When I Travel
October 31, 2007Kurang dari 48 jam gue akan terbang ke San Jose, US. Setelah 16 hari di sana, gue akan langsung terbang ke Sydney untuk tinggal 3 minggu. Ini berarti gue bakalan on the road selama sekitar satu setengah bulan. Hidup di jalan terlama selama gue bergaya hidup mobile sejak bergabung dgn Cisco AS setahun yg lalu. Biasanya gue pergi paling lama 2-3 minggu terus balik ke home base aka Singapore. Walaupun mungkin cuma 1-2 hari kemudian harus terbang lagi.
Gue suka traveling.
Mulainya karena tuntutan pekerjaan. Tapi kemudian karena semakin sering dilakukan, ketika gue sedang berada di Singapore malahan jadi bingung sendiri. Ada rasa kangen ke Changi airport. Ada hasrat untuk pergi lagi walaupun baru mendarat untuk pulang. Gue harus traveling karena kerjaan, tapi juga untuk melihat tempat-tempat baru. Gue harus traveling agar bisa mencoba makanan khas berbagai tempat. Gue harus traveling agar bisa menikmati fasilitas hotel
Gue pake backpack, tapi bukan seperti backpacker.
Gue masuk kategori business traveler. Jadi semua trip pasti sudah direncanakan, meskipun kadang-kadang baru tahu harus pergi di last minute. Tapi minimal pesawat gue sudah di booked online sebelum gue ke airport. Ketika gue datang ke suatu negara paling tidak hotel gue sudah di reserved. Gue pake backpack, tapi jelas bukan seperti backpacker pada umumnya.
Singapore itu bukan rumah.
Walaupun based di Singapore tapi gue jarang bgt berada di Singapore. Semua project gue ada di luar, jadi gue harus selalu traveling untuk kerja. Kalo gue di Singapore biasanya jadi lebih santai karena paling mengerjakan dokumen atau meeting secara remote. Waktu terlama gue berada di Singapore dalam sebulan adalah 8 hari. Waktu tersingkat? Sejauh ini sih 2 hari. Jadi baru bayar apartemen terus terbang, pas pulang udah harus bayar apartemen lagi
Tentunya bulan depan malahan gue gak akan di Singapore sebulan penuh.
Gue suka travel light.
Seringnya gue traveling membuat gue memiliki kemampuan untuk packing dgn cepat. Gue siap untuk pergi ke negara lain dalam waktu 15 menit. Dan gue paling suka travel light biar gak ribet. Gue cuma bawa barang yg benar-benar akan digunakan selama di jalan. Dan gue bisa packing cepat karena gue bikin prioritas barang yg akan gue bawa.
Ada yg pernah bilang kalo selama traveling itu uang, kartu kredit dan paspor paling penting. Setuju. Cuma kalo gue ditambahin satu lagi: mobile phone. Kalo terjadi apa-apa, atau sampai uang dan paspor hilang gue bisa telpon Cisco emergency number untuk minta bantuan. Ini adalah service 24x7 yg bisa memberikan bantuan apa saja, termasuk mengeluarkan karyawan Cisco yg tidak punya dokumen sama sekali dari suatu negara atau bahkan dari kawasan perang.
Dan yg pasti identitas resmi selama berada di luar negri itu hanya paspor. Paspor selalu gue bawa kemana-mana supaya tidak kejadian disangka tenaga kerja gelap dan digebukin. Ada yg bilang, hati-hati dgn paspor. Di banyak tempat orang sering merampas paspor untuk dijual-belikan. Setuju dan sudah pernah dengar sendiri hal ini waktu di Middle East. Tapi biasanya yg diincar paspor orang kulit putih karena harganya mahal.
Cara gue packing gue lakukan dgn cara memberi prioritas kepada 3 kelompok barang dan menempatkan barang-barang tsb di tempat yg berbeda:
Prioritas 1 paling penting, selalu gue kantongin dan bawa kemana-mana: paspor, dompet yg berisi uang dan kartu kredit, dan mobile phone. Bagaimana dgn tiket pesawat? Gue biasanya selalu pake Singapore Airline jadi sudah pake sistem e-ticket, dan tidak perlu receipt. Biasanya setelah pesawat di book online gue tinggal dateng ke check-in counter dan dapat boarding pass hanya dgn menunjukan paspor.
