It Was Not Luck

August 25, 2007

Sebelumnya gue minta maaf kalo posting ini terkesan arogan.

Setelah gue lulus CCIE SP lab, gue banyak menerima email yg mengucapkan selamat. Mulai dari orang-orang di Cisco, teman-teman yg dulu di Dubai, dan dari orang-orang di berbagai negara yg suka baca blog brokenpipes dan mengikuti CCIE SP journey gue, mulai dari Middle East, Europe, Australia dan New Zealand, dari negara-negara Asia seperti Malaysia, India dan Singapore, dari US, sampai ke negara Amerika Latin seperti Peru dan Chili. Dan tentunya dari orang-orang Indonesia juga.

Ada beberapa email yg datang dari orang-orang Indonesia, yg sempat bikin kening gue berkerut dan agak marah juga. Mereka menyatakan dalam emailnya, setelah mengucapkan selamat, bahwa “gue adalah orang yg beruntung”. Gue beruntung “karena bisa kerja di luar negri”, beruntung “karena bisa dapat kesempatan untuk jadi CCIE”. Intinya, gue beruntung karena bisa dapat kesempatan untuk bisa mencapai apa yg bisa gue raih sampai hari ini, dan mereka tidak.

Ini menurut gue merupakan suatu pola pemikiran yg aneh dan lucu. Dan gue marah bukan karena merasa tersinggung, tapi karena merasa bagaimana mungkin ada orang yg bisa berpikiran seperti itu. Jika orang-orang Indonesia berpikiran seperti itu, bagaimana mungkin negara kita bisa maju?

Banyak adik-adik kita yg juara kompetisi Olimpiade Fisika Internasional dan mereka tidak mencapainya dgn luck. Banyak teman-teman Indonesia yg sekarang kerja di top tier company di Silicon Valley di US, dan mereka bekerja sangat keras untuk bisa mencapai itu. Sangat banyak orang-orang Indonesia lain yg tinggal di luar negri, bekerja dan dikenal karena berada di posisi penting, dan gue yakin itu semua bukan karena diberikan kepada mereka.

It was not because of luck. It was not given. It was not a gift.
It was dedication, hard work, strategy, make sacrifice and so on.
And when the time is right, make a decision and stick with it.

Gue tidak bermaksud menepikan faktor dari yg di atas. Gue tahu, semuanya terjadi karena kehendak dan ijin-Nya. Tapi jika kita tidak berusaha, dan selalu berkata bahwa ”ini adalah takdir-Nya”, bahwa ”ini sudah ditentukan oleh-Nya”, bukankan ini sama saja dgn menghina sang Pencipta karena kita tidak mengoptimalkan otak dan energi yg sudah diberikan kepada kita, dan kita selalu menyalahkan Dia ketika terjadi hal yg menurut kita buruk, always blame Him when there is something wrong in our life?

Gue pribadi, di hari ujian CCIE SP minggu lalu, pada saat mulai melangkah keluar dari hotel jam 4 pagi menuju kantor Cisco di sepanjang jalan tidak berhenti melakukan Dzikir. Tapi gue tidak meminta untuk lulus jika gue tidak berusaha. Gue tidak meminta lulus tanpa usaha sebagai bukti kebesaran-Nya. Gua bilang di dalam doa, bahwa gue sudah melakukan apa yg gue bisa lakukan dgn waktu yg tersedia, dan gue masih yakin kalau gue bisa lulus. Gue minta diluluskan secara adil, gue minta lulus kalau gue memang berhak untuk lulus. Dan gue sangat memohon agar Dia menjaga semua hal yg bisa membuat gue gagal yg diluar kekuasaan gue, misalnya hardware di lab yg tiba-tiba bermasalah dan lain-lain. Gue masih ingat apa yg gue minta: I don’t want to pass because I didn’t work on it but it’s given by you. I want to pass because I deserve it, and I really need your help to keep all external factors that can fail me.

