(Berikut adalah wawancara dgn majalah Swa versi komplit. Saya tampilkan di sini karena mungkin bisa bermanfaat buat rekan-rekan profesional lain dan para mahasiswa Indonesia)
1. Bagaimana perjalanan karir Mas Himawan?
Saya lulus kuliah di saat mantan presiden Suharto baru turun dari kekuasaan, sehingga kondisi ekonomi sedang tidak stabil dan situasi yang tidak menentu akhirnya membuat saya tidak menemukan pekerjaan sebagai sarjana Teknik Mesin ITB. Setelah beberapa bulan gagal mendapat pekerjaan akhirnya saya memutuskan untuk berpindah profesi sebagai profesional IT. Karena di bidang IT yang diperlukan adalah keahlian praktis dan juga sertifikasi profesional bukan gelar sarjana, maka saya memutuskan untuk mengambil program sertifikasi internasional dari Cisco Systems, perusahan jaringan komputer nomer satu di dunia. Dengan bermodalkan sertifikasi walau hanya di level pemula saya berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan minyak Schlumberger sebagai IT support engineer untuk jaringan komputer perusahaan se Asia Pacific.
Selama di Schlumberger walau sudah berkeluarga saya sering tidur di kantor (bahkan tidak pernah kos lagi benar-benar tinggal di kantor) untuk belajar program sertifikasi Cisco Systems untuk level yang lebih advance, tanpa mengikuti program traning sama sekali hanya baca buku dan mempraktekannya di lab perusahaan. Setiap 2 minggu sekali saya pulang ke Bandung untuk bertemu keluarga, begitu terus hingga sekitar 9 bulan. Kurang dari setahun di sana saya pindah ke IBM Global Services di Jakarta sebagai consultant. IBM menawarkan untuk membiayai ujian sertifikasi Cisco Certified Internetwork Expert (CCIE) di Eropa selain tawaran gaji yang beberapa kali lipat.
CCIE adalah program sertifikasi paling tinggi dari Cisco dan disebut sebagai ujian sertifikasi profesional tersulit di dunia karena ujiannya praktek di lab selama 2 hari dan hanya ada di beberapa negara tertentu. Tahun 2000-an itu jumlah orang yang memiliki sertifikasi CCIE di seluruh dunia hanya kurang dari 7000 dan di Indonesia hanya belasan orang, sehingga orang yang memilikinya atau yang sedang berusaha mendapatkannya menjadi profesional yang palng dicari oleh berbagai perusahaan. Akhirnya saya lulus CCIE di Jepang (ujian yang ke-2, ujian pertama di Belgia tidak lulus kurang 5 poin) dan 6 bulan kemudian di awal 2002 saya pindah ke Dubai untuk bekerja di perusahaan partner dari Cisco. Selama di perusahaan partner tersebut saya lulus CCIE di bidang yang berbeda dengan menggunakan biaya sendiri.
Setelah beberapa tahun melamar akhirnya bulan Nopember 2006 saya diterima bekerja langsung di Cisco Systems berbasis di Singapore, mengerjakan proyek konsultasi untuk customer di Asia Pacific. Setahun di Cisco saya lulus ujian CCIE di bidang yang lain lagi, yang membuat saya memiliki CCIE di tiga bidang yang berbeda (Routing, Security, Service Provider) yang biasa disebut Triple CCIE. Waktu itu hanya ada sekitar 300 orang di dunia yang memiliki CCIE di 3 bidang seperti ini. Setelah 2 tahun selalu traveling dan tinggal dari hotel ke hotel (keluarga tetap di Bandung, dan setiap selesai proyek saya pulang ke Bandung walau tercatat sebagai pegawai Cisco Singapore) akhirnya saya bergabung dengan team senior consultant dan solution architect di Cisco untuk mengerjakan proyek Next Generation Networks (NGN) di kawasan Eropa, Timur Tengah, Afrika, sampai ke Amerika Tengah dan Latin. Saya dan keluarga pindah dan tinggal kembali ke Dubai dari akhir tahun 2008 sampai sekarang.
2. Apa yang mendorong Mas Himawan untuk mendirikan Project Avatar?
Saya pernah menjadi mahasiswa yang kurang mendapat informasi tentang dunia kerja kecuali jika ada acara temu alumni yang juga jarang, sehingga saya tidak mempersiapkan diri waktu itu. Saya juga pernah merasakan menjadi alumni yang lulus dari perguruan tinggi ternama di Indonesia tapi tidak bisa mendapat kerja karena masalah IPK yang biasa-biasa dan tidak memiliki hal lain yang bisa ditawarkan ke perusahaan. Saya pernah menjadi profesional yang ingin sekali bekerja ke luar negri tapi tidak tahu caranya. Dari pengalaman tersebut saya melihat masalahnya adalah kebiasaan berbagi ilmu dan pengalaman yang belum menjadi budaya kita.
