Gue sering mendapat email dari orang-orang yg sedang mempertimbangkan untuk pindah jalur ke networking. Pindah jalur karena sebelumnya kerja di IT di bidang yg lain, misalnya sebagai programmer, atau pindah jalur karena pekerjaan yg sekarang tidak berhubungan dgn IT sama sekali. Pertanyaannya biasanya sama: buku apa yg harus dibeli? apa dulu yg harus dibaca? apa dulu yg harus dilakukan? apakah butuh beli lab? berapa gaji yg diterima? apakah karirnya menjanjikan? perlukah mengambil training? apakah saya terlalu tua untuk memulai? bisakah saya menjadi CCIE? dsb
Karena keseringan mendapat email seperti ini, gue mencoba membuat semacam FAQ, Frequently Asked Questions, untuk bagaimana caranya jika ingin memulai karir di bidang networking:
Semuanya dimulai dgn niat yg benar
Tanya ke diri sendiri, mengapa berniat ingin pindah ke jalur networking? Apakah betul-betul suka, atau cuma karena ikut-ikutan? Mungkin karena ingin gaji yg lebih tinggi, atau karena ingin jadi CCIE dan kerja di luar negri?
Jawaban semua pertanyaan ini simple: apapun yg kita kerjakan, jika kita benar-benar suka, akan bisa memberikan gaji yg tinggi atau bisa kerja ke luar negri. Banyak yg berpenghasilan tinggi tanpa harus jadi CCIE. Kuncinya adalah, lakukan hal ini hanya karena kita benar-benar suka dan meyakininya sebagai hal yg benar-benar kita inginkan. Banyak pilihan karir di IT selain networking. Bahkan mungkin hidup kita bisa jadi lebih baik dgn bekerja di bidang yg tidak berhubungan dgn IT sama sekali. Kalo niat pindah ke networking karena susah cari kerja di bidang yg lain, well, cari kerja di bidang networking pun susah kecuali expert di bidang ini. Dan kalo bisa expert di suatu bidang, bidang apapun, pasti bisa dapet kerja di bidang itu kan? (atau malah mampu menciptakan lapangan kerja)
Wanna be like me?
Sering gue terima email, saya ingin seperti pak Himawan, ingin kerja dan bepergian ke luar negri, ingin dapet gaji $$$ dan lain-lain.
Well, let me tell you one secret: Himawan is nothing. He’s just another guy. And his life is not as easy to understand as it looks like. I bet you won’t like his life style once you know it very well.
Apa yg terlihat dari luar mungkin tidak sebaik ketika kita berada di dalam. Rumput tetangga sebelah selalu lebih hijau. Cerita hidup orang yg berbeda dgn hidup kita selalu terdengar lebih mengasikan. Bukan berarti tidak boleh mempunyai keinginan untuk menjadi seseorang yg kita lihat atau dengar ceritanya, tapi mulainya dgn niat yg benar, kejar keinginan tsb setahap demi setahap dan pasang target untuk menjadi lebih baik dari orang tersebut
Self Assessment
Bertahun-tahun yg lalu gue menemukan suatu metoda yg gue sebut ’self assessment’. Baru akhir-akhir ini saja gue tahu kalo kata tersebut ternyata sudah ada di wikipedia. Hanya mungkin definisi gue sedikit berbeda. Metoda self assessment adalah suatu metoda untuk mempertanyakan diri sendiri apa yang sebenarnya ingin kita lakukan dan ingin kita capai dalam hidup ini, dgn melihat kemampuan yg sekarang kita miliki. Bukan hal yg baru memang, tapi seringkali tidak kita lakukan.
Carilah tempat yg tenang, tempat terbaik untuk berpikir, di waktu yg terbaik, dan mulailah mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke diri sendiri. Siapkan pulpen dan kertas untuk menuliskan jawaban-jawaban nya. Tentunya kunci dari keberhasilan metoda ini adalah kejujuran. Dan buat apa membohongi diri sendiri? Tanyakan pertanyaan ini: apakah gue benar-benar ingin menjadi seseorang yg bekerja, hidup dan bernafas, di bidang networking?
