin berkesan karena gue melihat orang-orangnya yg sederhana dan pekerja keras. Sepertinya didikan sosialis membuat kebanyakan mereka tidak begitu materialis, dan tidak hidup memaksakan. CCIE yg kerja di sana, dgn gaji yg lumayan tinggi, bahkan manager sekalipun tidak malu pakai motor. Kalo di indo udah pada kredit mobil kali, gengsi dulu dong ye :)

Jadi sepertinya kalo memang belum cukup uang buat beli properti atau mobil ya sewa apartment dan naek motor saja, tidak perlu memaksa beli dgn cara meminjam ke bank. Memang sih kalo di jalan-jalan itu mobil mewah banyak apalagi di salah satu kota yg gue kunjungi, Danang. Jadi di Vietnam itu yg ada adalah orang yg kaya buanget sekalian, atau orang yg biasa-biasa, sepertinya jarang ada orang yg ‘nanggung’ atau maksain. Salah satu CCIE yg sukses karena jadi sales di salah satu partner kita mendapat bonus yg luar biasa gede sampai bisa punya BMW X5, tapi kalo belum sukses ya.. naek motor aja heheh. Orang-orangnya juga kebanyakan begaya hidup sederhana dgn makan di pinggir jalan. Btw makanan di Vietnam termasuk murah bgt, gue sampe sakit perut kebanyakan makan Pho, mie lokal yg tersedia di setiap penjuru. Yang mahal itu adalah rate hotel berbintang dan properti.

Meskipun mereka bersedia mengeluarkan IT spending yg tinggi tapi mereka selalu mencoba mengoptimalkan produk yg dibeli, kalo cukup dgn 2 router kenapa harus lebih? kalo cukup dgn 2 Gig backplane router kenapa harus upgrade? Salah satu data center ISP terbesar ini tidak pakai raise floor, bahkan dipasangin buanyak kipas angin gede2 buat membantu AC yg kurang dingin hahah

Orang-orangnya juga sangat curious dan ingin tahu secara mendetil dan tentunya seperti biasa suka bekerja keras. Begadang sampe pagi atau tidur di data center udah biasa buat mereka. Mungkin karena balik lagi didikan sosialis dimana mereka memang harus kerja keras buat hidup, sama mungkin gak ada tontonan sinetron kali ye yg ngajarin bisa dapet duit cepet dgn cara nipu, berebut warisan dll heheh. Dan juga mungkin karena masalah culture yg kuat yg masih dipertahankan sama mereka, sehingga di Hanoi pun suasana terasa sederhana dan tidak se modern Ho Chi Minh aka Saigon. Ini mungkin yg membuat pengaruh gaya hidup mereka yg lebih simple tapi fokus dgn culture yg sangat kuat.

Ini salah satu hal yg membuat gue terkesan. Selain itu juga tentunya karena gue beserta 2 NCE yg lain berhasil melakukan project migrasi ini walaupun penuh dengan tekanan. Pada saat downtime suasana benar-benar hell, gue harus mengkordinasi partner kita yg melakukan re-patch cabling, engineer yg memegang console di router yg berbeda, sampai melakukan troubleshooting sendiri di console, sehingga target migrasi dalam 1 jam bisa terpenuhi. Secara pribadi yg bikin gue semangat kayaknya film Braveheart yg gue tonton di hotel beberapa jam sebelum migrasi “they can take our console but they can can never take our freedom!!”

Dan juga pas downtime gue jadi inget sang Spaniard gladiator teman-temannya di tengah lapangan colloseum melawan pasukan yg lebih kuat “single column! single column!” Kalo gue mungkin “step 2! step 3! OSPF up? BGP up? Show ip route!” heheh very tense tapi seru and fun

Customer yg tadinya dingin lama-lama jadi akrab ke kita. Mereka mulai merasa yakin ketika kita berhasil migrasi data center nya satu persatu. Walaupun bahasa inggris mereka belepotan yg membuat komunikasi tidak lancar kita masih bisa becanda dan ketawa-ketawa. OSPF adalah tetap OSPF, BGP tetap BGP, di semua bahasa. Dan every guy in the world talks the same languange, you know, guys stuff ;)

Tentunya mereka juga punya masalah ‘inferior complex’ spt bangsa2 South East Asia lainnya. Pas ada orang bule dgn aksen British yg perfect melakukan presentasi semuanya pada diem, padahal planning yg dibikin salah total. Pas gue dan team gue dateng, karena sesama bangsa Asia, mereka sedikit lebih agresif.

Problem mereka dengan bahasa Inggris yg jarang digunakan sehari-hari menjadi momen-momen Lost in Translation yg tidak bisa gue lupakan. Gue sempet tertawa-tawa pas ngeliat team member gue orang Thailand dgn pronunciation yg ‘beda’ mencoba menjelaskan ke customer orang Vietnam yg gak bisa bahasa Inggris. Atau gue asli ketawa ngakak pas ngedenger TAC engineer yg orang Spanyol dgn logatnya mencoba menjelaskan hardware problem ke engineer partner kita yg bahasa Inggrisnya patah-patah. Setiap kali presentasi gue lakukan dgn berbicara pelan dan kadang harus berulang untuk memastikan customer gue sudah mengerti.

Isu mereka yg lain juga adalah masalah edukasi. Pakai helm yg bener pas naek motor itu baru2 mereka lakukan, sebelumnya mereka biasa pakai apa aja termasuk topi petani maupun helm tentara :) Juga kebiasaan makan di jalan, yg kelihatannya sepele tapi ternyata masalah penyakit cholera karena jajanan jalanan yg tidak bersih itu sempet menjadi epidemik.

Terlalu banyak hal berkesan yg terjadi selama 2 minggu project migrasi ini sehingga mungkin walaupun gue menuliskan pengalaman gue kemaren selama 100 halaman tetap tidak bisa menggambarkan suasana yg sebenarnya. Seperti salah satu pemenang the Amazing Race Asia bilang, walaupun selama lomba mereka diikuti dan difilmkan “but all the small things that happened that make each moment very special”. Seperti juga CCIE lab atau hal lainnya, banyak pengalaman itu harus dirasakan sendiri untuk tahu bagaimana rasanya.

Anyway, it was a damn good experience and perhaps one of my unforgettable moments. Dan mungkin kita bangsa Indonesia harus belajar dari kehidupan orang-orang Vietnam yg lebih sederhana dan pekerja keras.