CCDE Practical

July 13, 2008

Gue pernah nulis beberapa bulan yg lalu tentang rasa penasaran gue yang tidak sabar menunggu untuk melihat bagaimana caranya sertifikasi CCDE bisa menguji skill dari seorang network designer. Well, beberapa hari ini gue mendapat informasi lebih detil tentang ujian CCDE practical dari berbagai sumber. Salah satunya dari presentasi Networkers 2008 yg dilangsungkan sekitar bulan Juni. Selain itu, jika punya login di Cisco Learning Network juga ada beberapa informasi termasuk kesempatan diskusi langsung dgn team pembuat sertifikasi ini. Bahkan di sana ada contoh ujian CCDE practical sebagai gambaran dari ujian yg sesungguhnya, yang Beta nya baru akan diluncurkan bulan Oktober di US sebelum diluncurkan resmi di tempat-tempat lain.

Untuk ujian written, tidak ada yg aneh dan formatnya mirip dgn ujian CCIE written. Bedanya, tidak akan ada konfigurasi yg ditanyakan dan juga pertanyaannya tidak akan mencapai bit-level. Jadi lebih mengarah ke pengetahuan tentang protocol dan features beserta implikasinya jika diaplikasikan dalam sebuah design. Mungkin lebih mirip ujian ARCH untuk CCDP dengan materi yg lebih dalam dan coverage yg lebih luas, karena CCDE memang dirancang untuk large scale networks. Yang penting buat gue dari ujian CCDE written, lulus ini berarti juga me renew sertifikasi CCIE gue.

Nah untuk ujian lab, formatnya adalah 8-jam dan diselenggarakan hanya di berbagai tempat di dunia mirip dgn ujian CCIE lab. Tapi ini bukan ujian lab, melainkan ujian computer-based spt halnya ujian written. Kecewa? Tunggu dulu.

Yg pertama, ujiannya adalah scenario based. Jadi dimulai dgn kita diberi satu set dokumen yg berisi informasi termasuk email dari customer. Berdasarkan informasi awal ini kita harus mencari informasi yg lebih detil dengan memilih pertanyaan yg akan kita ajukan ke customer. Dari situ baru kita mendapat berbagai pertanyaan yg masih berkaitan dgn skenario tadi, dimulai dgn membuat topologi yg bisa menjawab kebutuhan, pemilihan protocol dan features, sampai ke implikasi dan justifikasi dari pilihan yg kita ambil.

Mirip dgn kejadian di dunia nyata kan? Tentu saja. Ini dikarenakan team yg membuat sertifikasi CCDE adalah designer-designer Cisco yg sudah berpengalaman dan sering membuat design dan mengimplementasikannya di dunia nyata. Sehingga mereka tahu persis proses membuat design itu seperti apa dan juga tantangan-tantangan apa yg dihadapi setiap designer dalam menjalankan proses tsb. Format pertanyaan di ujiannya ada yg berupa pembuatan topologi network dgn drag-and-drop, multiple choices dgn kemungkinan jawaban benar lebih dari satu, menyusun daftar, dan membandingkan daftar yg satu dgn yg lain. Dan lihat juga daftar bacaan yg harus dibaca. Meskipun tidak akan ada pertanyaan ttg konfigurasi IOS spt CCIE, tapi dari daftar itu kelihatan bahasannya sangat luas dan mendalam, befokus ke large scale networks dgn teknologi yg beragam dan kompleks.

Ini yg gue suka dari CCDE dan kemungkinan akan menjadi sertifikasi yg akan gue ambil dalam waktu dekat. CCDE juga dikategorikan sbg vendor neutral, jadi gue pikir tidak akan ada pertanyaan yg spesifik tentang product Cisco misalnya.

Hal yg masih gue rasa kurang dari ujian CCDE practical ini adalah tidak ada porsi untuk menguji skill designer yg lain. Misalnya skill dalam mengadakan requirement workshop. Berdasarkan pengalaman pribadi tidak semua informasi tersedia dalam bentuk dokumen. Kadang-kadang gue harus mengumpulkan semua bagian dari customer ke dalam satu ruangan dan mengajukan pertanyaan yg tepat agar mereka bisa memberikan informasi-informasi yg hilang. Selain itu juga tidak ada porsi untuk menguji skill presentasi. Skill ini penting dalam melakukan requirement workshop maupun design workshop dimana seorang designer harus menjelaskan, menjustifikasi dan mempertahankan pilihan-pilihan yg diambil dalam membuat design. Belum lagi skill untuk bisa beradaptasi dgn customer yg berbeda budaya ataupun kemampuan bekerja di project yg requirementnya bisa berubah-ubah setiap saat. Semua skill di atas itu penting apalagi jika ingin menjadi Consulting Engineer spt di tulisan gue sebelumnya. Tapi paling tidak, lulus CCDE bisa membuat kita ‘technically sound’ sehingga mudah-mudahan pelan-pelan kita bisa jadi ‘trusted advisor’ buat customer.

Dan ingat, seperti juga CCIE, lulus ujian CCDE tidak berarti kita menjadi network designer yg handal. Lulus ujian itu hanya awal perjalanan. Setelah itu kita harus membangun pengalaman dan skill di dunia nyata. Sehingga nanti kita bisa menjadi network designer yg sebenernya, yg mengerti proses melakukan design secara benar, mampu meng capture requirement dari customer, mampu membuat design untuk menjawab requirement itu, kemudian mampu menjustifikasi dan mempertahankan pilihan yg diambil di design tadi, sampai mengimplementasikannya menjadi a working network infrastructure.

Buat yg masih skeptis, mungkin akan lebih baik jika coba dulu liat contoh soal ujian CCDE practical di Cisco Learning Network. Itu contoh hanya untuk kasus dan topologi yg sederhana loh.

Kalo boleh berpendapat sih, sebaiknya ujian CCDE ini memang diambil setelah punya pengalaman di lapangan bekerja sbg network designer. Atau kalo pun ingin menggunakan sertifikasi ini untuk mengakselerasi proses belajar, sebaiknya ambil CCIE dulu baru ke CCDE. Ini dikarenakan CCDE itu berada di level strategic atau conceptual, sedangkan CCIE lebih di level tactical atau low-level. Jadi gabungan ke duanya akan membuat seorang designer yg komplit, punya pengetahuan high level untuk mengerti business dan implikasi dari sebuah design, dan juga tahu feature secara mendalam sehingga ketika mengambil pilihan benar-benar yakin karena sudah pernah melihat maupun mengimplementasikan di lapangan.

Paling top lagi: punya CCIE, kalo perlu beberapa track bergantung pada kita mau jadi designer di area apa, terus punya CCDE, punya sertifikasi dari vendor lain dan juga dari organisasi netral, punya pengalaman di lapangan sbg network designer, punya pengalaman mengerjakan project yg large scale dan kompleks, dan punya pengalaman menghadapi customer dari berbagai tipe dan negara.

Ada yg berminat?

Consulting Engineers Must Have

July 11, 2008

Sudah hampir dua tahun gue bekerja sebagai Consulting Engineer di Cisco Advanced Services. Ini adalah role yg unik karena menggabungkan scope dari seorang consultant dan engineer. Jadi consultant ketika harus berbicara dgn para eksekutif untuk menjelaskan garis besar design dan project yg akan dilakukan, untuk mengerti line business customer sehingga mengetahui kebutuhan mereka secara lebih mendalam sebelum memutuskan solusi yg sesuai, menggunakan soft skill untuk membangun hubungan, dan membuat high level design dan strategi dari implementasi. Menjadi engineer ketika harus benar-benar mengubah design di atas kertas menjadi network infrastructure yg bisa digunakan, membuat low level design dan detil rencana implementasi atau migrasi, membuat konfigurasi dari setiap device dan interkoneksi, melakukan test jika perlu interoperability dgn produk lain dan juga Proof of Concept, dan melakukan migrasi dgn waktu downtime yg disetujui customer.

Sebenarnya semua hal di atas bukan hal baru buat gue. Gue sudah sering melakukan itu bahkan sebelum masuk Cisco AS. Pada saat gue bekerja di Middle East gue bahkan harus terlibat dalam proses pre-sales dimana gue harus membantu mendefinisikan scope dari project yg akan dilakukan, membuat atau mengecek Bill of Material sebelum barang dipesan, sampai ke pre-sales meeting dgn customer untuk meyakinkan bahwa biarpun design detil belum dibuat tapi project ini pasti bisa dan berhasil dilakukan. Gue juga memiliki tambahan pengalaman sebagai technical project manager sehingga sudah biasa memimpin team, mengalokasikan resource dan membagi-bagi tugas.

Dalam life cycle suatu produk dari pertama di buat sampai akhirnya bisa digunakan di production network, keterlibatan Cisco AS biasanya ada di akhir cycle. Jadi produk dibuat oleh development team yg terbagi ke dalam Business Unit, untuk kemudian di jual oleh team sales kita dgn menyesuaikan spesifikasi produk dan kebutuhan, sampai akhirnya Cisco AS engineer harus memberikan detil design dan melakukan implementasi atau migrasi sebelum customer bisa menggunakan produk itu sepenuhnya. Walaupun seperti telah disebutkan di atas gue pribadi, karena mungkin memiliki background dan experience, sering diminta untuk ikut serta dalam proses pre-sales.

