Ujung Pelangi
February 19, 2007Banyak orang yg bertanya apa alasan gue buat meninggalkan Dubai. Gaji yg jauuuuh lebih tinggi dibanding yg gue terima sekarang, harga mobil yg jauh lebih murah, gaya hidup yg tentunya bisa lebih tinggi dibandingkan dgn bekerja di Singapore maupun Indonesia ternyata membuat banyak orang yg terheran-heran dan mengajukan pertanyaan tsb baik secara langsung ketika bertemu maupun melalui email.
Well, jawabannya tentu: “because the offer was from Cisco.”
Kalo bukan Cisco, Advanced Services team lagi, yg menawarkan pekerjaan di Singapore, tentu gue memilih untuk tetap tinggal di Dubai.
Jawaban yg kedua, yg selalu membuat banyak orang terperangah karena mungkin tidak percaya akibat kebodohan gue dalam mengambil keputusan atau karena baru pertama kali mendengar, adalah: “karena Middle East adalah Ujung Pelangi.”
Apa maksudnya Ujung Pelangi? Waktu gue kecil gue sering denger orang bilang kalo di ujung pelangi itu ada harta karun yg tidak ternilai harganya. Jadi kalo mau kaya raya ikutin saja pelangi yg muncul setiap habis hujan dan cari ujungnya. Dulu itu emang gue masih kecil, tapi untungnya gue tidak terlalu bego buat mengikuti saran tsb.
Nah, menurut pendapat gue, Middle East itu juga ujung pelangi buat orang-orang yg bekerja di bidang-bidang yg sedang berkembang pesat seperti IT, maupun networking secara spesifik. Kenapa begitu? Karena standar gaji yg sangat tinggi, terutama jika sudah memiliki pengalaman kerja beberapa tahun di Middle East. Sepertinya paling tinggi bila dibandingkan dgn di negara-negara maju seperti US sekalipun, terbukti dari banyaknya engineer Cisco yg hijrah dari San Jose ke Dubai atau Arab Saudi. Ditambah lagi dgn tidak ada nya pajak penghasilan. 0% tax! Berarti kalo punya gaji 1000 akan dibawa pulang ke rumah 1000 juga.
Selain itu, karena perkembangan jaringan dan IT di Middle East sedang berada dalam tahap pengembangan, banyak teknologi yg digunakan masih terasa baru bagi hampir semua orang (walaupun teknologi tsb sudah mature di negara lain) sehingga sangat mudah untuk berada di atas. Persaingan masih relatif rendah untuk mencapai posisi teratas. Dan di Middle East, jika berhasil menjadi orang yg paling top dan dipercaya (trusted advisor) dan terlihat sebagai orang yg sangat dibutuhkan, itu berarti more $$$
Salah seorang teman gue yg lain bertanya: jadi ujung pelangi apa yg kamu harapkan, Himawan?
Jawaban gue hari ini, adalah: tidak tahu. Beberapa bulan yg lalu gue masih bermimpi buat mencoba pindah ke tempat pusat industri jaringan yaitu di Silicon Valley. Ketika akhirnya, setelah menunggu 10 bulan lebih, beberapa minggu yg lalu visa H1b gue di approve, gue menjadi bingung sendiri.
Apakah ini yg gue mau?
Bekerja di SV sangat berbeda dgn apa yg sedang gue kerjakan dan yg sudah gue lakukan bertahun-tahun ini. Yg gue selalu lakukan selama ini adalah: being a network consultant. Bertemu dgn customer untuk memperoleh informasi ttg business requirements, mencoba me match antara requirement dgn produk yg ada, membuat design jaringan secara detil, mengintegrasikan solusi yg satu dgn yg lain, sampai ke implementasi project, mengalokasikan resource dll itu adalah skill utama gue. Sedangkan di SV, kemungkinan besar pekerjaan gue adalah sebagai bagian dari satu business unit yg membangun satu produk tertentu dan memastikan produk tersebut layak diproduksi. Tidak ada pertemuan dgn end customer. Tidak ada travelling. Skill yg diutamakan di SV adalah pengetahuan yg sangat mendalam ttg suatu teknologi dan proses otomasi untuk pengujian. Sedangkan yg biasa gue lakukan memerlukan pengetahuan yg lebih luas walaupun tidak terlalu dalam.
Apakah berarti engineer yg fokus lebih baik dari seorang consultant? Kalo menurut pendapat gue sih tidak juga. Keduanya memerlukan skill set yg berbeda. Tidak percaya? Coba aja suruh keduanya bertukar posisi. Engineer yg sudah terbiasa bekerja dgn satu line product tertentu kemungkinan akan merasa tidak comfortable jika harus duduk berlama-lama dgn customer hanya untuk mencoba memahami apa yg diperlukan di design yg baru, sedangkan si consultant pun harus belajar dgn sangat dalam lagi dan sangat fokus ke teknologi tertentu yg mungkin selama ini hanya dibaca sekilas.
Pertanyaannya adalah, apa mungkin being a consultant adalah sesuatu yg memang fit buat gue? Jika gue harus switch ke posisi baru, berarti gue harus mulai dari awal lagi. Apakah gue siap untuk memulai sesuatu dari nol? Dan pertanyaan yg paling penting adalah: apakah gue akan menyukai apa yg akan gue kerjakan di SV, meskipun katakanlah gue berhasil masuk Cisco juga di sana?
Ditengah-tengah kebingungan, minggu lalu gue memutuskan buat menceritakan kondisi yg sedang gue hadapi ke manajer gue di Cisco. Wow, cerita kalo lu udah sign-up sama satu perusahaan di US, sudah dapet visa pula, ke manajer di perusahaan yg sekarang? Bukannya itu tindakan bunuh diri? Eh ternyata si boss malah bilang kalo memang bekerja di US adalah keingingan gue, dia bisa membantu mencarikan koneksi supaya gue bisa ditransfer dan juga membuat career path yg bisa mengarahkan skill set gue ke skill set yg diperlukan di SV nanti. Wow, that’s what I call lucky!
Gue belum tahu apakah memang working in SV is the end of the rainbow that I expected, tapi minimal segalanya menjadi lebih mudah karena sekarang yg harus gue lakukan adalah kerja dan kerja, dan minta transfer setelah gue yakin nanti.
Yep, gue memang salah satu orang yg beruntung dan diberkahi ![]()
Jadi mungkin sudah saatnya lu semua bertanya pada diri sendiri: ujung pelangi seperti apa yg kalian harapkan?