Tentang Karir

October 31, 2009

There is no such thing as career path.

Gue bicara tentang karir untuk seorang engineer, atau mereka yg mau fokus dan tetap bekerja di bidang teknis di area computer networking, misalnya, sampai pensiun.

Di organisasi tertentu ini sangat jelas terlihat. Tidak ada karir buat engineer, terutama di tempat di mana IT dilihat hanya sbg penunjang bisnis utama dari perusahaan. Ketika seorang engineer menjadi senior dan ingin naik lebih tinggi lagi dia harus pindah ke jalur management, misalnya dgn menjadi manager teknis. Dan ini berarti dia harus berurusan dgn hal-hal lain di luar kerjaan seorang engineer: mengatur orang, budget, perhitungan overhead di team, dan sebagainya. Di organisasi spt ini buat mereka yg masih tetap ingin menjadi engineer sampai tua tidak akan bisa mendapat promosi lagi. Bahkan bisa jadi lebih buruk karena ada organisasi yg memilih utk mengganti engineer-engineer senior yg sudah tua dgn yg lebih muda karena bisa menurunkan gaji yg harus dibayar.

Bagaimana dgn perusahaan yg bergerak di bidang solusi teknis? Bukannya bisnis perusahaan tergantung dari para engineer dalam membuat solusi? Solusi teknis dari engineer bisa dijual dan mendatangkan keuntungan buat perusahaan, berarti ini tempat yg tepat utk para engineer? Tidak juga. Kata kuncinya tetap “dijual dan mendatangkan keuntungan” jadi intinya tetap di usaha perusahaan utk menjual, bukan produknya. Kita harus mengerti bahwa tidak mudah utk mengukur hasil kerja seorang engineer. Sbg contoh, seorang sales di perusahaan bisa diberi target penjualan pertahun, dan jika dia bisa mencapai target tsb, bahkan melebihi utk beberapa tahun berturut-turut, maka sudah pasti promosi menanti. Bagaimana cara kita mengukur keberhasilan seorang engineer dgn metoda yg serupa? Dgn cara melihat berapa hak paten dari inovasi yg dia hasilkan, atau berapa banyak IETF RFC’s dia terlibat? Gue bicara ttg engineer pada umumnya yg bekerja di bidang computer networking, dan kebanyakan tidak seberuntung itu utk bisa bekerja di bagian R&D dan duduk di lab utk menghasilkan teknologi networking baru.

Jadi apakah ada caranya buat engineer utk berkarir?

Jawabannya: ada. Di perusahaan yg melakukan inovasi di bidang teknologi mereka mengerti bahwa sgt penting utk mempertahankan engineer-engineer yg bagus sehingga ada jalur karir di bidang teknis yg tersedia. Ini adalah perusahaan di mana seorang engineer bisa terus fokus ke teknikal dan berkarir utk ke level yg lebih tinggi sehingga mencapai level “Distinguished” engineer atau bahkan disebut sbg “Fellow”. Tapi tetap saja utk mencapai level tsb kita harus mengambil kendali karir kita, tidak bisa menunggu siapapun, kita harus membuat jalur karir kita sendiri, dan terkadang ada hal-hal yg harus dikompromikan.
Dan yg gue tahu, engineer yg baik tidak pernah berkompromi :)

Pertama, engineer harus berkompromi utk menerima kenyataan bahwa team teknis itu sangat sedikit dilibatkan dalam hal-hal yg berkaitan dgn keputusan bisnis, seperti perubahan di dalam organisasi. Ketika perusahaan tiba-tiba mengubah model bisnis yg dilakukan, termasuk melakukan restrukturisasi team engineering, maka engineer akan diberi tahu ketika perubahan sudah akan dilakukan atau bahkan telah terjadi. Bisa jadi seorang engineer baru kembali dari weekend hanya utk menemukan kenyataan bahwa dia sudah dipindahkan ke team yg baru atau mendapat manager yg baru. Jadi, seperti tidak cukup sulit buat engineer utk bisa menunjukkan kemampuannya di perusahaan, bagaimana jika dia harus pindah team atau ganti manager yg berarti dia harus mulai lagi utk membangun kredibilitas dan reputasi?

Yg kedua, seorang engineer mungkin harus berkompromi dgn memanipulasi fakta teknis utk mendukung bisnis dari perusahaan. Solusi teknis yg sebenarnya tidak sesuai dgn yg diminta customer, tapi tetap dijual karena alasan lain termasuk alasan politis dan hal-hal diluar teknis. Dan sekarang engineer harus bisa membuat solusi tsb bekerja dgn cara apapun. Seorang engineer muda yg masih idealis bisa saja berkata TIDAK, karena dia masih lebih suka utk bekerja berdasarkan fakta teknis yg nyata, sebagaimana engineer yg seharusnya. Tapi jika ingin berkarir, dari seorang engineer utk kemudian menjadi senior, dan naik lagi menjadi architect, sampai ke level yg disebut technical lead atau distinguished dan sebagainya, tentunya organisasi tempat si engineer bekerja mengharapkan dia utk bisa mendukung bisnis perusahaan. Dari pandangan gue, ini tetap saja sebuah kompromi.

Yg ketiga dan kompromi yg terburuk dari semuanya, karena sangat sulit utk menjadi menonjol sbg seorang engineer, bisa saja engineer memilih jalan singkat dgn cara melakukan cara apapun agar bisa dapat promosi. Ada yg pernah bilang kalo utk berkarir di perusahaan itu yg paling penting adalah bagaimana agar bisa menonjol dan kelihatan. Tapi bagaimana jika si engineer lebih sibuk agar bisa terlihat tapi tidak benar-benar melakukan pekerjaan yg seharusnya? Kompetisi di antara engineer tsb bisa menjadi sangat jelek dan tidak ada hasil karya yg dihasilkan, hanya upaya dalam berlomba-lomba menonjolkan hal-hal yg sebenernya belum selesai.

Gue berharap tiga hal tsb cuma imaginasi gue doang, sebagai hasil dari kebanyakan menghisap Shisha sambil ngobrol ngalur-ngidul dgn teman-teman lama tadi malam. Sayangnya, beberapa hal di atas sangat nyata terjadi di kehidupan sehari-hari.

Jadi jika gue udah tau itu semua, mengapa repot-repot menulis dan mendiskusikannya? Hidup itu pilihan kan?

Memang benar.

Alasan mengapa gue mendiskusikan hal-hal tsb di sini adalah supaya orang-orang spt gue yg berpikiran dan merencanakan utk menghabiskan waktu gue sampai tua utk tetap berurusan dgn bidang teknis, bisa mempunyai ekspektasi yg tepat. Ketika kita sudah memilih utk menjadi engineer utk seterusnya maka kita harus tahu konsekuensi apa yg harus kita hadapi. Bahwa karir ke depan tidak akan mudah dan penuh tantangan, bahkan hanya utk naik satu level di perusahaan. Kita menjadi lebih siap dan mampu menerima kenyataaan ketika teman kita di departemen yg lain, misalnya di divisi sales, bisa berkarir dgn lebih cepat.

Dan gue juga punya satu rahasia yg mau gue bagi di sini. Gue melihat bahwa utk mendapat promosi sbg orang teknis kita tidak perlu melakukan kerja yg bagus di setiap kali. Yg harus dilakukan adalah melakukan kerja yg luar biasa walaupun hanya satu kali. Dgn bekerja sangat hebat bahkan hanya di satu project, di waktu yg tepat dan ketika dilihat oleh orang yg tepat, akan mendatangkan hasil yg jauh lebih baik. Jadi spt one great rock show can change the world, kata Dewey Finn alias Jack Black di School of Rock. Dan tentunya kita tidak harus menonjol dgn cara mengambil hasil kerja orang lain, walaupun kita sangat ingin utk mendapat promosi.

Apakah cara itu akan benar-benar berhasil?

Mana gue tahu? Gue itu tipe orang yg selalu berpindah-pindah organisasi ketika gue mau lebih. Di masa lalu, utk mendapat gaji yg lebih tinggi gue pindah ke perusahaan lain. Utk mendapat profil kerjaan yg lebih bagus gue pindah ke team yg lain. Gue membangun jalur karir sendiri dgn cara berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Gue belum pernah berada di satu tempat dalam waktu lama utk bisa membuktikan apakah ‘rahasia karir’ gue itu bisa benar-benar berhasil.

Jadi gue akan memberi tahu hasilnya ketika sudah dapat promosi.

Pernyataan: tulisan ini merupakan pendapat gue pribadi dan tidak ada hubungannya dgn organisasi tempat gue bekerja sekarang. Ini semua hanya berdasarkan pengalaman pribadi berpindah-pindah dari satu perusahaan IT ke perusahaan yg lain, dan juga berdasarkan pengalaman gue bekerja sbg seorang kontraktor.
Dan gue tidak menghisap apapun ketika menulis ini.

Advanced CCIE Lab

October 26, 2009

Gue baru saja menyelesaikan ujian lab utk program sertifikasi internal dari perusahaan. Tentunya gue tidak bisa menceritakan secara detil, tapi gue ingin berbagi pendapat ttg bagaimana ujian lab yg seharusnya, berdasarkan pengalaman gue ujian lab kemarin.

Gue pernah bilang bahwa sertifikasi tidak ada artinya tanpa pengalaman. Lulus ujian lab yg sangat sulit spt CCIE put tidak langsung membuat kita menjadi expert. Sertifikasi hanya bisa membuat kita memiliki skill mendasar sbg pondasi, dan kemudian kita harus mengasah skill lebih lanjut setelah itu dgn terjun ke project yg sebenarnya dan menambah pengalaman di dunia nyata.