Dan bekerja sebagai consulting engineer juga tidak membutuhkan ilmu programming sama sekali. Kita memang tidak diperlukan untuk menulis code, tapi bukan berarti kita tidak terlibat dalam pengembangan produk! Cisco AS adalah team yg bertugas untuk mengimplementasikan produk di real world dan berhadapan langsung dengan customer, jadi team ini adalah yg paling banyak mengetahui jika ada feedback dan tantangan selama implementasi atau pengoperasian dari suatu produk. Kuncinya adalah pengetahuan yg mendalam tentang arsitektur hardware, software dan protocol. Gue sering melihat orang-orang dari team Cisco AS yg tidak bisa menulis code tapi diminta bantuan dalam pengembangan produk atau protocol karena pengetahuan di lapangan yg dimiliki. Kedekatan Cisco AS dan development team juga membuat kita memiliki lebih banyak akses dibanding team-team non-developer di Cisco.

Semua hal tersebut membuat gue sebenernya merasa sangat cocok dgn role yg sekarang gue miliki dan gue yakin jika suatu ketika nanti berganti profesi akan merindukan hal-hal seperti:
- Kepuasan ketika design atau rencana implementasi dan migrasi gue berhasil, tentunya kepuasan gue akan terus meningkat sesuai dgn tingkat kesulitan project yg semakin tinggi dan scope dari project yg semakin besar
- Jam kerja yg fleksible, gue bisa kerja di mana saja kapan saja, yg penting target dan project bisa tercapai dan berhasil diselesaikan. Dan karena scope kerjaan gue Asia Pacific, khususnya negara-negara South East Asia, gue jadi sering traveling mengunjungi tempat-tempat yg berbeda dan selalu ditantang oleh customer yg berbeda-beda kebiasaan dan budayanya
- Akses yg lebih dalam dan lebih banyak ke development team, gue merasa walaupun tidak terlibat langsung dalam pengembangan produk tapi AS sangat dibutuhkan untuk memberi feedback dan kita juga bisa belajar dari temuan dan hasil testing di lab oleh para developer

Gue juga sempat merumuskan apa yg gue sebut “5 Things must have from every Consulting Engineer”:

1. Be a trusted advisor, listen more and be in customer’s shoes

Sebagai seorang consulting engineer kita harus menjadi penasehat yg terpercaya oleh customer. Ini tentunya hanya bisa diperoleh dgn pengalaman, integritas dan reputasi yg harus dibangun. Kita juga harus bisa mendengarkan dan mengeri apa yg dibutuhkan oleh customer, bukan yg mereka inginkan. Tentunya kita harus mampu menempatkan diri dalam posisi customer untuk bisa mengerti betul apa yg mereka perlukan.

2. Must technically sound even we don’t have to be specialized

Tentunya menjadi consultant sekaligus engineer membutuhkan skill engineering yg benar dan tidak hanya di atas kertas. Sekali lagi pengalaman merupakan hal yg sangat berharga. Dan consulting engineer yg top-notch biasanya memiliki pengetahuan ttg satu atau dua bidang yg mendalam, dan juga mengerti banyak bidang sehingga bisa menjadi nara sumber untuk berbagai hal. Jika kita tidak bisa memiliki spesialisasi pengetahuan teknis yg luas dan mendetail juga sudah cukup.

3. Be independent, but at the same time know where to find answers

Kemampuan untuk mengambil keputusan secara independen di lapangan adalah sangat penting. Ketika kita membuat suatu design atau harus melakukan implementasi maka kita adalah pengambil keputusan tertinggi. Walaupun gue sering bekerja dalam team di berbagai project, seringkali keputusan harus diambil berdasarkan hasil pemikiran kita sendiri. Meskipun independen, di saat yg bersamaan kita juga harus tahu bagaimana caranya mencari jawaban atau pertolongan pada saat mengalami kesulitan

4. Adaptable to any changes and adjustable to customer

Kondisi di lapangan sering berubah-ubah tanpa bisa dihindari. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk beradaptasi jika terjadi perubahan. Kita harus bisa menjadi orang yg fleksibel dan tidak kaku. Kemampuan adaptasi yg cepat ini sangat penting terutama jika harus bekerja di berbagai negara dan harus berhadapan dgn customer dgn budaya yg berbeda, dan scope project yg berbeda-beda pula.

5. Understand company’s business objectives even just a bit

Masih berkaitan dgn poin sebelumnya, meskipun kita harus bisa beradaptasi jika terjadi perubahan di lapangan tapi kita tetap harus mengingat tujuan bisnis dan limitasi dari perusahaan kita sendiri. Maksudnya adalah, kita harus bisa melakukan keseimbangan antara kemampuan kita dalam beradaptasi ketika terjadi perubahan di project sehingga membuat customer kita senang, tapi juga tidak membuat perusahan menjadi rugi karena project yg dikerjakan menjadi berlarut-larut.

Ini semua berdasarkan pengalaman pribadi selama bertahun-tahun karena gue merasa bahwa gue sudah menjalankan role ini bahkan sebelum masuk Cisco AS. Mudah-mudahan bermanfaat buat yg berminat untuk bekerja di bidang yg serupa.

How Did You Watch Euro2008?

July 1, 2008

Bulan Juni kemaren bener-bener bulan yg berat buat gue. Meskipun gue sudah mengklaim sebagai ‘gelandangan internasional’ tapi ternyata menyelesaikan 2 project migrasi besar dan mengerjakan 3 project yg lain di 5 negara yg berbeda di bulan yg sama ternyata benar-benar melelahkan. Even I have to admit it was really fun. Terbang dari Jakarta trus tidur di Changi Airport singapore, trus terbang lagi ke Ho Chi Minh, menyelesaikan final step dari migrasi project di sana, langsung terbang ke Taiwan buat kick off untuk project baru, pulang ke Singapore cuman untuk tidur lagi di airport terus langsung terbang ke Kuala Lumpur, kemudian setelah selesai mengerjakan migrasi di sana langsung terbang ke Jakarta buat meeting, ini cuma contoh yg harus gue lakukan dalam kurun waktu 2 minggu.

Untungnya selama bulan Juni ada Euro 2008 (heheh selalu ada untungnya yah!). Dan untungnya lagi team kebanggaan gue Spanyol berhasil juara, apalagi karena gue udah beli kaosnya heheh. Spanyol memang negara hebat, punya team sepakbola bagus terus punya Fernando Alonso (yang sayangnya belum dapat mobil kompetitif dari Renault) dan Dani Pedrosa (meskipun gue suka perjalanan hidup Rossi tapi gue juga mendukung Dani karena postur tubuhnya yg kecil namun bisa jadi kandidat kuat untuk juara MotoGP tahun ini), dan juga Rafael Nadal yg sekarang sedang berjuang di Wimbledon. Kadang memang kalau sedang sibuk banget dan banyak tekanan salah satu cara untuk melepaskan rasa stress adalah mengikuti kejuaraan olahraga di TV.

Ngomong-ngomong tentang Euro 2008, gue berusaha menonton semua pertandingan dan ini adalah daftar lokasi tempat gue menonton:

Final - in Hotel, Kuala Lumpur
Semi Final - 1 in Changi Airport and 1 in Hotel, Taiwan
Quarter Final - 1 in Changi Airport, 1 in Customer site (during migration), 2 in Hotel, Saigon
Qualification - 4 in friend’s home, 4 in the office (Internet TV), 1 in Hard Rock Cafe KL, 3 in hotel in KL, 1 in Changi Airport, rest either at own home or didn’t watch

Time flies pada saat ada hal seperti kejuaraan Euro 2008 meskipun kerjaan sedang banyak tekanan. Dan kabar lain yg sama bagusnya: gue udah dapet buku Performance Riding dari amazon bersamaan dgn kabar yg barusan gue terima kalo Ninja 250R merah gue udah dateng. Saatnya belajar cornering dan trail braking ;)

This month will be another interesting month. Alhamdulillah.

Inspired by Rossi

June 15, 2008

Sudah lama gue mengikuti balapan Valentino Rossi di MotoGP. Tapi mungkin baru tahun ini gue berusaha menonton setiap grand prix, walaupun itu membuat gue harus nonton di hotel, di Airport sampai di rumah teman. Apalagi semenjak gue tidak meneruskan kontrak apartemen di Singapore gue menjadi gelandangan setiap kali berada di negara home based gue itu.

Banyak hal yg gue pelajari dari Rossi, seperti yg tertuang di buku autobiography nya. Salah satu quote yg gue suka: “When I put on my suit, get on my bike and make my way to the start line, my brain is free of every single thought apart from those directly linked to my riding of the bike. I can isolate everything else, nerves don’t bother me, I don’t even think, once that visor comes down, that my reputation, or my title, or even my career might be at stake.”

