Tetaplah Bermimpi

September 28, 2007

Novel ke dua yg gue baca, masih karangan Andrea Hirata, adalah Sang Pemimpi. Terus terang gue bukan pembaca novel yg baik karena biasanya gue suka skip bagian-bagian tulisan yg panjang, dan sering mencari inti dari suatu paragraf atau suatu halaman maupun dari suatu bab. Mungkin kebiasaan baca buku teknikal yg biasanya cuma mencari penjelasan tentang suatu teknologi, lihat bagian contoh implementasi, terus cobain di lab. Sepertinya gue harus kembali belajar cara membaca novel yg baik dan benar :)

Ada satu bagian yg sangat menarik dari novel ini. Bagian yg sangat berkesan dan merupakan hal yg sudah lama gue ingin ungkapkan ke semua orang, dan Andrea dgn sangat jenius bisa menggunakan cerita yg memukau untuk mengungkapkannya. Diceritakan bahwa tokoh di novel ini sedang frustasi dan patah semangat, karena punya cita-cita yg tinggi untuk bisa menjelajah ke Eropa sampai ke Afrika, namun melihat bahwa kondisi dan realita yg dimiliki yg sepertinya tidak memungkinkan untuk mencapai hal tersebut. Tokoh ini menyadari bahwa sebagai remaja miskin di suatu pulau terpencil di Indonesia tidak akan mungkin bisa mencapai cita-cita tersebut hanya dengan menabung dari hasil kerja kasar membantu nelayan setiap hari. Dan ini membuatnya tidak bersemangat lagi untuk sekolah, tidak semangat untuk bekerja dan menabung, tidak semangat untuk terus bermimpi dan bercita-cita.

Saudara angkat sang tokoh memberikan kata-kata yg sangat mengesankan:
“…kemana semangat itu? Mimpi-mimpi itu?”
“…kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!”
“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”
“…kita tak akan pernah mendahului nasib kita!”
“Kita lakukan yg terbaik di sini! Dan kita akan berkelana menjelahi Eropa sampai ke Afrika!”
“…apapun yg terjadi!”

Kalimat indah di novel hasil karya anak bangsa. Kata-kata yg selalu ingin gue teriakkan ke semua orang. Bahwa segala sesuatunya harus dimulai dari mimpi dan cita-cita. Bahwa tidak ada seorangpun yg boleh menyerah dan berhenti bermimpi, walaupun kondisi yg sekarang kelihatan sama sekali tidak ada jalan untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Bahwa kadang hanya mimpi dan cita-cita sajalah yg bisa membuat kita untuk terus maju.

Bermimpilah untuk menjadi yang terbaik.
Bermimpilah untuk bisa kerja keliling dunia.
Bermimpilah untuk bisa memberi hidup ini arti.

Tetaplah bermimpi. Jangan mendahului nasib.
Dan sekali lagi, salut buat Andrea.

(gue sangat merekomendasikan untuk membaca novel ini. Selain sebagai tanda apresiasi untuk kejeniusan sastra anak bangsa, juga ceritanya sangat positif dan dapat memberi semangat dalam menghadapi tantangan hidup)

Bagaimana Untuk Memulai FAQ

September 22, 2007

Gue sering mendapat email dari orang-orang yg sedang mempertimbangkan untuk pindah jalur ke networking. Pindah jalur karena sebelumnya kerja di IT di bidang yg lain, misalnya sebagai programmer, atau pindah jalur karena pekerjaan yg sekarang tidak berhubungan dgn IT sama sekali. Pertanyaannya biasanya sama: buku apa yg harus dibeli? apa dulu yg harus dibaca? apa dulu yg harus dilakukan? apakah butuh beli lab? berapa gaji yg diterima? apakah karirnya menjanjikan? perlukah mengambil training? apakah saya terlalu tua untuk memulai? bisakah saya menjadi CCIE? dsb

Karena keseringan mendapat email seperti ini, gue mencoba membuat semacam FAQ, Frequently Asked Questions, untuk bagaimana caranya jika ingin memulai karir di bidang networking:

Semuanya dimulai dgn niat yg benar
Tanya ke diri sendiri, mengapa berniat ingin pindah ke jalur networking? Apakah betul-betul suka, atau cuma karena ikut-ikutan? Mungkin karena ingin gaji yg lebih tinggi, atau karena ingin jadi CCIE dan kerja di luar negri?
Jawaban semua pertanyaan ini simple: apapun yg kita kerjakan, jika kita benar-benar suka, akan bisa memberikan gaji yg tinggi atau bisa kerja ke luar negri. Banyak yg berpenghasilan tinggi tanpa harus jadi CCIE. Kuncinya adalah, lakukan hal ini hanya karena kita benar-benar suka dan meyakininya sebagai hal yg benar-benar kita inginkan. Banyak pilihan karir di IT selain networking. Bahkan mungkin hidup kita bisa jadi lebih baik dgn bekerja di bidang yg tidak berhubungan dgn IT sama sekali. Kalo niat pindah ke networking karena susah cari kerja di bidang yg lain, well, cari kerja di bidang networking pun susah kecuali expert di bidang ini. Dan kalo bisa expert di suatu bidang, bidang apapun, pasti bisa dapet kerja di bidang itu kan? (atau malah mampu menciptakan lapangan kerja)

