Best Architect, eh?
May 20, 2006Gue lagi bener-bener sibuk.
Sejak 2 bulan kemaren gue terjun mengerjakan 4 project sekaligus. Dan beberapa dari project tsb adalah yg terbesar yg pernah company gue dapatkan. Project terkecil bernilai sekitar 4 juta dollar, dan project terbesar sekitar 25 juta dollar, hanya untuk harga peralatan Cisco. Customer yg berbeda dari Airport, Shopping Mall, perumahan dan universitas. Teknology yg berbeda dari MPLS, Multicast, QOS, security, wireless sampai IP Telephony. Role gue yg berbeda-beda pula dari technical project manager, designer sampai memimpin implementasi.
Ratu gue pernah bilang: hidup ini gak ada yg setengah-setengah.
Life always gives you an extreme choice.
Cuma ada 2 pilihan: tidak ada kerjaan sama sekali, atau super sibuk. Tahun lalu gue cuman punya 1 project dan membuat gue kerja 8 to 5 seperti layaknya orang normal.
I was bored to death. I wished to have more workloads.
Jadi gue mulai bikin diri gue sibuk dgn CCIE journey gue.
Nah sekarang gue diberi kerjaan yg gila-gilaan. Terlalu berat sampai gue merasa choked. Tapi tentunya gue gak boleh komplain dong ya?
Anyway, 3 hari yg lalu gue lagi duduk dgn Senior Project Manager dari Cisco Advance Services team. Ini adalah team impian tempat gue ingin bekerja kalo gue join Cisco nanti. Dan buat gue adalah suatu kesempatan emas untuk kerja bareng mereka di salah satu project gue, karena gue bisa belajar banyak dan mencermati bagaimana mereka bekerja. Dan juga untuk memperbesar jaringan kontak gue tentunya.
“Himawan,” dia bilang, “I have forwarded your request to join us to my company”
Minggu sebelumnya memang gue bilang ke dia kalo gue tertarik banget buat join Cisco Advance Services di lokasi manapun. Di lokasi manapun di seluruh dunia, kecuali 3 I: Iraq, karena masih berupa war zone, Iran, karena sekarang lagi jadi central of conflict, dan Indonesia. Indonesia, karena gue masih belum ingin pulang. Gue masih ingin mencari pengalaman sebanyak-banyak nya sebelum kembali ke rumah.
I want to know how far I can fly.
“Two things that make me surprised,” si Senior PM melanjutkan. “First of all, the HR guys told me that your company is the biggest Cisco partner in this country”
Indeed. Emang bener. Apalagi setelah kita menang berbagai project terbesar di negara ini. Gak cuman terbesar, tapi juga the hottest.
“And they mentioned that you are the best architect from your company. If we hire you, how can your company survive? If we hire the best architect from our biggest partner, how can they help us selling our products?”
Well, ini sebenernya suatu pujian. Gue gak tau dia bo’ong atau enggak, tapi disebut sebagai best architect tentunya membuat gue sedikit bangga. Mungkin dia cuman bilang ini biar gue seneng. Mungkin dia cuman butuh alasan.
Tapi ini tidak penting. Yg penting adalah: jadi karena gue kerjanya bagus justru membuat kemungkinan gue buat bergabung dgn Cisco Middle East menjadi lebih kecil? Apakah masa depan company gue merupakan tanggung jawab gue sepenuhnya? Emang gue salah kalo gue ingin mengejar impian gue?
So what’s the point to be the best architect if that can’t make you join the company of your dream? If that can’t make you join the team that you truly adore?
Buat gue gak masalah kerja jungkir balik, kerja di 4 project sekaligus. Gak masalah cuman tidur beberapa jam sehari kayak dulu waktu lagi belajar CCIE. Kerja siang malam dan weekend. Gak ada waktu buat keluarga. Tiap hari harus loncat ke kantor customer yg berbeda-beda. Tiap hari harus minum Vitamin C dan doping supaya gue bisa tetep fresh sampai akhir hari.
Yg jadi masalah adalah ketika gue mulai berpikiran apakah semua ini sebanding. Apakah semua ini sebanding dgn apa yg harus gue korbankan. Apakah semua ini bisa memberikan respect yg selama ini gue cari.
Dan gue belum tahu jawabannya. Tapi satu hal yg gue tahu pasti: semua ini tidak akan membuat gue bakalan di rekrut oleh Cisco Middle East.
That’s for sure.

tell them that you can sell a lot more than this time if they hire you.
They need salesman to sell their product and you are the person.
Worst case scenario, it’s time to make new company
Comment by andriansah — May 22, 2006 @ 8:43 am