Being Ordinary
January 5, 2007Setelah gue join Cisco gue bener-bener bisa merasakan hal yg biasa dikatakan orang banyak: “di atas langit ada langit”. Punya gelar CCIE kalo kerja di Cisco sepertinya menjadi tidak berarti. Di team gue semua orang CCIE. Gue duduk di sebelah orang yg punya triple CCIE. Nomernya 3000-an lagi. Ada orang yg baru join 3 bulan sebelum gue punya double CCIE, seperti gue di Routing & Switching dan Security track, dan juga punya Juniper JNCIE. Malahan salah seorang manager sales team adalah double CCIE!
Kalo pengalaman mereka, jangan ditanya deh. Ada yang sudah bangkotan maen teknologi Service Provider. Ada yang dateng dari company sebesar NTT docomo di Jepang atau AT&T. Ada yg pernah menjadi Testing Engineer di Cisco San Jose. Ada juga yg pernah kerja di Cisco Advanced Services team di Middle East sebagai kontraktor. Ini baru beberapa anggota team gue doang yg based di Singapore, gue belum ngomongin tentang team lain yg mengerjakan hal-hal yg lebih seru.
Well, I guess I’m an average guy here. I’m back to ordinary.
Loh memang di kehidupan sebelumnya gue extra ordinary? Oh bukan begitu. Gue dari dulu juga cuman orang biasa. Cuman bedanya waktu gue kerja di Cisco partner, it was easier to get attention. I was on the top of the hill. Gue jadi orang technical tertinggi di company gue. Dalam mengerjakan suatu project, exposure gue tinggi namun begitu juga dgn pressure dan target yg tinggi. Semua orang bisa lihat gue dan semua orang selalu meng-eskalasi ke gue jika ada problem. Have you been in the room full of crowd when suddenly something happens and everyone starts looking at you and asking “what should we do?”
Seperti yg gue bilang, berada di posisi seperti itu ada nilai baiknya dan ada nilai buruknya. Nilai baiknya tentu jika semua berjalan lancar dan project sukses, nilai tambah kita akan langsung kelihatan oleh semua orang. Nilai buruknya adalah ketika terjadi problem, tekanan yg datang adalah sangat sangat tinggi karena kita tidak bisa menoleh ke samping dan asking for help. Tanggung jawab terbesar ada di tangan kita. But that’s the life, isn’t it? C’est la vie. Batu berharga harus digosok terlebih dahulu untuk keliatan nilainya.
Well, I guess being ordinary in such wonderful place like Cisco is still awesome. Tapi gue harus melakukan sesuatu yg membuat gue juga kompetitif dan bermanfaat di sini. Gue harus bisa set myself apart from the others. But I need to do it a single step at a time. Like passing my third CCIE in Service Provider track. So now it’s time to focus on that target. Actually it’s my previous target. I’m a bit behind my schedule and I have to start it from beginning again. Stay close.