Wanna be like me?
Sering gue terima email, saya ingin seperti pak Himawan, ingin kerja dan bepergian ke luar negri, ingin dapet gaji $$$ dan lain-lain.
Well, let me tell you one secret: Himawan is nothing. He’s just another guy. And his life is not as easy to understand as it looks like. I bet you won’t like his life style once you know it very well.
Apa yg terlihat dari luar mungkin tidak sebaik ketika kita berada di dalam. Rumput tetangga sebelah selalu lebih hijau. Cerita hidup orang yg berbeda dgn hidup kita selalu terdengar lebih mengasikan. Bukan berarti tidak boleh mempunyai keinginan untuk menjadi seseorang yg kita lihat atau dengar ceritanya, tapi mulainya dgn niat yg benar, kejar keinginan tsb setahap demi setahap dan pasang target untuk menjadi lebih baik dari orang tersebut

Self Assessment
Bertahun-tahun yg lalu gue menemukan suatu metoda yg gue sebut ’self assessment’. Baru akhir-akhir ini saja gue tahu kalo kata tersebut ternyata sudah ada di wikipedia. Hanya mungkin definisi gue sedikit berbeda. Metoda self assessment adalah suatu metoda untuk mempertanyakan diri sendiri apa yang sebenarnya ingin kita lakukan dan ingin kita capai dalam hidup ini, dgn melihat kemampuan yg sekarang kita miliki. Bukan hal yg baru memang, tapi seringkali tidak kita lakukan.
Carilah tempat yg tenang, tempat terbaik untuk berpikir, di waktu yg terbaik, dan mulailah mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke diri sendiri. Siapkan pulpen dan kertas untuk menuliskan jawaban-jawaban nya. Tentunya kunci dari keberhasilan metoda ini adalah kejujuran. Dan buat apa membohongi diri sendiri? Tanyakan pertanyaan ini: apakah gue benar-benar ingin menjadi seseorang yg bekerja, hidup dan bernafas, di bidang networking?
Apakah ada getaran semangat yg tinggi terasa di dalam diri ketika sedang membicarakan segala hal yg berhubungan dgn networking? Jika sudah melakukan ini dan jawabannya adalah ‘ya’, silahkan terus membaca.

Antara Usia dan Background
Gue tidak pernah percaya kalo ada orang yg terlalu tua untuk mulai belajar sesuatu. Gue juga tidak percaya seseorang harus memiliki background pendidikan formal di bidang tertentu untuk bisa bekerja di bidang tersebut. Jadi stop pertanyaan apakah saya terlalu tua (atau bahkan terlalu muda) untuk pindah jalur. Stop juga pertanyaan apakah saya bisa melakukan ini meskipun saya tidak punya ijazah sarjana ilmu komputer.
Gue sering ketemu dan melihat orang yg berusia lanjut yg tiba-tiba berpindah jalur. Dulu pernah satu ruangan dgn orang yg sudah 50 tahun ke atas tapi masih mau belajar networking. Pernah ketemu sama orang yg umurnya 30-an tiba-tiba ingin kerja di networking dan sekarang sudah jadi CCIE. Dan sudah banyak sekali bertemu teman-teman CCIE yg dulunya kuliah di akutansi, teknik mesin, ilmu ekonomi dll yg sekarang sedang bekerja sbg top notch engineer di berbagai negara. Gue sendiri termasuk orang yg tidak punya background kuliah yg berhubungan dgn komputer.
Buat gue, gelar sarjana yg berhubungan dgn bidang yg dikerjakan hanya bermanfaat untuk membantu pengurusan visa kerja atau residence permit. Tidak lebih. Dalam merekrut orang pun gue tidak pernah perduli dgn gelar sarjana yg dimiliki. Gue lebih memilih merekrut orang yg tidak selesai kuliah tapi memiliki keinginan dan kemauan yg sangat kuat untuk belajar dan menjadi lebih baik.

Terlalu sulit? Terlalu mahal?