Tapi pernahkan kita menanyakan, seberapa jauh skill yg diujikan di lab dibandingkan dgn skill yg diperlukan utk kerja di dunia nyata? Sebagai contoh, setelah kita lulus ujian CCIE SP, apakah kita bisa langsung terjun untuk meng handle jaringan Service Provider yg besar, atau masih banyak hal-hal yg harus dipelajari terlebih dahulu?

Gue akan menuliskan pendapat gue ttg bagaimana ujian lab yg seharusnya. Seperti biasa, ini cuma pendapat pribadi. Dan pendapat seperti hidung, semua orang pasti punya satu.

1. Ujian lab seharusnya menggunakan hardware yg real

Dari daftar hardware yg digunakan di CCIE SP lab, misalnya, terlihat bahwa hardware yg digunakan bukan hardware yg biasa digunakan di SP network. Cisco 7200 memang bagus, tapi bukan buat jadi P router! Apalagi masih ada Cisco 2800 bahkan 2600 di SP lab.

SP lab seharusnya menggunakan high-end router spt CRS, ASR dan 7600. Jika beberapa CRS utk membuat lab dianggap terlalu mahal, maka satu CRS yg di partisi secara fisik dgn menggunakan konsep Secure Domain Routing juga bisa. SP besar sudah umum menggunakan IOS XR, sehingga minimal jika tidak bisa pakai CRS di lab paling tidak ada GSR XR sbg P router. Untuk PE seharusnya menggunakan ASR 9000 atau paling tidak Cisco 7600 dgn RSP dan ES+ card.
Terlalu muluk? Mungkin, tapi hardware-hardware tsb memang yg biasa digunakan di SP network.

Sama halnya dgn CCIE Routing & Switching. Jika track ini dianggap mewakili network Enterprise yg besar, maka setidaknya ada Cisco 6500 utk digunakan di ujian lab.

2. Ujian lab seharusnya menggunakan skenario yg nyata

Setelah kita selesai mengkonfigur hardware di lab, lalu apa? Menjalankan ping test? Memeriksa config? Menjalankan show commands? Itu semua tidak cukup utk menguji skill yg nyata!

Ujian lab seharusnya menggunakan traffic generator utk mensimulasi traffic. Dgn adanya traffic di network kita bisa memeriksa, misalnya, jika fitur Quality of Services benar-benar bekerja. Ujian lab juga harus menguji pemahaman kandidat dalam skenario failover, karena ini adalah kebutuhan primer dari setiap Service Provider. Bagaimana kita bisa tahu bahwa fitur Fast Convergence sudah dijalankan dgn benar? Dgn cara memeriksa BFD neighbors menggunakan show command? Dgn cara melihat config dari Non Stop Forwarding dan Graceful Restart?

Cara terbaik adalah dgn mensimulasikan traffic di network dan melihat apakah konfigurasi yg sudah dilakukan, atau skenario jika terjadi failover, akan memberikan dampak ke traffic tsb. Bahkan skill utk memahami dan men set traffic generator itu sangat penting dalam pekerjaan sehari-hari.

3. Ujian lab seharusnya menguji skill dgn cara yg benar

Tidak cukup dgn hanya menanyakan kandidat utk mengkonfigur atau melakukan troubleshooting di ujian lab. Beberapa orang mungkin bisa mendapat soal ujian dgn berbagai cara kemudian menghapal cara menjawab soal-soal tsb.

Cara terbaik utk menguji pemahaman yg mendalam dari seorang kandidat ujian lab adalah dgn cara meminta kandidat tsb utk melakukan verifikasi dari hal yg sudah dilakukan dan menjelaskannya secara detil. Sbg contoh, dalam test fast convergence, kandidat harus memberikan output dari hasil test convergence time ketika terjadi link failure dan menjelaskan mengapa ada perbedaan ketika link down dan link up (ketika link kembali bekerja setelah failure atau yg biasa disebut restorasi). Apakah si kandidat bisa menjelaskan mengapa convergence time bisa berbeda jika PE router crash dibandingkan ketika P router yg crash?

Pertanyaan-pertanyaan sulit dan menjebak spt di ujian CCIE yg sekarang masih tetap penting. Skill troubleshooting masih tetap penting utk diuji di lab. Tapi si kandidat lebih diminta utk bisa menjelaskan “MENGAPA”. Tidak hanya bagaimana cara mengkonfigur dgn cara ini maupun itu, tapi juga harus bisa menjelaskan mengapa traffic di network berprilaku seperti begini maupun begitu ketika fitur tertentu dijalankan maupun ketika terjadi hal-hal spt skenario failure di network.

Tentu saja tidak fair utk selalu membandingkan antara lab “ideal” gue dgn ujian lab yg sudah umum seperti CCIE.

Dalam hal hardware di lab, misalnya. Hardware yg sebenarnya tidaklah murah. Jadi mungkin vendor ujian bisa menyediakan 1 atau 2 lab yg komplit, yg bisa mensimulasikan hardware di dunia nyata utk kandidat dari seluruh dunia. Pendapat gue ttg ini: tidak masalah. Toh ujian lab bisa dilakukan secara remote. Dan ujian lab yg gue jelaskan di atas memang lebih advance dan spesifik utk skill tertentu. Jadi bisa saja Cisco akan membuat “Advanced CCIE lab” dgn fokus skill teknis yg lebih spesifik, dan kandidat harus sudah punya CCIE utk mengambil lab advance ini. Jadi akan ada banyak track yg spesifik, sbg contoh CCIE SP-NGN, CCIE SP-IPTV, CCIE SP-Wimax dan sebagainya. Dengan banyaknya pilihan dari advanced track, maka kandidat bisa memilih mana yg lebih cocok dan membantu dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga jumlah kandidat akan didistribusikan ke banyak track utk menghindari antrian yg terlalu panjang.

Jika waktu mengijinkan, semua penjelasan harus dilakukan dgn interview singkat, tidak cukup hanya dgn tertulis. Bagaimana jika English bukan bahasa sehari-hari dari si kandidat? Tidak masalah. Karena ini kan remote lab, jadi bisa dilakukan dari berbagai negara. Sehingga si kandidat bisa mendapat proktor atau penguji di lab yg berbahasa sama. Dan ujian lab ini bisa mengambil waktu 2 hari spt ketika CCIE di tahun 2001 dulu. Hari pertama bisa utk membangun network secara keseluruhan. Hari ke-2 pagi bisa utk menjalankan traffic generator dan verifikasi dari network. Hari ke-2 sore bisa utk sesi troubleshooting. Di akhir setiap sesi selalu ada interview agar si kandidat bisa menjelaskan apa yg sudah dilakukan, dan menjelaskan prilaku dari traffic di network utk skenario yg berbeda-beda.

Tentunya di advanced CCIE track ini tujuan utamanya adalah menyiapkan kandidat yg mampu utk langsung bekerja di dunia nyata setelah mereka lulus, dgn cara memperkecil jarak antara materi yg diujikan di ujian lab dgn skill set yg dibutuhkan di dunia nyata, dan bukan utk mengejar target jumlah orang yg lulus.

Apakah ini semua mungkin terjadi atau hanya mimpi? Siapa tahu. Suatu hari nanti mungkin vendor ujian lab spt Cisco akan membuat track sertifikasi baru di atas sertifikasi CCIE, dan mereka mungkin akan mempertimbangkan semua poin-poin di atas.

Cara Engineer Mengatasi Krisis

September 30, 2009

Gue lagi nulis tentang kekaguman gue terhadap para pekerja kontraktor di blog gue yg lain. Di beberapa project terakhir gue memang banyak bekerja dgn mereka, dan gue sendiri pernah menjadi kontraktor walaupun hanya untuk beberapa bulan. Walau gue belum ada niat untuk keluar dari kerjaan yg sekarang, tapi menjadi kontraktor mungkin merupakan salah satu pilihan suatu hari nanti.

Gue kemudian mencoba menuliskan poin-poin apa saja yg harus dimiliki oleh seorang kontraktor yg berhasil (dalam konteks network engineer atau konsultan teknis). Namun ketika selesai, gue merasa poin-poin itu diperlukan bukan saja untuk menjadi kontraktor, tapi juga buat para karyawan tetap agar bisa terus berkompetisi di perusahaan. Di kondisi krisis ekonomi seperti sekarang seorang Triple CCIE pun bisa digantikan, dan salah satu cara untuk bertahan mungkin dgn memastikan bahwa kita memiliki 10 poin di bawah ini:

1. Bangun reputasi. Yang terpenting, gue pikir, adalah integritas dan bertanggung jawab
2. Fokus ke hasil. Kerjaan harus selesai apapun yg terjadi, dalam kurun waktu yg disetujui
3. Mampu beradaptasi, fleksible, mampu mengatasi tekanan dan perubahan di project yg selalu terjadi secara tiba-tiba
4. Memiliki pengalaman ekstensif di berbagai tipe project dan di berbagai posisi yg berbeda-beda
5. Bisa bekerja secara independen, bisa juga bekerja sbg bagian dari team
6. Kemampuan komunukasi yg baik, bisa berbaur dan menghadapi customer dari berbagai tipe, di manapun, dan di kondisi seperti apapun
7. Spesialis di satu bidang tapi juga mengerti hal-hal yg lain. Sebagai contoh, expert di Core IP/MPLS network tapi juga mengerti access network, security, physical layer, data center dan sebagainya
8. Mampu bekerja di berbagai posisi: engineer, consultant, architect, project manager dll
9. Selalu update skill, mampu belajar hal baru dgn cepat dan mau belajar terus-menerus. Diperlukan investasi utk bisa selalu update skill, memiliki lab, dan membeli tool-tool penunjang pekerjaan
10. Tahu cara memasarkan diri: social networking, menjaga hubungan dgn customer sebelumnya, selalu meng-update CV dll

Mudah-mudahan bermanfaat. Gue sendiri akan selalu melihat poin-poin ini utk memastikan gue masih bisa berkompetisi di kondisi seperti apapun.

