Pindah ke Negara Lain Bersama Keluarga

November 24, 2006

Sudah sekitar 5 tahun gue berada di luar Indonesia. Ketika dulu pindah ke Middle East gue langsung membawa anak istri gue. Begitu juga ketika gue pindah dari Dubai ke Singapore beberapa hari lalu. Banyak teman gue yg bilang gue itu high risk taker, karena biasanya seseorang yg pindah dari satu negara ke negara lain itu pergi sendirian dulu, mencoba stabil di tempat baru, baru kemudian membawa keluarga.
Gue sih cuman ingin selalu bersama-sama keluarga karena mungkin cerita tentang pindahannya jadi seru kali ya heheh. Pindah negara bersama keluarga memiliki pressure yg lebih tinggi dibandingkan kalo pergi sendirian dulu, karena waktu yg digunakan untuk menjadi settle di tempat baru harus jauh lebih singkat jika tidak mau keluarga kita terbengkalai.

Memang ada beberapa hal penting yg harus diperhatikan ketika kita pindah dari satu negara ke negara lain bersama keluarga. Gue mau coba tuliskan di sini buat share pengalaman, sekalian ini juga bisa gue baca-baca jika suatu ketika akan pindah lagi :D

1. Visa dan kontrak kerja
Pada saat kita pindah kerja ke suatu negara baru, sudah pasti perusahaan akan mensponsori visa kerja. Tapi bagaimana dengan keluarga? Ada beberapa perusahaan yg lepas tangan. Jadi ini harus jelas dari awal ketika negosiasi kontrak kerja. Alhamdulillah, selama ini visa keluarga gue selalu didapat hampir secara bersamaan dgn visa kerja gue.
Kontrak kerja juga udah pasti butuh donk. Minimal offering letter dari perusahaan. Tapi segala sesuatu yg berhubungan dgn kerjaan dan gue pribadi pasti lebih gampang dan sudah diurusin sebelum datang ke negara tsb. Yg paling penting untuk diperhatikan adalah dukungan perusahaan untuk mensponsori visa buat keluarga.

2. Surat-surat pendukung
Surat-surat pendukung buat gue pribadi: ijazah kuliah beserta transkrip, sertifikasi professional, akte kelahiran (belum pernah kepake sih) dan reference letters dalam bahasa inggris atau bahasa yg diperlukan di negara tsb misalnya arab dan sudah dilegalisir tentunya. Kadang-kadang slip gaji terakhir dari perusahaan yg lama juga diperlukan. Untuk keluarga dan anak: surat nikah, akte kelahiran anak, surat pindah sekolah, report dan transkrip dari sekolah yg dulu, dan surat bukti-bukti imunisasi. Kalo mau semua proses di negara baru lebih cepat sebaiknya semua surat-surat sudah dilegalisir oleh kedutaan negara tujuan. Bisa juga nantinya dilegalisir di tempat, hanya butuh waktu sedikit lebih lama tentunya.
Semua surat-surat ini termasuk passport sebaiknya sudah di scan, baik yg asli maupun yg diterjemahin dan dilegalisir, jadi sewaktu-waktu ada yg butuh kita bisa langsung kirim via email.

3. Akomodasi sementara
Nah, meskipun kadang-kadang perusahaan di negara baru menyediakan hotel untuk tempat tinggal sementara, tapi biasanya kan hanya beberapa hari dan tidak lama. Dan belum tentu kita juga bisa langsung dapat tempat tinggal yg permanen. Bisa jadi karena masih ada surat-surat yg harus dibereskan terlebih dahulu atau biaya yg diperlukan mahal dan kita masih menunggu gaji pertama. Sebaiknya sebelum berangkat kita sudah siap-siap mencari tempat tinggal sementara sebelum bisa pindah ke tempat yg permanen. Biasanya di semua negara ada yg disebut hotel apartemen, jadi hotel tapi dengan fasilitas untuk masak dan mencuci di kamar. Tinggal sebulan di hotel apartemen tentunya lebih baik daripada di hotel biasa. Ingat, gue bawa anak istri loh. Kalo gue sendiri tinggal di kamar kost-kostan juga betah karena dari pagi sampai sore kan kerja di kantor melulu. Satu bulan harusnya cukup sekali untuk bisa menemukan tempat tinggal yg permanen. Lebih baik lagi jika dalam kontrak negosiasi kita minta untuk diberikan hotel apartemen selama sebulan dari awal, jadi tidak perlu pindah-pindah dari satu hotel ke hotel yg lain. Langsung dari hotel apartemen ke tempat tinggal yg permanen.