Pak Himawan, apakah belajar networking sulit karena saya sudah tidak muda lagi atau tidak kuliah komputer? Dan bukahkan belajar networking itu mahal? Tidak ada hal yg sulit dipelajari, yg ada hanyalah hal-hal yg belum kita tahu. Belum kita tahu karena belum kita pelajari, atau karena kita tidak mau mempelajari. Dan selalu ada cara untuk mencapai tujuan dgn cara yg tidak mahal. Jadi kalo sudah baca sampai sini masih berkeinginan untuk pindah jalur juga, silahkan teruskan membaca :)

Mulailah dgn hal yg kecil

Yup, mulailah dgn hal yg kecil dulu. Perjalanan panjang selalu dimulai dgn langkah pertama. Jika dari hasil self assessment keinginan untuk pindah jalur ke bidang networking sangat tinggi, maka mulailah dgn membaca hal-hal yg berhubungan dgn networking. Banyak sekali informasi yg bisa didapat di Internet. Banyak sekali ebook yg bisa di download dari Internet. Banyak teman-teman yg sudah lama atau baru memulai karir di networking. Jadi langkah kecil pertama yg harus dilakukan adalah: miliki koneksi Internet! Pelajari cara mencari informasi dgn menggunakan Google.
Some people say, if google can’t find the answer it means it doesn’t exist. Bergabunglah dgn komunitas networking. Bentuk tim belajar dgn orang-orang yg memiliki keinginan dan berada di tahap yg sama. Mailing list seperti indocisco bisa sangat membantu, atau coba saja cari group-group lain yg lebih kecil di yahoogroups.
Satu buku yg sangat gue rekomendasikan untuk dibaca buat orang yg berkeinginan untuk pindah ke networking tanpa background sama sekali: Computer Networking First Step

Jangan investasi dulu di awal
Banyak orang yg bertanya: berapa uang yg harus saya miliki untuk memulai? Apa dulu yg harus dibeli? Saya punya uang sejumlah X bisakah jadi CCIE dan dapat kerja? Jawaban gue cuman satu: jangan pernah investasi dulu apalagi dalam jumlah besar di awal. Selalu mulai dgn hal yg kecil. Dan investasi dalam mempelajari ilmu tidak seperti investasi di bidang jual-beli. Apa yg diinvestasikan mungkin tidak akan langsung kembali dan kelihatan hasilnya. Ketika sudah ditekuni sekian lama baru mungkin ada orang yg tertarik memberikan kita pekerjaan. Jangan berpikir kalo menghabiskan uang sekian untuk belajar akan kembali dalam waktu sekian. Jadi jangan pernah langsung menghamburkan uang diawal-awal untuk membeli buku, lab, pergi ke training dgn harapan mencapai hasil maksimal dalam waktu singkat.
Rekomendasi gue dalam investasi awal: koneksi Internet. Semua informasi tersedia online. Jika memungkinkan, hal kedua yg bisa dibeli adalah komputer. Ini nanti dibutuhkan di tahap berikutnya jika ingin menginstall simulator untuk latihan.
Banyak orang yg merendahkan apa yg bisa dicapai dgn hanya satu komputer dan koneksi Internet. Tapi sebenarnya tidak terbayangkan apa yg bisa kita capai hanya dgn 2 hal ini. Yg harus mulai dipelajari: biasakan membaca dari layar komputer.

Antara formal dan tidak formal
Gue mencapai Triple CCIE dgn jumlah training formal yg bisa dihitung dgn jari. Training yg benar-benar menjadi awal perjalanan gue cuman training 5-hari ICND (CCNA). Selain itu gue juga pernah “dipaksa” untuk ikut training modul CCNP di luar negri oleh perusahaan, walaupun pada saat itu gue sudah lulus ujian CCIE written! Jadi bisa dibilang gue minim training untuk bisa lulus 3 ujian CCIE lab. Dan terus terang gue termasuk orang yg against official training, jika training itu: terlalu lama, atau instrukturnya tidak punya pengalaman di lapangan. Jadi jangan habiskan waktu lama hanya untuk mempelajari CCNA. Jangan pula mau diajarin orang yg cuma tahu cara berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi tanpa pernah melakukan project di kehidupan nyata. Daripada yg dua itu mendingan belajar sendiri di rumah. Yang dibutuhkan untuk belajar mandiri, lagi-lagi, hanya koneksi Internet dan komputer pribadi jika memungkinkan. Materi sudah banyak yg bisa di download di Internet, atau mungkin bisa dapat dari teman belajar atau milis.

Sertifikasi bagus, tapi pengalaman adalah segalanya
Dulu banyak yg bilang, buat apa punya sertifikat. Yg paling penting adalah pengalaman! Ini betul. Walaupun kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa memiliki sertifikat adalah suatu keharusan karena hampir semua perusahaan networking mensyaratkan hal ini sbg seleksi pertama. Kalo sudah punya pengalaman, kenapa tidak ambil sertifikasi? Toh harusnya gampang. Apalagi banyak personil Human Resource yg menseleksi resume atau CV para pelamar hanya dari sertifikasi yg dimiliki.
Dan buat orang yg tidak punya background ilmu komputer spt gue, jenjang sertifikasi ini sangat memudahkan dalam mempelajari sesuatu. Mau tahu networking di Enterprise customer, mulai saja dgn belajar CCNA, CCNP, sampai CCIE di track Routing & Switching. Ingin belajar MPLS, mulai saja dgn CCIP terus ke CCIE di track Service Provider. Dan karena sertifikasi ini sudah distandarkan dan diakui secara internasional, orang Indonesia yg baru lulus CCIE akan memiliki level yg sama dgn orang dari negara lain yg baru lulus CCIE juga. Yang membedakan, adalah pengalaman. Yg bisa menjadikan pembeda, adalah soft skill dan hal-hal lain di luar skill technical. Jadi, mulai saja dgn sertifikasi tapi setelah itu pengalaman dan exposure kerjaan menjadi hal yg lebih penting. Jika perlu, di awal-awal perjalanan kita bisa minta kerja magang atau tidak digaji sama sekali di perusahaan networking kecil sekalipun, hanya untuk mendapat pengalaman.
O ya, jika ingin tahu jenjang sertifikasi yg ada di Cisco, tolong jgn langsung tanya ke gue. Coba dulu baca-baca di websitenya terus kalo ada yg gak ngerti baru bertanya. Gue juga tidak punya informasi ttg perusahaan yg menyediakan pekerjaan magang dan lain-lain. Bentuklah komunitas dan coba bertemu banyak orang di bidang networking untuk mendapat informasi seperti ini.