Tiga Tipe Network Designer

August 27, 2009

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan gue, ada tiga tipe Network Designer untuk solusi infrastruktur:

Designer for Solution: network designer tipe ini lebih ke arah solusi high level, dgn mempertimbangkan kepentingan bisnis dan faktor-faktor lain spt ekspansi network di masa depan, dan solusi yg diberikan maupun cakupan teknologi di dalam design biasanya sangat luas dan kompleks. Jadi sbg contoh seorang solution designer harus bisa membuat topologi network yg high level dari suatu infrastruktur yg komplit, dgn mencantumkan teknologi-teknologi dan fitur yg akan dipakai, dan mungkin sedikit detil untuk poin teknologi tertentu maupun memberikan karakteristik dari hardware yg bisa digunakan di dalam solusi.

Designer for Pre-sales: mirip dgn tipe solution designer, tapi cakupan teknologinya lebih sedikit, misalnya berfokus pada design dari core network atau data center. Hanya selain teknologi yg akan dipakai dibahas secara lebih detil, pre-sales designer harus bisa memilih tipe dan jenis hardware yg akan digunakan (istilahnya Bill of Material). Jadi hasil akhir dari seorang pre-sales designer adalah high level design dan daftar dari hardware yg akan digunakan, sehingga customer bisa melakukan persiapan dgn membeli hardware-hardware tsb.

Designer for Implementation: ini adalah designer yg membuat low level design. Ketika high level design dan daftar hardware sudah dibuat oleh designer yg lain, maka implementation designer harus bisa membuat design tsb benar-benar bekerja spt yg diharapkan. Cakupan implementation designer ini mulai dari koneksi fisik (kadang sampai ke penempatan module di hardware), skema IP addressing, software yg digunakan, sampai ke konfigurasi detil dari setiap device. Sering juga pemilihan teknologi di high level design harus diadaptasi dan disesuaikan dgn keterbatasan dari arsitektur hardware atau software.

Mana yg lebih baik? Tergantung.

Tergantung industrinya, tergantung perusahaannya, tergantung kondisi market tempat kita bekerja. Kadang-kadang diperlukan kemampuan sbg solution designer dan pre-sales designer sekaligus. Kadang ketiga tipe designer tsb harus dimiliki oleh satu orang! Sebagai ilustrasi di satu perusahaan mungkin designer yg bisa memberi solusi dan membantu pre-sales sampai membuat daftar hardware yg akan digunakan berada di posisi yg lebih penting. Tapi di perusahaan lain yg bergerak di bidang services, implementation designer adalah yg paling penting karena customer membutuhkan jasa utk bisa melakukan implementasi design secara detil agar mencapai infrastruktur network yg diharapkan.

Solution designer mungkin tidak perlu tahu terlalu detil ttg arsitektur hardware karena solusi yg diberikan berdasarkan teknologi umum yg sudah dimiliki oleh banyak hardware, meskipun belum ada hasil pengujian yg mendetil. Pre-sales designer perlu tahu limitasi dan kapasitas dari suatu hardware utk dapat memutuskan hardware mana yg paling tepat dan juga berapa jumlah yg dibutuhkan jika berkaitan dgn kapasitas. Sedangkan implementation designer benar-benar harus mengerti keterbatasan dari arsitektur hardware dan software, dan implementasi maupun konfigurasi yg dilakukan biasanya sudah teruji di test lab maupun di infrastruktur network customer yg lain.

Gue pribadi sudah pernah bekerja di ketiga tipe itu, dan selama bersama Cisco Advanced Services 3 tahun terakhir lebih fokus menjadi implementation designer. Bahkan beberapa project terakhir gue berfokus ke implementasi dan migrasi dari infrastruktur network yg sudah ada ke network yg diinginkan, yg berarti harus mempertimbangkan faktor-faktor lain spt bagaimana caranya membuat metodelogi dan prosedur utk memastikan bisnis customer tidak terlalu terganggu selama masa transisi.

Kesimpulannya, solution designer berfokus ke solusi high level dgn mengasumsikan teknologi yg digunakan tidak tergantung dari hardware yg akan dipakai, pre-sales designer lebih fokus ke tipe hardware yg mendukung teknologi yg akan digunakan dan berapa jumlah hardware yg diperlukan agar customer bisa mempunyai daftar dari hardware-hardware yg harus dibeli tsb, sedang implementation designer berfokus ke hal-hal low level utk memastikan teknologi yg digunakan bisa diimplementasikan dgn menggunakan hardware dan software yg tersedia.

Ujian CCDE Practical yg baru saja gue ambil lebih menguji kemampuan dari Solution Designer. Tidak ada ketergantungan dari hardware maupun low level design yg harus dilakukan. Materi yg diujikan sangat luas tapi lebih bersifat overview dari pilihan teknologi yang ada.

Gue tidak tahu lulus atau tidak, karena hasilnya baru keluar 6-8 minggu lagi. Dan di ujian CCDE ini ada banyak pertanyaan yg menggunakan metode drag-and-drop, fill in the table/matrix, re-ordering, dan memperbaiki topologi network dgn menambah/mengubah device/link, dan di CCDE ada kemungkinan utk mendapat poin setengah.

Gue pikir yg paling penting utk bisa lulus ujian CCDE itu adalah logika dari seorang network designer, berikut kemampuan utk bisa mengambil hanya informasi yg penting dari begitu banyaknya informasi yg diberikan, kemampuan analisa dari informasi-informasi tsb, dan memiliki pengalaman sbg network designer walaupun hanya high level tapi harus mencakup teknologi yg luas dan berbagai tipe network maupun infrastruktur utk industri yg berbeda-beda spt Service Provider, Enterprise, Financial, Retail dll agar kita bisa familiar dgn skenario network yg diberikan.

Kemampuan troubleshooting secara high level juga diperlukan, dimana kita harus bisa menganalisa kemungkinan penyebab masalah di network, atau kesalahan di design yg menimbulkan masalah, tanpa melakukan debug namun hanya berdasarkan informasi-informasi yg diberikan. Terakhir yg juga penting, dibutuhkan stamina yg sangat bagus utk bisa tetap fokus dan berkonsentrasi selama 8 jam utk menganalisa berbagai skenario dan begitu banyaknya soal, terutama di beberapa jam terakhir.

Gue baru tahu lulus atau gagal dalam waktu 6-8 minggu lagi. Tapi gue bersedia memberikan pendapat ttg hal-hal yg diperlukan utk bisa lulus di blog gue yg lain. Dan juga link ini memberikan tips utk CCDE practical yg mungkin bisa bermanfaat.

CCDE bisa jadi sama susahnya dgn CCIE. Yg pasti buat gue kalau tidak berhasil lulus kali ini jadi ada target baru yg harus dicapai dalam rangka pengembangan kemampuan dan pengetahuan.

Dan itu yg penting.

Pengakuan Dari London

August 25, 2009

Gue belum siap.
Gue gak suka ngomong begini tapi ini kenyataan.

Gue gak suka bikin alasan, tapi faktanya: setelah gue balik dari project sebelumnya ke Dubai minggu lalu hanya tersisa 6 hari sebelum ujian. Dan tentunya dua hari pertama gue pake buat tidur, buat menebus masa-masa kurang tidur selama project, dan juga buat nonton film High Definition karena selama project kurang hiburan :)

Selain itu Ramadan adalah bulan penuh berkah. Jadi kalo siang gue pake waktu utk belajar, dan juga utk mensupport project secara remote (yg berarti: banyak emails, conference calls, konek dari remote pake SSH, webex meeting dan lain-lain), maka malem hari gue sempatkan untuk bersama keluarga dan melakukan kegiatan beribadah juga.

Jadi gue belajar cuma sekitar 3 hari, hanya baca-baca beberapa materi buat refresh. Tapi tidak ada yg gue sesali. Dan seperti gue bilang sebelumnya, walaupun kurang persiapan tapi gue masih tetep percaya diri. Hanya ini berarti gue hanya bisa mengandalkan pengalaman project yg lalu-lau dan juga pengetahuan yg gue dapat dari sertifikasi yg sebelumnya.

Kita lihat saja besok.

Project Riyadh

August 18, 2009

Ini adalah minggu ke-6 gue mengerjakan Project Riyadh dan mudah-mudahan minggu yg terakhir. Waktu gue diberi tahu untuk terlibat di project ini scope nya adalah: memimpin team untuk memperbaiki design dgn melakukan migrasi 15000 VPN customer dalam waktu 3 minggu. Waktu itu pikiran gue hanya terfokus ke angka-angka tsb, karena dgn melakukan perhitungan matematis sederhana jika mengasumsikan team bisa bekerja tanpa berhenti maka ada 700 customer yg harus di migrasi setiap malam.

Ketika gue mendarat di Riyadh minggu kedua bulan Juli kemarin gue menyadari bahwa tantangan utamanya bukan me migrasi customer, sebanyak apapun per malam. Tidak ada informasi yg jelas ataupun dokumentasi ttg kondisi infrastruktur network dan network services. Setiap project migrasi network sangat tergantung pada informasi. Informasi ttg kondisi network yg sekarang. Informasi ttg network yg baru setelah migrasi. Kemudian kita harus membuat jembatan yg menghubungkan antara network yg sekarang dgn network yg baru. Kita harus membuat metodologi dan prosedur untuk memastikan masa transisi berjalan lancar. Pendekatan yg tepat sehingga proses migrasi tidak akan mengganggu bisnis sehari-hari.