Apakah ada getaran semangat yg tinggi terasa di dalam diri ketika sedang membicarakan segala hal yg berhubungan dgn networking? Jika sudah melakukan ini dan jawabannya adalah ‘ya’, silahkan terus membaca.
Antara Usia dan Background
Gue tidak pernah percaya kalo ada orang yg terlalu tua untuk mulai belajar sesuatu. Gue juga tidak percaya seseorang harus memiliki background pendidikan formal di bidang tertentu untuk bisa bekerja di bidang tersebut. Jadi stop pertanyaan apakah saya terlalu tua (atau bahkan terlalu muda) untuk pindah jalur. Stop juga pertanyaan apakah saya bisa melakukan ini meskipun saya tidak punya ijazah sarjana ilmu komputer.
Gue sering ketemu dan melihat orang yg berusia lanjut yg tiba-tiba berpindah jalur. Dulu pernah satu ruangan dgn orang yg sudah 50 tahun ke atas tapi masih mau belajar networking. Pernah ketemu sama orang yg umurnya 30-an tiba-tiba ingin kerja di networking dan sekarang sudah jadi CCIE. Dan sudah banyak sekali bertemu teman-teman CCIE yg dulunya kuliah di akutansi, teknik mesin, ilmu ekonomi dll yg sekarang sedang bekerja sbg top notch engineer di berbagai negara. Gue sendiri termasuk orang yg tidak punya background kuliah yg berhubungan dgn komputer.
Buat gue, gelar sarjana yg berhubungan dgn bidang yg dikerjakan hanya bermanfaat untuk membantu pengurusan visa kerja atau residence permit. Tidak lebih. Dalam merekrut orang pun gue tidak pernah perduli dgn gelar sarjana yg dimiliki. Gue lebih memilih merekrut orang yg tidak selesai kuliah tapi memiliki keinginan dan kemauan yg sangat kuat untuk belajar dan menjadi lebih baik.
Terlalu sulit? Terlalu mahal?
Pak Himawan, apakah belajar networking sulit karena saya sudah tidak muda lagi atau tidak kuliah komputer? Dan bukahkan belajar networking itu mahal? Tidak ada hal yg sulit dipelajari, yg ada hanyalah hal-hal yg belum kita tahu. Belum kita tahu karena belum kita pelajari, atau karena kita tidak mau mempelajari. Dan selalu ada cara untuk mencapai tujuan dgn cara yg tidak mahal. Jadi kalo sudah baca sampai sini masih berkeinginan untuk pindah jalur juga, silahkan teruskan membaca 
Mulailah dgn hal yg kecil
Yup, mulailah dgn hal yg kecil dulu. Perjalanan panjang selalu dimulai dgn langkah pertama. Jika dari hasil self assessment keinginan untuk pindah jalur ke bidang networking sangat tinggi, maka mulailah dgn membaca hal-hal yg berhubungan dgn networking. Banyak sekali informasi yg bisa didapat di Internet. Banyak sekali ebook yg bisa di download dari Internet. Banyak teman-teman yg sudah lama atau baru memulai karir di networking. Jadi langkah kecil pertama yg harus dilakukan adalah: miliki koneksi Internet! Pelajari cara mencari informasi dgn menggunakan Google.
Some people say, if google can’t find the answer it means it doesn’t exist. Bergabunglah dgn komunitas networking. Bentuk tim belajar dgn orang-orang yg memiliki keinginan dan berada di tahap yg sama. Mailing list seperti indocisco bisa sangat membantu, atau coba saja cari group-group lain yg lebih kecil di yahoogroups.