English is inevitable

Bahasa inggris adalah bahasa yg tidak bisa dihindarkan untuk mempelajari networking. Kita memang tidak seperti teman-teman di Malaysia atau India yg sudah terbiasa dgn bahasa inggris sbg second languange, tapi ini juga bisa dipelajari pelan-pelan. Tidak perlu dimulai dari fluency dalam conversation, tapi minimal bisa membaca referensi yg ditulis dalam bahasa inggris. Karena jangan berharap semuanya sudah diterjemahkan. Buku-buku terjemahan mungkin tidak banyak dan tidak sesuai dgn aslinya. Teman-teman dari ilmukomputer.com sudah melakukan hal yg superb dgn menyediakan referensi ttg, sesuai namanya, ilmu komputer dalam bahasa Indonesia tapi pada suatu titik membaca dalam bahasa inggris tidak bisa dihindarkan. Website Cisco sendiri memiliki banyak informasi dan semuanya ditulis dalam bahasa inggris tentunya. Ebook yg bisa diperoleh dgn mudah juga semuanya dalam bahasa inggris. Termasuk RFC dan berbagai hal lainnya.
Setelah bisa membaca, tahap berikutnya menulis. Karena mungkin kita perlu berkorespondensi atau kirim-kiriman email dgn orang lain di luar negri. Setelah itu adalah bisa mendengarkan dalam bahasa inggris. Karena mungkin suatu ketika kita mengikuti seminar dan yg presentasi orang bule, atau juga ketika kita ingin mengikuti web-based maupun video-on-demand training. Kalo sudah sampai tahap ini, mulailah belajar ngomong dalam bahasa inggris, jadi bisa berkomunikasi dan bertanya dalam seminar atau training tsb.

Jika tetap harus membeli
Jika memang harus membeli, dan gue asumsikan sampai tahap ini memang sudah benar-benar yakin untuk all out di networking, maka belilah pelan-pelan dan secara selektif. Barang yg dibeli pun tidak perlu baru. Yg pertama yg harus dibeli tentunya koneksi Internet. Setelah itu komputer. Apakah PC ataupun notebook ini tergantung gaya hidup kita. Jika berpindah-pindah seperti gue tentunya notebook akan lebih praktis. Dan tidak perlu beli yg baru. Atau beli yg terlalu canggih. Jika memungkinan sebaiknya memang beli PC yg powerful, dgn banyak memori. Karena di tahap berikutnya kita butuh untuk menginstall simulator atau emulator spt dynamips untuk mensimulasikan Cisco IOS mapun networking secara lengkap. Tapi jika tidak mampu jgn paksakan dgn langsung membeli di awal-awal, selalulah mulai dgn hal yg kecil. Jadi mulai saja dgn nongkrong di warnet setiap malam. Setelah punya uang sedikit bisa beli PC bekas dan koneksi Internet di rumah. Kalo sudah punya uang lebih banyak baru beli PC atau notebook yg lebih bagus. Dan beli buku hanya jika tidak ada ebooknya. Walaupun sepertinya hampir semua buku sudah ada ebooknya yg bisa di download. Daripada beli buku mungkin lebih baik beli printer, jika kita merasa sulit untuk membaca dari monitor komputer. Meskipun membaca langsung dari layar adalah hal yg sulit untuk dihindari.
Dan jika memang harus tetap membeli peralatan networking yg sebenarnya, misalnya membeli security device spt Firewall dan IDS untuk belajar CCIE security, gunakan ebay. Beli barang bekas dari seller yg terpecaya. Tentunya belajarlah terlebih dahulu cara mencari barang dan bertransaksi di ebay. Cara lain yg bisa ditempuh selain beli networking hardware beneran adalah dgn cara rental di online lab yg banyak tersedia di Internet. Tentunya memiliki hardware beneran ada keuntungannya karena bisa kita jual kembali setelah kita selesai belajar dgn hardware tsb.