Tanpa informasi yg cukup, sangat sulit untuk bisa membuat prosedur yg benar. Tanpa informasi yg benar, metode dan proses yg direncanakan bisa salah total. Tanpa informasi, tidak ada jembatan.

Untungnya gue dikelilingi oleh engineer-engineer terbaik di team. Gue masih inget Harry Stamper pernah bilang “I’m only the best because I work with the best”. Seperti klaimnya para Joe’s: when all else fails, we don’t. Ketika team yg lain mungkin akan menolak mengerjakan sesuatu dgn sangat terbatasnya resource, tidak adanya informasi dan juga target yg sangat singkat, gue dan team memutuskan untuk melanjutkan project sebaik mungkin.

Gue melakukan banyak kesalahan di minggu pertama, tapi dgn melakukan kesalahan gue juga belajar banyak hal ttg kondisi infrastruktur network yg sekarang. Setup customer sangat unik sehingga tidak mungkin proses migrasi di simulasikan di lab. Gue harus memimpin eksekusi migrasi dan membangun prosedur di saat yg bersamaan. Gue belajar bagaimana cara melakukan migrasi dgn cara melakukannya secara langsung. Rata-rata engineer di team gue bekerja lebih dari 16 jam sehari. Dan setelah beberapa minggu, akhirnya gue berhasil membuat proses migrasi, metode dan prosedur yg komplit, yg semuanya di dokumentasikan. Dgn adanya dokumentasi yg benar ttg proses migrasi membuat siapa saja akan bisa melanjutkan kerjaan gue meskipun gue sudah tidak ada lagi di sini.

Project ini mungkin tidak akan mencapai tingkat teratas dari daftar project yg gue sukai tapi gue tetep senang karena team yg gue pimpin berhasil melakukan sesuatu yg sempat dikatakan tidak mungkin dan tidak masuk akal. Di project ini gue harus menjadi network architect, technical lead, engineer yg juga ikut ngoprek dan megang console, sampai ke tingkat project manager buat mengalokasikan resource, mengatur jadwal dan lain-lain. Gue memang butuh waktu lebih dari 3 minggu, dan kemungkinan project ini baru selesai minggu depan. Tapi gue mengkomunikasikan ini ke customer, bahwa karena sangat sedikitnya informasi maka resiko di project harus dibagi. Dan salah satu resiko adalah waktu yg dibutuhkan menjadi lebih lama, terutama karena gue menemukan bahwa ada banyak network service lain yg harus di migrasi selain VPN customer. Gue bukan tipe orang yg suka membuat alasan. Jadi gue terus terang bilang ke customer ttg semua tantangan di project ini. Dan dgn bekerja sbg satu team, apapun mungkin dilakukan.

Kemarin bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Gue juga berharap hari kemerdekaan gue dari project ini akan segera datang.

Buat yg mengikuti blog gue tentu tahu kalo gue harus melakukan hal lain yg sangat penting minggu depan. Karena tekanan yg sangat tinggi dari Project Riyadh, gue tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan diri buat minggu depan. Tapi gue akan mencoba melakukan yg terbaik, seperti biasa.

Kurang persiapan, ya. Kurang percaya diri, tentu tidak.

Project London, here I come.

CCIE, Poin-Poin Yang Terlupakan

July 31, 2009

Dua minggu lagi gue akan ‘merayakan’ peringatan 8 tahun ujian CCIE lab pertama. Gue ujian CCIE lab utk track Routing & Switching di Brussels tanggal 13 Agustus 2001. Waktu itu gue gagal meskipun sudah berhasil mencapai sesi troubleshooting di hari ke-2. Tepat satu bulan kemudian gue ujian lagi di Tokyo tanggal 13 September dan lulus. Jadi sepertinya nomer 13 bisa berarti angka sial atau angka keberuntungan buat gue.

Gue sudah bekerja, dan hidup, sebagai CCIE selama hampir 8 tahun terakhir. Awal 2005 gue memutuskan untuk menulis posting pertama di blog yg dalam bahasa Inggris, untuk menceritakan ttg hidup gue, pikiran-pikiran gue, dan pengalaman gue hidup sebagai CCIE ke semua orang. Kadang-kadang gue menulis tentang pengalaman gue mengerjakan project untuk customer. Gue juga menceritakan bagaimana perjalanan gue untuk bisa lulus CCIE di track Security dan Service Provider. Pernah gue menulis ttg bahwa menjadi CCIE itu tidak mudah. Gue bahkan menulis tentang perjuangan gue untuk bisa masuk ke Cisco AS, sampai gue berhasil masuk ke team WWSP yg sekarang. Gue menceritakan bagaimana gue pernah sangat frustasi karena ingin masuk Cisco tapi tidak pernah dapat kesempatan.

Gue menulis itu semua karena sering gue membaca-baca kembali blog gue. Gue lakukan itu utk mengingat kembali apa yg sudah dilakukan untuk mencapai kondisi yg sekarang, dan gue juga selalu tertawa pada saat membaca cerita-cerita lama.

Tapi meskipun gue sudah sering menceritakan ttg CCIE dan juga hidup seorang CCIE (paling tidak hidup gue sendiri) gue merasa masih ada informasi yg kurang. Gue masih sering membaca dan menerima komentar ttg CCIE, dan gue rasa mereka yg memberikan komentar melupakan beberapa poin penting. Karena itu skrg gue akan menjelaskan poin-poin yg terlupakan dari CCIE.

# CCIE tidak berharga lagi karena jumlahnya sudah banyak

Gue melihat seseorang yg baru saja lulus CCIE beberapa hari lalu nomernya sudah di atas 25000. Nomer di CCIE dimulai dari angka 1025, jadi pada saat gue menulis ini bisa dikatakan ada lebih dari 24000 CCIE di luar sana. Ini alasan mengapa ada yg bilang CCIE sudah tidak berharga lagi.

Tentunya orang tsb melupakan poin dari CCIE. Apa tujuan kita mengambil CCIE? Siapa yg perduli dgn nomer yg kita dapatkan jika tujuan kita mengambil CCIE adalah utk mempelajari teknologi yg dicakup di lab? Jika seseorang mengambil CCIE karena dia ingin mempunyai dasar ilmu networking yg kokoh agar bisa menghadapi pekerjaan di dunia nyata, kenapa perduli dgn nomer berapapun yg didapat? Di poin-poin berikutnya akan terlihat bahwa bukan nomer berapa yg kita dapat yg penting. Yg terpenting itu adalah pengalaman, apa yg sudah dilakukan dan reputasi yg sudah dibangun.

Dan sudah jarang kita melihat CCIE dgn nomer yg kecil bekerja di lapangan lagi. Ini berarti para CCIE juga bertransformasi dan melangkah maju. Banyak CCIE lama yg sudah keluar dari bidang teknis. Beberapa mungkin sudah menjadi manager atau bahkan VP di suatu perusahaan. Ada yg sudah bikin perusahaan sendiri. Ada juga yg mungkin sudah pensiun dari bidang networking dan sekarang sudah menjadi personil group rock! Siapa tahu? Intinya sih kita selalu butuh proses regenerasi utk mendapat consultant network baru atau architect baru atau engineer baru. Yg jelas akan selalu ada tempat buat para CCIE yg baru.

# Membandingkan antara gelar universitas dgn CCIE

Ini sebenernya cara yg sangat aneh utk membandingkan, karena memang sangat berbeda sekali! Sertifikasi professional spt CCIE itu bagus utk pengetahuan praktis. Apakah kita butuh gelar yg didapat di universitas utk kerja di bidang networking? Tergantung. Seseorang yg bekerja di bidang networking sbg consultant utk design solusi atau architect dari implementasi project tidak membutuhkan gelar universitas. Yg diperlukan adalah pengalaman dan pengetahuan teknis. Pengetahuan teknis ini yg bisa didapat dari sertifikasi professional. Walau ilmu yg didapat dari sertifikasi kebanyakan adalah ilmu utk penerapan dan pengetahuan praktis.

Dari pengalaman gue pribadi, gue tidak pernah menggunakan gelar universitas yg gue punya (dan juga pengetahuan yg gue pelajari di universitas, ingat, gue lulusan Teknik Mesin) kecuali pada saat apply utk visa kerja.

Poin gue di sini: kedua hal tsb tidak bisa dibandingkan begitu saja. Ada orang-orang yg sekolah terus menerus sampai mendapat gelar PhD, tapi tidak bisa memberikan design solusi ke customer di suatu project. Ini jelas saja karena memang bukan pengetahuan spt itu yg mereka pelajari di universitas. Orang yg punya PhD lebih cocok utk mengerjakan hal yg lain seperti melakukan penelitian yg mendalam ttg teknologi atau protocol networking yg baru.

Jadi tanya saja ke diri sendiri, kita mau jadi apa? Kalo mau jadi orang yg bekerja di implementasi solusi networking spt gue, jelas kita membutuhkan pengetahuan yg bisa dipelajari dgn mengambil CCIE. Bahkan kalo suatu ketika anak gue memutuskan utk tidak mau sekolah karena dia mau fokus ke pengetahuan komputer dan networking alias ngoprek terus setiap waktu, gue bisa mengerti keputusan yg dia ambil. Gue harap.