Project Avatar didirikan sebagai komunitas terbuka untuk para profesional dan mahasiswa sehingga mereka bisa saling tolong-menolong untuk mencapai target berkompetisi di dunia pekerjaan global. Profesional yang berpengalaman bisa membagi pengetahuannya ke profesional yang lebih muda. Dengan melakukan itu dia menunjukkan kemampuan dalam mentoring dan kepemimpinan ke seluruh dunia. Profesional bisa membagi pengalamannya ke para mahasiswa sehingga mereka setidaknya bisa mengetahui bagaimana sebenarnya pekerjaan di dunia nyata. Dan dengan melakukan itu si profesional akan menjadi profesional yang lebih baik. Setiap kali seseorang membagi pengetahuannya maka pengetahuannya juga akan semakin bertambah. Setiap kali seseorang memberikan hadiah gratis ke beberapa orang maka mereka akan melakukan hal yang sama ke beberapa orang lainnya. Lalu kita memiliki budaya dalam memberi hadiah. Mahasiswa suatu hari nanti akan menjadi profesional juga dan akan melanjutkan rantai kebudayaan berbagi pengetahuan ini.
3. Bagaimana prosesnya? Berapa lama prosesnya sejak perencanaan hingga beroperasi?
Sebetulnya ide ini sudah lama ada di kepala. Beberapa tahun yang lalu saya mencoba membuat komunitas “Kampung Internet” di Bandung di mana saya membuat loteng rumah saya menjadi tempat terbuka buat orang yang mau belajar dengan fasilitas komputer dan Internet gratis. Komunitas tersebut sempat berjalan beberapa bulan dan menarik para karang taruna di sekitar rumah, bahkan kita sempat mengundang pembicara untuk mengajari cara membuat toko online. Sayangnya ide ini tidak bisa dipertahankan karena saya tidak lagi berada di Bandung dari tidak ada yang bisa menjadi pemandu.
Berbekal pengalaman itu saya merasa jika ingin mewujudkan komunitas seperti ini saya harus melakukannya dengan media online sehingga saya bisa terus terlibat. Setelah 6 bulan berdiskusi dengan beberapa teman dekat untuk mematangkan konsep, dan juga trial-and-error mencoba teknologi yang ada akhirnya di suatu malam di awal bulan Mei kemarin saya mengoperasikan domain projectavatar.net menggunakan platform social networking. Tadinya tujuan saya hanya sebagai proof-of-concept, dan saya mengirimkan ide komunitas ini ke beberapa milis sekitar jam 3 pagi. Ternyata ketika saya bangun siangnya sudah lebih 100 orang yang mendaftar dan mulai menggunakan platform ini. Walau ide dan fiturnya belum matang, saya memutuskan untuk melanjutkan saja dengan prinsip “ship - fix - ship - fix” jadi sekarang komunitas kita masih terus dikembangkan langsung dari feedback anggota komunitas yang menggunakannya.
4. Berapakah modal yang dikeluarkan untuk mendirikan Project Avatar?
Saya mungkin termasuk ‘bootstraper’, orang yang punya ide tapi tidak punya dana
Di awal-awal beroperasi saya menggunakan kartu kredit pribadi buat membiayai semuanya. Setelah berjalan ada beberapa teman yang membantu termasuk dalam masalah finansial. Semua teman yang terlibat tidak mendapat bayaran, dan kita menyebut Project Avatar ini sebagai Project Akhirat. Sampai sekarang seluruh pengeluaran masih di bawah USD 5000 dan biaya termahal tentunya dari segi infrastruktur seperti sewa server yang sudah kita bayar sampai beberapa bulan ke depan.
5. Apa tantangan dan kendala yang Mas Himawan hadapi dalam pengembangan Project Avatar? Bagaimana mengatasinya?
Tantangan utama buat saya maupun teman-teman yang lain adalah karena kita masih harus bekerja buat perusahaan masing-masing di siang hari. Saya pribadi bahkan masih suka traveling mengerjakan proyek di kawasan yang di cover oleh team di Cisco. Untuk mengatasinya sampai sekarang ya dengan cara mengembangkan Project Avatar di waktu malam dan mengurangi waktu tidur, seperti halnya sekarang saat saya menjawab pertanyaan dari Swa
6. Apa yang membuat Project Avatar berbeda dari situs jejaring sosial lainnya? Mohon dijelaskan.
Social network yang ada seperti Facebook digunakan untuk hal-hal pribadi dan berhubungan dgn orang-orang dekat, bukan untuk profesional. Sulit untuk mencampur profesionalisme dengan permainan poker atau peternakan virtual. Selain itu tidak ada yang ditawarkan sehingga saya kadang merasa waktu yang dihabiskan di Facebook bisa dimanfaatkan buat hal lain. Profesional network seperti LinkedIn bisa memberikan koneksi. Tapi hanya itu.