Sampai sini, gue tahu posting ini benar-benar terkesan arogan. Kalo tidak suka, tidak perlu meneruskan membaca. Tapi gue benar-benar butuh untuk berkata bahwa kita bisa mencapai apapun yg kita inginkan tanpa perlu menyalahkan faktor-faktor lain

Dulu itu memang gara-gara project, terutama 2 minggu sebelum ujian lab, yg tidak berhenti-berhenti dan bikin jam belajar makin sedikit sempet terbesit rasa frustasi. Seminggu sebelum ujian gue harus mengadakan workshop di Malaysia sendirian dan barangkali itu adalah minggu terberat yg membuat gue benar-benar kehabisan waktu untuk belajar. Saat bercanda, gue selalu bilang ke orang-orang ‘gue ke Brussels cuma mau ngambil soal ujiannya doang’.

Tapi gue tidak mau menyerah begitu saja. Begitu hari rabu malem workshoop selesai, gue langsung tancep gas belajar dan tidak tidur sama sekali. Kamis siangnya gue terbang balik ke Singapore. Gue ingat tidur cuma di taksi dan pas di pesawat. Sampai Singapore lanjut terus ngelab, terus jum’at malem terbang ke Brussels. Masih ingat kalo gue sempat nge lab di London Heathrow airport pas transit, dan hampir ketinggalan pesawat gara-gara keasikan nyobain Multicast inter-AS!

Sampai Brussels sabtu pagi ternyata di hotel internetnya gak beres, ya udah gue langsung nongkrong di kantor cisco dari sabtu itu. Gue cuma makan apapun yg bisa dikorek-korek di kantor Cisco, mulai dari buah-buahan, coklat-coklat dan permen yg sebenarnya buat tamu, dan soft drink. Di hari ujian hari senin jam 4-5 pagi gue juga sudah nongkrong di kantor Cisco, masih nyobain beberapa fitur sampai jam 7 an ketika CCIE candidate lain mulai datang.

So keep fighting until the last minute. Biarpun waktu mepet atau keliatannya kita tidak diuntungkan oleh keadaan, tapi usahain perjuangkan sampai detik terakhir. Dan kita adalah kita karena keputusan-keputusan yg kita ambil. Keputusan untuk tidak menyerah, keputusan untuk terus berjuang. Take a decision and stick with it.

Intinya, jika kita berkata bahwa kita tidak seberuntung orang, mungkin kita harus mulai melihat bagaimana orang lain itu berusaha untuk mencapai hasil yg diperoleh. Pada saat kita merasa bahwa seseorang punya kesempatan yg lebih baik dari kita, mari coba lihat apa yg dia lakukan untuk menciptakan kesempatan. Mungkin itu bukan luck, bukan juga karena dia dapat kesempatan yg lebih baik. Jika seseorang tidur-tiduran di rumah, bagaimana mungkin dia boleh berharap untuk mendapat keberuntungan dan kesempatan?

Gue tidak yakin IBM dulu mau mensponsorin gue CCIE lab jika mereka tidak melihat potensi dan keinginan gue yg menggebu. Gue tidak yakin bisa dapat kepercayaan waktu bekerja di Middle East jika bukan karena dedikasi. Dan gue juga tidak yakin akan bisa masuk Cisco Advanced Services jika gue tidak membuat profil CV gue dan mengerjakan project-project sulit, termasuk mengambil CCIE gue yg ke-2 hanya untuk memperlihatkan bahwa gue juga layak untuk masuk ke team. Gue berusaha keras untuk mendapatkan keberuntungan dgn menciptakan kesempatan. Kemudian ketika offer dari Cisco AS benar-benar datang, gue mengambil keputusan, percaya sepenuhnya kepada keputusan itu, dan bersedia menanggung semua konsekuensi dari keputusan yg gue ambil.

Apalagi gue bukan termasuk orang yg percaya akan undian. In fact, gue belum pernah menang undian dalam hidup gue. I believe there is no such thing as free lunch. Semuanya bisa dicapai dgn kerja keras, dedikasi, strategi, dan pengorbanan. Dan tentunya, pengambilan keputusan yg mungkin terlihat sulit pada saat itu harus kita ambil.

Sekali lagi mohon maaf kalo posting in terkesan arogan.
Dan selamat ulang tahun Indonesia.

Triple CCIE!

August 14, 2007

Alhamdulillah. Thanks, God.

