Talking About Risk

January 14, 2008

Gue termasuk orang yang lebih memilih untuk mengambil keputusan beresiko daripada harus hidup sbg Zombie. Banyak orang bilang gue termasuk high risk taker. Waktu gue memulai karir di dunia networking dulu, gue tidak pernah memikirkan resiko. Tawaran yg lebih menarik dan menantang selalu gue ambil meskipun itu membuat gue harus pindah dari satu lokasi ke lokasi lain yg jauh sekalipun. And that’s what life is all about, right? Ketika ada kesempatan yang datang keputusan harus cepat diambil karena kesempatan yang sama mungkin tidak akan datang lagi di lain waktu.

Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang berubah. Setiap kali gue akan mengambil keputusan besar, banyak pertimbangan yang dilakukan. Banyak perhitungan yg berdasarkan keuntungan dan kerugian. Hal ini terutama yg berkaitan dgn perubahan di dalam pekerjaan dan lokasi tempat tinggal.

So what’s the difference now?

Mengapa sekarang gue terlalu banyak mengkalkulasi resiko, menghitung pros and cons, sebelum mengambil keputusan? Apa yang berbeda? Bukankah sekarang keadaan gue jauh lebih baik bahkan jika gue mengambil keputusan yg salah? Salah satu boss gue dulu pernah bilang bahwa kita harus mempunyai safety net atau plan B, dimana jika kita melakukan kesalahan dalam mengambil suatu keputusan kita dapat kembali ke suatu kondisi yg tidak terlalu jauh berbeda dari titik awal. Dengan demikian resiko keputusan yg kelihatan besar pada awalnya menjadi tidak mengkhawatirkan karena toh ada fallback plan.

Banyak orang-orang yg berhasil mengubah dunia, atau mengubah pola pikir dunia karena mereka berani mengambil keputusan yang mungkin tidak akan dipertimbangkan oleh orang lain karena dianggap terlalu beresiko. Banyak orang yg sukses berkata jika kita tahu terlalu banyak tentang sesuatu pekerjaan maka kita akan mulai memikirkan resiko untuk memulai pekerjaan tersebut. Just do it.

I guess I need to be in Survival Mode for a while in order to make another brave decision again.