The art of making plan
Ok, gue termasuk orang ‘right now’, orang yg hidup untuk hari ini (dalam hal pekerjaan, gue pikir ini karena salah satu bakat gue adalah adaptability) dan sulit untuk membuat perencanaan jangka panjang dalam berkarir. Tapi tetap saja, perencanaan itu penting. Gue mungkin tidak bisa menjawab jika ditanya 5 tahun lagi ingin jadi apa. Namun minimal kita punya rencana-rencana jangka pendek. Bikinlah rencana dan pasang target untuk diri sendiri. Misal, dulu gue bikin rencana kapan akan lulus CCNA, terus kapan ujian modul-modul CCNP. Pada saat ditengah-tengah CCIE journey gue, gue bikin perencanaan kapan gue harus sudah mengerti topik tertentu, kapan apply visa, kapan bayar lab dan seterusnya. Jadi bikin perencanaan untuk 6 bulan ke depan dalam belajar. Pasang target dan check point untuk memastikan kita selalu on track. Setelah rencana selesai bikin rencana baru untuk 6 bulan berikutnya.
Gue sering dapet pertanyaan, saya sedang belajar CCNA dan ingin jadi CCIE, apa yg harus saya lakukan? Gampang, lulus aja dulu CCNA! Ngapain mikir panjang-panjang jika yg ada di depan mata saja belum selesai dilakukan. Be in the moment. Do the obvious. Setelah selesai CCNA, mulai kejar modul CCNP satu persatu. Kemudian ujian CCIE written. Baru persiapan buat ujian CCIE lab. Hidup jadi gampang kan kalo semuanya direncanakan namun dikerjakan satu per satu sesuai dgn keadaan yg sedang dihadapi? Dan ingat, target ini dibuat oleh diri sendiri untuk diri sendiri. Tidak akan ada orang lain yg menilai. Semuanya ada ditangan kita sendiri.

Kesabaran dan konsistensi adalah kunci
Ada seseorang jago kungfu tangan kosong yg ingin belajar ilmu pedang dari master ilmu pedang yg tidak ada duanya di dunia. Setelah menempuh jarak yg jauh dan medan yg sulit untuk bertemu sang master, sang jagoan berlutut di depannya dan bertanya: “master, jadikan saya muridmu. Saya sudah memiliki ilmu kungfu dan ingin belajar dari sang maha master pedang sendiri. Berapa waktu yg saya butuhkan untuk menjadi master di ilmu pedang?”. Sang master, biasanya digambarkan sbg kakek tua berambut putih panjang yg sedang bersila, tanpa membuka mata menjawab “5 tahun”. Si jago kungfu kecewa karena berharap bisa menjadi ahli pedang dalam waktu yg lebih singkat, terutama karena dia merasa punya background kungfu dan keinginan yg sangat kuat, kemudian bertanya lagi “master, saya tidak akan melakukan hal lain dalam hidup selain berlatih ilmu pedang. Saya akan patuh dan mengikuti perintah master. Hanya berhenti latihan untuk makan dan tidur. Berapa waktu yg saya butuhkan untuk menjadi master di ilmu pedang?”. Sang master, tetap tanpa membuka mata, menjawab “10 tahun”.
Cerita ini gue lupa ambil dari mana tapi punya inti cerita yg sama dalam belajar apapun: kesabaran adalah kunci. Jangan terlalu bernafsu untuk dapat mempelajari sesuatu dalam waktu singkat. Pelajari saja dan ikutin alur belajar dgn semangat. Pasang target seperti di atas dan lakukan selangkah demi selangkah: CCNA, terus ke CCNP, terus ke CCIE written dan seterusnya. Setelah lulus CCIE pun mungkin masih belum puas bisa terus dilanjutkan ke track yg lain atau sertifikasi dari vendor yg lain jika perlu. Suatu saat nanti, mungkin pada saat melihat ke belakang kita akan kaget sendiri dgn hasil yg sudah dicapai. Mungkin akan kaget sendiri karena tiba-tiba ada banyak orang yg menawarkan pekerjaan.
Dan tentunya semuanya harus dikerjakan secara konsisten. Dulu waktu sekolah sering orang bilang lebih baik belajar sejam tiap hari ketimbang belajar 24 jam langsung tepat sehari sebelum ujian. Ini sangat betul. Dalam belajar cobalah untuk konsisten setiap hari. Jangan belajar sampai bergadang hari ini tapi terus masuk angin dan gak belajar sampai seminggu. Coba mulai dgn belajar dan membaca materi networking minimal satu atau setengah jam sehari, namun konsisten dilakukan setiap hari. Setelah terbiasa, naikkan jam belajar menjadi 2 jam. Jadikan belajar sebagai habit. Dulu waktu belajar CCIE, sebelum nge-lab yg extensive, biasanya gue belajar 4 jam sehari. Dan ini bisa dilakukan meskipun kita kerja di bidang lain siangnya ataupun sudah berkeluarga. Rahasianya: kurangi jam tidur. Dulu gue belajar mulai jam 10 malem sampai jam 2 pagi, setelah anak istri sudah tidur, setiap hari selama berbulan-bulan. Pada saat deket-deket waktu ujian lab malahan bisa jauh lebih banyak dari itu. Tapi tetep ingat, mulailah dari yg kecil. Setengah jam atau satu jam sehari di awal-awal itu sudah cukup, asal konsisten.