# Jika memang tetap harus membandingkan

Gue tahu, jawaban gue di atas tidak akan memuaskan beberapa orang, karena sampai sekarang gue masih sering menerima email yg tetap menanyakan perbandingan antara gelar universitas dgn sertifikasi professional spt yg dari Cisco. Gue akan memberi jawaban di sini, dan ini semua tentunya hanya pendapat pribadi.

CCIE sudah menjadi standard dan kebutuhan minimum dari seorang network engineer. Dan secara pribadi gue juga setuju kalau utk menjadi seorang networking specialist yg handal (level III di tulisan gue sebelumnya ttg Cisco Certified Architect) memang dibutuhkan pengetahuan minimum yg ada di CCIE. Jadi di Networking Engineering, CCIE merupakan level terbawah yg kira-kira sama dgn gelar Sarjana Teknik atau S1.

Berdasarkan jawaban di atas, kalo ada yg mau fokus utk mempelajari pola pikir seorang designer network dgn mengambil CCDE, atau mengambil CCIE lagi utk track yg lain sehingga mempunyai multiple CCIE, harusnya mereka ini selevel dgn gelar Master atau S2. Gue ingin bilang kalo level berikutnya harusnya CCIE yg punya pengalaman. Tapi jika ada orang yg bisa lulus CCIE dan CCDE, atau beberapa CCIE dari track yg berbeda, dan tidak punya pengalaman, gue pikir orang tsb masih berhak dapet gelar Master. Paling tidak dari gue.

Jadi udah ketebak kan level PhD atau S3 di Institut Teknologi Networking gue? Cisco Certified Architect. Kalau PhD beneran hanya bisa diperoleh setelah research mendalam selama bertahun-tahun, maka Architect hanya bisa diperolah setelah memiliki pengalaman mendalam selama bertahun-tahun (paling tidak 10 tahun pengalaman berdasarkan research Cisco Certified Architect)

# Debat tentang CCIE atau pengalaman

Sampai poin ini, harusnya kita semua sudah sadar bahwa tidak perlu ada debat sama sekali! CCIE tidak begitu bermanfaat tanpa pengalaman. Titik. Apakah customer di dunia nyata akan tetap kagum sama kita jika kita berhasil ujian lab dgn score 100% tapi gagal mengeksekusi project karena tidak punya pengalaman?

Suka atau tidak, CCIE tidak bisa mensimulasi semua tantangan dari dunia nyata. CCIE adalah ujian praktek di lab yg tadinya dirancang utk para engineer Cisco TAC, utk memastikan mereka semua memiliki kualitas yg sama ketika membantu customer waktu ada masalah di network. CCIE tentunya bukan ujian ttg design, walaupun ada aspek design yg bisa dipelajari di sana. Jadi jelas CCIE tidak mungkin bisa mensimulasi dunia nyata ketika kita harus berhadapan dgn customer yg nyata, project yg nyata, dan masalah yg nyata. Dunia nyata terlalu sulit utk disimulasi ke dalam ujian yg hanya 1 hari (walaupun sampai sekarang Cisco masih berusaha melakukannya dgn meluncurkan program sertifikasi CCDE dan Cisco Certified Architect)

Tapi coba berpikir spt ini: ketika kita merasa bosan dgn pekerjaan kita yg sekarang dan tidak bisa berkembang, kita ingin sekali pindah pekerjaan tapi menghadapi 2 Law of Desperate Workers ciptaan gue dulu (kita tidak bisa pindah karena tidak punya pengalaman, kita tidak bisa punya pengalaman karena pekerjaan kita yg sekarang yg tidak menarik) mungkin jalan satu-satunya adalah dgn mengambil sertifikasi spt CCIE. Tentu saja kita tetap tidak akan mendapat tambahan pengalaman dgn mengambil CCIE. Tapi paling tidak kita bisa menunjukan bahwa kita memiliki pengetahuan dasar yg kokoh dgn memiliki CCIE, dan juga mampu mempelajari hal-hal baru.

# Semakin mudah utk lulus CCIE dgn cara curang

Ada beberapa orang bilang, kalo mau lulus CCIE maka pergilah ke Cina! Ada yg lain yg bilang, soal-soal CCIE dapat ditemukan dgn mudah di Internet. Yg lain lagi bilang, para CCIE dan calon CCIE sudah tidak menghormati NDA (Non Disclosure Agreement) lagi karena mereka saling bertukar pertanyaan CCIE lab seenaknya.

Harap ingat poin yg sebelumnya: CCIE tidak begitu bermanfaat tanpa pengalaman. Ketika kita belum punya pengalaman, paling tidak kita bisa membangun dasar pengetahuan networking yg kokoh dgn memiliki CCIE. Jadi apa gunanya lulus CCIE, jika kita tidak punya pengalaman dan juga harus berbuat curang hanya utk lulus?

Gue pribadi pernah bertemu beberapa CCIE, ada diantara mereka bahkan yg punya dua CCIE, dan dalam 5 menit setelah ngobrol gue bisa merasa bahwa orang-orang tsb tidak punya yg seharusnya mereka punya sbg CCIE. Gue gak bilang mereka sudah pasti lulus dgn cara curang. Gue cuma bilang walaupun sudah punya CCIE mereka tidak punya sesuatu yg dibutuhkan utk kerja di dunia nyata. Dan kalo orang spt gue bisa menebak spt itu, apakah para recruiter di perusahaan tidak akan mendapat kesan yg sama ketika sedang menginterview orang-orang tsb? Mereka mungkin pada akhirnya bisa masuk dan direkrut juga oleh perusahaan jika mampu meyakinkan di proses interview, tapi pada saat harus benar-benar bekerja akan terlihat kualitas yg sebenernya.

Jadi gak perlu repot-repot curang buat lulus CCIE. Tidak ada yg bisa menuduh kita lulus dgn cara curang walaupun kita benar-benar curang. Hanya ingat, begitu lulus CCIE dan dapet nomer, kita harus siap menanggung beban dan resikonya. Kita harus siap menunjukkan bahwa kita memang layak utk menjadi CCIE.

# Setelah CCIE kita sudah pasti hidup bahagia

Seseorang memanggil gue: Triple CCIE yg tidak pernah menulis ttg CCIE lagi. Maksud dia, gue tidak pernah menulis atau membahas ttg hal-hal teknis ttg CCIE. Jawaban gue: buat apa? Kalo ingin membaca ttg diskusi teknis ttg CCIE, ikut milis groupstudy aja. Atau baca blog dari Internetwork Expert. Kecuali gue kerja di tempat pelatihan CCIE, di mana gue terlibat dalam mengembangkan scenario dan soal-soal latihan CCIE, setelah lulus lab tentunya gue tidak bisa fokus di pembahasan teknis di CCIE lagi karena gue sudah harus berhadapan dgn tantangan dari project di dunia nyata.

Mereka yg mengikuti blog gue tentunya tahu gue memang tidak pernah membahas secara teknis ttg CCIE, karena ada banyak website terutama dari tempat pelatihan CCIE yg sudah melakukan itu dgn lebih baik. Gue lebih memilih utk menulis bagaimana kita harus mengubah pola pikir kita utk bisa lulus CCIE. Strategi spt apa yg bisa dipakai utk bisa lulus ujian lab. Gue menceritakan ttg pengalaman gue dalam mengambil CCIE sehingga para kandidat yg lain bisa mengerti bagaimana hidup ketika kita sedang mempersiapkan CCIE. Yg ingin mengambil CCIE jadi bisa tahu apa yg harus dikorbankan ketika sedang mengejar CCIE: kehidupan sosial, hobi, waktu, dan sebagainya. Gue pikir sangat mudah utk menemukan diskusi teknis CCIE, tapi hanya sedikit sekali orang yg mau berbagi cerita bagaimana rasanya menjalani hidup ketika sedang mempersiapkannya. Sangat jarang yg mau berbagi bagaimana rasanya hidup sbg seorang CCIE.

Gue menulis tentang bagaimana hidup seorang CCIE.
Gue menulis tentang tantangan yg dihadapi CCIE.

Dan buat gue, jika ada yg bertanya apakah gue bahagia dgn apa yg sudah gue capai? Jawabannya: gue sudah berada di tempat yg seharusnya. Paling tidak utk saat ini. Gue bekerja di perusahaan yg mengajarkan ilmu networking pertama kali ke gue. Yg harus gue lakukan sekarang adalah mengejar target-target dalam hidup.

Sekarang gue sedang berusaha utk mendapatkan yg terbaik dari kedua hal: utk bekerja di pekerjaan yg gue inginkan dan memiliki profil yg selalu gue mimpikan, dan bersamaan utk tetap memiliki kehidupan keluarga yg berbahagia sambil tetap punya waktu utk bisa maen snowboarding, offroad di padang pasir, balapan motor, dan bermain drum di rumah.

Dan semuanya berawal dari CCIE.

Abu Ahmed

July 17, 2009

Sudah seminggu berada di Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia. Tiada hari tanpa belasan jam kerja di project. Tiada hari tanpa begadang di kantor. Tiada hari tanpa tekanan dari customer. Dan melihat matahari terbit dari jendela kantor tiap pagi mungkin merupakan anugrah terindah di tengah-tengah suasana project yg sangat stressful.

Tapi memang kalo dipikirkan, kalo sedang tidak kerja di tempat ini, mau ngapain lagi? Bioskop tidak ada. Tempat hiburan tidak ada (hiburan = maen ski, nongkrong dll). Mall ada jam-jam khusus buat keluarga jadi yg sendirian walaupun sudah berkeluarga gak boleh masuk. Sepertinya kalo tidak sedang bekerja kebanyakan orang menghabiskan waktu di rumah.