Prioritas 2 penting, gue masukin ke dalam backpack kecil: notebook dari Cisco, Cisco badge (penting karena dgn ini gue bisa masuk kantor Cisco mana aja di seluruh dunia), kamera, charger-charger, dan iPod beserta earphone. Kalo keseringan nunggu transit di Airport atau naek taksi yg jauh pasti sadar betul gunanya iPod. Dan earphone penting, kalau bisa beli konverter buat bisa dipake di pesawat, karena untuk penerbangan jarak pendek spt Jakarta - Singapore, Singapore airline tidak meminjamkan earphone meskipun entertainment system tetap bisa digunakan. Kalo sampai uang, kartu kredit, paspor dan mobile phone gue hilang, tapi gue masih punya Cisco badge, gue bisa lari ke kantor Cisco terdekat dan minta tolong. Bila perlu bahkan bisa berlindung dan tidur di sana spt yg gue lakukan di weekend pas ngambil CCIE SP lab.
Prioritas 3 sisanya, yg gue masukin ke dalam koper atau backpack buat masuk bagasi: baju-baju, parfum, cadangan sepatu, obat-obatan dan DVD biar gak bosen di hotel. Parfum mendingan masuk ke bagasi biar gak repot diperiksa gara-gara restriction ttg cairan. Obat-obatan lokal penting dan yg paling penting buat gue itu Panadol sama Diatab. Gue pernah kejadian waktu di KL kepala pusing dikasih panadol made in china dari temen gue yg dari Hongkong, malahan jadi tambah parah!
Selama traveling gue gak perlu bawa peralatan mandi karena hotel selalu menyediakan. Gue bahkan cukur kumis jenggot di pesawat karena Singapore Airline biasanya menyediakan, jadi gak harus bawa juga. Gue punya banyak koleksi sikat gigi dan shower gel baik dari pesawat dan hotel, selain koleksi sendal hotel
Saat packing, gue mulai dari Prioritas 1 trus Prioritas 2. Kalo keduanya sudah beres gue sebenernya sudah siap pergi. Dan prioritas 3 tidak perlu memerlukan waktu lama. Gue bener-bener bisa siap pergi dalam waktu 15 menit dan ini beberapa kali pernah gue lakukan.
Dalam sebulan setengah ke depan hidup gue akan menjadi sangat menarik karena gue akan ketemu kekasih tercinta di San Jose (harusnya udah tahu dong siapa!). Selain itu hal menarik lainnya adalah, dari San Jose gue sempet berhenti dulu ke Singapore beberapa jam sebelum ke Sydney. Penerbangan gue dari Singapore ke Sydney akan menggunakan Airbus A380 yg baru. Yup, ini pesawat penumpang komersial terbesar yg pernah dibuat. Dan meskipun tidak akan seperti penerbangan pertama tanggal 25 Oktober yg lalu, buat gue penerbangan ini tetap akan berkesan.
Tapi satu setengah bulan hidup mobile juga punya konsekuensi. Karena gue suka travel light dan tidak bawa banyak koper seperti orang mau pindahan, jumlah baju yg gue bawa tidak mencukupi. Ini berarti gue harus nyuci. Meskipun Cisco memperbolehkan laundry di hotel, gue cenderung tidak mau menggunakan ini karena harganya yg mahal, kecuali untuk kemeja tertentu atau baju bola (mahal bok baju bola itu heheh). Maklum, mentalitas orang timur yg suka gak enak kalo merasa menggunakan fasilitas secara berlebihan (dan di Cisco sendiri kita memang diharapkan untuk memiliki mentalitas frugality).
Jadi kalo nanti di US dan Sydney tidak ada tempat nyuci sendiri, seperti yg di film-film dimana ada banyak mesin cuci dan kita pake koin kalo mau make, berarti gue harus belajar nyuci di bath tub hotel. Masalah gue bukan di nyucinya, tapi di bagian nyetrika baju. Malam ini merupakan malam pertama gue nyobain nyetrika baju sendiri. Ya, sebelum berangkat traveling yg lama gue harus simulasi dulu dgn cara nyuci dan nyetrika baju sendiri. Dan ternyata nyetrika itu jauh lebih sulit ketimbang belajar CCIE.
Gimana caranya biar pas di setrika lipatan bajunya jadi rapi?
Bener-bener memusingkan!

I’m getting more and more addicted to traveling. Read it here.