Satu buku yg sangat gue rekomendasikan untuk dibaca buat orang yg berkeinginan untuk pindah ke networking tanpa background sama sekali: Computer Networking First Step
Jangan investasi dulu di awal
Banyak orang yg bertanya: berapa uang yg harus saya miliki untuk memulai? Apa dulu yg harus dibeli? Saya punya uang sejumlah X bisakah jadi CCIE dan dapat kerja? Jawaban gue cuman satu: jangan pernah investasi dulu apalagi dalam jumlah besar di awal. Selalu mulai dgn hal yg kecil. Dan investasi dalam mempelajari ilmu tidak seperti investasi di bidang jual-beli. Apa yg diinvestasikan mungkin tidak akan langsung kembali dan kelihatan hasilnya. Ketika sudah ditekuni sekian lama baru mungkin ada orang yg tertarik memberikan kita pekerjaan. Jangan berpikir kalo menghabiskan uang sekian untuk belajar akan kembali dalam waktu sekian. Jadi jangan pernah langsung menghamburkan uang diawal-awal untuk membeli buku, lab, pergi ke training dgn harapan mencapai hasil maksimal dalam waktu singkat.
Rekomendasi gue dalam investasi awal: koneksi Internet. Semua informasi tersedia online. Jika memungkinkan, hal kedua yg bisa dibeli adalah komputer. Ini nanti dibutuhkan di tahap berikutnya jika ingin menginstall simulator untuk latihan.
Banyak orang yg merendahkan apa yg bisa dicapai dgn hanya satu komputer dan koneksi Internet. Tapi sebenarnya tidak terbayangkan apa yg bisa kita capai hanya dgn 2 hal ini. Yg harus mulai dipelajari: biasakan membaca dari layar komputer.
Antara formal dan tidak formal
Gue mencapai Triple CCIE dgn jumlah training formal yg bisa dihitung dgn jari. Training yg benar-benar menjadi awal perjalanan gue cuman training 5-hari ICND (CCNA). Selain itu gue juga pernah “dipaksa” untuk ikut training modul CCNP di luar negri oleh perusahaan, walaupun pada saat itu gue sudah lulus ujian CCIE written! Jadi bisa dibilang gue minim training untuk bisa lulus 3 ujian CCIE lab. Dan terus terang gue termasuk orang yg against official training, jika training itu: terlalu lama, atau instrukturnya tidak punya pengalaman di lapangan. Jadi jangan habiskan waktu lama hanya untuk mempelajari CCNA. Jangan pula mau diajarin orang yg cuma tahu cara berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi tanpa pernah melakukan project di kehidupan nyata. Daripada yg dua itu mendingan belajar sendiri di rumah. Yang dibutuhkan untuk belajar mandiri, lagi-lagi, hanya koneksi Internet dan komputer pribadi jika memungkinkan. Materi sudah banyak yg bisa di download di Internet, atau mungkin bisa dapat dari teman belajar atau milis.
Sertifikasi bagus, tapi pengalaman adalah segalanya
Dulu banyak yg bilang, buat apa punya sertifikat. Yg paling penting adalah pengalaman! Ini betul. Walaupun kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa memiliki sertifikat adalah suatu keharusan karena hampir semua perusahaan networking mensyaratkan hal ini sbg seleksi pertama. Kalo sudah punya pengalaman, kenapa tidak ambil sertifikasi? Toh harusnya gampang. Apalagi banyak personil Human Resource yg menseleksi resume atau CV para pelamar hanya dari sertifikasi yg dimiliki.
Dan buat orang yg tidak punya background ilmu komputer spt gue, jenjang sertifikasi ini sangat memudahkan dalam mempelajari sesuatu. Mau tahu networking di Enterprise customer, mulai saja dgn belajar CCNA, CCNP, sampai CCIE di track Routing & Switching. Ingin belajar MPLS, mulai saja dgn CCIP terus ke CCIE di track Service Provider. Dan karena sertifikasi ini sudah distandarkan dan diakui secara internasional, orang Indonesia yg baru lulus CCIE akan memiliki level yg sama dgn orang dari negara lain yg baru lulus CCIE juga. Yang membedakan, adalah pengalaman. Yg bisa menjadikan pembeda, adalah soft skill dan hal-hal lain di luar skill technical. Jadi, mulai saja dgn sertifikasi tapi setelah itu pengalaman dan exposure kerjaan menjadi hal yg lebih penting. Jika perlu, di awal-awal perjalanan kita bisa minta kerja magang atau tidak digaji sama sekali di perusahaan networking kecil sekalipun, hanya untuk mendapat pengalaman.