Seperti kota lainnya di Saudi, kehidupan sehari-hari di Riyadh mengikuti waktu sholat termasuk bisnis perdagangan dan rumah makan. Pada saat azan, gak ada kompromi semua bisnis tutup buat memberi kesempatan buat orang-orang untuk sholat. Dua hari yg lalu gue sempet makan malam chicken karahi di restoran Pakistan. Gue agak telat nyampe ke restoran itu gara-gara nyasar naek taksi dgn sopir yg gak bisa bahasa Inggris, jadi baru pesan makan sekitar jam 7.45 pm. Pas jam 8.15 pm udah azan, si restoran langsung tutup dan lampu dimati-matiin. Gue terpaksa makan buru-buru trus bayar sebelum diusir secara paksa atau malah dikunci di dalam restoran.

Hanya memang baik di project maupun di kehidupan sehari-hari di sini tekanan terasa tinggi. Dari mulai pertama mendarat, suasana di airport terutama di counter imigrasi yg gak jelas dan berantakan sangat terasa. Jemputan limo dari hotel, walau sedan mewah tapi yg nyetir mental supir angkot heheh pindah jalur kiri kanan gak pernah ngasih lampu. Dan emang suasana di jalan juga terasa sangat semrawut. Orang-orang sering melanggar lampu merah. Bahkan kemaren pas lagi nyebrang di jalan satu arah, ada banyak mobil-mobil yg melawan arus. Dan karena jumlah yg melanggar lebih banyak ketimbang mobil yg datang dari arah yg benar, terpaksa mobil yg benar yg mengalah dan memberi jalan :D

Seorang teman di project yg dateng dari India bahkan sempet nyeletuk ttg masalah tekanan yg terasa tinggi: “this place is very close to Macca, it’s very close to heaven! So why all the tension?” heheh

Hari kedua gue sempet meeting dgn customer. Kebiasaan lain dari customer di sini adalah kalo lagi meeting selalu mendatangkan banyak orang. Dari Cisco cuman ada gue dan project manager yg datang, sedangkan dari customer bisa sampai belasan orang! Untung gue sudah biasa dibombardir banyak orang, walaupun di hari meeting tsb secara kebetulan ada beberapa isu yg terjadi di network mereka. Project manager di sebelah gue udah gelisah dan sempet ngejawab gak karuan, mungkin karena memang terlalu banyak yg harus dia hadapi, keinginan customer yg selalu berubah-ubah, apalagi batas waktu yg diberikan memang tidak masuk akal.

Di tempat seperti ini, dgn tingginya tekanan dari customer yg sebenarnya tidak perlu, bisa keliatan kualitas orang-orang yg terlibat di project. Banyak yg sudah cracked down, karena begitu seringnya di bashing ama customer, dan akhirnya jadi gak pedulian. Team yg gue pimpin rata-rata kerja 14-16 jam sehari, dan kemaren ada yg harus kerja 20 jam terus-menerus dan jam 5 pagi masih harus melakukan migrasi network. Di tempat seperti ini tantangan terbesar bukan di teknikal. Satu bukti lagi kalo CCIE is worth nothing without experience.

Dan tadi malem ketika gue lagi ditengah-tengah memimpin migrasi network tiba-tiba ada sidak. Rombongan customer, termasuk Program Manager, dateng ke kantor gue! Mereka ingin liat bagaimana proses yg gue bikin, dan yg gue presentasikan dgn sukses ke mereka di meeting sebelumnya, bisa dijalankan. Semua orang di team gue suruh keliatan sibuk biar mereka nanya-nanya ke gue doang. Lucu juga, sambil kerja sambil ditanya-tanya kayak ISO audit :)

Btw, karena customer di sini agak susah buat menyebut nama gue, akhirnya mereka memberi nama panggilan biar gampang: Abu Ahmed!

17 Again

July 4, 2009

Di tengah-tengah kesibukan gue menghadapi tekanan project di Saudi, persiapan ujian CCDE yg sulit dilakukan dan sudah mepet, dan berbagai tantangan kehidupan pribadi yg harus gue hadapi, sore ini gue mengambil keputusan untuk membeli drum elekronik Yamaha DTXplorer series.

Dulu gue memang sering latihan main drum tiap hari pas SMA dan sempet beberapa kali manggung di acara sekolahan. Membeli drum baru ini bukan usaha untuk kembali ke usia 17 lagi. Walaupun harus gue akui masa-masa SMA itu mungkin merupakan masa yg terindah. Karena gue tidak terlalu banyak berpikir :) Tidak ada yg namanya CCIE, network, NGN bahkan Internet. Yg ada hanya mencoba bermain musik. Dan jual pesona ke gadis-gadis di sekolah. Dan mencoba menyetir mobil orang tua tanpa bilang-bilang untuk jalan-jalan sore. Ah, masa-masa tidak berpikir.

Walaupun demikian indah, tapi gue tidak hidup di masa lalu. Gue adalah gue yg sekarang karena semua keputusan yg gue ambil di masa lalu. Dan salah satu target baru gue dalam hidup memang untuk kembali bermain drum. Bahkan berencana untuk membentuk rock band, dan bermain di event International seperti Networkers! Kalo gue tidak bisa tampil sbg pembicara teknis di sana paling tidak gue bisa berpartisipasi dgn membuat keributan. Rock your world, I will.

Jadi sekarang gue sedang mencoba merekrut member buat band. Kalo ada yang bisa main gitar listrik atau bass, atau bisa nyanyi, dan tidak keberatan buat maenin Matchbox 20, Goo Goo Dolls, The Killers, U2 dan kadang-kadang Metallica, silahkan kirim resume ke gue.

Oh ya, hampir lupa. CCIE itu penting tapi tidak menjadi keharusan buat melamar :) Paling tidak mengerti format paket protokol BGP, atau IPv6 addressing, atau memahami RFC 2547 gue pikir sudah cukup lah.

Cisco Certified Architect

June 29, 2009

Cisco hari ini mengumumkan program sertifikasi baru yg merupakan level tertinggi yg pernah ada: Cisco Certified Architect. Di klaim sbg sertifikasi yg lebih susah dari CCIE, format ujian yg digunakan juga unik karena berupa board exam di mana kita harus mempresentasikan solusi kompleks infrastruktur di depan beberapa engineers.

Dari informasi awal ttg sertifikasi ini, syarat seseorang utk bisa ikut ujian adalah memiliki pengalaman paling tidak 10 tahun, dan harus mengajukan aplikasi yg harus disetujui. Selain harus bisa mempresentasikan proposal solusi infrastruktur dari customer requirement yg diberikan, kandidat juga harus mampu melakukan perubahan solusi secara langsung ketika diberikan penambahan requirement pada saat presentasi. Ditambah lagi adanya isu yg beredar bahwa engineer-engineer yg akan menguji kita adalah Cisco Distinguished Engineer :)

Gue dulu ketika mengambil ujian CCIE yg pertama masih berupa format ujian yg dua hari. Jadi masih ada sesi troubleshooting di 2.5 jam terakhir. Dan setiap habis satu sesi gue harus memberi penjelasan ke proctor mengapa konfigurasi gue lakukan seperti ini atau itu. Kadang gue harus menggambar di papan tulis buat menjelaskan. Ujian CCIE yg sekarang, gue rasa kekurangan dua hal tsb: troubleshooting secara mendalam, dan kemampuan menjelaskan alasan mengapa network di konfigur sedemikian rupa. Dan CCIE tentunya bukan ujian design, dan tidak ada aspek design yg diuji di situ. Oleh karena itu Cisco membuat program sertifikasi CCDE. Tapi walaupun dgn ujian design ini gue masih tetep merasa ada skill designer yg tidak diuji. Misalnya, kemampuan utk meng-capture customer requirement pada saat meeting awal dgn customer tidak bisa di test di ujian. Atau kemampuan utk memimpin workshop design. CCDE juga tidak menguji kemampuan seorang designer utk mengakomodasi perubahan yg dilakukan customer, atau adanya penambahan requirement di tengah-tengah proses design. Hal-hal seperti ini yg dicakup oleh Cisco Certified Architect.

Kalau di lihat-lihat, program sertifikasi Architect ini cakupannya mirip dgn level Architect yg gue bikin di Transformasi Skill Seorang Network Engineer. Orang bisa disebut Architect jika sudah mampu membangun suatu solusi infrastruktur yg komplit, juga mengerti hal yg detil di solusi tsb seperti misalnya arsitektur hardware dan cara kerja detil suatu protokol untuk mengetahui keterbatasan dari implementasi protokol atau fitur network yg akan mempengaruhi solusi infrastuktur itu juga. Architect juga mengerti korelasi antara bisnis dari customer dgn solusi infrastruktur sehingga solusi yg dibangun berdasarkan kebutuhan untuk membantu model bisnis customer. Paling tidak sekarang sertifikasi baru Cisco ini bisa menstandarisasi pengetahuan dan kemampuan minimum seorang Network Architect.

Tentu saja, walau sudah berhasil lulus ujian ini, atau sudah mendapat titel “Architect” di kerjaan, masih ada satu level lagi yg harus dicapai. Level expert. Ini adalah level yg harus menjadi target setiap orang yg bekerja di bidang ini. Kita harus berusaha menjadi expert, ikut serta mengembangkan teknologi dan bisa membagi pengetahuan dan pengalaman ke orang lain.

The expert level is something that must be earned.

So You Think My Life is Perfect?