Project Avatar menggunakan konsep mentoring dimana setiap orang yang ingin menjadi mentor bisa menggunakan fitur yang ada untuk berbagi ilmu dan pengalaman, tidak hanya dengan cara membentuk group, meng upload video, menulis blog, bertanya dan menjawab pertanyaan, membuat polling, dan berbagi dokumen, tapi juga dengan mengadakan web seminar atau berdiskusi di virtual whiteboard. Dan ada program Project Avatar Challenge dimana anggota komunitas bisa melakukan satu simulasi proyek, dipimpin oleh salah satu profesional sebagai project leader dan menggunakan tool kolaborasi project yang biasa digunakan di dunia kerja, untuk menghasilkan produk yang nyata seperti ebook yang akan dipublikasikan di Internet. Hal-hal tersebut menawarkan 4 konsep yang kita usung: belajar (learn), mengalami (experience), terkoneksi (connect), dan menjual profil (pitch). Moto kita adalah: sampaikan, walau hanya sepatah kata (convey, even if it’s only a single word).
Project Avatar juga memiliki sistem poin dimana setiap aktifitas anggota mendapat poin, sehingga bisa terlihat anggota mana yang aktif dari jumlah poinnya. Anggota yang aktif tersebut bisa dengan mudah menunjukkan hal-hal apa yang sudah dia lakukan di komunitas dan ini merupakan hal yang penting bagi profesional maupun mahasiswa untuk memiliki nilai tambah ketika melamar pekerjaan, misalnya.
Pengarahan dari para profesional yang sudah berpengalaman untuk profesional yang lain maupun mahasiswa menggunakan cara-cara dan fitur seperti di atas tersebut membedakan kita dengan situs yang lain.
7. Untuk ke depannya, apa saja target yang masih ingin dicapai, baik dalam pengembangan Project Avatar, maupun pekerjaan dan target dalam hidup?
Kedepannya saya berharap makin banyak profesional yang bergabung di Project Avatar yang mau aktif membagi ide-ide, pengetahuan dan pengalamannya sehingga makin banyak profesional lain dan mahasiswa yang bisa mendapat manfaat. Dalam 30 hari pertama tanpa menggunakan promosi hanya mengandalkan word-of-mouth sudah ada lebih 1000 anggota dari berbagai belahan penjuru dunia (tercatat ada lebih dari 100 negara), dan hanya sekitar 60 persen adalah orang Indonesia. Itu sebabnya bahasa di situs adalah bahasa Inggris. Dan ini sangat mendukung target kita karena para profesional dan mahasiswa Indonesia menjadi terkoneksi dan terbiasa berdiskusi dengan profesional dari negara lain menggunakan bahasa Inggris.
Situs kita bisa diakses isinya tanpa perlu mendaftar, karena tujuan kita adalah berbagi informasi. Dengan mendaftar anggota bisa ikut berpartisipasi aktif di semua kegiatan.
Kalo target dalam pekerjaan, saya kira saya mengikuti prinsip Tony Hsieh CEO Zappos di mana ketika kita memulai kerja kita mencari keuntungan finansial (profit), kemudian di tahap berikutnya melakukan apa yang kita sukai (passion), dan terakhir adalah mencoba mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi (higher purpose, bigger than myself). Saya ingin hidup saya bisa bermanfaat buat orang lain, dan bisa manjadikannya contoh buat anak-anak saya sebagai bekal hidup mereka di masa depan.
8. Apakah Mas Himawan masih memiliki mimpi atau cita-cita atau target pribadi yang belum tercapai dan masih ingin diwujudkan?
Mimpi saya untuk melihat orang Indonesia memegang posisi strategis di berbagai penjuru dunia, dan saya merasa sekarang ini sudah mulai terjadi. Saya juga bermimpi untuk melihat Indonesia dikenal sebagai bangsa orang pintar di pasar internasional seperti halnya bagaimana dunia melihat India dan Cina sekarang. Setelah itu apakah kita bisa memanfaatkannya sebagai keuntungan untuk memberi kesejahteraan buat bangsa kita merupakan pilihan dari kita sendiri.
Kalau target pribadi sebenarnya sederhana: menjadi bapak dan suami yang baik, mendalami agama dan bisa memberi manfaat buat orang lain. Apa yang saya kerjakan sekarang berdasarkan ketiga hal tersebut. Project Avatar adalah merupakan perwujudan ide pertama saya dalam mencoba memberi manfaat. Masih ada beberapa ide di kepala yang Insha Allah akan saya wujudkan dalam waktu dekat.
Silahkan klik di sini untuk wawancara versi singkat di majalah Swa.