Merdeka Setiap Hari

August 17, 2006

Selama perang antara Israel dan Hezbollah yg terjadi sebulan terakhir, gue menjadi lebih sering berdiskusi dgn teman-teman sekantor yg berasal dari Lebanon. Banyak dari mereka yg orang tua dan keluarga nya terjebak di Lebanon, karena sulitnya untuk keluar dari negara melalui perbatasan Siria atau memang sengaja memilih untuk tetap tinggal.

Satu hal yg bikin gue heran, kebanyakan temen2 gue ini di Dubai kelihatannya tidak merasa panik atau cemas dgn kondisi yg terjadi. Bahkan ada beberapa teman yg masih tetap melakukan aktifitas malam alias clubbing. Keheranan gue atas ketidakperdulian mereka membuat gue memberanikan diri bertanya di suatu hari.

Jawaban mereka (diterjemahkan):
Himawan, kami kelihatan tidak panik bukan berarti tidak perduli.
Ada beberapa hal yg kami coba lakukan untuk membantu negri kami, hal-hal kecil yg hanya itulah yg bisa kami lakukan. Namun seringkali kondisi tidak mengijinkan.
Seringkali kami menemukan kenyataan bahwa tidak ada lagi yg bisa kami lakukan.
Daripada mengkuatirkan hal-hal yg diluar kemampuan kami, lebih baik mengkuatirkan hal-hal yg bisa kami lakukan.

What do you want us to do?
Menangisi kondisi negri setiap hari? Life goes on, man.
Banyak keluarga kami yg memilih buat tinggal karena mereka ingin tinggal.
Mereka memilih untuk tinggal walaupun negri kami sedang dihancurkan oleh Israel.
Dan buat kami di sini, kami memiliki tanggung jawab lain.

Himawan, negri kami sudah terbiasa dgn perang.
Kami sudah pernah merasakan perang puluhan tahun.
Waktu kecil di sekolah kami sudah diajari untuk berlindung ketika mendengar suara pesawat atau roket.
Dan setelah bom meledak dan berlalu, apa yg kami lakukan?
Kembali belajar.

Yang biasanya kebanyakan orang Lebanon lakukan untuk mengatasi kondisi perang dan tetap bersemangat menjalani hidup adalah dgn berpura-pura.
Berpura-pura bahwa hidup ini lancar dan sedang tidak terjadi apa-apa.
We pretend that our country is fine, and there is no war whatsoever.
Only with this way, we can get our freedom everyday.

Jawaban mereka membuat gue berpikir dan mengambil beberapa pelajaran.
Yang pertama, prejudice is evil. Kadang sesuatu itu tidak seperti yg keliatan. Gue sering menghakimi seseorang atau berasumsi hanya dgn berdasarkan apa yg kelihatan. Orang2 Lebanon di Dubai yg kelihatannya masih bisa bersenang-senang bukan berarti tidak perduli.

Yang kedua, seringkali ketika gue terkena musibah, pikiran gue menjadi fokus ke sana. Seperti yg teman-teman Lebanon bilang, buat apa mengkuatirkan hal-hal yg di luar kemampuan? Lebih baik mengkuatirkan hal-hal yg bisa kita lakukan. Berusaha untuk memecahkan masalah tentu harus, tapi ketika menghadapi kenyataan bahwa tantangan tersebut sudah diluar kendali, lebih baik memfokuskan diri ke hal-hal yg bisa kita selesaikan.
Berkaitan dgn ini, gue juga harus lebih banyak belajar untuk bisa meneruskan hidup walaupun sedang tertimpa masalah yg belum terselesaikan. Life goes on.

Terakhir, mungkin ada baiknya ketika banyak hal yg terjadi dan kita tidak bisa melakukan apa-apa, marilah mulai berpura-pura.
Kalo melihat ke kondisi negara sendiri, sebenarnya banyak hal-hal yg terjadi yg tidak gue sukai. Banyak keputusan-keputusan pemerintah yg diambil dan tidak gue setujui. Muncul banyak pertentangan-pertentangan di dalam diri. Banyak tindakan yg ingin dilakukan, meskipun masih bingung harus memulai dari mana.

Ketika melihat tidak ada hal yg bisa gue lakukan, minimal sementara ini, mungkin sebaiknya gue mulai berpura-pura, merasa bahwa tidak ada hal buruk yg terjadi di Indonesia.
Mari berpura-pura negara kita sudah mencapi taraf maju, adil dan makmur.
Dengan begini, kita bisa merasa merdeka setiap hari.

Selamat ulang tahun, Indonesia.