June 27, 2009

Note: for those who are unable to read between the lines, please put your focus on the last two points
Catatan: buat yg tidak mengerti mengapa gue menulis ini, silahkan baca dan fokus ke dua poin terakhir

#curhat start, in summary mode

- Kemaren pagi resmi diumumkan kalo gue dapet assignment mendadak buat memimpin team dari Cisco AS buat meng-handle case besar di salah satu customer kunci di Arab Saudi

- Di Cisco ada Technical Assistance Center (TAC), kalo customer ada isu dgn produk atau solusi pada saat deployment bisa buka TAC case dgn prioritas P4 yg terendah dan P1 yg berarti “network meltdown” atau completely down

- Yg akan gue handle, levelnya lebih tinggi lagi dari P1, dan assignment spt ini biasanya gue berminggu-minggu di customer gak pulang-pulang (termasuk weekend)

- Kenapa gue yg berangkat? Kata mereka karena butuhnya seseorang yg punya profile spt gue, yg ‘can do the job whatever it takes’, berani mengambil keputusan on the spot under the pressure, sometime dare to break the rules, dan tidak pernah kerja ‘by the book’

- Dari dulu gue kerja di industri computer networking memang tidak pernah kerja sesuai prosedur, gue lebih sering ngerjain hal-hal yg belum pernah dikerjain sebelumnya oleh orang lain, making my own and the new procedure

- Project gue dulu di Vietnam yg melakukan migrasi core network ISP di tiga kota dgn routing policy yg sangat kompleks dalam kurun waktu 1 jam per lokasi adalah salah satu contoh, pada saat team lain dari Cisco Australia sudah angkat tangan

- Atau ketika gue melakukan migrasi dari produk non-Cisco ke Cisco utk perusahan minyak milik pemerintah Malaysia. Waktu itu sebenernya customer hanya ingin upgrade ke produk baru dari vendor yg sama, tapi ternyata vendor itu saja bilang proses upgrade tidak bisa dilakukan dgn limit maintenance window yg diberikan. Team yg gue pimpin mampu utk melakukan migrasi komplit ke produk Cisco sesuai target, dgn banyak melakukan improvisasi di lapangan

- Atau yg terakhir yg minggu lalu baru selesai dikerjakan, gue bikin arsitektur blueprint utk menjelaskan prosedur utk melakukan migrasi network buat customer di 28 negara eropa dgn jumlah 2200 total sites, ini juga belum pernah dilakukan orang lain di Cisco sebelumnya

- Di satu sisi gue seneng karena ini pengakuan akan skill dan expertise gue, apalagi gue juga suka bgt ama profile nya Jason Bourne: highly skilled (I wish), terbang kesana-kesini utk mengerjakan assignment, never ask questions

- Tapi di sisi lain gue juga bingung karena semenjak pindah ke Dubai memang gue banyak masalah pribadi, seperti kehamilan istri yg tidak direncanakan dan sempat bermasalah di trimester pertama, dan masalah-masalah yg berkaitan dgn kepindahan kita spt sekolah anak, tempat tinggal dan lain-lain

- Pergi meninggalkan keluarga di negara antah berantah selama berminggu-minggu akan merupakan pengalaman painful baru buat gue, apalagi anak gue yg pertama baru 10 tahun dan yg kedua masih 1.5 tahun, baru bisa jalan, dan gue tidak punya pembantu di rumah

- Gue dulu sering traveling meninggalkan anak istri, sampai 2 bulan, bahkan pernah 6 bulan tidak ketemu, tapi dgn catatan mereka selalu gue tinggalkan di rumah sendiri di Bandung. Dubai adalah tempat dimana semuanya belum stabil (bukan berarti Indonesia sudah stabil, tapi minimal di Indo kita dari kecil di sana dan sudah tau persis bagaimana cara mengatasi berbagai situasi)

- Yap, gue tahu kalo Dia yg di atas tidak akan menguji lebih dari kemampuan gue. Kata Harvey Dent di Batman juga: The night is darkest just before the dawn. What doesn’t kill you makes you stronger (stranger kalo kata The Joker). Jadi gue udah tahu kalo ini semua adalah pilihan, di semua hal pasti ada hikmahnya dan kata-kata mutiara lainnya. Tapi tetep pas ngejalanin pasti ada rasa kuatir, was-was, dan sebagainya

- Yang bisa gua lakukan sekarang adalah Tawakal, yg berarti gue percaya sepenuhnya bahwa yg di atas akan membantu gue, dan juga berusaha utk mempersiapkan kebutuhan keluarga selama gue pergi, spt menumpuk bahan makanan supaya keluarga tidak perlu keluar rumah jika tidak perlu, membereskan hal-hal yg berkaitan dgn sekolah anak (kebetulan anak gue pindah sekolah ke tempat baru), bayar-bayar fasilitas penunjang dan lain-lain

- Istri gue yg sedang menginjak masa kehamilan 6 bulan gue minta utk belajar nyetir dari minggu lalu. Dapet SIM di Dubai itu susahnya minta ampun, tapi kita tetep berusaha supaya sebelum gue pergi dia udah lulus ujian. Minimal kalo ada keperluan yg sangat penting dia bisa nyetir sendiri

- Gue masih ada waktu karena proses utk mendapatkan visa ke Saudi itu bisa makan waktu 1-2 minggu. Kalo biasanya gue pakai waktu sebelum ke customer utk mempelajari situasi di sana, kali ini semua waktu yg tersisa gue coba manfaatkan sebaik-baiknya utk mempersiapkan kepentingan keluarga. Kalo masalah kerjaan gue pikir ntar juga pasti bisa dikerjain: it’s already in my blood.
I’m a survivor anyway

- In this part of the world, dengan banyaknya tantangan dan sedikit sekali orang yg bisa dimintai tolong, gue pikir yg terbaik itu memang Tawakal. Berdoa dan percaya sepenuhnya akan pertolongan-Nya, dan juga berusaha untuk melakukan hal terbaik yg bisa dilakukan utk mempersiapkan segala sesuatu. Merencanakan terlalu detil juga tidak perlu, bikin persiapan sebaik mungkin dan dijalani saja

- Ini gue masukkan ke dalam blog, dgn topik “So You Think My Life is Perfect?” karena sampai hari ini gue masih sering mendapat email dari orang-orang yg minta petunjuk untuk bisa menjadi spt gue. Gue ingin mereka lihat bahwa hidup seseorang itu tidak ada yg sempurna dan jangan melihat hanya dari satu sisi saja

- Gue merasa tidak ada yg salah dgn mencari inspirasi dari orang lain. Tapi kesan yg lebih sering gue dapet itu orang-orang ingin spt gue (kerja di luar negri, bisa kesana-kesini dan sebagainya) tanpa mau mengerti bahwa di belakang itu ada harga yg harus dibayar. Yg suka bertanya ke gue itu lebih sering melihat ketika CCIE itu sudah kerja di tempat yg menurut mereka enak, tanpa mau melihat apa yg sudah dikerjakan utk mencapai ke sana

#end of curhat

Transformasi Skill Seorang Network Engineer

June 12, 2009

Gue lagi iseng nulis sambil nunggu Jum’atan. Walaupun sudah sering ditulis di blog masih banyak orang yg suka mengirim email ke gue untuk menanyakan bagaimana cara untuk memulai karir di networking, clueless ttg proses karir di networking spt apa, dan sebagainya. Di bawah ini gue tuliskan proses transformasi skill seorang network engineer, yg tentunya versi gue :) berdasarkan apa yg gue amati dan lakukan sendiri. Kalo mau dijadikan bahan perdebatan, silahkan. Cuma kalo boleh saran sih, daripada berdebat, mendingan lakukan saja garis karir spt yg mau dilakukan, dan suatu hari nanti bisa menulis versi masing-masing dari hal seperti ini.

Dan gue hubungkan dgn program sertifikasi dari Cisco hanya untuk memberi gambaran kesetaraan antara skill dgn sertifikasi.

Transformasi Skill Seorang Network Engineer

Level I Configurator
Semua orang mulai dari sini. Sebutan lain adalah Conf T engineer, karena di level ini engineer baru bisa melakukan konfigurasi router tanpa mengerti terlalu dalam konsep di belakangnya. Di level ini juga sebenernya ada 2 golongan: golongan pertama yg ingin melakukan konfigurasi router tapi gak ngerti harus ngapain dan paling sering ngirim pertanyaan satu kalimat ke milis “bagaimana sih caranya mengkonfigurasi MPLS?”. Golongan kedua adalah mereka yg ketika ingin mengkonfigurasi paling tidak mencoba mencari di website dan Internet terlebih dahulu command-command spt apa yg harus dimasukkan.

Kalo mau dibandingkan dgn program sertifikasi Cisco, mungkin golongan kedua di level ini setara dgn CCNA

Level II Troubleshooter
Ini level yg lebih maju karena selain tahu dimana mencari informasi tentang bagaimana cara mengkonfigurasi router/network device, mereka juga tahu konsep dan cara kerja dari produk atau sistem tsb. Karena sebelum bisa menyelesaikan masalah di suatu sistem, kita harus tahu dulu bagaimana sistem itu bekerja di saat normal, dan melakukan langkah-langkah troubleshooting secara sistematis. Bagaimana dgn mereka yg kalo troubleshoot selalu tembak langsung “pasti masalah network”, “harus restart dulu”, “pasti gara2 produk vendor ini” tanpa investigasi dulu? Gue gak mengkategorikan mereka di level ini, mungkin masih berada di level sebelumnya atau malahan termasuk golongan pertama di level I.