Hanya ini yg bisa gue ucapkan berulang-ulang ketika membaca hasil ujian gue beberapa jam yg lalu. Gue lulus. Tidak ada keterangan berapa score yg diperoleh. Karena CCIE memang seperti itu. Lulus atau gagal. 1 atau 0. Jika gagal, Cisco cukup berbaik hati untuk memberi tahu score kita sehingga kita bisa melakukan evaluasi dan melihat kelemahan yg harus diperbaiki di ujian berikutnya.

Against-the-all-odds I really passed in my first attempt. Walaupun dgn hanya 2 bulan persiapan. Walaupun dgn jadwal yg sangat padat. Walaupun dengan jam tidur yg sangat sedikit. Walaupun dgn frekuensi penerbangan tinggi yg kadang-kadang bikin bingung mengikuti local time dan juga local currency.

Buat sebagian orang lulus CCIE mungkin bukan hal yg luar biasa. Lulus di first attempt juga mungkin bukan hal baru. Tapi buat gue ini significant achievement. Apalagi dgn semua hal yg terjadi belakangan ini yg membuat CCIE jadi terlihat sulit untuk dicapai.

Gue berharap dgn men share pengalaman gue mengambil CCIE lab akan bisa memberi semangat buat teman-teman yg juga berminat untuk ujian. Seperti yg pernah gue bilang,

It’s not a matter of resources.
It’s not a matter of time.
It’s not a matter of support from the company.

Masih banyak lagi yg ingin gue tulis tapi sepertinya gue harus banyak istirahat sebelum terbang 16 jam untuk kembali ke Singapore. Gue harus kembali ke project dan jadwal yg padat.
Gue harus kembali ke realita.

CCIE was the only place where the world makes sense.
Sepertinya gue harus menemukan realitas baru.

And once again, Alhamdulillah.

Kegagalan adalah Kegagalan

August 13, 2007

Belum, gue belum gagal. Gue baru aja selesai ujian lab dan sekarang masih nunggu hasilnya. Mungkin hasilnya akan keluar nanti malam. Mungkin baru keluar besok.

Gue sengaja nulis ini untuk mengingatkan gue sendiri jika hasilnya nanti ternyata adalah gue gagal, bahwa apa yg sudah gue kerjakan ini sudah merupakan hasil maksimal yg bisa dicapai dgn waktu yg tersedia. Gue tidak mau mencari-cari kambing hitam. Gue tidak mau menggunakan kalimat: kegagalan adalah keberhasilan yg tertunda. Kegagalan adalah kegagalan. Gue boleh gagal tapi gue bangga dgn apa yg sudah gue kerjakan. Dan berikutnya? Tentunya evaluasi. Mencari tahu kelemahan yg menyebabkan kegagalan.

Sampai hari ini jam tidur gue masih berantakan. Di pesawat gue cuman tidur beberapa jam. Penyebabnya tentu karena ada.. Movies on demand! Selain itu juga terbang malem membuat suasana kabin selalu remang-remang sehingga enaknya kalo gak nonton ya tidur-tiduran. Banyakan nontonnya ternyata :)

Hotel gue masih walking distance dgn kantor Cisco di Pegasus Park. Parahnya, karena ini adalah kawasan industri dan juga dekat dgn airport, sangat sulit untuk mencari makanan. Jadi aja gue begitu check in kelaparan tapi binggung mau makan apa. Ditambah lagi Internet di hotel yg sudahlah mahal, 19 Euros buat 24 jam dan gue sudah beli buat 3 hari, ternyata gak bisa digunakan. Setelah frustasi mencoba troubleshoot dgn helpdesk hotel, akhirnya gue memutuskan untuk nongkrong di kantor Cisco.

Yup, gue dari hari Sabtu sore selalu nongkrong di kantor Cisco dan pulang larut malam. Bahkan tadi pagi pun gue datang jam 5 pagi ke kantor Cisco, meskipun ujian baru dimulai jam 8. Gue gunakan waktu buat belajar dan verifikasi hal-hal yg gue masih ragu. Keuntungannya karena gue udah sering nongkrong di kantor, pada saat mau mulai ujian tadi pagi gue gak merasa asing sama sekali. Lah, gue udah di sini dari Sabtu, sampai security officer nya aja pada hapal. Mereka mungkin mikir, ini orang mau ngirit kali yah gak mau sewa hotel ha ha

Jadi seperti di jadwal ujian mulai jam 8 kurang. Istirahat makan siang selama setengah jam sekitar jam 12. Kemudian dilanjutkan sampai selesai sekitar jam 4.30.