Just do it! Single step at a time

Setelah sampai sini, dan masih punya keinginan yg kuat untuk terjun ke networking, ya mulai lah kerjakan! Jangan cuma membaca atau terlena dalam mendengarkan cerita-cerita orang, jika memang ingin seperti mereka dan lebih baik lagi, mulailah hari ini dgn mengerjakan sesuatu. Mulailah dgn hal yg kecil. Bisa dgn mulai baca-baca referensi di Internet. Bisa juga dimulai dgn self assessment, untuk bisa menentukan apakah betul tetap mau pindah jalur sebelum memulai segalanya. Karena mungkin setelah memulai tidak ada jalan kembali. There is no turning back. Bukan karena tidak mungkin untuk pindah jalur lagi, tapi karena hal sebelumnya yg gue sebutkan: konsistensi adalah kunci. Kalo kita selalu tidak yakin dan terus-terusan ganti bidang, kapan mau mulai fokus dan mengejar expertise di suatu bidang? Ayo lakukan hari ini juga, sekarang juga, mulai dgn hal yg kecil, tidak perlu investasi di awal, dan secara bertahap.
Single step at a time.

End of the tunnel
Terakhir, buat orang-orang yg ingin tahu apa hasil yg bisa dicapai di suatu hari nanti jika konsisten berkarir di networking, ujung perjalanan ini bisa saja menjadi seorang network architect, orang yg bisa mendesain solusi jaringan dan mengintegrasikan solusi dari berbagai produk. Bisa juga menjadi orang yg sangat specialist dan expert hanya di satu teknologi spesifik di networking, misal menjadi expert di bidang wireless network saja. Atau bisa terlibat dalam pembuatan produk networking dgn menjadi developer. Tentunya tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi manager, direktur, atau bahkan punya perusahaan networking sendiri.
Jadi apapun bisa, asalkan betul-betul menyukai dan meyakininya, mulai dgn hal yg kecil dan investasi secara bertahap, konsisten menjalaninya, membuat perencanaan-perencanaan dgn target untuk diri sendiri, dan lakukan mulai hari ini juga.

Sepertinya segini dulu. Mungkin nanti kalo gue nemu ide yg lain akan gue revisi dan tambahkan di sini. Semoga bermanfaat.

Bukan Dewa, Guru atau Batman

September 16, 2007

Salah seorang rekan dari Cisco India sering membaca blog gue yg lain dan ternyata sangat terinspirasi dgn kelulusan gue di CCIE lab track SP untuk menjadi Triple CCIE. Sehingga dia sempat mengirim email ke group Cisco yg lain di India, dgn kata-kata:
“..I visit a blog (almost daily) of Himawan Nugroho. He just cleared his Triple CCIE. For me he is my role model. I aspire to be him. For me he is indeed GOD on earth..”
Email tersebut gue forward ke milis ccieindo, dan semenjak itu teman-teman CCIE suka mengolok-ngolok gue dgn panggilan Manusia Setengah Dewa. Jadi kalo misalnya suatu ketika baca atau mendengar ada yg bilang bahwa CCIE itu dewa, jangan langsung tersinggung dan menuduh arogansi. Itu semua hanya karena ada orang yg terlalu terinspirasi yg kemudian berkembang menjadi lelucon, tidak lebih.

Dan seolah-olah ingin menunjukkan kenyataan bahwa gue bukan dewa, beberapa hari yg lalu gue jatuh sakit di Kuala Lumpur. Sepertinya tubuh gue akhirnya sadar bahwa gue juga bukan batman. Sehingga dengan gaya hidup traveling yg tidak sehat, tidur yg kurang, makan yg gak jelas dan gak teratur, akhirnya gue tumbang juga. Untungnya malem itu gue masih bisa terbang balik ke Singapore, kemudian paginya gue terbang ke Jakarta dan bed rest selama 3 hari di Bandung. Sakit di negara orang itu paling gak enak, apalagi kalo sendirian. walaupun biaya pengobatan maupun rumah sakit ditanggung sama Cisco tapi tetap saja yg paling enak itu dirawat sama keluarga sendiri di rumah.
Yup, gue memang bukan batman.