O ya, jika ingin tahu jenjang sertifikasi yg ada di Cisco, tolong jgn langsung tanya ke gue. Coba dulu baca-baca di websitenya terus kalo ada yg gak ngerti baru bertanya. Gue juga tidak punya informasi ttg perusahaan yg menyediakan pekerjaan magang dan lain-lain. Bentuklah komunitas dan coba bertemu banyak orang di bidang networking untuk mendapat informasi seperti ini.
English is inevitable
Bahasa inggris adalah bahasa yg tidak bisa dihindarkan untuk mempelajari networking. Kita memang tidak seperti teman-teman di Malaysia atau India yg sudah terbiasa dgn bahasa inggris sbg second languange, tapi ini juga bisa dipelajari pelan-pelan. Tidak perlu dimulai dari fluency dalam conversation, tapi minimal bisa membaca referensi yg ditulis dalam bahasa inggris. Karena jangan berharap semuanya sudah diterjemahkan. Buku-buku terjemahan mungkin tidak banyak dan tidak sesuai dgn aslinya. Teman-teman dari ilmukomputer.com sudah melakukan hal yg superb dgn menyediakan referensi ttg, sesuai namanya, ilmu komputer dalam bahasa Indonesia tapi pada suatu titik membaca dalam bahasa inggris tidak bisa dihindarkan. Website Cisco sendiri memiliki banyak informasi dan semuanya ditulis dalam bahasa inggris tentunya. Ebook yg bisa diperoleh dgn mudah juga semuanya dalam bahasa inggris. Termasuk RFC dan berbagai hal lainnya.
Setelah bisa membaca, tahap berikutnya menulis. Karena mungkin kita perlu berkorespondensi atau kirim-kiriman email dgn orang lain di luar negri. Setelah itu adalah bisa mendengarkan dalam bahasa inggris. Karena mungkin suatu ketika kita mengikuti seminar dan yg presentasi orang bule, atau juga ketika kita ingin mengikuti web-based maupun video-on-demand training. Kalo sudah sampai tahap ini, mulailah belajar ngomong dalam bahasa inggris, jadi bisa berkomunikasi dan bertanya dalam seminar atau training tsb.
Jika tetap harus membeli
Jika memang harus membeli, dan gue asumsikan sampai tahap ini memang sudah benar-benar yakin untuk all out di networking, maka belilah pelan-pelan dan secara selektif. Barang yg dibeli pun tidak perlu baru. Yg pertama yg harus dibeli tentunya koneksi Internet. Setelah itu komputer. Apakah PC ataupun notebook ini tergantung gaya hidup kita. Jika berpindah-pindah seperti gue tentunya notebook akan lebih praktis. Dan tidak perlu beli yg baru. Atau beli yg terlalu canggih. Jika memungkinan sebaiknya memang beli PC yg powerful, dgn banyak memori. Karena di tahap berikutnya kita butuh untuk menginstall simulator atau emulator spt dynamips untuk mensimulasikan Cisco IOS mapun networking secara lengkap. Tapi jika tidak mampu jgn paksakan dgn langsung membeli di awal-awal, selalulah mulai dgn hal yg kecil. Jadi mulai saja dgn nongkrong di warnet setiap malam. Setelah punya uang sedikit bisa beli PC bekas dan koneksi Internet di rumah. Kalo sudah punya uang lebih banyak baru beli PC atau notebook yg lebih bagus. Dan beli buku hanya jika tidak ada ebooknya. Walaupun sepertinya hampir semua buku sudah ada ebooknya yg bisa di download. Daripada beli buku mungkin lebih baik beli printer, jika kita merasa sulit untuk membaca dari monitor komputer. Meskipun membaca langsung dari layar adalah hal yg sulit untuk dihindari.