Ini merupakan pelajaran berharga tentang bagaimana kita harus fokus dgn hal yg sedang dihadapi, meskipun banyak hal lain yg seharusnya dapat mengganggu pikiran kita. Sama halnya ketika kita sedang mengambil ujian CCIE lab, walaupun banyak tekanan tapi memikirkan bahwa kita harus lulus jika tidak dipecat, atau mengingat-ingat banyaknya uang yg dikeluarkan, atau meratapi kenyataan bahwa kita sudah tidak lulus berkali-kali padahal ada junior kita yg satu kali ujian juga lulus, itu sangat tidak membantu. Lebih baik tutup visor dan kerjakan saja.

Hal lain yg gue suka dari juara dunia 7 kali ini adalah ketika Rossi memutuskan untuk pindah dari Honda ke Yamaha di akhir tahun 2003. Pada saat itu Honda begitu superior karena menjuarai Grand Prix selama berturut-turut dan banyak orang bilang kalau ingin menang itu harus pakai motor Honda. Rossi membuktikan bahwa yg terpenting itu tetap raider, man behind the wheel, dan bukan motornya sendiri. Dia pindah ke Yamaha yg pada saat itu merupakan team yg tidak diperhitungkan, untuk kemudian menjadi juara dunia tahun 2004 dan 2005.

Mungkin karena terlalu terpengaruh dgn Rossi atau mungkin karena terlalu banyak menonton MotoGP maupun World Superbike di TV, akhirnya gue memutuskan untuk membeli Kawasaki Ninja 250R yg baru di release bulan lalu. Nama gue masih berada diurutan ke sekian di daftar pemesan sih, dan mudah-mudahan bulan depan motornya sudah bisa gue dapatkan.

Ada yg bertanya, buat apa gue beli motor di Indo sedangkan gue sendiri selalu traveling di luar? Bahkan bulan ini gue bakal menjalani yet another long journey di mana gue harus terbang dari KL ke Singapore terus ke Vietnam untuk kemudian ke Taiwan dan kembali lagi ke KL. Dalam perjalanan itu juga gue harus melakukan migrasi buat 2 customer. Dan ini berarti gue tidak akan ada di Indo sampai akhir bulan.

Jawabannya karena gue gak mau menunggu. Gue gak mau menunggu sampai kerjaan gue stabil kayak orang-orang kebanyakan baru mau menikmati hidup. Gue gak mau bilang nanti saja tunggu gue menetap baru mulai beli ini itu. Gue mau menikmati setiap saat yg ada. I want to live every second of my life. Dan paling tidak nanti setiap kali gue pulang ke Bandung ada hal lain yg gue lakukan di luar kerjaan gue.

Kalo kata Kung Fu Panda: Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. But today is a gift. That is why they call it a present.

Gue juga udah pesen buku Performance Riding Techniques untuk belajar bagaimana caranya menikung seperti Rossi maupun melakukan late braking. Ini motor memang cuman 250 cc dan powernya pun jauh dari kelas MotoGP 250 nya Doni Tata, tapi kita harus selalu mulai dari langkah satu kan? Siapa tahu ini jadi karir gue berikutnya kalo udah bosen jadi Triple CCIE ceile

“Just think, what if I had never raced motorbikes. How things would have been so different. Just think, what if I had never tried it.”
- Valentino Rossi -

Sebuah Pencerahan

May 4, 2008

Bukan perusahaan yg paling penting.
Yang terpenting adalah orang-orang di dalam perusahaan.
Orang-orang di perusahaan bisa mencapai hasil yg luar biasa tapi juga bisa membawa kegagalan.

Perusahaan tidak bisa mengajarkan hal baru.
Setiap orang yg direkrut di posisi menengah lah yg diharapkan membawa ide-ide baru ke perusahaan.
Orang-orang ini yg diharapkan bisa membawa nilai-nilai baru,
Yang harus membuat prosedur baru, memperbaiki proses, meng upgrade tools, dan membuat perubahan.

It’s the people inside the company who matter. It’s the people who change the way the world works, lives, plays, and learns.

Semua yg perlu diketahui untuk menjadi top-notch consultant sudah dipelajari bahkan sebelum masuk ke perusahaan.
Dan ini adalah pencerahan baru untuk hari ini.

Lost in Translation @ Vietnam

April 30, 2008

Sudah hampir dua minggu gue di Vietnam. Vietnam adalah negara sosialis yg menarik dgn pertumbuhan ekonomi yg sangat tinggi, tertinggi dibanding negara-negara Asia sekitar. Dan gue ada di sini untuk memimpin team gue melakukan hal yg banyak orang bilang tidak mungkin dilakukan dengan waktu yg tersedia.

Jadi ceritanya gini, sekitar dua bulan yg lalu gue dapet informasi kalo team Cisco AS yg lain gagal untuk melakukan migrasi network untuk salah satu Internet service provider terbesar di Vietnam. Customer nya sempat marah-marah dan mengirimkan surat ultimatum bahwa proses migrasi harus dilakukan dalam waktu 1 bulan atau “accept the consequences”. Seperti biasa team gue sbg field delivery alias team cuci piring atau mungkin lebih kerennya seperti di Michael Clyaton ‘fixer’ alias ‘janitor’ diutus untuk melakukan pekerjaan yg tertunda. Pada saat itu dari pihak management belum tahu penyebab kegagalan tsb. Yang jelas, ISP itu sudah mengumumkan downtime ke semua customernya tapi ternyata team yg terdahulu menyatakan tidak sanggup mengeksekusi dgn alasan kekurangan waktu persiapan. Ini yg membuat mereka kecewa besar dan marah-marah.

Dua NCE dari team gue melakukan evaluasi dari project scope dan design serta migration plan team terdahulu, dan hasilnya: ini adalah project migrasi yg sangat kompleks karena melibatkan teknologi Next Generation Networks mulai dari physical cable re-patching, migrasi EIGRP ke OSPF, MPLS, LDP, BGP dgn policy yg rumit, MP-BGP sampai ke cache dgn load balancer, di tiga data center di tiga kota besar Vietnam yg berbeda, dan downtime yg diberikan oleh customer untuk setiap tempat hanya 2 jam!

Dua jam downtime ini berarti team yg melakukan hanya punya waktu 1 jam untuk kerja, sedangkan 1 jam yg lain untuk jaga-jaga jika harus rollback ke state network sebelum migrasi. Dan karena ke-3 data center tadi saling terkoneksi, maka perubahan di 1 data center akan mempengaruhi network di tempat lain spt BGP policy, traffic flow dan lain-lain. Rencana team yg sebelumnya adalah untuk melakukan proses migrasi di 3 tempat secara bersamaan sehingga tidak perlu melakukan analisa dampak yg akan terjadi jika migrasi dilakukan satu persatu. Dengan hanya 1 jam waktu yg tersedia tentunya pressure pada saat downtime akan sangat tinggi sehingga tidak ada engineer baik dari Cisco maupun dari partner company yg mau melakukan itu.

Mungkin karena semangat untuk melakukan hal extra seperti di doktrin yg gue terima dan juga karena merasa tertantang, gue meminta boss gue buat diikutsertakan dalam project ini padahal project di tangan sudah ada 4 di 4 negara yg berbeda. Begitu semangatnya sampai gue bersedia untuk sharing kamar hotel dgn NCE yg lain selama beberapa kali kunjungan gue ke Vietnam! Ini gue lakukan dgn inisiatif sendiri untuk menghemat biaya karena sudah ada 2 NCE dari team gue yg ke sana (di setiap project umumnya kita selalu mengirim maksimum 2 NCE dalam satu waktu), selain itu team yg terdahulu sudah terlalu sering menghabiskan waktu di customer ini dari tahun kemaren sehingga budget yg tersedia buat travel and lodging sudah tidak ada. Sebenarnya buat gue hal ini tidak masalah soalnya setiap kali lagi project onsite ke suatu negara toh gue selalu menghabiskan waktu di customer jadi pulang ke hotel cuma buat tidur dan mandi doang.

Begitu boss gue setuju gue langsung mengadakan internal meeting dgn team member gue yg lain dan membuat migration plan yg baru. Gue lebih memilih untuk melakukan migrasi satu per satu di setiap tempat dgn konsekuensi harus melakukan analisa efek dari setiap perubahan di satu tempat di tempat yg lain. Begitu selesai dgn draft plan gue terbang ke Hanoi akhir Maret untuk bertemu dgn customer.

Meeting pertama gue dgn customer bulan lalu itu benar-benar nightmare. Customer yg sudah terlanjur marah ke Cisco menyambut kehadiran gue dan 2 NCE yg lain dgn dingin. Awalnya mereka terlihat ogah-ogahan untuk membantu. Bahkan ada yg menyatakan bahwa plan baru yg kita bawa itu not ready and unacceptable buat di eksekusi, karena terlalu banyak analisa yg belum dilakukan. Apalagi dgn jumlah router di setiap data center dan waktu yg tersedia berarti kita harus melakukan cable re-patch, migrasi OSPF, MPLS, dan BGP di setiap router dalam kurun waktu kurang dari 5 menit. Well, sebenarnya bukan pertama kali gue mengalami hal seperti ini, berada di situasi di mana customer sudah very low expectation dan juga harus kerja very under pressure karena waktu yg sangat terbatas. Jadi mungkin istilah kerennya: story of my life, isn’t it?