Kalo dibandingkan dgn program sertifikasi Cisco, mungkin level ini setara dgn CCNP dan sertifikasi yg setara

Level III Specialist
Sampai di level ini, si network engineer mulai merasakan ketertarikan pada satu bidang saja dari scope network engineering. Jadi kalo untuk level I dan II mungkin berangkatnya dari hal yg umum seperti Routing dan Switching, di level ini sudah ada perasaan untuk mendalami satu bidang misal security, voice, wireless dan sebagainya. Ini bukan level specialist murni karena biasanya dikerjaan sehari-hari tetap harus melakukan routing/switching sbg dasar tapi kemudian sudah fokus dan mampu mengerjakan teknologi lain yg lebih spesifik.

Kalo disetarakan dgn sertifikasi Cisco, ini mungkin CCIE. Engineer yg mengejar CCIE di track Routing & Switching pun bisa dikategorikan di sini, karena toh mereka fokus untuk mendalami scope di track tersebut.

Level IV Designer
Anehnya, dari level specialist untuk naik ke level berikutnya si network engineer harus belajar hal yg general lagi. Istilah yg umum adalah Sistem Integrator, dimana dibutuhkan kemampuan untuk menggabungkan beberapa produk dari teknologi bahkan vendor yg berbeda. Ketika sudah mencapai level ini, cap yg diberikan adalah Network Designer, karena sekarang sudah mampu untuk membangun satu solusi infrastruktur dari routing switching, security, voice, wireless dan sebagainya, sampai ke hal-hal yg berada di luar domain network spt Operating System, Database, physical Data Center dan lain-lain. Jadi ketika sudah mencapai level specialis spt CCIE, kemudian malahan belajar hal yg umum agar bisa membangun suatu solusi infrastruktur yg komplit.

Sertifikasinya sudah tidak ada lagi, tapi mungkin ini bisa disetarakan dgn CCIE yg sudah mempunyai pengalaman.

Level V Architect
Architect merupakan level Sistem Integrator II karena mempunyai kemampuan untuk membangun solusi komplit, juga mengerti hal yg detil di solusi tsb seperti misalnya arsitektur hardware dan detail cara kerja suatu protokol. Ini penting untuk mengetahui keterbatasan dari implementasi protokol atau fitur network yg akan mempengaruhi solusi infrastuktur itu juga. Architect juga mengetahui standar dari suatu protocol dan memahami implementasinya yg berbeda-beda di tiap vendor produk network, sehingga menguasai konstep interoperability antara produk-produk dan vendor yg berbeda. Ditambah lagi, architect mengerti korelasi antara bisnis dari customer dgn solusi infrastruktur sehingga solusi yg dibangun berdasarkan kebutuhan untuk membantu model bisnis customer.

Mungkin ini seperti CCIE yg sudah sering membaca standard dari suatu protokol dan juga arsitektur hardware, dan berpengalaman dgn project multi aspek baik dari sisi teknis maupun dari sisi non teknis.

Level VI Expert
Sesudah berada di level Architect, membangun solusi infrastruktur komplit yg bisa melibatkan multi-vendor, juga mengerti model bisnis yg dijalankan sehingga solusi yg dibangun bisa membantu customer, maka si engineer akan melakukan transformasi di level tertinggi dgn menjadi spesialis lagi. Spesialis dalam artian dgn beragam skill dan pengalaman yg sudah dimiliki, expert akan berfokus pada satu atau beberapa teknologi saja, untuk berkontribusi dalam mengembangkan teknologi tersebut. Para expert berkomunikasi satu sama lain untuk mengembangkan standard di bidang networking, menterjemahkan konsep suatu teknologi ke bahasa yg mudah dimengerti oleh banyak orang, dan membagikan informasi tersebut ke orang lain.

Memiliki berbagai sertifikasi sudah tidak relevan lagi. Yang paling penting adalah pengalaman ektensif dalam melakukan semua hal-hal seperti yg sudah disebutkan di atas, ditambah fokus ke satu atau beberapa scope teknologi secara mendalam, ikut terlibat dalam mengembangkan teknologi tsb dan membagikan informasi yg dimiliki ke orang banyak.

The expert level is something that must be earned.

Take Control Our TV

June 4, 2009

Ketika Cisco Systems membuat router yg kemudian menjadi produk router komersial pertama di dunia, tujuan utamanya adalah mengkoneksikan network dgn media fisik dan protocol yg berbeda. Saat itu tidak ada niatan untuk membedakan produk router utk berbagai segment yg berbeda, misal untuk Service Provider atau Enterprise. Hasilnya adalah produk-produk router tanpa ada pemisahan yg jelas di spesifikasi teknis untuk segment pasar yg berbeda. Semuanya menjalankan legacy IOS yg sama dan setiap router bisa menjalankan semua fitur walaupun tidak diperlukan.

Untungnya Cisco menyadari bahwa tidak ada satu produk untuk menjadi solusi dari semua kebutuhan. Sebuah project rahasia mulai dijalankan di akhir tahun 90-an untuk membuat next generation router dgn arsitektur hardware baru dan juga operating system yg baru. Ketika Cisco CRS-1 diluncurkan bulan Mei 2004 jelas terlihat bahwa produk ini adalah jawaban dari kebutuhan para Service Providers untuk core router yg handal, memiliki performance tinggi dan skalabilitas. Dan produk yg baru saja merayakan 5 tahun peluncuran bulan lalu itu terus berhasil mengalahkan ekspektasi dan sudah digunakan di lebih dari 300 service providers di dunia.

Setelah berhasil membuat suatu produk seperti ini, apa langkah selanjutnya? Tentunya berusaha membuat produk lain dgn cara menggunakan teknologi yg sudah berhasil dikembangkan. Arsitektur hardware dan IOS XR yg sudah terbukti kembali digunakan di produk baru Cisco ASR9000 router. Gue pribadi sangat bersemangat dgn produk ini karena tidak saja Cisco berhasil meluncurkannya di tengah krisis ekonomi global (ada beberapa produk lain yg sudah dibangun selama bertahun-tahun tapi harus dibatalkan karena krisis, dan mungkin kita harus menunggu kondisi ekonomi untuk membaik sebelum bisa melihat inovasi-inovasi baru lagi) dan juga ASR9000 menggunakan arsitektur hardware yg mirip dgn CRS-1 yg sudah terbukti di banyak production network.

Cukup sudah ngomongin sejarah, saatnya untuk membahas poin utama di tulisan gue ini.

Seperti kita tahu kebutuhan akan IP Video services menjadi faktor utama untuk mengembangkan banyak teknologi. Kita hidup di jaman High Definition di mana kualitas gambar DVD pun sudah tidak cukup. Dan kita mau video tsb bisa dikirim ke TV kita di rumah melalui network. Dulu kita sudah cukup puas dgn YouTube tapi sekarang kita ingin lebih. Kita mau kualitas yg lebih tinggi. Kita mau agar bisa menonton film secara utuh. Kita ingin punya kontrol kapan dan di mana kita mau menonton film. Video harus selalu tersedia kapan saja dan di mana saja selama kita masih terkoneksi dgn network.

Ini berarti kita memerlukan network dgn performance tinggi untuk bisa mengirim video. Kita harus memastikan paket-paket digital dari video bisa di switch secepat mungkin oleh network. Kita butuh storage yg semakin besar buat menyimpan video. Dan jangan lupa paket video ini harus berkompetisi dgn paket jenis lain di network. Ini berarti fitur Quality of Services harus bisa digunakan untuk untuk berbagai tipe paket dan menjamin service ini.

The Buggles pernah bilang Video Killed the Radio Star. Tapi saat ini video juga membunuh bandwidth, membuat infrastruktur network dan router-router bekerja di performance maksimum, dan memenuhi penyimpanan di storage kita dgn cepat. Dan Cisco adalah pemimpin industri di service ini dgn memiliki semua produk yg diperlukan untuk memberi end-to-end video service.

Ketika vendor-vendor lain sibuk mengkampanyekan bagaimana mereka bisa dengan cepat membawa fitur-fitur yg bekerja secara independen ke market, Cisco sudah melakukan hal yg jauh lebih maju. Tidak saja Cisco bisa menyediakan semua produk yg diperlukan untuk membangun solusi yg komplit, tapi juga mereka menunjukkan bagaimana solusi ini bisa dibangun berikut dgn hasil test yg dilakukan oleh third-party testing vendor.

Light Reading dan EANTC kemaren mengeluarkan laporan tentang bagaimana mereka menguji Cisco’s IP Video Service Delivery network. Test nya meliputi: the high availability with sub-second failover time for all network services, in-line video quality monitoring, massive scalability of IP video services and storage area network solutions and virtualization. Produk yg digunakan di dalam solusi adalah Cisco CRS-1, ARS9000, Cisco 7600-S dan Nexus.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

- 8,188 multicast groups were replicated across 240 egress ports in a point of presence (PoP), showing that Cisco could serve 1.96 million IP video subscribers in a single metro PoP
- Accurate in-line video monitoring was demonstrated for video distribution and contribution over IP
- Sub-50 millisecond failover and recovery times were shown for video distribution and secondary distribution networks using, for the first time in a public test of Cisco equipment, point-to-multipoint RSVP-TE
- No video quality degradation in the face of realistic packet loss in the network
- Excellent quality of service (QoS) enforcement in Cisco’s new ASR 9010 router for both fabric oversubscription and head-of-line blocking
- Hitless control plane failover for converged network

Seperti gue pernah bilang, TV is evil. Tapi on-demand TV bukan. Karena sekarang kita yg pegang kontrol TV kita sepenuhnya.

Silahkan membaca hasil laporan dari test tsb.