Selama gue sakit gue sempet membaca novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Selain karena gue memang tidak bisa ngapa-ngapain bahkan untuk buka email aja pusing, gue juga sedang mulai berusaha mengapresiasi hasil karya anak bangsa, yg memang mengagumkan, plus berusaha get a life dgn cara hidup di luar console. Novel itu membuat gue teringat kembali akan pendidikan yg pernah gue terima di masa kecil. Banyak orang bilang, guru kita waktu kecil itu adalah orang yg sangat berjasa. Bahkan paling berjasa di antara guru-guru yg lain. Karena guru di awal-awal sekolah adalah orang yg memperkenalkan kita akan cara berkomunikasi antar manusia, dgn mengajarkan membaca dan menulis. Guru di masa kecil adalah orang-orang pertama yg membuka mata kita akan dunia pengetahuan. Orang yg memperkenalkan kita kepada cara berpikir yg terbuka. Guru, tanpa keraguan, adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Gue, tentu saja, bukan seorang guru.

Walaupun banyak orang yg mengirim email ke gue, ingin belajar dan berguru tentang ilmu networking ataupun cara menjadi CCIE, gue tetap bukan guru. Gue memang bisa mengajarkan materi networking atau membuat seseorang bisa sampai lulus CCIE, tapi itu tidak membuat gue menjadi seorang guru.
Gue lebih suka disebut mentor.

Gue hanya bisa memberikan panduan. Gue bisa memberikan guidance, arah dan pedoman dalam belajar. Dan semuanya berdasarkan pengalaman yg sudah gue jalanin. Gue bisa memberikan arahan agar seseorang bisa lulus Triple CCIE karena gue sudah pernah menjalaninya. Hanya itu. Gue bukan guru, hanya pemandu. Hasil akhirnya tergantung dari orang yg ingin belajar. Hasilnya akan menjadi seperti apa tergantung individu yg mau dipandu. Gue seperti Morpheus yg berkata ke Neo: “I can only show you the door, you are the one who has to walk through it”

Jadi jangan panggil gue dewa atau guru, apalagi batman.

Dan hari Minggu ini, hari ke-4 puasa, gue akhirnya sudah bisa bangun dan kembali ke kehidupan gue yg biasa: berpindah dari satu tempat ke tempat yg lain. Gak ada yg baru kecuali mungkin karena gue menjalaninya sambil tetap puasa.
Perjalanan gue hari ini yg (mungkin) menarik:

04.00 Sahur di Bandung
06.00 Bawa mobil ke Jakarta
09.00 Parkir mobil di rumah ortu, ambil taksi ke airport
12.00 Naek pesawat ke Singapore
15.00 Nunggu pesawat berikutnya di Changi, maen xbox
17.00 Naek pesawat ke Kuala Lumpur
18.00 Naek kereta ke sentral KL, trus naek taksi
19.00 Buka puasa, masih di taksi yg menuju ke hotel
Dapet kurma dari supir taksi buat berbuka
20.00 Dinner di hotel, meeting sama rekan-rekan
Terus ketiduran dan gak sahur walau ada workshop besoknya

Nyetir, terbang 2 kali, naek kereta, naek taksi 2 kali.
Puasa 15 jam, empat kota besar, tiga negara, tiga airport.
Selamat berpuasa buat semua yg menjalani.

Breaking the Myths

September 2, 2007

Masih berkaitan dgn posting gue yg lalu, yg buat sebagian orang mungkin terkesan arogan. Yup, there is a thin line between being opened and being arrogant. Gue hanya tidak yakin gue bisa berhenti sebelum meneriakkan pesan-pesan ini buat semua orang Indonesia. So let’s break the myths, mitos-mitos yg biasanya ada di kepala kita karena kondisi dan keadaaan, dan juga karena pengaruh pola pikir orang-orang di sekitar kita.

It was not because of luck
Gue rasa ini sudah dibahas panjang di posting gue sebelumnya. It was not because of luck. Semua hal bisa dicapai dgn kerja keras, dedikasi, strategi, pengorbanan dan lain-lain. Dan ketika waktunya tiba, kita harus mengambil keputusan yg mungkin terlihat sulit pada saat itu harus diputuskan, yakini keputusan itu dan terima semua konsekuansi.

Chance must be created, not to be waited
Kesempatan bisa diperoleh jika kita berusaha untuk menciptakannya. There is no such thing as free lunch. Kalo tidak berusaha jangan menyalahkan orang lain atau berkata bahwa seseorang dapat kesempatan yg lebih baik dari kita. Mari lihat apa yg kita ingin capai, kesempatan seperti apa yg kita butuhkan, dan mulailah membangun strategi dan rencana untuk bisa mendapat kesempatan itu

Asking question won’t show our weakness

Bertanya itu bukan suatu kelemahan. Jujur saja, gue sering melihat persepsi yg salah ini di banyak orang Indonesia yg gue temui. Tentunya kita juga harus belajar bertanya yg benar. Informasi adalah hal paling mahal saat ini, pastikan kita tahu cara mendapat informasi. Dan bertanyalah setelah kita melakukan homework, googling dan research. Ajukan pertanyaan yg tepat kepada sumber yg tepat.