Mungkin jika gue dan team gue punya waktu lebih dari 6 bulan seperti team yg pertama, akan menjadi lebih mudah dalam membuat detil migration plan dan melakukan analisa. Namun customer sudah meng-fix tanggal untuk melakukan migrasi selama 2 minggu mulai pertengahan April, dan mereka setuju untuk melakukannya satu persatu dgn selang waktu beberapa hari. Ini berarti dari meeting terakhir sampai ke migrasi kita cuman punya waktu 3 minggu, 3 minggu untuk membuat plan yg final dan detil, termasuk melakukan testing di lab. Pressure yg sangat tinggi sudah terasa dalam proses persiapan setelah gue kembali dari meeting, apalagi gue pribadi di saat yg sama harus mengerjakan project CRS-1 di Singapore dan Thailand. Gue di meeting berterus terang ke customer bahwa migrasi ini ‘much more difficult than CCIE lab, but it can be done, we have done it before’. Seperti biasa, percaya diri itu harus nomer satu dong heheh. Dan gue yakin ini bisa dilakukan karena semua config yg diperlukan bisa di test terlebih dahulu di lab, dan kita bisa men-generate config tsb untuk di copy paste selama kurang dari 5 menit. Selain itu semua kabel maupun transceiver atau GBIC sudah di test terlebih dahulu.

Ini bukan kunjungan gue yg pertama ke Vietnam tapi mungkin akan menjadi yg paling berkesan. Kenapa? Apa karena gue jadi punya kesempatan mengunjungi 3 tempat yg berbeda: Danang, Hanoi, Ho Chi Minh selama 2 minggu dan selalu tinggal di hotel bintang 5? Apalagi Furama resort bintang 5 di Danang persis ada di pinggir pantai, Hanoi Intercontinental sgt terkenal dgn Sunset Bar nya yg berada di tengah danau West Lake, atau Sheraton Saigon yg sangat dekat ke Saigon River dan pusat hiburan di Ho Chi Minh? Oh tidak. Seperti yg gue bilang, gue kalaupun pulang ke hotel selalu hanya untuk tidur atau mandi jadi tidak pernah menikmati fasilitas.

Atau mungkin karena banyaknya jumlah motor di jalan-jalan seliweran dan suara klakson selalu terdengar? Memang walaupun disebut negara dgn pertumbuhan ekonomi tertinggi tapi Hanoi itu capital city yg kotanya jauh dari kata modern. Jumlah motor buaanyak bgt, lebih banyak dari yg ada di kota-kota indo! Dari koran gue baca perbandingan mobil ke motor 1.4 : 1 tapi kalo di jalan motor benar-benar melimpah dan seliweran, bahkan di jalan yg cocoknya jadi highway bisa dipadati sama motor! Di koran yg sama gue lihat jumlah kecelakan lalu lintas tahun lalu itu 15 ribu dgn angka kematian 13 ribu! Wak, ya jelas aja wong motor seliweran di sana sini bahkan ada yg suka melawan arus.

Dan orang di Vietnam suka sekali berkomunikasi melalui klakson
“halo, apa kabar?” “tiiit tttiiiit”
“baik, kamu sendiri gimana?” “teeennn teeennn”
“minggir dong gue mau lewat!” “tiin tiiin tiinnn”
“bentar ah, gue juga lagi ngebut” “tooon toooonnn”
hehe pokoknya bunyi klakson di jalan gak pernah berhenti terdengar mulai dari pagi buta sampai tengah malam sekalipun.

Mungkin berkesan karena gue melihat orang-orangnya yg sederhana dan pekerja keras. Sepertinya didikan sosialis membuat kebanyakan mereka tidak begitu materialis, dan tidak hidup memaksakan. CCIE yg kerja di sana, dgn gaji yg lumayan tinggi, bahkan manager sekalipun tidak malu pakai motor. Kalo di indo udah pada kredit mobil kali, gengsi dulu dong ye :)

Jadi sepertinya kalo memang belum cukup uang buat beli properti atau mobil ya sewa apartment dan naek motor saja, tidak perlu memaksa beli dgn cara meminjam ke bank. Memang sih kalo di jalan-jalan itu mobil mewah banyak apalagi di salah satu kota yg gue kunjungi, Danang. Jadi di Vietnam itu yg ada adalah orang yg kaya buanget sekalian, atau orang yg biasa-biasa, sepertinya jarang ada orang yg ‘nanggung’ atau maksain. Salah satu CCIE yg sukses karena jadi sales di salah satu partner kita mendapat bonus yg luar biasa gede sampai bisa punya BMW X5, tapi kalo belum sukses ya.. naek motor aja heheh. Orang-orangnya juga kebanyakan begaya hidup sederhana dgn makan di pinggir jalan. Btw makanan di Vietnam termasuk murah bgt, gue sampe sakit perut kebanyakan makan Pho, mie lokal yg tersedia di setiap penjuru. Yang mahal itu adalah rate hotel berbintang dan properti.

Meskipun mereka bersedia mengeluarkan IT spending yg tinggi tapi mereka selalu mencoba mengoptimalkan produk yg dibeli, kalo cukup dgn 2 router kenapa harus lebih? kalo cukup dgn 2 Gig backplane router kenapa harus upgrade? Salah satu data center ISP terbesar ini tidak pakai raise floor, bahkan dipasangin buanyak kipas angin gede2 buat membantu AC yg kurang dingin hahah

Orang-orangnya juga sangat curious dan ingin tahu secara mendetil dan tentunya seperti biasa suka bekerja keras. Begadang sampe pagi atau tidur di data center udah biasa buat mereka. Mungkin karena balik lagi didikan sosialis dimana mereka memang harus kerja keras buat hidup, sama mungkin gak ada tontonan sinetron kali ye yg ngajarin bisa dapet duit cepet dgn cara nipu, berebut warisan dll heheh. Dan juga mungkin karena masalah culture yg kuat yg masih dipertahankan sama mereka, sehingga di Hanoi pun suasana terasa sederhana dan tidak se modern Ho Chi Minh aka Saigon. Ini mungkin yg membuat pengaruh gaya hidup mereka yg lebih simple tapi fokus dgn culture yg sangat kuat.

Ini salah satu hal yg membuat gue terkesan. Selain itu juga tentunya karena gue beserta 2 NCE yg lain berhasil melakukan project migrasi ini walaupun penuh dengan tekanan. Pada saat downtime suasana benar-benar hell, gue harus mengkordinasi partner kita yg melakukan re-patch cabling, engineer yg memegang console di router yg berbeda, sampai melakukan troubleshooting sendiri di console, sehingga target migrasi dalam 1 jam bisa terpenuhi. Secara pribadi yg bikin gue semangat kayaknya film Braveheart yg gue tonton di hotel beberapa jam sebelum migrasi “they can take our console but they can can never take our freedom!!”

Dan juga pas downtime gue jadi inget sang Spaniard gladiator teman-temannya di tengah lapangan colloseum melawan pasukan yg lebih kuat “single column! single column!” Kalo gue mungkin “step 2! step 3! OSPF up? BGP up? Show ip route!” heheh very tense tapi seru and fun

Customer yg tadinya dingin lama-lama jadi akrab ke kita. Mereka mulai merasa yakin ketika kita berhasil migrasi data center nya satu persatu. Walaupun bahasa inggris mereka belepotan yg membuat komunikasi tidak lancar kita masih bisa becanda dan ketawa-ketawa. OSPF adalah tetap OSPF, BGP tetap BGP, di semua bahasa. Dan every guy in the world talks the same languange, you know, guys stuff ;)

Tentunya mereka juga punya masalah ‘inferior complex’ spt bangsa2 South East Asia lainnya. Pas ada orang bule dgn aksen British yg perfect melakukan presentasi semuanya pada diem, padahal planning yg dibikin salah total. Pas gue dan team gue dateng, karena sesama bangsa Asia, mereka sedikit lebih agresif.

Problem mereka dengan bahasa Inggris yg jarang digunakan sehari-hari menjadi momen-momen Lost in Translation yg tidak bisa gue lupakan. Gue sempet tertawa-tawa pas ngeliat team member gue orang Thailand dgn pronunciation yg ‘beda’ mencoba menjelaskan ke customer orang Vietnam yg gak bisa bahasa Inggris. Atau gue asli ketawa ngakak pas ngedenger TAC engineer yg orang Spanyol dgn logatnya mencoba menjelaskan hardware problem ke engineer partner kita yg bahasa Inggrisnya patah-patah. Setiap kali presentasi gue lakukan dgn berbicara pelan dan kadang harus berulang untuk memastikan customer gue sudah mengerti.

Isu mereka yg lain juga adalah masalah edukasi. Pakai helm yg bener pas naek motor itu baru2 mereka lakukan, sebelumnya mereka biasa pakai apa aja termasuk topi petani maupun helm tentara :) Juga kebiasaan makan di jalan, yg kelihatannya sepele tapi ternyata masalah penyakit cholera karena jajanan jalanan yg tidak bersih itu sempet menjadi epidemik.

