Resign - Part 2

July 6, 2006

Gue resign dari company tanggal 1 Juli kemaren tanpa perencanaan yg jelas. Belum ada job offer di tangan dan H1b visa yg belum keluar juga. Gue cuman punya waktu 3 bulan buat finalized apapun keputusan yg akan gue ambil, sebelum imigrasi Dubai meng-kick out gue dari country.

Keputusan berat yg terpaksa gue ambil karena ada internal issue ini terus terang membuat gue kurang tidur dalam beberapa minggu terakhir. Banyak pertanyaan “how if” di kepala, khususnya karena gue sekeluarga sekarang tinggal sendirian di negri padang pasir ini tanpa sanak saudara. Yang bisa gue andalkan hanya beberapa temen dekat.

Beberapa jam setelah gue kirim email ini ke semua orang, temen gue si Project Manager dari Cisco Advance Services kirim email:
“Himawan, pls. find below my short mail to Mo/Peter.
I am sure we will see us in Oct. at our Cisco All Hands meeting in Cannes/France.”

Dan dia forwardin email yg dia kirim ke 2 Direktur Cisco Advance Services team buat Middle East dan Afrika:
“Mo, Peter, try to get this guy on board.
Now, it should be possible since he left Emirates Computers.
He likes to join Cisco and he would work in every country you need him.
He is a very good Engineer.”

Membaca email dia membuat semua usaha yg gue lakukan buat resign menjadi terbayar.
Gue gak tau apa yg bakal terjadi nanti.
Gue gak tau apa bakalan bisa join Cisco AS team nanti.
Cuman satu hal yg gue tahu sekarang, kalaupun nanti gue tidak berhasil join Cisco AS, itu berarti karena memang skill dan kemampuan gue yg tidak memenuhi
standar. Dan bukan karena nama gue ada di “no hire list” lagi.

And it’s really worth it.