Everyone needs help sometime, even Spiderman
Ucapan MJ ke Peter Parker aka Spiderman ini bener banget. Kita tidak bisa hidup sendirian. Jadi tidak ada salahnya minta tolong ke orang lain. Join community. Saling membantu. Saling share informasi. Jika kita tau sedikit lebih banyak ttg sesuatu, sampaikan ke orang lain, dan kita akan mendapat lebih banyak lagi dari orang lain. Jangan takut untuk tersisihkan karena berbagi informasi. Hal ini seharusnya menjadi pemicu untuk terus belajar, dan bisa memberikan informasi lebih banyak buat yg lain.
“Sampaikanlah walaupun hanya satu IOS command”.

We are not inferior nation
Jangan pernah coba-coba bilang ke gue kalo Bule pasti lebih jago dan punya skill lebih dari kita. Selama sekitar 6 tahun gue hidup di luar negri dan bekerja dgn orang-orang dari berbagai negara lain, gue tahu persis bahwa orang-orang Indonesia itu tidak kalah. Bahkan IT engineer kita lebih jago karena biasanya tahu berbagai disiplin ilmu sekaligus. Kelemahannya cuman satu: perasaan minder.
Stop thinking like that, we are not an inferior nation. We can be anything, we can even go to the moon if we want to.

It’s all about impression
Masih berkaitan dgn point sebelumnya, kenapa Cina dan India mendapat predikat sebagai negara penghasil IT engineer terbaik? Karena persepsi. Beberapa orang dari mereka bekerja sangat keras dan dunia menganggap bahwa mereka semua seperti itu. It’s all about impression. We have to believe in ourselves, and nothing is impossible. The boundary of our ability is in our mind. Pada saat kita bekerja di luar negri atau dgn orang dari negara lain, perlihatkan bahwa bangsa kita tidak kalah. And we all have potential to become the “marketing agent” for our country.

Comfort Zone is dangerous
Comfort Zone adalah suatu posisi dimana kita merasa sangat nyaman dalam hidup. Beware, it’s a very dangerous zone. Pada saat kita merasa nyaman dgn apa yg kita dapatkan biasanya kita akan berhenti untuk berjuang. Biasanya kita menjadi terlena. Banyak orang yg merasa comfort zone is the end of life, the end of the tunnel. Jika memang berpikiran seperti itu, ya silahkan. Tapi jika kita masih ingin hidup di dunia IT yg pace nya sangat cepat, berhenti di comfort zone berarti berpotensi untuk tersisihkan. Silahkan ambil keputusan dan terima konsekuensinya jika memang ini yg diinginkan.

Shortcut is evil
Untuk terus menyemangati hidup kita, selalu baca-baca ttg sejarah hidup orang lain. Coba analisa bagaimana seseorang itu bisa mencapai apa yg dia raih sekarang. When we look at a successful band like Ungu, try to see what they have been trough to achieve it. Konser musik yg sangat bagus selama 2 jam barangkali adalah hasil bebulan-bulan latihan dan perencanaan yg matang. Tidak pernah ada shortcut atau jalan singkat. Jangan pernah bermimpi untuk hidup mewah ala sinetron tanpa ada perjuangan.

Envy, on the other hand, is good if you know why

Gue sering bilang ke orang-orang “perasaan iri itu bagus”. Envy is even better. Merasalah iri ke gue, atau ke Pasha Ungu, ke teman-teman Indo yg kerja di luar negri, atau ke orang-orang lain yg lu pikir berada di kondisi idaman atau posisi yg lebih baik. Mengapa bagus? Karena butuh rasa iri untuk memacu semangat. Jadikan perasaan envy itu sebagai hal yg positif. Dan tentunya jgn sampai iri tidak beralasan. Atau jatuh sakit karena melihat orang lain berada di kondisi yg lebih baik :) Punyalah rasa iri dan ingin menjadi seperti orang yg kita envy dgn cara berjuang tentunya.

Everyone needs something to be proud of

Hiduplah dengan memiliki suatu kebanggaan. Sekali lagi, ada garis tipis untuk menjadi pamer atau arogan. Tapi tanpa kebanggaan, sulit untuk mencapai apa yg kita inginkan. Kejarlah kebanggaan itu. Setelah tercapai, nikmati sejenak dan mulailah mengejar kebanggaan yg lain.
Gue merasa belum sukses dan belum mencapai apa-apa. Gue juga belum merasa sudah menjadi expert. Namun gue bangga bisa menjadi orang Indonesia pertama yg jadi Triple CCIE. Gue bangga dgn semua usaha yg sudah gue lakukan untuk mencapai itu. Menurut Cisco, per Agustus 2007 hanya ada 200-an orang di dunia yg punya 3 CCIE atau lebih. Banggalah dan berhenti sejenak untuk menikmatinya. Setelah itu? Mari kejar kebanggaan lain.

I think that’s all for now.

Dan buat yg tertarik ingin tahu bagaimana perjalanan Triple CCIE gue dalam 6 tahun, dimulai dari lab pertama di Brussels 13 Agustus 2001 sampai ke lab terakhir di Brussels juga 13 Agustus 2007, bisa baca Triple CCIE, History in the Making di blog gue yg lain.