Terlalu banyak hal berkesan yg terjadi selama 2 minggu project migrasi ini sehingga mungkin walaupun gue menuliskan pengalaman gue kemaren selama 100 halaman tetap tidak bisa menggambarkan suasana yg sebenarnya. Seperti salah satu pemenang the Amazing Race Asia bilang, walaupun selama lomba mereka diikuti dan difilmkan “but all the small things that happened that make each moment very special”. Seperti juga CCIE lab atau hal lainnya, banyak pengalaman itu harus dirasakan sendiri untuk tahu bagaimana rasanya.

Anyway, it was a damn good experience and perhaps one of my unforgettable moments. Dan mungkin kita bangsa Indonesia harus belajar dari kehidupan orang-orang Vietnam yg lebih sederhana dan pekerja keras.

Once a Traveler

April 1, 2008


You wake up at Kuala Lumpur, Bangkok, Singapore. You wake up at Sydney, Bali, Hanoi. San Jose, Hongkong, Jakarta, Ho Chi Minh. Lose an hour, gain an hour. This is your life, and it’s ending one minute at a time. You wake up at Changi International. If you wake up at a different time, in a different place, could you wake up as a different person?
(Fight Club, modified with the places I visited in the last few months)

I’m a traveler as well as a consulting engineer, a dreamer, a blogger, a backpacker, and a storyteller.

My traveling experience:
Hotel: Shangri-La (80%), Hilton, Hyatt, Ritz Carlton, Intercontinental, Swissotel, Sheraton, Le Meridien, Four Season, Holiday Inn, Westin, Crown Plaza, Conrad, Sofitel, Excelsior
Airline: Singapore Air (90%), Malaysia Air, Thai Air, Air Asia, Garuda, Jet Star Asia/Valuair, Emirates Air, Vietnam Air
Membership: Singapore Air KrisFlyer/Star Alliance Elite Gold, Shangri-La Gold, Hyatt Gold, Starwood Preferred Guest
Privileges: Airport business lounge, priority check-in/luggage, upgraded hotel room, free staying in hotel, miles
Travel style: Light. First priority is for passport, wallet and mobile phone. Second priority is for Cisco badge, notebook, chargers, iPod. Third, my backpack where I keep all the rest. In fact, everything that I need for living outside the country I put it inside this North Face backpack
Favorite airport: Changi International
Favorite cities: San Francisco, Amsterdam, Sydney, Dubai, Bangkok
Best flying experience: A380 to Sydney
Longest flying time: San Francisco - Sydney (via Hongkong and Singapore)
Longest stay in city during one visit: 3 weeks (Sydney)

I decided to go full mobile even in Singapore. I decided to abandon my apartment room. I decided to stay in the hotel everytime I need to be in my base station, most probably in a backpacker hotel. According to my calculation if I need to spend only a week every month in Singapore in average it’s much cheaper to stay in the hotel that is closer to office than paying monthly room with taxi since my current room is on the far west side of the island. And obviously it will be more fun.

This is my life, and it’s ending one minute at a time.

CCIE @ Networkers Indonesia

March 16, 2008

Update: materi presentasi gue kemaren bisa di download di sini.

Cisco Systems Indonesia akan mengadakan acara Cisco Networkers Solutions Forum 2008 di hotel Shangri-La Jakarta tanggal 25 Maret ini. Insya Allah, jika tidak ada halangan maka gue akan menjadi salah satu pembicara untuk mempresentasikan topik tentang CCIE. Gue akan coba memberi penjelasan tentang Cisco certification program secara general, dan berfokus pada salah satu track CCIE, sharing tips and trick untuk bisa lulus CCIE, dan lab day experience disertai sedikit cerita tentang hidup sebagai CCIE.

Gue juga berusaha mengundang semua CCIE Indonesia buat dateng, jadi para peserta nanti bisa langsung melihat dan bertemu para CCIE di sana.

Selain session CCIE gue tentu saja banyak hal yg menarik dari Networkers ini. Presentasi ttg Data Center, Multi Service IP Backbone, Unified Communication, Security, Managed Services dan session-session lainnya akan sangat menarik karena berisikan update terbaru dari produk dan solution Cisco Systems di area-area tersebut. Agenda acara selengkapnya bisa dilihat di sini.

How to Become a CCIE v2

March 8, 2008

Weekend ini gue ada di Singapore (jarang-jarang nih). Gara-garanya sabtu malam sudah ada schedule buat migrasi di salah satu project gue di KL, tapi karena bertepatan dgn pemilu Malaysia sehingga kegiatannya diundur. Dan pemberitahuan pembatalan ini terjadi di last minute, jadi aja gue tidak sempat merencanakan untuk pulang ke Indo dan terpaksa menghabiskan waktu sendirian weekend begini.

Akhirnya gue memutuskan untuk meng-update “How to Become a CCIE” yg versi pertamanya gue tulis 2 tahun lalu. Untuk mendukung ide tulisan gue sebelumnya supaya orang-orang mau menjadi engineer plus dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris, how-to ini tidak gue translate ke bahasa Indonesia.

In summary:

1. You need to know and believe in the reason why you want to become CCIE
2. Use mid-level certification such as CCNP, CCIP, CCSP, CCVP
3. Build home lab, use emulator to practice R&S and SP track
4. Just pass the written to be able to register for the lab
5. Read, read and read, then practice
6. It may not be required to finish as fast as possible, but can use “do it once, and do it right” strategy
7. Join the community, build a healthy discussion group
8. Learn how to ask the right question, to discussion group or proctors
9. Understand the lab questions, analyze it as a whole and a unit
10. Be skeptical, don’t trust the solution unless you have proved it
11. CCIE is a mind game, always believe that you can pass
12. Enjoy every moment while doing the journey

Please read the english version of How to Become a CCIE v2 in my other blog.

Menjadi Network Engineer +

February 29, 2008

Apakah anda termasuk seorang network engineer yg merasa tidak ada peningkatan dalam karir? Atau anda suka merasa heran mengapa teman anda yg juga network engineer bisa meraih posisi tinggi atau pindah kerja ke tempat lain, bahkan ke negara lain, yg jauh lebih baik dari sekarang? Atau anda hanya penasaran dan ingin tahu bagaimana caranya memulai karir sebagai network engineer dan kemudian ingin menjadi lebih maju?

Pernahkah terpikirkan bahwa ada orang-orang yg bekerja sebagai network engineer biasa, sedangkan ada yg menjadi network engineer + (plus) bahkan ++ (plus plus)? Hal inilah yg menjadi pembeda antara satu engineer dgn engineer lainnya. Dan saya akan coba tuliskan apa-apa saja point plus tersebut di sini, berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan selama berkarir di bidang networking. Walaupun fokus utamanya adalah network engineer namun beberapa prinsip bisa diaplikasikan buat engineer di bidang lainnya.

Ada 10 hal yg saya pikir harus dimiliki oleh setiap engineer. Dari 10 hal tersebut 2 yg terpenting dan menjadi dasar adalah pola pikir (mindset) dan sikap (attitude). Memiliki sebagian besar dari daftar ini akan membuat seseorang menjadi network engineer +. Memiliki semua hal di daftar, ditambah hal-hal lain yg sengaja tidak saya tuliskan di sini (misal: ketaatan beragama atau kemampuan mengorbankan hal pribadi demi mencapai tujuan) akan membuat seseorang menjadi engineer ++.

1 It Begins with Mindset

    Global:
Engineer plus selalu berpikir di level global. Kompetisi yg sebenarnya bukan berada di kantor kita yg sekarang, tapi ada di saat ketika orang-orang dari luar negri datang dan mengambil alih pekerjaan kita di negara sendiri. Pola pikir ini penting sehingga kita tidak menganggap rekan kerja kita sebagai kompetitor dan tidak radu-ragu untuk sharing ilmu maupun informasi.

    Positive:
Pola pikir positif membuat engineer plus dapat selalu mengambil manfaat dari setiap kejadian, apakah itu hal yg baik maupun yg buruk. Berpikir positif membuat kita tidak menjadi minder ataupun curiga yg tidak beralasan, selain itu juga membuat tidak sering mengeluh dan membuang waktu untuk mendiskusikan hal-hal yg tidak perlu.

    Observer & Analytical:
Kemampuan berpikir yg dapat mengamati dan menganalisa adalah sangat penting untuk dimiliki. Engineer plus bisa memperhatikan banyak hal, baik yg terjadi berkaitan dgn dirinya maupun orang lain. Hasil pengamatan tsb kemudian dianalisa untuk dijadikan masukan dalam mengambil keputusan.

    Multiple Vantage Points:
Seringkali kita berhadapan dgn situasi dimana kita harus mengubah sudut pandang kita. Ini harus bisa dilakukan sehingga pada suatu konflik kita bisa mengerti hal-hal apa saja yg mempengaruhi argumen maupun alasan dari lawan bicara, misalnya. Kita juga perlu untuk mampu mengubah sudut pandang kita dari sisi detil menjadi dari sisi yg global atau biasa disebut helicopter view. Ini membuat kita bisa berpikir di luar konteks suatu masalah untuk mencari solusi baru atau think outside the box.