4. Sekolah anak
Sekolah anak, buat gue itu nomer 1. Nomer satu. Karena ternyata hal ini tidak gampang. Dan jika pindah ke negara baru, gue lebih suka untuk tinggal di daerah yg deket dgn sekolah anak gue. Minimal anak gue bisa sekolah dan diantar oleh istri. Jadi gue tidak perlu pusing-pusing nantinya pada saat kerja tiba-tiba dipanggil ke sekolah karena ada sesuatu. Ini masalah preferensi saja ya.
Nah sekolah anak juga bisa menjadi sangat sangat mahal. Di Dubai gue tidak ada pilihan untuk mendaftarkan anak gue ke sekolah lokal karena bahasa pengantarnya Arab. Jadi anak gue selama ini gue masukan ke sekolah International yg biayanya bisa puluhan kali lipat (iya bener, puluhan! biaya setahun di SD bisa sama dgn biaya kuliah gue dulu 5 tahun kali ya!) dari sekolah lokal. Dan untuk mendapat kursi juga tidak gampang, ada waiting list. Karena prioritasnya biasanya tergantung negara tertentu yg menjadi acuan sekolah tadi. Misal sekolah International mengacu ke ajaran British/UK akan memprioritaskan anak-anak dari UK sebelum negara lain. Jadi sebaiknya sekolah di negara baru sudah mulai diriset dari awal sebelum pindah.

Di Singapore, sekolah pemerintah memang sangat murah sekali biaya perbulannya bahkan buat seseorang yg bukan warga negara atau Permanent Resident, misal pemegang Employment Pass seperti gue. Tapi dalam beberapa hari di Singapore gue mendapatkan kenyataan bahwa tidak mudah buat anak gue yg sekarang kelas 2 untuk pindah sekolah ke sekolah pemerintah. Dari sekitar 10 sekolah yg gue telpon, semuanya bilang kelasnya penuh. Dan ini sebenernya make sense. Kalo kelas satunya penuh, sangat sulit buat ada peluang anak gue untuk masuk ke kelas dua karena semua anak yg di kelas satu kemungkinan besar meneruskan ke kelas dua. Tidak seperti di Dubai dimana anak-anak itu pindah sekolah dari satu negara ke negara lain, kebanyakan yg sekolah di sekolah pemerintah kan anak-anak warga negara Singapore atau PR, jadi kecil sekali kemungkinan anak kelas satunya akan pindah ke sekolah lain atau ke luar negara dan menyediakan kursi kosong di kelas dua buat anak gue.
Pilihan gue sekarang adalah untuk memasukan anak gue ke sekolah International lagi yg tentunya sangat sangat sangat mahal. Kalo ada pilihan untuk mendapat jatah sekolah anak dalam paket gaji seperti di Dubai sangat baik sekali. Kalo tidak, ya berarti sejak awal negosiasi gaji kita harus mempertimbangkan biaya untuk sekolah anak di gaji. Waktu di Dubai sekolah anak gue memang ditanggung perusahaan, yg repot karena sekolahnya harus nyari sendiri dan tidak mudah juga untuk dapet tempat di sekolah International karena ada waiting list itu.
Dan di sekolah International itu selain tuition fee nya mahal, biaya registrasinya pun lumayan mahal. Kadang ada sekolah yg minta security deposit juga.

5. Mobile phone dan nomer telepon lokal
Ini gak mahal dan gak susah. Kita bisa bawa mobile phone dari negara sebelumnya karena hampir semua telepon GSM bisa langsung digunakan di negara mana saja. Untuk dapet SIM card yg pre-paid juga tidak sulit. Biasanya hanya butuh bawa passport sebagai identitas saja. Sebaiknya begitu sampai di negara baru langsung punya nomer lokal. Selain buat menghubungi keluarga di negara lain juga sangat perlu ketika mencari apartemen, sekolah dan lain-lain.