Dan jika memang harus tetap membeli peralatan networking yg sebenarnya, misalnya membeli security device spt Firewall dan IDS untuk belajar CCIE security, gunakan ebay. Beli barang bekas dari seller yg terpecaya. Tentunya belajarlah terlebih dahulu cara mencari barang dan bertransaksi di ebay. Cara lain yg bisa ditempuh selain beli networking hardware beneran adalah dgn cara rental di online lab yg banyak tersedia di Internet. Tentunya memiliki hardware beneran ada keuntungannya karena bisa kita jual kembali setelah kita selesai belajar dgn hardware tsb.
The art of making plan
Ok, gue termasuk orang ‘right now’, orang yg hidup untuk hari ini (dalam hal pekerjaan, gue pikir ini karena salah satu bakat gue adalah adaptability) dan sulit untuk membuat perencanaan jangka panjang dalam berkarir. Tapi tetap saja, perencanaan itu penting. Gue mungkin tidak bisa menjawab jika ditanya 5 tahun lagi ingin jadi apa. Namun minimal kita punya rencana-rencana jangka pendek. Bikinlah rencana dan pasang target untuk diri sendiri. Misal, dulu gue bikin rencana kapan akan lulus CCNA, terus kapan ujian modul-modul CCNP. Pada saat ditengah-tengah CCIE journey gue, gue bikin perencanaan kapan gue harus sudah mengerti topik tertentu, kapan apply visa, kapan bayar lab dan seterusnya. Jadi bikin perencanaan untuk 6 bulan ke depan dalam belajar. Pasang target dan check point untuk memastikan kita selalu on track. Setelah rencana selesai bikin rencana baru untuk 6 bulan berikutnya.
Gue sering dapet pertanyaan, saya sedang belajar CCNA dan ingin jadi CCIE, apa yg harus saya lakukan? Gampang, lulus aja dulu CCNA! Ngapain mikir panjang-panjang jika yg ada di depan mata saja belum selesai dilakukan. Be in the moment. Do the obvious. Setelah selesai CCNA, mulai kejar modul CCNP satu persatu. Kemudian ujian CCIE written. Baru persiapan buat ujian CCIE lab. Hidup jadi gampang kan kalo semuanya direncanakan namun dikerjakan satu per satu sesuai dgn keadaan yg sedang dihadapi? Dan ingat, target ini dibuat oleh diri sendiri untuk diri sendiri. Tidak akan ada orang lain yg menilai. Semuanya ada ditangan kita sendiri.
Kesabaran dan konsistensi adalah kunci
Ada seseorang jago kungfu tangan kosong yg ingin belajar ilmu pedang dari master ilmu pedang yg tidak ada duanya di dunia. Setelah menempuh jarak yg jauh dan medan yg sulit untuk bertemu sang master, sang jagoan berlutut di depannya dan bertanya: “master, jadikan saya muridmu. Saya sudah memiliki ilmu kungfu dan ingin belajar dari sang maha master pedang sendiri. Berapa waktu yg saya butuhkan untuk menjadi master di ilmu pedang?”. Sang master, biasanya digambarkan sbg kakek tua berambut putih panjang yg sedang bersila, tanpa membuka mata menjawab “5 tahun”. Si jago kungfu kecewa karena berharap bisa menjadi ahli pedang dalam waktu yg lebih singkat, terutama karena dia merasa punya background kungfu dan keinginan yg sangat kuat, kemudian bertanya lagi “master, saya tidak akan melakukan hal lain dalam hidup selain berlatih ilmu pedang. Saya akan patuh dan mengikuti perintah master. Hanya berhenti latihan untuk makan dan tidur. Berapa waktu yg saya butuhkan untuk menjadi master di ilmu pedang?”. Sang master, tetap tanpa membuka mata, menjawab “10 tahun”.