    Reviewer:
Selain menjadi pengamat, menganalisa dan melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang, adalah penting untuk selalu melakukan review dari segala hal yg kita amati maupun dari keputusan-keputusan yg kita ambil. Ini membuat kita mampu mengambil keputusan yg lebih baik di masa depan, dan juga membuat kita bisa mengerti lebih jelas tentang suatu permasalahan yg ada.

    Skeptical:
Pola berpikir skeptis sering diperlukan karena banyak hal di bidang engineering yg harus dibuktikan sendiri. Selalu bertanya: mengapa (why)? Bagaimana jika (how if)? Apakah ada cara lain (Is there any other way) ? Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan curiosity lainnya.

    Priority Based:
Di tengah kesibukan yg mengharuskan untuk melakukan berbagai hal dalam waktu bersamaan, pola pikir yg mampu memberikan prioritas kepada hal yg lebih penting untuk dikerjakan terlebih dahulu menjadi sangat vital. Mengapa tidak saya tulis kemampuan berpikir ‘multi-tasking’ saja? Karena kita sebenarnya tidak pernah bisa benar-benar berpikir ttg hal yg berbeda dalam saat yg sama, sehingga selalu harus memilih hal apa yg harus dipikirkan terlebih dahulu.

    Strategic Dreamer:
Dunia ini berubah karena orang-orang yg berani bermimpi dan melakukan hal yg diperlukan untuk mewujudkan mimpinya. Setiap orang harus punya mimpi, harus punya sesuatu yg ingin diwujudkan, dan kemudian melakukan perencanaan untuk bisa benar-benar mencapainya. Pola pikir pemimpi sangat diperlukan untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru.

    In the Moment:
Mempunyai perencanaan untuk masa datang itu penting. Tapi juga harus diingat bahwa menjalani masa yg sekarang itu juga penting. Jangan pernah berpikir bahwa project yg akan datang akan lebih baik dari yg sekarang, sehingga project yg sekarang hanya dikerjakan secukupnya. Apa yg kita miliki di tangan adalah hal terbaik yg kita punya, jadi selalulah punya perencanaan tapi jalani hidup di masa sekarang.

    Blink-based Decision Maker:
Engineer plus harus mampu untuk mengambil keputusan secara cepat dan mungkin dalam kondisi yg mendesak (misalnya ketika harus melakukan troubleshooting). Dalam buku Blink disebutkan pikiran kita sebenarnya mampu untuk menganalisa hanya beberapa informasi yg penting dari suatu permasalahan yang kemudian menjadi input dalam mengambil keputusan secara cepat.

2 Attitude is Everything

    Work Smart:
Orang mulai mengganti istilah work hard menjadi work smart untuk mereferensikan kemampuan kita dalam mendelegasikan pekerjaan (sehingga tidak perlu dikerjakan sendirian dan menghabiskan banyak waktu dan energi) juga menggunakan resource yg sudah ada, sehingga tidak perlu reinvent the wheel atau melakukan semuanya dari awal. Work hard itu tetap penting, tapi jika melakukannya dgn cara yg lebih tepat hasil yg didapat akan jauh lebih maksimal.

    Continuous Learner:
Bidang networking maupun IT secara umum menuntut setiap engineer untuk terus-menerus belajar dan memperbaiki diri. Hal ini membuat setiap orang yg ingin menjadi engineer plus harus mau keluar dari comfort zone, yaitu suatu kondisi dimana sudah terasa nyaman dan merasa tidak perlu mempelajari hal baru. Berhenti belajar berarti membiarkan orang-orang lain untuk mengambil alih apapun yg kita punyai di tangan.

    Self-motivated and Motivating:
Kemampuan memotivasi diri sendiri sangat penting terutama karena bekerja di bidang networking menuntut kita untuk terus belajar dan berkembang. Setiap orang pasti pernah merasa jenuh dan frustasi, sehingga sangat penting untuk mampu keluar dari kondisi itu dgn cepat. Selain itu akan jauh lebih baik jika kita mampu memotivasi orang lain. Ini berarti kita memiliki pola pikir dan sikap yg positif yg kita sebarkan ke orang-orang di sekitar.

    Adaptable, Elastic, Flexible:
Bekerja di bidang yg terus berubah dan berkembang membuat kita juga harus mampu beradaptasi dgn cepat. Kemampuan seorang engineer untuk tidak kaku dan mampu mengatasi perubahan yg tiba-tiba juga sangat penting misal ketika melakukan implementasi di project dan berhadapan dgn customer.

    Team Player:
Tidak semua orang mampu menjadi pemimpin team, oleh karena itu leadership tidak saya masukan di daftar. Namun kemampuan bekerja dalam sebuah team itu adalah suatu keharusan. Ini tidak hanya membuat kita harus berkomunikasi dgn team member lainnya, tapi juga harus bisa percaya dan membagi-bagi tugas, menerima secara positif dan mengerjakan bagian kita, serta saling mendukung rekan yg lain.

    Independent:
Meskipun kita harus mampu bekerja di dalam team, sangat penting juga bagi engineer plus untuk bisa bekerja secara mandiri dgn pengawasan yg minim. Ini berarti kita dituntut untuk bisa mengambil keputusan dalam berbagai kondisi tanpa meminta pengarahan.

    Responsibility and Integrity:
Engineer plus harus berani untuk step up, maju ke depan dan mengambil tanggung jawab. Selain itu sebagai seorang engineer harus memiliki integritas dalam memberikan solusi secara jujur. Dan sebenarnya salah satu kualitas engineer itu diukur dgn reputasinya dalam hal berani mempertanggung jawabkan semua keputusan yg diambil dan juga integritas yg dimiliki.

    Focus and Consistent:
Keinginan untuk mencapai tujuan (achiever) itu penting, tapi yg jauh lebih penting adalah proses untuk mencapai tujuan tsb yg harus dilakukan dgn memfokuskan diri dan konsisten. Jika kita mampu fokus dan terus-menerus secara konsisten melakukan hal-hal untuk mencapai tujuan, maka berdasarkan pengalaman tujuan itu pada akhirnya akan didapat.

    Able to Handle Situation Under Pressure:
Ini suatu sikap yg sangat penting karena sebagai engineer sering berada pada posisi yg penuh tekanan dan waktu yg sedikit untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Yg paling penting untuk diingat adalah dalam situasi sesulit apapun kita harus bisa tenang dan berpikir tentang keputusan apa yg harus diambil. Terdengar sulit pada awalnya namun bisa dilatih dgn pola pikir yg tepat dan pengalaman di lapangan.

    Never Give Up:
Orang sering bilang winners never quit, quitters never win. Ini adalah pernyataan yg sangat tepat. Selalulah merasa skeptis dan tidak mau menyerah sampai kita benar-benar mencapai tujuan. Berhenti di tengah-tengah suatu proses tidak akan memberikan hasil apa-apa, namun jika kita mampu memotivasi diri untuk terus maju maka biasanya hasil baiklah yg didapat.

3 Possess T Skill Set

Engineer plus tidak hanya harus memiliki skill set yg dalam di bidang tertentu, tapi juga mengerti skill dari hal yg lain hingga level tertentu. Sebagai contoh: seorang network engineer yg berfokus di MPLS dan core network dari Service Provider, juga sebaiknya mengetahui berbagai hal di luar itu seperti network security, wireless, LAN switching dan lain-lain. Contoh yg lebih global mungkin adalah seseorang yg mendalami network engineering sebaiknya juga mengerti sampai level tertentu hal-hal seperti Operating System, Application Security, mekanisme aplikasi Web dgn Database, relasi client – server dan sebagainya. Biasanya ini disebut sbg T skill set karena mempunya 1 skill yg mendalam tapi juga memiliki pengetahuan tentang hal lain meskipun tidak terlalu mendalam.

4 Broad Experience

Pengalaman buat seorang engineer adalah hal yg sangat penting. Seringkali pengalaman dapat mengubah pola pikir seseorang dan juga membentuk attitude. Sebaiknya setiap engineer itu merasakan pengalaman yg berbeda-beda. Ketika kita bekerja di suatu perusahaan dan merasa nyaman dgn pekerjaan yg kita lakukan, biasa disebut comfort zone, maka kemungkinan besar itu adalah saat yg tepat untuk pindah dan mencoba hal yg baru. Di bidang network engineering ini berarti kita sebaiknya mencoba berbagai pekerjaan dimulai dari engineer yg melakukan implementasi project, engineer yg melakukan troubleshooting, network designer, lead engineer yg harus mengalokasikan resource dan melakukan rencana implementasi, engineer yg melakukan integrasi antara produk dari satu vendor dgn vendor yg lain, dan seterusnya. Jika ada kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yg lebih menantang, ambilah. Jika ada tawaran untuk ke luar negri untuk melakukan sesuatu yg baru, terima saja. Kemampuan menentukan prioritas sangat penting untuk bisa mengambil keputusan berat seperti pindah pekerjaan yg lebih menantang meskipun penghasilan yg lebih rendah, karena secara strategi pekerjaan yg baru itu bisa membantu dalam proses mencapai tujuan dan mimpi kita.