6. Akomodasi jangka panjang
Nah setelah dapet akomodasi jangka pendek jangan langsung santai. Setelah anak gue pasti bisa bersekolah di sekolah tertentu, gue langsung mencari apartemen yg dekat dgn sekolah tersebut. Meskipun biasanya sekolah menyediakan jemputan, tapi gue gak mau anak gue menghabiskan waktu lama di jalan buat pulang pergi sekolah. Dan spt yg sudah gue jelaskan di atas, kalo ada panggilan dari sekolah istri gue bisa dateng sendiri dgn cepat.
Akomodasi permanen ini biasanya membutuhkan persyaratan spt visa kerja dan surat keterangan dari perusahaan tentang status kepegawaian kita. Selain buat bisa dapet kontrak dgn yg punya apartemen, kita juga butuh surat-surat tsb buat mengurusi utiliti seperti listrik, air, telepon dan TV kabel. Mungkin kita juga butuh bank account buat bisa membayar tagihan utiliti secara otomatis setiap bulannya.
Pembayaran apartemen untuk jangka panjang biasanya bisa mahal di bulan pertama. Karena sudah wajar kita harus bayar apartemen bulan pertama, bayar security deposit, bayar agent yg mencarikan kita apartemen dan juga pengurusan utiliti seperti listrik dan telepon biasanya membutuhkan deposit. Kadang kita juga harus membayar uang sewa apartemen untuk beberapa bulan ke depan seperti waktu gue di Dubai. Jadi biaya ini harus diperhitungkan sejak awal. Syukur-syukur begitu gajian bulan pertama bisa punya uang cukup buat bayar itu semua.
Btw, satu utiliti yg penting buat gue = Internet. Musti ada dari awal!

7. Bank dan financial support
Bank di negara baru pasti sangat penting, buat nerima gaji lah :) kecuali si perusahaan baru bisa memberikan gaji dalam cash kayak pengalaman gue dulu. Selain buat gaji, bank juga mungkin diperlukan buat pembayaran utiliti secara otomatis, bisa juga butuh buku cek untuk pembayaran apartemen sampai setahun ke depan dgn sistem cek mundur, cek yg ditulis dgn tanggal di masa depan. Penting juga untuk langsung apply kartu kredit.
Kartu kredit itu ternyata sangat diperlukan ketika baru pindah ke negara baru. Selain buat jaga-jaga kalo kita kehabisan cash, terutama di bulan-bulan pertama karena harus bayar sekolah dgn deposit dan apartemen dgn deposit, banyak juga tuh hotel-hotel yg lebih prefer kita untuk menggunakan kartu kredit pada saat check in. Pengalaman gue bayar cash waktu check in ke hotel: disuruh bayar biaya total tinggal ditambah security deposit. Kalo baru pindah kan biasanya gak bawa cash yg banyak. Jadi begitu dateng kalo tidak langsung apply kartu kredit, bisa juga dgn membawa kartu kredit dari negara sebelumnya.

Gue sendiri waktu keluar dari Dubai “dipaksa” untuk menutup bank account. Celakanya syarat menutup bank account itu adalah menutup semua kartu kredit. Jadi aja sekarang gue living without credit cards. Minimal untuk sementara ini.

8. Health Insurance
Asuransi kesehatan menurut gue sangat penting. Apalagi kita baru dateng ke negara baru dan belum tahu rumah sakit atau dokter mana yg cocok buat kita ataupun anak. Biasanya ini sudah termasuk dalam paket gaji dari perusahaan. Tapi kalo tidak mungkin ada baiknya sebelum berangkat sudah melakukan riset sehingga begitu datang bisa langsung apply. Bukan apa-apa, meskipun sakitnya cuman yg simple tapi karena baru datang dan sudah banyak pengeluaran untuk apartemen, sekolah dan lain-lain, minimal asuransi ini bisa untuk jaga-jaga.
Berdasarkan pengalaman gue sih kalo apply asuransi sebagai individu itu jauh lebih mahal ketimbang apply bareng-bareng dari perusahaan. Jadi walaupun perusahaan tidak memberikan secara gratis, minimal kita harus minta supaya perusahan yg mengurusin dgn sistem potong gaji.

9. Driving License dan kendaraan
Ini sih cuman tambahan. Kalo hidup di negara seperti Dubai sangat sulit jika tidak ada kendaraan pribadi karena sistem transportasi umumnya yg belum memadai dan taxi yg sangat mahal, sehingga sebaiknya begitu sampai sebaiknya langsung apply. Kalo perlu bawa SIM international tapi biasanya ini hanya berlaku sementara. Kalo di negara seperti Singapore sih sistem transportasinya sudah sangat handal dan murah, jadi mungkin tidak perlu dipaksakan untuk langsung memiliki kendaraan pribadi.

Kalo sudah mencapai tahap ini kayaknya bisa dikatakan hidup kita sudah settle ya di negara yg baru. Tempat tinggal sudah permanen, sekolah anak sudah dapet, sudah punya bank account buat nerima gaji, sudah punya nomer telepon lokal, ada asuransi kesehatan buat meng-cover jika sewaktu-waktu kita atau anggota keluarga ada yg sakit, dan tambahan sudah punya kendaraan buat bisa ke mana-mana. Tinggal mulai menjalani hidup di negara baru deh.