Cerita ini gue lupa ambil dari mana tapi punya inti cerita yg sama dalam belajar apapun: kesabaran adalah kunci. Jangan terlalu bernafsu untuk dapat mempelajari sesuatu dalam waktu singkat. Pelajari saja dan ikutin alur belajar dgn semangat. Pasang target seperti di atas dan lakukan selangkah demi selangkah: CCNA, terus ke CCNP, terus ke CCIE written dan seterusnya. Setelah lulus CCIE pun mungkin masih belum puas bisa terus dilanjutkan ke track yg lain atau sertifikasi dari vendor yg lain jika perlu. Suatu saat nanti, mungkin pada saat melihat ke belakang kita akan kaget sendiri dgn hasil yg sudah dicapai. Mungkin akan kaget sendiri karena tiba-tiba ada banyak orang yg menawarkan pekerjaan.
Dan tentunya semuanya harus dikerjakan secara konsisten. Dulu waktu sekolah sering orang bilang lebih baik belajar sejam tiap hari ketimbang belajar 24 jam langsung tepat sehari sebelum ujian. Ini sangat betul. Dalam belajar cobalah untuk konsisten setiap hari. Jangan belajar sampai bergadang hari ini tapi terus masuk angin dan gak belajar sampai seminggu. Coba mulai dgn belajar dan membaca materi networking minimal satu atau setengah jam sehari, namun konsisten dilakukan setiap hari. Setelah terbiasa, naikkan jam belajar menjadi 2 jam. Jadikan belajar sebagai habit. Dulu waktu belajar CCIE, sebelum nge-lab yg extensive, biasanya gue belajar 4 jam sehari. Dan ini bisa dilakukan meskipun kita kerja di bidang lain siangnya ataupun sudah berkeluarga. Rahasianya: kurangi jam tidur. Dulu gue belajar mulai jam 10 malem sampai jam 2 pagi, setelah anak istri sudah tidur, setiap hari selama berbulan-bulan. Pada saat deket-deket waktu ujian lab malahan bisa jauh lebih banyak dari itu. Tapi tetep ingat, mulailah dari yg kecil. Setengah jam atau satu jam sehari di awal-awal itu sudah cukup, asal konsisten.
Just do it! Single step at a time
Setelah sampai sini, dan masih punya keinginan yg kuat untuk terjun ke networking, ya mulai lah kerjakan! Jangan cuma membaca atau terlena dalam mendengarkan cerita-cerita orang, jika memang ingin seperti mereka dan lebih baik lagi, mulailah hari ini dgn mengerjakan sesuatu. Mulailah dgn hal yg kecil. Bisa dgn mulai baca-baca referensi di Internet. Bisa juga dimulai dgn self assessment, untuk bisa menentukan apakah betul tetap mau pindah jalur sebelum memulai segalanya. Karena mungkin setelah memulai tidak ada jalan kembali. There is no turning back. Bukan karena tidak mungkin untuk pindah jalur lagi, tapi karena hal sebelumnya yg gue sebutkan: konsistensi adalah kunci. Kalo kita selalu tidak yakin dan terus-terusan ganti bidang, kapan mau mulai fokus dan mengejar expertise di suatu bidang? Ayo lakukan hari ini juga, sekarang juga, mulai dgn hal yg kecil, tidak perlu investasi di awal, dan secara bertahap.
Single step at a time.
End of the tunnel
Terakhir, buat orang-orang yg ingin tahu apa hasil yg bisa dicapai di suatu hari nanti jika konsisten berkarir di networking, ujung perjalanan ini bisa saja menjadi seorang network architect, orang yg bisa mendesain solusi jaringan dan mengintegrasikan solusi dari berbagai produk. Bisa juga menjadi orang yg sangat specialist dan expert hanya di satu teknologi spesifik di networking, misal menjadi expert di bidang wireless network saja. Atau bisa terlibat dalam pembuatan produk networking dgn menjadi developer. Tentunya tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi manager, direktur, atau bahkan punya perusahaan networking sendiri.
Jadi apapun bisa, asalkan betul-betul menyukai dan meyakininya, mulai dgn hal yg kecil dan investasi secara bertahap, konsisten menjalaninya, membuat perencanaan-perencanaan dgn target untuk diri sendiri, dan lakukan mulai hari ini juga.
Sepertinya segini dulu. Mungkin nanti kalo gue nemu ide yg lain akan gue revisi dan tambahkan di sini. Semoga bermanfaat.