It was tough. It was really tough.

Gue gak bisa cerita banyak tentang isi ujiannya sendiri. Yang pasti, sampai waktu selesai itu gue berhasil menyelesaikan 97%. Dari itu semua, setelah gue melakukan kalkulasi pribadi, gue kemungkinan dapat point antara 75 – 85 %. Actually this is not bad at all. Ini adalah first attempt gue di track SP. Dan yg bikin gue bangga, walaupun waktu persiapan gue sangat sedikit sampai tidur pun sangat jarang, tapi pada saat akhir ujian semua test yg diminta di soal jalan semua.

Jadi kemungkinan gue lulus. Mungkin juga gagal.

Seperti yg gue bilang, kalaupun gagal gue tidak akan menyesali apapun dalam hidup gue. Kegagalan memang adalah kegagalan. Tidak perlu mencari-cari kambing hitam atau merasa malu. Yg diperlukan, adalah evaluasi.

Last Mission to Brussels

August 10, 2007

Dari weekend kemaren gue selalu tidur maximum 2 sampai 3 jam sehari. Bukan karena CCIE lab. Tapi karena dari hari Senin gue harus memimpin design workshop selama 3 hari untuk salah satu customer terbesar Cisco di APAC. Sebenarnya gue seharusnya ditemani oleh seorang NCE lain yg sudah sangat berpengalaman. Namun karena sesuatu hal dia berhalangan dan jadi aja gue kerja sendirian.

Gue harus presentasi di depan sekitar 30 orang. Harus bisa meng capture requirement dari customer, mendapat semua informasi ttg existing setup, mulai memikirkan solusi yg kemungkinan gue tawarkan, mencoba mengidentifikasi tantangan bisa menghalagi solusi tsb, dan sebagainya. Walau sudah sering melakukan ini, tapi setiap design requirement workshop selalu challenging. Gue selalu merasa excited setiap kali harus melakukan ini. Karena setiap customer itu unik dan memiliki tantangan sendiri-sendiri. Dan teknologi yg digunakan berbeda-beda dgn requirement yg berbeda-beda pula.

Selama 3 hari gue harus kerja di workshop selama 8 jam, kemudian harus bikin summary malamnya dan mempersiapkan materi untuk hari berikutnya. Biasanya gue mulai kerja setelah dinner bareng teman-teman Cisco yg lain, sampai jam 6 pagi. Kemudian tidur 2 jam karena selama 8 jam berikutnya gue harus berdiri dan presentasi.

It’s my life. And I always feel excited about it.

Meskipun demikian, tentu saja hal ini membuat gue tidak mempunyai waktu buat belajar CCIE. Tapi pengalaman spt ini juga sangat penting. Hidup itu harus balance, antara belajar di lab dan menghadapi tantangan sebenarnya di kehidupan nyata.

There is no point to be a CCIE without a real experience from the field.

Sejauh ini gue sudah berhasil latihan CCIE lab sekitar 200 jam. Beberapa jam lagi gue akan terbang ke Brussel melalui London selama 16 jam. Tentunya tidak banyak yg bisa gue lakukan selama penerbangan selain tidur untuk memulihkan kondisi tubuh. Gue memang hanya berharap minimal bisa mencapai 240 dari target 300 hour lab gue. Ini berarti 80% dari target. Mungkin 80% persiapan sudah cukup karena CCIE lab juga hanya membutuhkan score 80% untuk lulus.

Once again, I’m on the mission. I hope this one will be my last.

Kenapa yg terakhir? Seandainya gue lulus di hari Senin nanti, mungkin gue tidak akan mengambil CCIE track yg berikutnya. Kemungkinan besar setelah menjadi Triple CCIE gue akan mengambil spesialiasi di teknologi Service Provider secara lebih focus. Jadi sepertinya gue tidak akan mengambil track CCIE yg tersisa yaitu Voice dan Storage.

Well, enough talking. Yg pasti gue harus lulus dulu.
Let’s just wait until Monday night.