5 Certification is Not Everything but Necessary

Ini sudah sering saya bahas. Pengalaman itu sangat penting, namun sertifikasi bisa membantu dalam hal mempelajari sesuatu maupun ketika kita harus memasarkan diri kita ke luar negri. Siapa yg tahu sekolah tempat kita berasal? Atau mungkin perusahaan kita yg sekarang sama sekali tidak dikenal orang. Pada saat itu peran sertifikasi menjadi penting. Banyak orang yg bilang ini tidak bermanfaat tapi pengalaman saya pribadi membuktikan hal yg berbeda. Dan untuk bidang network engineering jika seseorang ingin memiliki T skill set mungkin bisa digambarkan dgn proses sertifikasi sbg berikut: memiliki CCIE di track Routing & Switching, bisa bekerja di Service Provider karena memiliki skill CCIP, mengerti VOIP sampai di tingkat CCVP, bisa mendesain network dgn memiliki CCDP, tahu security sampai di level CCSP ataupun Ethical Hacker, CISSP sampai SANS Institute, punya sertifikasi wireless dari organisasi non vendor seperti Planet3, mengerti operating system minimal Windows dan Linux, ambil sertifikasinya jika perlu dan seterusnya.

6 Communication Skill

Memiliki ide-ide baru yg orisinil itu penting, tapi mampu menyampaikan ide itu jauh lebih penting. Kemampuan berkomunikasi dimulai dari kemampuan untuk berdiskusi, mendengarkan dan menyampaikan pendapat. Setelah itu engineer plus harus mampu melakukan presentasi, baik itu presentasi teknikal maupun menterjemahkan bahasa teknis ke orang awam yg merupakan decision maker seperti manager maupun direktur. Kemampuan mendokumentasikan hal-hal yg sudah dikerjakan dalam project, atau membuat dokumen untuk proposal dan menjawab tender juga penting sekali. Satu hal yg saya pernah sebutkan: English is inevitable. Sebagai engineer yg harus mampu bersaing secara global bahasa inggris itu tidak bisa dihindarkan. Mulailah dgn belajar membaca buku-buku literatur yg berbahasa Inggris, kemudian coba bekomunikasi tulisan seperti email maupun chatting. Setelah itu kita harus mampu mendengarkan percakapan tanpa text. Dan tahap terakhir adalah berbicara. Sepertinya susah tapi bisa dilakukan. Dan bahasa itu harus dipergunakan, tidak bisa kita hanya mengambil kursus tanpa pernah melatih untuk menggunakannya secara terus-menerus.

7 In the Right Community, For the Right Community

Selalulah berada di lingkungan yg tepat. Bergaul dgn orang-orang yg positif sehingga kita bisa menjadi orang yg positif juga. Bergabung dgn orang-orang yg bermimpi dan berkeinginan untuk maju sehingga kita pun menjadi semangat untuk maju. Jangan membuang-buang waktu untuk berada dgn orang yg pesimis. Hindari konflik di pekerjaan dan juga gosip. Kadang di pekerjaan itu berlaku prinsip every man for himself. Bukan berarti kalo kita mendengar kabar bahwa ada yg naik gaji kita juga jadi menuntut hal yg sama. Bukan juga berarti kalo kita bekerja keras sehingga akhirnya mendapat bonus dari perusahaan semua orang harus mendapat hal yg sama. Dgn bergabung di komunitas yg tepat, kita bisa saling berbagi pengalaman dan informasi. Satu hal yg harus diingat, kemampuan berkomunikasi dan saling menghormati dalam suatu komunitas itu penting. Misalnya kita bergabung dgn suatu milis, kita harus tahu cara bertanya dan juga menghargai orang lain dgn menerima kenyataan bahwa tidak setiap saat pertanyaan kita akan dijawab. Jawablah pertanyaan orang dan bagilah informasi jika kita ingin mendapatkan hal yg serupa.

8 Know How to Market Yourself

Banyak orang yg mampu membuat barang yg bagus tapi tidak mampu memasarkannya. Sama dgn engineer, banyak yg bisa membangun skill, pola pikir dan sikap, sertifikasi yg dan pengalaman yg banyak, tapi tidak mengerti bagaimana bisa memasarkan dirinya. Profil yg bagus itu penting namun harus bisa dilihat orang. Kita menjual dan harus mendapat pembeli yg tepat. Luaskan wawasan dan tambah lingkaran kontak kita, dimulai dgn memanfaatkan jaringan social networking yg ada di Internet seperti Linkedin. Kita juga bisa memposting CV kita secara online di website yg menawarkan service buat pencari kerja seperti monster, jobsdb dan lain-lain biarpun cara paling ampuh untuk mendapat pekerjaan sebenarnya adalah melalui referensi. Selain itu bergabunglah dgn komunitas melalui milis-milis dan jadilah member yg aktif. Jika ada pertemuan-pertemuan seperti seminar atau workshop baik dgn vendor maupun pihak lainnya, usahakan untuk ikut sehingga bisa bertemu banyak orang lain yg seprofesi. Pada saatnya nanti mungkin kita harus bisa menulis dan berbicara di depan publik. Menulis baik itu buku maupun di blog bisa menjadi cara yg ampuh untuk mengenalkan diri kita ke lingkaran yg lebih luas. Internet sudah banyak menawarkan alat untuk memasarkan diri, gunakan dan manfaatkan sebaik-baiknya.

9 Follow Your Heart

Engineer plus melakukan apa yg dia sukai. Selalu merasa excited dgn apa yg kita lakukan adalah kunci keberhasilan, sehingga sangat penting untuk melakukan apa yg kita percayai dan sukai. Bekerja di bidang yg menuntut untuk terus belajar dan berkembang sangat sulit untuk dilakukan jika tidak benar-benar suka. Mulailah dari niat yg benar. Ajukan pertanyaan ke diri sendiri: apakah ini yg benar-benar kita sukai dan ingin kita lakukan untuk beberapa tahun ke depan? Jangan pernah ikut-ikutan hanya karena mendengar cerita orang maupun karena permintaan pasar yg sedang tinggi. Hindari untuk mendengarkan hal-hal yg masih ‘katanya’. Temukan apa yg diinginkan, biarkan hati kita memberi isyarat tentang itu, dan jalankan tanpa ragu.

10 Best Advice: Work Hard is Not Enough

Saya beberapa waktu yg lalu mendapat sebuah advice bahwa kerja keras saja tidak cukup. Ini bukan berarti kerja keras itu tidak penting, namun jangan pernah beranggapan bahwa kita seharusnya dapat bonus karena sudah bekerja keras. Di lingkungan yg sangat kompetitif ini umumnya semua orang bekerja keras. Dan kita semua sudah dibayar oleh perusahaan untuk itu. Jadi daripada mengeluh dan berpikir bahwa perusahaan tidak fair karena tidak memberi imbal balik atas jerih payah kita, sebaiknya berpikir hal lain apa yg bisa kita lakukan untuk membuat diri kita lebih. Do something extra. Lakukan hal diluar hal yg seharusnya kita lakukan meskipun tidak diminta oleh perusahaan. Sumbangkan dan bagilah ilmu untuk rekan-rekan maupun komunitas yg lebih besar. Tawarkan diri untuk melatih teman-teman yg baru bergabung dgn perusahaan, misalnya. Coba perbaiki proses yg sudah ada dan usulkan hal tersebut. Lakukan hal-hal diluar tugas kita untuk menjadikan sesuatu yg lebih baik, demi kepentingan perusahaan, komunitas dan diri kita sendiri.

One Million Dollar Question

Sekarang tiba saatnya untuk mengajukan one million dollar question, pertanyaan yg paling penting: setelah memiliki dan melakukan semua hal yg di atas, kapan kita akan memperoleh hasilnya, baik itu berupa tawaran untuk pindah ke tempat yg lebih baik atau gaji yg lebih tinggi? Tidak ada jaminan untuk itu. Ya, sekali lagi saya tekankan tidak ada jaminan ketika anda menjadi engineer plus anda langsung mendapatkan gaji tinggi dan karir yg bagus sesuai idaman. Tapi pengalaman membuktikan hal ini. Hal ini disebabkan karena jumlah orang yg mau menjadi engineer plus itu sedikit (yap, kata kuncinya: mau. Karena untuk memiliki dan melakukan semua yg ada di daftar itu adalah pilihan). Dan pasar selalu membutuhkan orang-orang tersebut. Sehingga harusnya mereka yg memilih untuk menjadi engineer plus maupun engineer plus plus tidak perlu kuatir akan jawaban dari pertanyaan ini. Yang paling penting adalah: selalu memperbaiki diri dan setiap saat berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hasilnya akan datang sendiri tanpa perlu ditunggu. Insya Allah.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat buat kita semua. Dan bagi yg ingin tahu cara memulai karir maupun sertifikasi di bidang networking, silahkan baca tulisan saya yg lain: Bagaimana Untuk Memulai FAQ.