Kalo ada yg punya tambahan lain, silahkan berkomentar di sini.

Last 24 Hours

November 19, 2006

Insya Allah kalo tidak ada halangan dalam waktu 24 jam gue dan sekeluarga akan terbang ke Singapore. Gue dapat tawaran untuk kerja buat Cisco Systems Advance Services - Asia Pacific team, dengan cakupan negara-negara di Asean. Ini berarti gue bakalan sering traveling ke Indonesia dan juga negara-negara tetangga dan tentunya dapat kesempatan buat ketemu teman-teman semua yg tinggal di kawasan Asia.

Hampir 5 tahun gue tinggal di Middle East. Menyaksikan bagaimana UAE berubah menjadi kota Metropolitan dan kota dgn living cost termahal di dunia no.25 hanya dalam beberapa tahun. Mendapat banyak teman dan pengalaman, membuka mata dan telinga lebih lebar, dan pada akhirnya gue harus meninggalkan ini semua demi sesuatu yg (Insya Allah) akan lebih baik.

Gimana ceritanya bisa ke Cisco AS?
Seperti yg mungkin semua teman-teman tahu gue sudah resign dari company gue yg dulu Cisco Gold partner di Dubai sejak pertengahan tahun. Semenjak resign, gue menerima banyak offer buat kerja di kawasan Middle East lagi, tapi tidak ada tawaran dari Cisco ME sendiri. Karena gue memang sudah jatuh cinta ke Cisco, dan juga sedang menunggu proses visa H1b buat ke US, akhirnya gue memilih buat jadi freelancer, konsultan independen buat Network dan Infrastructure Security. Tawaran-tawaran kerjaan sebagai pegawai tetap memang banyak dan menggiurkan, tapi ternyata kerja sebagai kontraktor bisa dapat penghasilan lebih besar lagi karena dibayar perhari :)

Alhamdulillah dari 2 project yg gue kerjain customernya ternyata puas dan memberi reference letter. Reference letter sangat penting buat seorang kontraktor dan gue sudah mendapat calon customer untuk beberapa waktu ke depan berkat referensi ini. Hanya sayangnya karena untuk tetap tinggal di UAE gue butuh valid working permit, gue tahu gue gak bisa terus menerus jadi kontraktor kecuali gue buka perusahaan sendiri. Ada salah satu customer gue yg menawarkan ide ini dan bersedia investasi tapi semuanya masih sebatas wacana. Sedangkan dalam waktu dekat gue harus keluar dari negara ini. Visa H1b gue juga tertahan dan tidak ada kepastian kapan akan keluar.

Bulan lalu gue pulang ke Indonesia untuk ketemu keluarga dan sempet ketemu dgn Manager Cisco AS di Jakarta. Thanks kepada teman-teman dari Cisco Indonesia yg memberi feedback yg sangat baik tentang gue akhirnya gue dapat kesempatan buat interview juga. Setelah beberapa proses phone interview yg meskipun banyak namun relatif cepat, akhirnya gue ditawarin untuk bergabung bersama Advance Services team sebagai Network Consulting Engineer (NCE). Profil kerjaannya mirip dgn yg biasa gue kerjain dan memang sudah lama gue berkeinginan untuk masuk Cisco khususnya di Advance Services team. Akhirnya gue memilih untuk bergabung mulai hari Senin besok.

Satu hal yg lucu, begitu tahu gue keterima di Cisco gue langsung dikontak dan ditawarin posisi di professional services nya Juniper Middle East. Kebetulan di salah satu project gue sempet meng setup dan mengintegrasikan Juniper Netscreen 5400 series ke jaringan customer gue, dan ketemu orang-orang Juniper di sini.

Well, sampai sekarang cinta gue masih sama Cisco.
Everything that I know about networking I learn it from Cisco.

Banyak yg bilang ke gue kalo sebaiknya gue tetap bekerja sbg kontraktor, dan Cisco mungkin bukan tempat yg seperti gue impikan: It’s always greener on the other side, Himawan. Tapi gue langsung bales: At least now I have the chance to see how green the other side is.

Pada akhirnya gue mohon doa restu semoga gue diberi kemudahan di tempat dan pekerjaan yg baru. Dan terima kasih buat semua teman-teman di Cisco yg sudah memberikan rekomendasi yg sangat bagus buat gue.

Practice IE CCIE Workbook with Simulator

November 12, 2006

Read about How to Run Cisco IOS on Your PC by Brian McGahan from Internetwork Expert. Download the dynagen files and initial config here.