13 Agustus 6 Tahun Lalu

August 1, 2007

13 Agustus, 6 tahun lalu.
Gue masih inget itu adalah hari pertama dari CCIE lab exam pertama gue di Brussels. Enam tahun lalu itu juga merupakan kali pertama gue terbang ke Eropa. Kali pertama dapat Schengen Visa. Kali pertama naek kelas business karena peraturan IBM, company gue waktu itu, untuk setiap karyawan harus menggunakan kelas business jika terbang lebih dari 8 jam.

Waktu itu ujian CCIE lab masih 2 hari. Jika gagal di hari pertama maka tidak bisa melanjutkan ke hari kedua. Jika berhasil lulus ujian hari kedua sesi pagi maka akan lanjut ke sesi terakhir yaitu troubleshooting. Gue berhasil masuk ke sesi troubleshooting, tapi kemudian gagal.

Kenapa gue gagal? Karena waktu itu gue gak yakin gue bisa lulus. Sebelum gue berangkat semua orang bilang kalo CCIE itu susah bgt. Semua orang bilang CCIE itu cuman buat orang-orang terseleksi. Hanya orang-orang pintar yg bisa lulus. Dan gue, bukan bagian dari orang-orang itu.

Pada saat gue berhasil sampai ke sesi troubleshooting, walaupun kemudian gagal juga, gue menyadari sesuatu. Bahwa sangat bodoh sekali gue sudah mendengarkan hal-hal yg negatif tersebut. Negatif, karena omongan tsb tidak bermanfaat. Negatif, karena tidak ada nilai positif apapun dari omongan tsb.

Kenyataannya, kalo seseorang memang sudah berusaha keras mempersiapkan diri untuk ujian, waktu itu gue sempet belajar sampai 16 jam karena sebulan terakhir sebelum ujian IBM berbaik hati mengijinkan gue kerja di rumah, harusnya bisa lulus bahkan di first attempt. Waktu gue berangkat ke Jepang persis sebulan kemudian, gue masuk ke CCIE lab dgn pikiran bahwa gue pasti lulus. Karena gue sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Karena gue sudah pernah melihat CCIE lab yg sebenarnya itu seperti apa ketika di Brussels. Karena gue percaya bahwa gue bisa lulus. Tentunya gue harus tetap berhati-hati untuk tidak terlalu percaya diri dan membuat gue overlook hal-hal kecil yg bisa membuat gue kehilangan poin. Dan jam 4 sore, dgn sisa waktu sejam lebih dari 2.5 jam waktu di sesi troubleshooting, gue udah keluar dari CCIE lab dgn nomer CCIE gue.

Lulus karena gue percaya bahwa gue bisa lulus.
Gagal karena gue tidak percaya bahwa gue bisa lulus.

So next time someone says: it’s really difficult to pass CCIE lab, just tell him: Piss off. Himawan said everyone can pass. And that’s the real fact. Stop listening to that kind of person.

Kurang dari 13 hari lagi gue akan ujian CCIE lab untuk Service Provider track di Brussel. Tepat tgl 13 Agustus, seperti 6 tahun lalu. Tanggal yg sama, tempat yg sama.

Apakah sejarah akan berulang? Apakah gue akan kembali gagal?

Gue belum tahu jawabannya, tunggu saja 13 hari lagi :)
Tapi yg penting sekarang kalo gue gagal pun gue tahu itu bukan karena CCIE lab itu susah. Bukan karena hanya orang-orang tertentu yg bisa lulus. Bukan pula karena gue kurang pintar. Mungkin hanya karena gue melakukan kesalahan kecil. Atau ada sesuatu yg belum gue pahami betul. Sehingga yg perlu gue lakukan adalah belajar terus dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan di lab nanti.

Dgn kesibukan dan jadwal yg padat untuk 2 minggu ke depan, strategi belajar gue tinggal satu sekarang: In Between. Gue harus belajar in between kesibukan yg satu dgn kesibukan yg lain. In between meeting dari customer yg satu dgn customer yg lain. In between jadwal penerbangan gue yg padat. Dan gue masih tetep yakin bisa lulus meskipun persiapan gue mungkin hanya 80%.

13 hari lagi.