Changing Plan

February 3, 2008

Gue barusan dapet email dari boss untuk ikut terlibat di salah satu project yg menggunakan produk Cisco CRS. Sebelumnya gue berencana untuk mengambil JNCIE dan CCDE hanya untuk mengusir kebosanan dalam menunggu project seperti ini. Gue sempat merasa frustasi karena walapun CRS itu terbukti bagus dan sudah gue test sendiri di Sydney lab, tapi baru sedikit customer di negara Asean yg membeli produk ini. Hanya mendapat kabar ini saja sudah menurunkan Survival Mode level gue ke 30%.

Secara matematis, survival mode level = (bored/cisco) x 100%

bored = waktu yg gue habiskan untuk mengerjakan sesuatu yg tidak gue sukai
cisco = waktu yg gue habiskan untuk bekerja yg berhubungan dgn cisco/networking

(disclaimer: ini hitungan matematis ciptaan gue sendiri, kagak ada hubungannya sama tempat kerja :) )

Jadi dari gambar target-target gue, semua gambar no.1 sampai 3 masih bisa dilakukan dalam waktu dekat. Ini sepertinya membuat hidup untuk beberapa waktu ke depan akan kembali menarik. Hidup sbg traveler memang menarik (terutama setelah Flying Gold, Swimming Hard), tapi mengerjakan project yg berhubungan dgn carrier grade router akan lebih menarik. Kecuali tentunya ada perubahan rencana (lagi) untuk project ini.

Cisco Certified Design Expert

January 23, 2008

Cisco baru saja mengumumkan program sertifikasi baru selevel CCIE dgn nama Cisco Certified Design Expert (CCDE). Alasan diluncurkannya sertifikasi baru ini adalah untuk menjawab kebutuhan pasar akan network designers dan architects yang jumlahnya masih bisa dibilang relatif sedikit. Format ujiannya mirip dgn CCIE, jadi harus ujian tertulis dulu selama 2 jam dan setelah lulus baru bisa daftar untuk ujian lab yang sampai sekarang belum ada informasinya namun kemungkinan akan berdurasi selama 8 jam juga.

Dari informasi ujian written, kelihatannya CCDE ini lebih berfokus ke teknologi yg biasa diimplementasikan di Service Provider, atau large Enterprise yg menyediakan network services untuk perusahaan lain (terbukti dgn adanya materi VPLS, MPLS, TE, L2TPv3, MPLS QoS dll dan tidak adanya feature dari LAN switching biasa seperti VLAN, trunking, DHCP, port security dll). Jadi mungkin agak mirip dgn CCIE SP, walaupun fokusnya lebih mengarah ke test untuk menguji seorang kandidat sbg seorang network designer atau architect.

Nah pertanyaannya: bagaimana caranya menguji kemampuan seseorang dalam men design large scale network di dalam lab 8 jam? Gue percaya bahwa seorang designer yg bagus adalah seseorang yg mampu meng capture requirements dari customer dan memilih product dan features yg tepat untuk menjawabnya. Kemampuan meng configure features beserta trick-trick nya, seperti di lab CCIE umumnya, memang penting tapi kemampuan untuk memilih produk yg tepat, menggunakan features yg sesuai dan mengintegrasikan itu semua di dalam suatu network jauh lebih penting buat seorang designer.

Sampai sekarang Cisco belum mengeluarkan informasi format ujian lab nya akan seperti apa. Jadi mari kita berandai-andai saja. Seandainya gue yg jadi program manager CCDE ini, walaupun sulit untuk menguji kemampuan kandidat dalam memilih produk karena biasanya produk yg digunakan di dalam lab sudah fix, maka paling tidak gue akan membuat ujian lab ini menjadi:

- soal akan berupa scenario yg menceritakan ttg kondisi network customer dan requirement mereka untuk mencapai kondisi network ideal di masa depan. Misal, soal bisa dibuka dgn cerita ttg satu customer yg akan memulai bisnis sbg service provider dgn jumlah target user > 1000, bisa juga diceritakan kondisi di masa depan dan scalability yg diinginkan
- set soal akan seperti ujian CCIE umumnya dimana dibagi menjadi beberapa bagian per teknologi, namun tidak ada penjelasan yg terperinci ttg feature yg harus di deploy. Yang ada mungkin hanya tambahan informasi ttg requirement specific dari tiap teknologi. Jadi sebagai contoh untuk section security/AAA soal bisa menyebutkan requirement untuk authentication dan accounting itu spt apa sehingga kandidat harus memutuskan apakah akan menggunakan TACACS+ atau Radius, kemudian penempatan AAA server di VLAN yg mana, dan juga detil dari log yg diinginkan dll
- setelah kandidat selesai meng configure semua devices yg ada di lab, ada sesi presentasi di 1 jam terakhir untuk menjelaskan mengapa dia memilih untuk mendeploy feature tertentu dgn teknik implementasi tertentu pula. Menurut gue ini penting karena bagaimana mungkin seseorang bisa mendesign network tapi tidak bisa menjelaskan alasan pemilihan produk/features. Dan kemampuan presentasi serta mempertahankan design juga merupakan salah satu kunci penting dari keberhasilan seorang designer
- karena ujiannya jadi 7 jam + 1 jam presentasi, memang ujian ini tidak bisa dilakukan di semua lokasi, tapi tidak masalah karena sbg program manager gue tidak mengejar quantity tapi quality heheh
- terakhir tapi cukup penting, sesuai dgn syarat di websitenya hanya orang yg punya pengalaman 7 tahun bisa ikut ujian ini. Nah mungkin sebaiknya CCDE ini mengikuti program spt CISSP dimana setiap kandidat harus mendapat endorsement dari manager tempat dia bekerja, yg menyatakan bahwa betul dia sudah memiliki pengalaman tersebut. Untuk program sertifikasi Cisco, proses endorsement bisa lebih mudah dan terpercaya karena biasanya yg mengambil CCDE adalah para engineer atau designer yg bekerja di Cisco partner, maka kantor lokal Cisco representative di suatu negara bisa memberikan endorsement kepada setiap kandidat di negara tsb.

Sebenernya gue masih ada beberapa ide-ide lagi buat membikin program sertifikasi ideal untuk seorang network designer. Namun harus di stop sampai disini karena semuanya cuman andai-andai, terutama di bagian “mengejar quality bukan quantity” heheh. Justru tujuan utamanya program sertifikasi adalah mengejar quantity. Quality biasa di compromise karena memang membuat sebuah standar skill world wide itu tidaklah mudah.

Olive

January 20, 2008

Gue lagi bosen dan sudah terlalu lama berada di Survival Mode. Survival mode adalah mode baru ciptaan gue yg berarti gue melakukan sesuatu yg tidak gue sukai tapi harus tetap dilakukan. Karena itu gue mulai melihat gambar-gambar dari target gue. Dari 6 gambar tersebut, 3 yg di kanan bisa dicapai dgn lebih mudah jika gue berhasil mencapai 3 gambar yg di kiri. Target di gambar nomer 1 sangat tergantung dari project yg team gue diminta untuk men deliver. Sehingga gue mengalihkan fokus ke target di gambar nomer 2.

Gue gak mau terlibat diskusi berkepanjangan tentang perlu tidaknya mengambil sertifikasi lagi. Gue juga gak mau menjelaskan kenapa gue akan mengambil sertifikasi dari perusahaan non-Cisco. Yang jelas, gue lagi bosen dan ingin ngoprek di lab sekalian me-refresh pengetahuan teknologi SP, sehingga gue rasa JNCIE adalah pilihan yg tepat. Toh buat gue JunOS hanyalah user interface untuk bisa melakukan testing dan mencoba konsep yg gue ketahui, tidak ada bedanya dengan normal Cisco IOS atau XR. Lebih baik ngoprek-ngoprek ini daripada mengerjakan hal yg aneh-aneh untuk membunuh kebosanan gue.

Langkah pertama yg harus dilakukan tentunya menyiapkan JunOS untuk bisa dioprek, dan ini bisa dilakukan dgn menginstall Olive, software JunOS yg di install di PC biasa dgn menggunakan emulator Qemu.

Sebelum dilanjutkan, ada beberapa disclaimer:

Disclaimer 1: Olive doesn’t exist
Jika ingin tahu kenapa silahkan baca di sini.

Disclaimer 2: Apapun yg gue kerjakan di sini tidak ada hubungannya dgn pekerjaan gue sbg engineer Cisco Advanced Services. Cisco tidak pernah meminta gue untuk melakukan penelitian ttg emulator untuk JunOS ini dan Cisco juga tidak pernah meminta gue untuk mencoba integrasi antara Cisco IOS dan JunOS dgn menggunakan emulator.

Disclaimer 3: Jangan pernah meminta JunOS atau Cisco IOS ke gue (yak gue masih beberapa kali menerima email yg meminta IOS untuk dynamips). Setiap orang yg serius dan mau melakukan ini tentunya sudah tahu sendiri darimana caranya untuk memperoleh semua resource yg diperlukan.

Silahkan baca blog gue yg lain untuk detil intruksi cara instalasi Olive dgn Qemu di sistem operasi Windows. Kenapa Windows? Karena ini satu-satunya OS yg ada di laptop yg selalu gue bawa kemana-mana. Dengan Olive di laptop ini gue bisa belajar setiap saat ada kesempatan.

Whatever you think, think the opposite.